Gio membaca jawaban Sera sebelum masuk ke ruang kerjanya.
Jangan libatkan keluarga.
Ia menyimpan ponsel setelah membalas. Sejak pagi, tangannya sudah beberapa kali membuka percakapan Rea, lalu menutupnya lagi tanpa menulis apa pun.
Sekarang ia tidak memiliki alasan untuk melakukannya.
Ronan menyusul dengan beberapa dokumen.
“Yang ini perlu tanda tangan. Yang ini dibaca dulu. Jangan ketuker.”
Gio menerima map.
“Memangnya gue pernah?”
“Pernah hampir. Untung gue sayang gaji.”
Biasanya Gio akan menyuruhnya keluar sambil melempar lelucon. Pagi itu ia hanya menarik kursi dan membuka halaman pertama.
Ronan memperhatikannya sebentar.
“Lo sakit?”
“Nggak.”
“Bagus. Rapat jam sepuluh tetap jalan.”
Gio mengangkat wajah.
“Lo perhatian banget.”
“Profesional.”
Ronan meletakkan secangkir kopi, kemudian berbalik menuju pintu.
“Jangan lupa dimakan rotinya. Dari tadi lo aduk kopi kayak mau cari sesuatu di dasar gelas.”
Setelah pintu menutup, Gio menatap roti di sudut meja.
Ia menggigitnya tanpa selera.
Setengah jam berikutnya dihabiskan untuk membaca dokumen yang sebenarnya bisa selesai lebih cepat. Dua kali ia kehilangan baris karena memikirkan wajah Sera di parkiran.
Pada kesempatan ketiga, Gio meletakkan ponsel ke dalam laci.
Ia tidak bisa terus membawa kesalahannya ke setiap pekerjaan orang lain.
***
Rapat berakhir menjelang makan siang.
Gery meminta Gio tetap duduk setelah yang lain keluar.
“Ada yang mau Mas bahas?”
“Jadwal dari pihak Sutidjo sudah masuk.”
Gio mengangguk, menunggu kelanjutan.
“Mereka minta pertemuan Kamis. Papa mau kamu ikut.”
“Untuk urusan kerja?”
Gery menatapnya datar.
“Kalau untuk piknik, nggak di ruang rapat.”
Gio mengusap tengkuk.
“Iya. Gio ikut.”
Gery menutup map, tetapi belum berdiri.
“Papa masih kesal.”
“Gio tahu.”
“Tapi pekerjaan tetap pekerjaan. Kamu boleh menolak dijodohkan. Yang jadi tanggung jawabmu jangan ikut dibuang.”
“Gio nggak berniat begitu.”
“Makanya Mas ngomong sekarang, sebelum kalian sama-sama gengsi lalu semua orang kebagian repot.”
Gio menatap kakaknya.
Sejak kecil, Gery punya cara menyebalkan untuk menyampaikan hal yang benar tanpa memberinya ruang membantah.
“Mas puas ceramah?”
“Belum. Tapi Mas lapar.”
Gio akhirnya tersenyum tipis.
Mereka keluar bersama, berpisah di depan lift karena Gery harus menerima telepon Anya.
Gio kembali ke ruangannya.
Ronan sedang berbicara melalui sambungan meja. Melihat Gio, ia menutup mikrofon dengan tangan.
“Levia minta disambungkan.”
Gio berhenti.
“Ada keperluan apa?”
“Katanya mau ngobrol soal kemarin.”
Gio mengambil napas, lalu mengulurkan tangan meminta sambungan.
Ronan memindahkannya ke telepon di dalam ruangan.
Suara Levia terdengar ketika Gio mengangkat gagang.
“Gio.”
“Iya, Lev.”
“Aku mengganggu?”
“Aku punya waktu sebentar.”
Levia terdiam sebelum meminta maaf karena orang tuanya membawa pembicaraan ke arah hubungan mereka.
Gio mendengarkan sampai selesai.
“Aku juga minta maaf suasananya jadi nggak enak,” katanya. “Tapi jawaban aku tetap sama.”
“Aku tahu.”
Ada jeda.
“Aku cuma berharap kita nggak jadi asing.”
Gio memandang jendela.
Ia pernah berpikir tetap memberi waktu sebanyak dulu akan membuat Levia lebih mudah menerima perpisahan. Kenyataannya, setiap pertemuan justru dijadikan tanda bahwa kesempatan itu masih terbuka.
“Untuk sekarang, lebih baik kita nggak sering ketemu dulu.”
“Karena dia minta?”
“Ini keputusan aku.”
Gio tidak menyebut nama Sera.
