Sera melirik kendaraan operasional yang menunggunya, kemudian kembali menatap Levia.
“Kalau soal hubungan kalian, sebaiknya langsung ke Gio.”
“Aku cuma ingin tahu kalian sebenarnya sedekat apa.”
Nada Levia tetap lembut. Namun, pertanyaannya membuat Sera merapatkan jemari pada tali tas.
“Kamu perlu tahu untuk apa?”
Levia terdiam sebentar.
“Gio berubah sejak dekat sama kamu.”
Sera hampir tertawa.
Ia sudah cukup lelah menghadapi perubahan perasaannya sendiri. Sekarang orang lain datang seolah ia juga bertanggung jawab atas perubahan seorang Gio Aldian Berata.
“Keputusan dia bukan sesuatu yang bisa aku jelaskan.”
“Aku tahu. Tapi mungkin kamu nggak tahu kalau kami sudah kenal lama.”
“Aku tahu kalian pernah pacaran.”
“Bukan cuma pacaran.”
Levia menunduk memandangi tas kertas di tangannya.
Di dalamnya ada beberapa foto dan barang kecil yang ditemukan ketika ia membereskan lemari di rumah orang tuanya. Sejak siang ia sudah memikirkan alasan untuk mengembalikannya sendiri.
Ia tahu Gio meminta jarak.
Namun, ia belum siap membiarkan semua pintu tertutup begitu saja.
“Banyak yang pernah kami lewati,” lanjut Levia. “Kadang orang yang baru datang cuma melihat keadaan sekarang.”
Sera menatapnya lebih lama.
Ada kesedihan yang sungguh-sungguh di wajah perempuan itu. Sayangnya, kesedihan tersebut sedang diarahkan kepadanya seperti sesuatu yang harus ia tanggung.
“Aku nggak sedang menghapus masa lalu kalian.”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Lalu kamu ingin aku melakukan apa?”
Pertanyaan itu membuat Levia kehilangan jawaban yang sudah disiapkan.
Dari kendaraan, rekan Sera mengangkat tangan, memberi tahu bahwa semua barang sudah masuk.
Sera membalas dengan anggukan.
“Aku harus kembali ke kantor.”
“Tunggu.”
Levia melangkah sedikit mendekat, tetapi tidak menyentuhnya.
“Gio memang perhatian kalau melihat orang kesusahan. Dia gampang merasa kasihan.”
Wajah Sera berubah sebelum ia sempat menahannya.
Levia melihat perubahan tersebut.
“Aku cuma nggak mau kamu salah mengartikan.”
Beberapa detik, Sera tidak mengatakan apa-apa.
Ia teringat ranjang rumah sakit, sebotol air yang disodorkan Gio, dan betapa mudahnya dirinya mulai menunggu kedatangan pria itu.
Namun, ia juga teringat kalimat yang sama pernah mengikat perasaannya kepada Raka selama bertahun-tahun.
Rasa kasihan.
Pertolongan.
Utang yang tidak pernah diminta untuk dibayar, tetapi terus dihitungnya sendiri.
Sera menarik napas.
“Kalau begitu, kamu bisa tenang,” katanya. “Aku nggak sedang meminta kamu menjelaskan perasaan Gio.”
Levia mengerutkan kening.
“Aku cuma—”
“Aku juga nggak akan menjelaskan perasaanku ke kamu.”
Sera mengatakannya tanpa meninggikan suara.
Ia tidak menceritakan pertengkaran mereka. Tidak menyebut bahwa dirinya sudah meminta Gio menjauh. Informasi itu tidak perlu dijadikan hadiah agar perempuan di hadapannya merasa lebih baik.
“Aku pamit.”
Kali ini Sera langsung berjalan menuju kendaraan.
Ia duduk, memasang sabuk pengaman, lalu membuka catatan pekerjaan sebelum rekannya sempat bertanya terlalu banyak.
“Sudah beres?” tanya pria itu.
“Sudah. Kita balik.”
Mobil bergerak meninggalkan sanggar.
Sera tidak menoleh ke belakang.
Di layar ponsel, Rama mengirim satu keterangan tambahan yang tadi belum sempat dicatat. Sera membalas terima kasih, lalu meneruskannya kepada rekan yang duduk di sebelahnya.
Urusan itu membantunya berhenti mengulang perkataan Levia selama beberapa menit.
Ia tidak tahu apakah perempuan itu sengaja memilih kalimat yang paling mengganggunya. Ia juga tidak ingin menghabiskan perjalanan dengan menebak.
