Patra memejamkan matanya ketika mereka sudah melewati lampu merah. Entah bagaimana ceritanya nampaknya motor justru masih saja melaju dengan cepat. Tentunya Cleo belum pernah membawa benda seperti itu.
Patra sudah tidak mau berkata apa-apa lagi. Percuma saja baginya mengajari Cleo. Justru kali ini pria itu sudah sangat kelelahan. Rasa sakit pada tubuhnya membuat ia memeluk Cleo dari belakang.
Tubuh Cleo menegang seketika dan dia langsung panik ketika Patra melakukan itu.
“ Heh! Sembarangan aja kamu! Jangan menggunakan kesempatan dalam kesempitan!" seru Cleo. Namun Patra tidak bergeming, ia justru memeluk tubuh Cleo dengan erat saat laju motornya makin mengencang.
Dengan perasaan kurang nyaman, akhirnya Cleo harus berusaha bagaimana cara menghentikan motornya. Namun suara sirine mengikuti di belakang mereka. Hal itu membuat Cleo harus kembali melanjutkan motornya dengan kencang, bahkan ia berhasil mendahului banyak kendaraan dan kendaraan yang teramat besar di hadapannya sekali pun.
Dengan penuh tekad, ia mulai berusaha mengendalikan. Cleo harus bekerja cepat untuk bisa mengurangi kecepatan pada motor itu terlebih dahulu.
“Aku mengerti sekarang," ucap Cleo dengan girang. Akhirnya ia berhasil membelokan motornya menuju ke sebuah gang kecil untuk menghindar dari para petugas yang mengejar mereka.
Cleo menghela nafas lega ketika suara motor itu sudah lewat dan menjauh.
Akhirnya motor itu pun terhenti dengan cantik, bahkan mesinnya pun langsung mati. Sementara Patra masih terpejam tetap memeluk Cleo di belakang. Dagunya ia sandarkan di bahu Cleo. Dengan kesal, Cleo langsung saja memukul wajah Patra dengan siku.
Tentunya Patra langsung saja mengerang kesakitan. Wajah bonyok itu kali ini harus kembali dipukul oleh Cleo. Pukulan Cleo memang tidak terlalu keras, tetapi hal itu sangat berasa sekali bagi Patra, terutama setelah luka yang didapat sebelumnya sudah parah.
“Kenapa aku dipukul?" protes Patra meringis sembari turun dari motornya. Dengan mata setengah terpejam, ia langsung saja duduk di bahu jalan.
Cleo kini pun ikut turun sembari memutar bola matanya dengan malas, “Jangan mentang-mentang aku mau menolongmu, kamu jadi seenaknya padaku.” Wanita itu nampaknya tidak terima dengan perlakuan dari Patra barusan.
“Maaf," lirihnya tahu maksud Cleo.
Kali ini tidak ada lagi perlawanan kata ketika pria itu sangat lemah sekali. Melihat Patra yang lemah, Cleo mendadak menjadi merasa bersalah.
“Sepertinya aku harus mengobatimu. Tunggu di sini! Aku akan mencarikan obat!" ujar Cleo langsung saja memandang ke arah sekitar di mana mungkin saja ada warung. Ia melihat warung yang menjadi incarannya. Semoga saja ada obat yang dibutuhkan di warung kecil itu.
Tak lama kemudian Cleo datang, saat ini pria bernama Patra tengah menyandarkan dirinya di bawah tiang listrik.
“Pakai acara nyandar di sini segala. Seperti tidak ada tempat lain," gumam gadis itu sembari meletakkan sebuah kotak obat yang dibawanya.
“Itu karena kekasihku sudah hilang," sahut Patra dengan wajah masamnya.
Cleo langsung saja mengeluarkan sebuah betadine serta kapas. Tidak lupa dengan cairan pembersih luka. Sebelum memberikan betadine ya, Cleo lebih dulu membersihkan luka itu dengan caian antiseptik.
"Argh ... sakit!" erang pria itu sembari memukul tangan Cleo dengan pelan.
Yang dipukul hanya mendengus kesal, “Kamu ini. Mau diobati tidak? Sudah sakit, diobati justru tidak mau," decak Cleo dengan kesal.
“Hati-hati. Kamu ini wanita tidak bisa lembut sedikit!" sahut Patra.
Cleo memutar bola matanya dengan malas, kemudian ia lebih hati-hati lagi dalam mengobati wajah Patra yang sudah tidak terlihat lagi ketampanan nya.
Lagi-lagi Patra hanya bisa meringis sehingga Cleo harus lebih sabar mengobati luka Patra yang baginya pria itu sangat manja. Cleo tidak merasakan bagaimana sakit yang didera oleh Patra . Karena Cleo memang belum pernah merasakannya.
“Jadi pria sangat lemah sekali," ejek Cleo kali ini meraih tangan Patra dan berganti mengobati tangannya.
“Andai saja kamu yang dipukuli, mungkin kamu sudah pingsan.” Patra berkata dengan ketus.
Cleo hanya diam saja. Ia lebih asyik dengan aktivitasnya ketimbang mengurusi perkataan dari Patra.
Sampai akhirnya selesai juga. Beberapa wajah Patra kali ini terbalut dengan kapas. Tak lupa juga dengan punggung tangannya yang kulitnya terkelupas.
Cleo akhirnya menyimpan obatnya kembali. Ia memasukkannya ke dalam kantong kresek.
“Sudah selesai. Jadi sekarang kamu antarkan aku kembali ke tempat tadi! Sepedaku ada di sana," pinta Cleo kemudian. Ia tadi emang membeli sepeda untuk berkeliling taman dan nantinya akan ia gunakan untuk pergi kemanapun termasuk kampus.
“Apa? Mau cari mati kalau kita kesana lagi," tolak pria itu sembari memalingkan wajahnya.
Cleo mendengus dan manyun, “Sudah ditolong, tapi tidak mau berterimakasih. Lalu bagaimana dengan nasib sepedaku itu!" Cleo kali ini memandang ke arah seberang sana dengan wajah kesal.
“Tenang saja, aku akan mengganti sepeda itu. Emangnya berapa sih harga sepeda mu itu?" tanya Patra agak sombong.
Cleo sangat benci dengan ucapan dari Patra tersebut, ”Mana mungkin kamu punya uang. Kamu kam selama ini tidak dapat uang dari Paman Parmija," ejek Cleo ingat bagaimana keadaan Patra.
Patra menutupi dirinya sendiri yang sedikit menyombongkan diri. Ia menggarukan kepalanya yang tidak gatal.
“Sebenarnya itu ...” Patra jadi bingung untuk mengatakannya.
Kali ini justru Cleo langsung saja menyeringai, “Harga sepedaku itu lima juta. Juga ganti rugi karena kamu sudah membahayakan nyawaku di jalan tadi 10 juta. Jadi kamu harus ganti rugi 15 juta," tutur Cleo dengan santainya. Sebenarnya ia tidak ingin minta ganti rugi, tetapi ia hanya ingin membuat Patra pusing saja.
Dan benar adanya, kali ini Patra terlihat bingung.