Sera masih memegang ponsel beberapa saat setelah panggilan berakhir. Ia memeriksa jam, lalu membaca pesan Gadis yang memberi tahu bahwa dirinya baru berangkat.
Gadis benar-benar sedang datang.
Ia bangkit untuk mengambil gelas lain, kemudian berdiri bingung di depan lemari dapur. Untuk apa menyiapkan minuman sekarang? Air yang diambilnya sendiri saja belum habis.
Sera menutup lemari.
Ketika bel berbunyi beberapa puluh menit kemudian, ia langsung berjalan ke pintu.
Gadis berdiri membawa tas besar dan satu kantong minimarket.
“Lo pindahan?” tanya Sera.
“Kalau gue bawa koper, baru boleh curiga.”
Gadis masuk setelah Sera menyingkir. Ia meletakkan barang di meja, mengeluarkan air mineral, roti, dan sebungkus biskuit.
Sera memandangi belanjaan tersebut.
“Gue tadi udah makan.”
“Ini buat gue. Berangkat belum sempat makan.”
“Oh.”
Gadis menoleh.
“Kenapa? Kecewa bukan oleh-oleh?”
Biasanya Sera akan membalas panjang. Malam itu ia hanya menggeleng, lalu duduk di ujung sofa.
Gadis membuka roti tanpa terburu-buru. Ia mengunyah beberapa kali sebelum menarik kursi kecil agar bisa duduk menghadap sahabatnya.
“Dia masih di bawah?”
“Nggak tahu.”
“Lo mau gue cek?”
Sera menggeleng.
Ia tidak ingin tahu Gio sudah pergi atau masih menunggu. Kedua kemungkinan itu sama-sama membuat dadanya tidak nyaman.
Gadis mengangguk, menyimpan ponselnya kembali.
Keheningan berlangsung sebentar.
“Gue tadi naik mobilnya sambil ketawa,” ujar Sera.
Gadis menatapnya.
“Di warung juga biasa aja. Gue cerita soal studio.”
Kalimat berikutnya tersangkut. Sera menekan ujung kukunya ke jahitan bantal.
“Terus sekarang gue harus ingat malam yang bahkan gue nggak ingat.”
Gadis meletakkan roti.
“Ser.”
“Gue kesel banget.”
“Iya.”
“Bukan cuma karena dia nyium gue.”
Gadis mengangguk lagi, menunggu.
Sera menarik napas dengan susah payah.
“Gue udah mulai percaya sama dia, Dis.”
Akhirnya air mata jatuh.
Sera buru-buru menyekanya, kesal karena kalimat itu membuat pertahanannya hancur lebih cepat daripada semua yang dikatakan di telepon.
Gadis berpindah duduk ke sampingnya.
“Lo nggak harus menentukan apa-apa malam ini.”
“Gue juga nggak tahu harus menentukan apa.”
“Ya sudah. Malam ini kita tidur dulu.”
“Lo gampang banget ngomong tidur.”
“Karena kalau gue bilang kita lari keliling gedung, kaki lo protes.”
Sera mengembuskan tawa pendek yang langsung pecah menjadi tangis lagi.
Gadis merangkul bahunya.
Ia tidak mengatakan bahwa Gio sebenarnya baik, atau mengingatkan bagaimana pria itu datang ke rumah sakit. Semua itu sudah diketahui Sera.
Justru karena mengetahuinya, sahabatnya terlihat begitu kecewa.
Ponsel Gadis bergetar di meja.
Nama Rama muncul.
Sera menegakkan tubuh.
“Lo bilang ke dia?”
“Gue cuma bilang nginep di sini. Belum cerita apa-apa.”
“Jangan dulu, ya.”
“Oke.”
Gadis membalas pesan singkat, kemudian membalik ponselnya.
Sera memperhatikan gerakan itu.
Rasa sesak di dadanya belum reda, tetapi setidaknya ia tidak harus membayangkan ceritanya berpindah ke mulut orang lain malam ini.
Beberapa waktu kemudian, Gadis menyuruhnya mencuci muka. Sera menurut setelah menggerutu karena sahabatnya terdengar seperti sedang menyiapkan anak kecil tidur.
Ketika ia kembali, sofa sudah dirapikan dan gelasnya diganti dengan air baru.
“Lo tidur di kamar,” kata Sera.
“Terus lo?”
“Ya di kamar juga. Ranjang gue bukan perangko.”
Gadis mengangkat bahu.
“Gue takut lo tendang.”
“Kalau lo ngorok, mungkin.”
Mereka masuk setelah memeriksa pintu.