Apa yang sedang terjadi di antara dirinya dan gadis itu bukan sesuatu yang bisa dipakai untuk menghibur Levia.
“Kalau kamu butuh urusan kantor, lewat Ronan. Di luar itu, aku minta kamu kasih jarak.”
Levia mengembuskan napas yang terdengar berat.
“Baik.”
Setelah telepon ditutup, Gio tetap memegang gagang beberapa saat.
Ia tidak merasa menang.
Hari itu terlalu banyak hal yang harus diakuinya tanpa bisa diperbaiki dengan mengirim makanan atau menawarkan tumpangan.
***
Sore hari, Gio datang ke sanggar lebih awal.
Ia membantu memindahkan perlengkapan, memeriksa daftar murid, lalu mengganti pakaian sebelum kelas dimulai.
Rama menemukannya sedang membenarkan tali pelindung yang terlepas.
“Galaxy Media jadi datang Kamis.”
Gio mengangguk.
“Lo yang atur sama Sera, ya.”
“Biasanya juga gue yang atur jadwal. Kemarin lo doang yang tiba-tiba rajin.”
Gio tidak membalas.
Rama meletakkan botol minum di bangku.
“Lo berantem?”
Gio mengangkat wajah.
“Gadis cerita?”
“Nggak. Dia cuma nginep di tempat Sera. Gue tanya, katanya temannya butuh ditemenin.”
Gio kembali memandangi tali di tangannya.
“Gue bikin salah.”
“Apa?”
“Urusan pribadi. Gue nggak bisa cerita tanpa bikin Sera makin nggak nyaman.”
Rama diam sejenak.
Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi wajah Gio membuatnya menahan pertanyaan.
“Terus Kamis lo mau menghilang?”
“Gue ada rapat siang. Kelas sore tetap gue pegang.”
“Bagus. Anak-anak udah latihan buat diambil gambarnya.”
“Gue tahu.”
Rama menarik kursi dan duduk sebentar.
“Gue nggak akan tanya Gadis.”
Gio menatapnya.
“Gue belum minta.”
“Muka lo dari tadi kayak mau menitip pesan lewat tiga orang.”
Gio mengembuskan napas. Rama ternyata cukup lama mengenalnya untuk menebak jalan pintas yang sempat terlintas.
“Gue nggak akan nitip.”
“Bagus. Gue juga nggak mau salah ngomong.”
Seorang wali murid muncul di pintu untuk menanyakan jadwal pengganti. Rama berdiri melayaninya, sementara Gio membuka daftar kelas dan mencari tempat yang masih kosong.
Percakapan mereka terhenti oleh urusan sederhana itu. Gio menjelaskan dua pilihan hari, lalu mencatat keputusan ibu tersebut di lembar yang biasa dipakai bersama.
Setelah perempuan itu pergi, Rama memeriksa tulisannya.
“Ini angka enam atau huruf b?”
“Enam.”
“Lo kalau patah hati jangan tulisan ikut rusak.”
“Ram.”
“Iya, iya.”
Rama tidak bertanya lagi. Ia mengambil daftar itu untuk ditempelkan dekat meja, lalu kembali pada perlengkapan yang belum beres.
Rama menunjuk tali yang sejak tadi ditarik Gio.
“Itu makin kusut kalau lo paksa.”
Gio menunduk, baru menyadari simpulnya mengencang.
Rama mengambilnya dan melepaskan satu bagian perlahan.
“Bantu urus yang lain dulu.”
Gio menurut.
Ketika murid-murid mulai datang, ia berjongkok untuk mendengarkan seorang anak yang mengeluh temannya selalu menertawakan gerakannya.
Gio memanggil keduanya.
Biasanya ia bisa menyelesaikan pertengkaran kecil itu sambil bercanda. Sore ini ia memilih mendengarkan lebih lama, memastikan anak yang mengeluh selesai berbicara sebelum temannya membela diri.
Setelah mereka kembali ke barisan, Gio berdiri di tepi matras.
Dari tempat itu, ia bisa melihat bangku yang kemarin diduduki Sera.
Kosong.
Gio mengalihkan pandangan ketika Rama memberikan aba-aba.
Kelas dimulai, dan ia maju untuk menunjukkan gerakan berikutnya.
Di sela latihan, keinginan memeriksa ponsel masih datang. Namun, sampai murid terakhir dijemput, benda itu tetap berada di dalam tas.
Gio baru membukanya saat hendak pulang.
Tidak ada pesan baru dari Sera.
Ia memasukkan ponsel kembali, mengunci pintu sanggar bersama Rama, lalu berjalan menuju mobilnya sendiri.