Pintu masuk vila terbuka secara otomatis ketika Dimitri dan Alessia mendekat. Di dalamnya, lorong yang panjang dan lebar dengan lantai marmer putih dan dinding yang dipenuhi lukisan klasik menyambut mereka. Cahaya dari lampu gantung yang mewah menyinari ruangan, membuatnya terasa megah namun juga dingin—seperti istana yang ditinggalkan.
"Kamu akan tinggal di lantai atas," kata Dimitri, membimbingnya menuju tangga kayu yang besar. "Kamarmu memiliki ruang melukis sendiri—aku tahu itu penting bagimu."
Ia hanya mengangguk, masih tercengang dengan keindahan vila. Tubuhnya masih terasa panas dari sentuhan bibirnya di mobil—sentuhan yang ia tidak bisa lupakan, meskipun hatinya masih penuh dengan kebencian karena kematian ayahnya. Bagaimana mungkin ia bisa merasakan hal seperti itu pada orang yang membunuh orang tersayangnya?
Mereka tiba di lantai atas, memasuki lorong yang lebih kecil. Dimitri berhenti di depan pintu kayu coklat yang besar, membukanya. "Ini kamar mu."
Ia masuk, mata melirik ke segala arah. Kamar itu luas, dengan tempat tidur king size yang ditutupi sprei putih, meja rias yang besar, dan jendela yang luas yang menghadap ke taman. Di sudut ruangan, ada ruang melukis yang dipisahkan dengan tirai—di sana ada kanvas kosong, kuas, dan cat yang sudah disiapkan. Hatinya sedikit mereda—ia tidak menyangka ia akan memikirkan kebutuhannya.
"Kamu bisa menyesuaikan diri," kata Dimitri, berdiri di pintu. "Jika kamu butuh apa-apa, panggil Viktor—dia adalah pengawas yang akan menjaga kamu. Jangan keluar dari kamar malam ini. Besok pagi, aku akan memberitahu kamu lebih banyak tentang aturan di sini."
Ia melihatnya, mata penuh dengan keraguan. "Aturan?"
"Aku melakukan ini untuk keamananmu, Alessia," katanya, tatapannya tajam. "Luar sana penuh dengan orang yang ingin membunuhmu karena apa yang kamu lihat. Di sini, kamu aman—tetapi hanya jika kamu mengikuti aturanku."
Ia mengangguk lagi. Dia keluar dari kamar, menutup pintu perlahan. Ia berdiri di tengah ruangan, merasa sepi dan terkurung. Ini adalah sangkar emas—indah namun tidak pernah akan menjadi rumah.
Ia berjalan ke jendela, melihat ke taman di bawahnya. Di sudut taman, pohon-pohon mawar hitam yang ia lihat tadi terlihat jelas di bawah cahaya bulan. Mereka tumbuh di tempat yang gelap dan sepi, namun tetap kokoh. Ia teringat kata ayahnya: "Mawar hitam tumbuh di tempat yang paling sulit." Mungkin ini adalah tempatnya sekarang—tempat yang sulit, namun ia harus berusaha tumbuh.
Setelah beberapa saat, ia pergi ke ruang melukis, mengambil kuas dan cat hitam. Ia mulai melukis—mawar hitam yang tumbuh dari batang berduri, dengan bayangan Dimitri yang berdiri di belakangnya. Tubuhnya terasa gemetar ketika ia menggambar wajahnya—tatapan matanya yang dalam, tulang rahang yang tegas. Ia tidak bisa menghentikan dirinya dari melukisnya.
Jam menunjukkan pukul 04.30 ketika ia selesai. Ia berdiri jauh untuk melihat lukisan itu—mawar hitamnya terlihat hidup, dan bayangan Dimitri tampak seolah-olah akan melompat dari kanvas. Ia mengambil pensil dan menulis di sudut: "Sang pelindung yang juga pembunuh."