Yang jelas, Gio sudah memberinya cukup alasan untuk marah tanpa perlu ditambah kesimpulan dari orang lain.
Sera membuka kembali naskah liputan.
Kalimat pertama dibacanya pelan-pelan sampai pikirannya mulai mengikuti.
***
Gio menemukan Levia masih berdiri dekat pintu ketika ia keluar membawa kantong sampah.
Langkahnya terhenti.
“Lev?”
Levia segera menegakkan tubuh.
“Aku mau mengembalikan ini.”
Gio meletakkan kantong di tempat sampah, lalu memandang bawaan perempuan itu.
“Apa?”
“Barang-barang kamu. Tadi ketemu waktu aku beresin lemari.”
Gio menerima tas kertas yang disodorkan.
Di bagian atas ada amplop foto yang sudah menguning di tepinya. Ketika membukanya sedikit, ia melihat dirinya berseragam sekolah, berdiri bersama Fery, Dion, Ronan, dan beberapa teman lain.
Levia berada di sebelahnya.
Mereka tampak jauh lebih muda.
“Ada beberapa foto yang dobel,” kata Levia. “Kupikir kamu mungkin mau simpan.”
Gio mengangguk.
“Makasih. Sebenarnya bisa dititipkan.”
“Aku lewat sini.”
Gio memandangi wajahnya.
Levia tahu alasan itu terdengar lemah. Rumah orang tuanya tidak berada di jalur yang membuat sanggar menjadi tempat singgah paling masuk akal.
“Aku memang ingin ketemu,” akunya akhirnya.
Gio menurunkan tas kertas.
“Aku sudah bilang Selasa.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu tahu, kenapa masih begini?”
Suara Gio tidak keras, tetapi membuat Levia menggigit bibir.
Ia menatap foto yang masih dipegang pria itu.
“Karena buat kamu mungkin semuanya sudah selesai. Buat aku belum.”
Gio terdiam.
Di dalam sanggar, Rama sedang berbicara dengan orang tua murid terakhir. Sesekali terdengar tawa anak kecil yang belum ingin pulang.
Levia mengusap ujung jarinya sendiri.
“Waktu dulu kamu selalu sibuk mengurus Rea, aku merasa nggak punya tempat.”
“Dan waktu itu Rea sedang kehilangan ibunya.”
“Aku tahu. Sekarang aku tahu aku egois.”
Gio menatapnya, kali ini tanpa menyela.
“Tapi waktu itu aku juga menunggu kamu melihat aku,” lanjut Levia. “Aku pikir kalau aku pergi, kamu akan menyusul.”
Gio mengembuskan napas panjang.
Ada banyak pertengkaran lama yang masih diingatnya. Namun, mendengar harapan tersebut diucapkan sekarang tidak membuat masa itu bisa diulang dengan hasil berbeda.
“Aku nggak tahu kamu menunggu itu.”
“Memang nggak pernah kamu tanyakan.”
Gio menerima teguran tersebut dalam diam.
Mungkin ada hal yang tidak mereka bicarakan dengan baik dulu. Mungkin ia juga terlalu yakin Levia akan memahami keadaan tanpa perlu dijelaskan berkali-kali.
Namun, penyesalan atas cara mereka berpisah tidak sama dengan keinginan memulai kembali.
“Aku minta maaf untuk hal-hal yang dulu nggak kita selesaikan dengan baik,” katanya. “Tapi aku tetap nggak mau balikan, Lev.”
Levia menutup mata sebentar.
Ketika membukanya, pandangannya beralih ke tempat kendaraan Galaxy Media tadi terparkir.
“Aku tadi ketemu Sera.”
Jemari Gio berhenti merapikan amplop.
“Kamu bicara sama dia?”
“Sebentar.”
“Tentang apa?”
“Tentang kamu.”
Gio menatapnya lurus.
“Jangan tarik dia ke urusan kita.”
“Aku nggak ngapa-ngapain.”
“Aku nggak bilang kamu ngapa-ngapain. Aku bilang jawaban tentang aku seharusnya kamu minta ke aku.”
Levia memalingkan wajah.
Gio menunggu sampai ia kembali menatapnya.
“Dan jawabannya sudah aku kasih.”
Tidak lama setelah itu, Levia pulang.
Gio berdiri dengan tas kertas di tangan, memikirkan apa yang mungkin didengar Sera sebelum pergi.
Ia ingin menelepon.
Namun, Sera sudah meminta tidak diajak membicarakan urusan pribadi.
Gio akhirnya masuk kembali ke sanggar, membawa foto-foto lama yang malam itu terasa jauh lebih berat daripada seharusnya.