Ada rasa khawatir di dalam hatinya. Selama ini Cleo tak pernah keluar seorang diri. Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu padanya di luar sana. Ia takut musuh-musuhnya akan mengetahui kepergian Cleo dan bisa menjadi masalah buat dirinya dan keluarga.
'Besok umurku 27 tahun, Ayah. Maaf aku tak bisa menjadi putri yang baik. Ayah bilang aku harus menikah karena umurku semakin dewasa,sesuai keinginan ayah agar aku segera menikah, maka aku akan menemui jodoh impianku. Aku akan kembali dengan membawa pria yang baik menurutku. Jaga diri Ayah. Aku sayang Ayah. Tanda cium.' Areliam meletakan pesan kecil dari Cleo yang terletak di meja belajarnya.
Kemudian dengan kuat, Areliam menarik gambar poster besar bergambar actor tampan Zain yang memenuhi kamar Cleo. Ia kesal sejenak, namun sesaat kemudian luruh.
"Jaga diri baik-baik Sayang. Ayah akan selalu merindukanmu," lirih Areliam dengan mata berkaca-kaca tak diperdulikannya poster yang sudah terlepas dan sobek di kamar Cleo yang hampa.
Pria itu berjalan gontai menuju ke kamar istrinya.
"Ada apa. Wajahmu masam sekali?" tanya Orita duduk dengan balutan piyama tipis. Namun kali ini penampilan itu tak membuat Areliam tergoda.
"Cleo pergi." Areliam duduk dengan wajah sedih. Perasaannya bercampur aduk, rasa khawatir begitu memenuhi fikirannya.
Orita menghela nafas sembari memeluk Areliam dari belakang, "Anak itu memang agak susah. Sebaiknya kirim orang untuk mencarinya." Wanita itu berkata dengan lembut.
"Kamu benar. Aku akan segera mengutus orang." Areliam melepas tangan melingkar milik Orita dengan perlahan.
Orita agak kurang rela, namun mau bagaimana lagi. Pria itu sedang kacau sekarang. Ia hanya memajukam bibirnya kesal saat pria itu pergi.
"Sebentar lagi aku akan menjadi pemilik seluruh harta warisan darimu Areliam," batin Orita mengusap perut ratanya dengan seringaian penuh arti.
Orita memutuskan untuk menunggu Areliam di kamar dengan memainkan ponselnya. Ia ingin Areliam segera datang ketika Orita ingin memberikan sebuah kejutan untuk pria itu.
Tak lama kemudian Areliam datang dan langsung naik ke ranjang dimana istrinya masih setia menunggu Areliam.
"Bagaimana Mas?" tanya Orita dengan senyuman manis yang menggoda setiap saat. Di usianya yang hampir kepala empat, wanita itu masih cantik dan memikat. Seorang duda kaya seperti Areliam berhasil ia dapatkan dengan mudah.
Wanita itu langsung memasang wajah iba kepada suaminya yang gundah gulana setelah pulang berjalan-jalan dengan istrinya yang baru setahun ini ia nikahi. Tentunya sebagai pengganti dari istri pertamanya, Lathiva Adithi. Meski awal mula Cleo menolak ibu baru mungkin dengan berjalannya waktu gadis itu bisa menerima semua.
Areliam hanya menggelengkan kepalanya lemah. Pria itu langsung tiduran di samping istrinya.
"Sudah jangan di khawatirkan aku yakin dia bisa menjaga diri di luar sana. Dia gadis yang kuat dan jago beladiri," ujar Orita menatap kedua mata sendu Areliam.
"Jadi kamu tidak khawatir dengan putriku, kamu senang dia pergi?" tuduh Areliam mendadak antusias. Selama ini Cleo dan ibu tirinya tidak pernah akur saat bersama. Areliam bisa mengira hal itu.
"Kami memang sering bertengkar, tapi bukan berarti aku senang jika dia pergi. Justru aku merasa bertengkar dengannya adalah suatu hiburan buatku, dan aku tidak rela jika dia pergi," jelas Orita bersungguh-sungguh.
Areliam masih terdiam menatap kedua bola mata abu Orita dengan pandangan mencari kebohongan di sana namun tidak ia dapatkan.
"Aku juga khawatir, Mas. Tapi dia cukup pintar dan cerdik untuk berada di dunia luar," imbuh Orita tersenyum pada suaminya. Tanpa bangun dari tidurnya, ia meraih ponsel pintar di nakas.
Pandangan Areliam terfokus ke pergerakan istrinya. Sebelum Orita mengetikan sesuatu, wanita itu sempat tersenyum.
Areliam pun curiga dengan gelagat istrinya. Fikirannya menjadi menerka yang bukan-bukan.
"Kamu ini dalam keadaan seperti ini masih bisa-bisanya bermain ponsel," decak Areliam dengan kesal. Ia sedikit cemburu ketika sedetik saja diabaikan.
"Jangan marah dulu, Mas!" pinta Orita. Ia langsung duduk bersila.
Areliam yang penasaran langsung mengikuti gerakan istrinya dengan ikut duduk. Areliam melongok penasaran ke layar.
Ia pun mengerutkan kening. Tanpa ijin dari Orita, Areliam langsung merebut benda pipihnya. Nampaknya Orita tidak keberatan dengan hal itu. Bahkan ketika Areliam membaca sesuatu dengan heran., nama putrinya tertera di daftar mahasiswa baru di salah satu universitas swasta nomor satu di kotanya.