Tiba-tiba, ia merasa haus. Ia keluar dari kamar, berjalan perlahan ke lorong. Dia bilang jangan keluar malam ini, tapi hausnya terlalu parah. Ia berjalan menuju tangga, berharap menemukan dapur di lantai bawah.
Di lantai bawah, ruang tamu yang besar terbuka di depannya—dengan kursi kulit yang besar, meja makan yang panjang, dan perapian yang menyala lembut. Di sudut ruangan, ada lemari es. Ia berjalan kepadanya, membukanya, dan mengambil botol air mineral.
"Saya pikir tuan bilang jangan keluar malam ini."
Suara itu membuatnya terkejut. Ia melihat ke arah suara—pria yang tinggi dengan rambut pirang dan mata coklat berdiri di pintu ruang tamu. Ia mengenalnya sebagai salah satu pengawas yang datang ke apartemennya.
"Viktor," katanya, suara gemetar. "Aku hanya haus."
Viktor mendekat padanya, langkahnya lambat. Ia terlihat tidak menakutkan seperti Dimitri—malah ramah. "Tuan khawatir tentangmu, Nona Alessia," katanya. "Dia tidak ingin kamu terjatuh atau sesuatu."
Ia mengangguk. "Terima kasih."
"Kalau kamu butuh apa-apa nanti, panggil saja aku," katanya, tersenyum sedikit. "Aku selalu ada di lantai bawah."
Ia keluar dari ruang tamu, meninggalkannya sendirian. Ia meminum airnya, lalu kembali ke lantai atas. Ketika ia memasuki kamar, ia melihat seseorang berdiri di depan jendela—Dimitri.
"Aku bilang jangan keluar," katanya, tanpa melihatnya.
"Aku hanya haus," katanya, suara rendah.
Dimitri berbalik, matanya penuh dengan kemarahan. Tapi ketika ia melihat wajahnya yang cemas, kemarahannya menghilang, digantikan oleh kebingungan. "Kamu masih tidur belum?"
"Tidak," katanya. "Aku sedang melukis."
Ia berjalan ke ruang melukis, melihat lukisan yang baru selesai. Matanya berbinar, seolah-olah ia melihat sesuatu yang sangat berharga. "Sang pelindung yang juga pembunuh," katanya, membaca tulisan di sudut kanvas. "Itu apa yang kamu pikirkan padaku?"
Ia mengangguk, tidak berani melihatnya. "Kamu membunuh ayahku."
Dimitri mendekat padanya, langkahnya lambat. Ia berhenti hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, dan ia bisa mencium bau parfumnya yang kuat lagi. "Aku tahu," katanya, suara rendah. "Dan aku menyesalinya. Ayahmu adalah orang yang baik—dia hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah."
"Hanya itu?" tanyanya, melihatnya dengan mata penuh dengan kesedihan. "Dia meninggal karena kamu!"
"Aku tidak punya pilihan," katanya, matanya penuh dengan kesedihan. "Aturan Bratva jelas. Siapa pun yang berselisih dengan kita harus dibunuh. Tapi aku tidak tahu dia adalah ayahmu pada waktu itu—jika aku tahu, aku akan melakukan yang berbeda."
Apakah itu benar? Ia tidak tahu. Tapi ada sesuatu di suaranya yang membuat ia percaya.
Dimitri mengangkat tangannya, menyentuh pipinya. Sentuhan itu lembut, seperti sebelumnya. Tubuhnya terasa gemetar, dan ia merasa badannya menjadi panas lagi. "Kamu membuatku bingung, Alessia," katanya. "Pada satu sisi, aku adalah orang yang jahat yang membunuh ayahmu. Pada sisi lain, aku ingin melindungimu lebih dari segalanya."
Ia mendekat lebih jauh, dan bibirnya hampir menyentuh bibirnya. Napasnya menjadi cepat, dan ia merasa seperti terbang. "Aku juga bingung," bisiknya.