Gadis meminjam kaus, lalu hampir menjatuhkan botol perawatan wajah ketika mencari sikat gigi cadangan.
“Yang bawah, Dis.”
“Ini semua botol isinya apa sih?”
“Harapan.”
“Pantas mahal.”
Sera sempat tersenyum di depan cermin.
Senyum itu menghilang ketika ia teringat bagaimana Gio pernah berdiri dekat pintu apartemennya, membawa makanan dan mengomentari kebiasaannya bekerja.
Gadis melihat perubahan tersebut melalui pantulan kaca, tetapi tidak bertanya.
Ia hanya menggeser botol yang nyaris tersenggol ke tempat lebih aman.
***
Pagi berikutnya, Sera bangun dengan mata berat.
Di sampingnya, Gadis tidur miring sambil memeluk ujung selimut yang seharusnya dibagi dua.
Sera menariknya sedikit.
Gadis mendengus.
“Bangun. Lo yang ngajak tidur, sekarang lo yang nggak mau bangun.”
“Lima menit.”
“Acara lo bisa mulai lima menit lebih telat?”
Mata Gadis langsung terbuka.
Sera meninggalkannya duduk linglung, lalu berjalan ke dapur.
Ia tidak tidur nyenyak. Beberapa kali ia terbangun dan memeriksa ponsel meskipun tidak tahu pesan seperti apa yang diharapkannya.
Gio tidak menghubungi.
Ketika akhirnya ada pesan masuk pagi itu, Sera mengenali namanya sebelum membaca isinya.
Gue minta maaf atas yang gue lakukan malam itu dan karena baru bilang sekarang. Gue nggak akan datang tanpa lo minta. Untuk urusan liputan, lo bisa lewat Rama.
Tidak ada penjelasan tambahan.
Sera membaca dua kali.
Jemarinya berhenti di atas layar cukup lama sebelum mengetik.
Gue belum mau ketemu atau ngobrol pribadi sama lo. Jangan libatkan keluarga.
Ia mengirimnya sebelum keberaniannya surut.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Iya. Gue paham.
Sera meletakkan ponsel.
Gadis keluar dari kamar sambil mengikat rambut.
“Ada pesan?”
Sera mengangguk, lalu menyebutkan jawabannya sendiri.
Gadis tidak meminta melihat layar.
“Terus hari ini lo tetap masuk?”
“Iya. Ada persiapan sama Lina.”
“Bisa?”
Sera mengambil dua piring.
“Gue mau coba.”
Gadis menerima salah satunya, kemudian membuka biskuit sisa semalam.
Mereka sarapan seadanya sambil bergantian mencari barang yang belum masuk tas. Sera kehilangan kartu akses kantor di antara lipatan selimut, sementara Gadis baru sadar antingnya tertinggal di wastafel.
Kesibukan kecil itu membantu Sera bergerak.
Di depan cermin, ia mencoba menutupi sembap di bawah mata. Gadis memperhatikannya sambil memasukkan pengisi daya ke tas.
“Jangan tebal-tebal. Nanti malah retak.”
“Ini wajah, bukan tembok.”
“Makanya jangan diplamir.”
Sera meletakkan alat rias dengan sedikit lebih keras, lalu mengambil sisir.
Ia teringat jadwal yang diberikan Lina kemarin. Ada latihan membaca dan pengenalan pergantian kamera. Semua sudah disanggupinya ketika pikirannya masih ringan.
Sekarang ia sempat ingin mengirim alasan agar jadwal itu dipindahkan.
Namun, setelah membuka percakapan Lina, Sera hanya membaca pesan terakhir yang berisi waktu pertemuan.
Ia bisa datang terlebih dahulu. Kalau ternyata tidak sanggup, ia akan mengatakannya di sana.
Sera memasukkan kembali ponsel dan memeriksa kartu aksesnya untuk kedua kali.
Menjelang berangkat, ia berhenti di depan pintu kamar dan melihat kaus pinjamannya terlipat di atas ranjang.
“Dis.”
Gadis menoleh.
“Makasih udah datang.”
“Besok kalau gue lagi ribut sama Rama, gantian.”
“Jangan. Lo kalau curhat panjang.”
“Enak aja!”
Sera tertawa kecil.
Saat mereka keluar dari apartemen, ia masih merasa sedih. Pesan Gio juga belum berhenti terlintas di kepalanya.
Namun, pagi tetap menuntutnya memilih sepatu, membawa tas, dan datang bekerja.
Untuk beberapa jam ke depan, Sera ingin mengerjakan hal-hal yang masih bisa dihadapinya satu per satu.