Orita duduk di samping suaminya. Dimana Areliam masih melongo tak percaya.
"Dia mentransfer semua uang bulanan ke rekening dan dia sudah mendaftar di Campus Black Rose secara online," jelas Orita membuat Areliam makin pusing.
"Sepertinya dia sudah menabung selama ini, itu menurut dugaan ku. Entah sejak kapan dia menabung. Tapi dengan uang itu mungkin dia bisa saja membeli sebuah apartemen paling elit." Orita kembali melanjutkan kata-katanya.
"Jadi kamu tahu kemana Cleo pergi?" tanya Areliam masih tak percaya.
Areliam terlihat begitu bodoh di depan istrinya saat ini. Ia tak menyangka jika Orita peduli kepada putrinya dan memantaunya selama ini. Ia tak menyangka istrinya begitu pintar dan cerdik.
"Lebih baik kita diam dulu apa yang dia mau, kita awasi saja dari jauh atau kita kirim orang yang bisa mengawasinya secara langsung. Bagaimana, Mas?” tanya Orita kali ini menatap Areliam dengan pandangan manja.
Tanpa fikir panjang Areliam mengangguk setuju. Ia memeluk istrinya dan mengecupnya dengan penuh cinta. Seketika hatinya menghangat karena perhatian yang Orita berikan kepada putrinya dari jauh. Bahkan mengawasinya selama ini.
Kesedihan Areliam terlupa ketika diselimuti dengan perhatian kecil dari Orita yang memiliki sebuah arti. Lengkap sudah Areliam melupakan Cleo, Orita memberikan sebuah teshpack yang menyatakan jika Orita hamil meski di usia yang terbilang tak muda lagi.
"Semoga anakku adalah seorang putra. Dia akan menjadi pewaris utama Areliam Group. Sementara Cleo, dia akan tetap mendapat bagian meski minim saja."
Di tengah kebahagiaannya saat Orita memberikan kejutan paling istimewa yaitu berupa calon buah hati, ponsel Areliam berdering. Ternyata itu panggilan dari Patra, jarang sekali anak sahabatnya itu menghubunginya. Saat Patra melihat keberadaan Cleo, Areliam justru menyeringai penuh arti. Dia meminta Patra untuk menjadi penjaganya.
Setelah itu Areliam menghubungi sahabatnya, “Mereka sekarang sedang bersama. Apakah ini saatnya?” Seolah Areliam tidak sabaran. Seketika Areliam makin bersemangat saat calon besan itu menyetujui perjodohannya yang dilakukan secara tidak langsung.
“Aku akan siapkan bayinya sekarang!”
***
Hari pernikahan telah tiba. Pernikahan itu dipercepat sehari setelah penemuan bayi itu. syarat yang diajukan Cleo dan Patra adalah tidak adanya resepsi di pernikahan mereka, hanya keluarga yang melaksanakan syukuran. Umumnya para pengantin akan sangat bahagia di hari pernikahannya, namun sepasang pengantin itu kali ini tidak ada yang bahagia, mereka sama-sama murung. Berbeda dengan para orang tua yang begitu bahagia, apalagi Orita yang sejak tadi makan buah-buahan dengan lahap, ia sangat senang sebab Cleo tidak akan tinggal serumah lagi dengannya.
Di tengah acara, Devina datang karena Patra tidak menghubunginya sejak kemarin dan kebetulan acara di tempat kediaman Patra.
“Patra kamu jahat sekali. Hiks ... hiks ...” Devina sangat patah hati lantaran Patra diam-diam menikah tanpa memutuskan hubungan mereka terlebih dahulu. Patra langsung mengejar Devina yang berlari keluar.
“Dengarkan aku, Honey!” Meraih tangannya, namun Devina menghempasnya dengan kasar.
“Apa yang perlu kamu jelaskan? Kamu sudah menghancurkan cinta kita. Ku fikir kita bisa tetap bersama apapun yang terjadi dan berjuang sama-sama. Ternyata salah, hanya aku yang berjuang.” Air matanya mengalir dengan deras, rasa sakit di hatinya teramat parah.
“Bahagialah dengan istrimu itu. Aku tidak perduli lagi. Kamu sangat jahat!”
Patra membungkam bibir kekasihnya dengan telapak tangan karena sejak tadi dia tidak membiarkannya berbicara. Devina justru memukul-mukul d**a Patra. Justru Patra memeluk kekasihnya dengan erat. Devina kali ini tidak banyak bicara, ia justru menangis sesegukan.
“Aku tidak menginginkan pernikahan ini, Honey. Tapi kan kamu tahu sendiri kalau ayahku tidak mengijinkan aku untuk menjadi aktor. Dengan pernikahan ini maka aku bisa mewujudkan semuanya. Setelah semuanya selesai aku akan berpisah darinya.”
“Kapan kamu akan berpisah darinya. Kamu bohong!” seru Devina dengan parau.
“Aku janji. Kita akan pergi sama-sama setelah kita sukses.” Patra mempererat pelukannya.
“Kamu sungguh-sungguh?” tanya Devina mencari kebohongan di kelopak mata coklat yang selalu membuatnya tergila-gila.
Patra mengangguk dan mengecup kening kekasihnya dengan tulus.
Tanpa mereka sadari, pengantin wanitanya ada di balik ruangan dimana mereka berada. Mendengarkan obrolan mereka berdua.