Dia menciumnya, sentuhan yang lembut namun penuh dengan gairah. Bibirnya bergerak perlahan di atas bibirnya, menyelami setiap sudutnya. Ia melepas diri pada sentuhan itu, lupa semua kebencian dan takutnya—hanya merasakan kehangatan tubuhnya dan gairah yang tumbuh di dalamnya.
Dimitri memegang pinggangnya, menariknya lebih dekat. Tubuhnya yang kuat menempel pada tubuhnya yang lembut, dan ia bisa merasakan denyut jantungnya yang cepat. Dia mengangkat tangannya, memegang rambutnya, menggoyangkan-goyangkan dengan lembut. Sentuhan bibirnya menjadi lebih dalam, lebih intens—seperti dia ingin menelan dirinya seluruhnya.
Ia merasa badannya menjadi lemas, bergantung pada dia untuk menopang tubuhnya. Dia membawanya ke tempat tidur, meletakkan dia perlahan di atas sprei putih. Dia berdiri di atasnya, melihatnya dengan mata yang penuh dengan hasrat dan penyesalan. "Aku tidak boleh melakukan ini," bisiknya. "Aku adalah orang yang membunuh ayahmu."
"Tetaplah," bisiknya, menariknya lebih dekat. "Aku mau kamu tetap di sini."
Dia menurunkan dirinya ke atasnya, tubuhnya menutupi tubuhnya. Ia bisa merasakan kekuatan dan kelembutannya pada saat yang sama, dan ia merasa seperti ada api di dalamnya. Dia melanjutkan sentuhan bibirnya, meresapi lehernya dan pundaknya dengan sentuhan yang lembut namun penuh gairah. Setiap sentuhannya membuatnya merasakan getaran yang aneh, merambat dari kepala ke ujung jari.
"Dimitri," panggilnya, suara gemetar.
Dia berhenti, melihatnya dengan mata yang penuh dengan perhatian. "Apakah kamu ingin aku berhenti?"
Ia menggeleng. "Tidak. Lanjutkan."
Dia melanjutkan, tangan-tangannya bergerak perlahan di atas tubuhnya, menyentuh setiap bagiannya dengan kelembutan. Ia merasa seperti dia membuka kunci pada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun. Meskipun ia tahu ini salah, ia tidak bisa berhenti—ia ingin lebih banyak, ingin merasakan seluruhnya.
Tiba-tiba, bunyi telepon di kamar tidur Dimitri terdengar. Dia berhenti, mengeluarkan diri dari atasnya. "Maaf," katanya, suara rendah. "Aku harus mengambilnya."
Ia berdiri, pergi ke kamar tidur dia yang berada di sebelah kamar mu. Ia berdiri di tengah kamar, tubuhnya masih terasa panas dan lemas. Apa yang baru saja terjadi? Bagaimana ia bisa melakukan hal seperti itu dengan orang yang membunuh ayahnya?
Beberapa saat kemudian, Dimitri kembali ke kamar. Wajahnya tampak serius, berbeda dari sebelumnya. "Ada masalah di markas," katanya. "Aku harus pergi."
Ia melihatnya, mata penuh dengan kekecewaan. "Kapan kamu akan kembali?"
"Tidak tahu," katanya. "Mungkin besok pagi. Jangan keluar dari kamarmu sampai aku kembali. Viktor akan menjaga kamu."
Ia mendekat padanya, mencium pipinya. "Aku akan menunggu."
Dia keluar dari kamar, menutup pintu perlahan. Ia jatuh ke tempat tidur, menangis. Apa yang ia lakukan? Bagaimana ia bisa mencintai orang yang membunuh ayahnya? Dan mengapa dia pergi begitu cepat setelah apa yang baru saja terjadi?
Ia tidur dengan sulit malam itu, mimpi-mimpi buruk tentang ayahnya dan Dimitri bergantian muncul. Pada pagi hari, ia bangun dengan rasa sakit di kepala dan perasaan bersalah yang besar.
