“Tuan.” Devina terkejut saat ia disuruh seorang asing untuk masuk ke sebuah mobil. Rupanya Parmija yang menyuruh mereka.
“Akhirnya aku bisa berbicara langsung denganmu.” Parmija begitu sinis dengan gadis yang merupakan mantan Asisten Rumah Tangganya itu. Entah apa yang dimiliki oleh Devina hingga putranya yang ke sembilan jatuh cinta padanya.
Parmija meminta Devina untuk melupakan Patra, apapun yang terjadi. Karena Parmija tidak akan membiarkan mereka berdua berpisah. Pria tua itu bahkan memberikan sejumlah uang untuk Devina dan ia menerimanya, kebetulan Devina sedang membutuhkan uang untuk tambahan membayar hutang paman dan bibinya.
***
Ia merasa lega, Devina mau pergi saat sudah percaya padaanya. Ia memang tidak bohong pada gadis itu, setelah sukses ia akan menceraikan Cleo dan tidak perduli dengan restu dari orang tuanya.
“Cleo sejak kapan kamu di sini?” Pria itu terkejut dengan keberadaan Cleo di ambang pintu.
Gadis itu memutar bola mataya dengan malas, “Biasa saja kali. Aku tidak akan cemburu melihat kalian berdua. Aku juga berharap suatu hari nanti kita akan bercerai. Aku juga punya mimpi yang lainnya. Perihal bayi itu, sangat mudah.” Cleo bersikap sangat enteng.
Patra begitu lega dan kembali melanjutkan acara keluarga yang merayakan pernikahan mereka berdua.
“Patra, kamu menikah tidak mengabari aku?” Suaranya yang sangat cempreng membuat semua orang tertuju padanya.
“Duduklah dan ikut makan-makan!” Randy begitu bersemangat. “Siapa dia? Menyebalkan sekali?” tanya Orita langsung sengit.
Ibunya Patra menjawab, “Dia itu sahabatnya Patra. Kamu tidak tahu? Dia itu aktor.”
“Oh ... aku lupa.” Orita kembali makan rujak yang dibuat oleh ibunya Patra.
“Sayang sekali, Zain tidak datang,” bisik Patra bisa didengar istrinya.
“Aku merasa beruntung dia tidak datang. Setidaknya dia tidak boleh tahu kalau au sudah menikah.”
“Baiklah. Aku akan memberitahu Randy tentang semua ini.” Patra mengerlingkan matanya. Rupanya dia setuju jika Cleo bersama dengan Zain.
***
Malam itu juga, akhirnya Cleo tinggal di rumah baru, lebih tepatnya rumah mertua. Bayi Elza nampaknya dirawat oleh Hilmi, Ibu kandungnya Patra. Cleo saat ini sedang mengajari Johan, adiknya Patra untuk menggarap PR.
“Kalian besok lusa kalian sudah pindah ke apartemen, kan?” Patra yang semula asik main game hanya melirik sekilas.
“Iya, Tan.” Cleo kurang suka dengan sikap dua istri tertua Parmija yang sejak tadi bersikap acuh. Keberadaan mereka di sini juga karena keduanya harus belajar untuk merawat bayi.
“Soalnya berisik banget sama suara bayi itu.” Melirik ke arah Hilmi yang menimang-nimang bayi Elza.
Kedua orang tua baru itu sangat lega setelah melakukan tes untuk memandikan bayi bersama. Hilmi dan Parmija sangat senang deengan kedekatan mereka berdua. Merek berharap, menjadi orang tua untuk Bayi Elza bisa menumbuhkan cinta di antara mereka berdua.
“Mau kemana?” tanya Cleo saat Patra akan pergi.
“Keluar sebentar.”
“Kamu tidak mengajak istrimu?” Hilmi mengetahui Patra akan pergi saat menggendong Elza.
“Ikut kok,” ucap Patra memberi kode pada Cleo.
Keduanya keluar dari rumah besar dengan pagar tembok yang sangat tinggi itu, pencuri tidak akan bisa menjangkau tempat itu sembarangan.
Patra pun berhenti di sebuah pohon yang sangat rindang, tidak jauh dari tempatnya ada tkang cilok yang ramai dikunjungi anak-anak.
“Sebenarnya keluar aku ingin bertemu Devina. Harusnya kamu tidak boleh ikut.” Cleo mengerti. dia pun turun di situ dan membiarkan Patra pergi, nanti pria itu akan menjemputnya di sekitaran taman itu.
Patra sampai juga di rumah paman dan bibinya. Saat sampai di sana rupanya sang pujaan hati tidak ada.