Ia keluar dari kamar, berjalan ke ruang melukis. Ia melihat lukisan mawar hitam yang baru selesai, dengan bayangan Dimitri di belakangnya. Ia mengambil kuas dan cat merah, menggambar titik kecil di ujung kelopak mawar—seperti darah yang keluar dari luka.
"Tuan Dimitri minta aku memberitahu kamu bahwa dia akan kembali sore ini," kata Viktor, muncul di pintu. "Dia juga minta aku membawakanmu sarapan."
Ia mengangguk. Viktor membawa meja makan kecil ke kamar, dengan roti bakar, telur, dan jus jeruk. Ia makan dengan lambat, pikiran masih terbenam pada malam sebelumnya.
Setelah sarapan, ia pergi ke jendela, melihat ke taman. Pagi hari terasa segar, dan matahari menyinari bunga-bunga yang berwarna-warni. Tapi di sudut taman, mawar hitamnya masih tumbuh di tempat yang gelap—seperti dirinya yang terjebak di antara kebencian dan cinta.
Ia berjalan ke ruang melukis, mengambil kanvas kosong. Ia mulai melukis—Dimitri yang berdiri di tengah taman, dengan mata yang penuh dengan kesedihan. Di sekitarnya, mawar hitam tumbuh dengan subur. Ia menulis di sudut kanvas: "Cinta yang tumbuh di tengah luka."
Selama hari itu, ia hanya tinggal di kamar, melukis dan memikirkan Dimitri. Ia tidak tahu mengapa ia merindukannya—ia adalah orang yang membunuh ayahnya, namun ia juga adalah orang yang membuatnya merasa hidup lagi.
Malam tiba, dan Dimitri belum kembali. Ia merasa cemas—apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Apakah ia akan kembali?
Jam menunjukkan pukul 10.00 ketika pintu kamar terbuka. Dimitri masuk, wajahnya tampak lelah dan penuh dengan luka di pipinya. Ia berlari ke arahnya, memeluknya dengan erat. "Aku khawatir padamu," katanya.
Dia memeluknya kembali, menyemprotkan kepalanya di lehernya. "Aku baik-baik saja," katanya. "Hanya sedikit terluka."
Ia melihat luka di pipinya, mata penuh dengan kesedihan. "Siapa yang melakukannya?"
"Anggota Wolf Pack," katanya. "Mereka menyerang markas kita. Mereka tahu kamu ada di sini, Alessia—mereka melihatmu sebagai titik lemahku."
Hatinya terasa hancur. "Ini salahku. Jika aku tidak ada di sini, kamu tidak akan terluka."
"Tidak," katanya, memegang pipinya. "Ini bukan salahmu. Aku memilih untuk melindungimu, dan aku akan melakukannya dengan segala cara—bahkan jika itu berarti aku terluka."
Ia menciumnya, sentuhan yang lembut namun penuh dengan cinta. "Aku mencintaimu, Dimitri," bisiknya. "Meskipun aku tidak boleh."
Dia menciumnya kembali, lebih dalam. "Aku juga mencintaimu, Alessia," bisiknya. "Dan itu yang paling penting."
Mereka berjalan ke tempat tidur, memeluk satu sama lain dengan erat. Malam itu, mereka tidur bersama, tubuhnya menempel pada tubuhnya, menemukan kehangatan di tengah kegelapan. Ia tahu jalan ke depan akan sulit—dunia mereka penuh dengan bahaya dan kebencian. Tapi ia juga tahu bahwa cinta mereka adalah seperti mawar hitam—kuat, tahan banting, dan mampu tumbuh di tempat yang paling sulit.
Di luar jendela, bulan menyinari taman, dan mawar hitamnya tumbuh kokoh di bawah cahaya malam. Mereka adalah simbol cinta mereka—cinta yang tumbuh di tengah luka, yang tidak bisa dihancurkan oleh apa pun.