Jumat pagi, tas kertas dari Levia masih berada di kursi kamar Gio.
Ia memindahkannya ke dalam lemari sebelum berangkat, lalu membawa berkas yang harus diselesaikan untuk Adam.
Di kantor, Ronan sudah menunggu dengan beberapa catatan.
“Gue kirim pembaruan tadi malam. Udah lihat?”
“Udah. Bagian jadwalnya masih perlu dicocokkan.”
“Timnya bisa ditelepon sekarang.”
Gio mengangguk.
Mereka bekerja tanpa banyak bercanda sampai hampir pukul sebelas. Setelah memastikan tidak ada angka yang tertukar dan jadwal yang saling bertabrakan, Gio mengirimkan hasilnya kepada Gery dan Adam.
Ia baru menyandarkan punggung ketika Ronan meletakkan ponsel di dekatnya.
“Rama kirim jadwal tayang.”
Gio mengangkat wajah.
“Liputan sanggar?”
“Sabtu sore. Katanya nanti tautannya juga dikirim.”
Gio mengambil ponsel sendiri dan membaca pesan di grup.
Di bawahnya, Rama sudah mengingatkan agar informasi tersebut diteruskan kepada orang tua murid yang ikut diwawancarai.
Gio membalas singkat, lalu menyimpan jadwalnya.
Ronan memperhatikan perubahan kecil pada wajah temannya.
“Senang amat.”
“Anak-anak pasti senang.”
“Gue belum bilang siapa yang senang.”
Gio melirik tajam.
Ronan mengangkat kedua tangan, kemudian mengambil map kosong dari meja.
Namun, sebelum keluar, ia berhenti lagi.
“Levia kemarin bilang fotonya sudah sampai.”
Gio mengerutkan kening.
“Dia hubungi lo?”
“Ngirim foto lama kita. Gue disuruh lihat badan gue sebelum kebanyakan duduk di kantor.”
Gio hampir tersenyum.
Ronan memang terlihat paling berbeda di antara teman-teman sekolah mereka. Dulu wajahnya lebih tirus dan rambutnya jauh lebih berantakan.
Sekarang pria itu bahkan bisa mengomel kalau Gio datang dengan kerah terlipat.
“Dia ke sanggar,” kata Gio.
“Oh.”
“Gue sudah minta nggak sering ketemu. Tapi dia bawa barang lama.”
Ronan mengangguk perlahan.
“Lo terima barangnya?”
“Iya.”
“Terus?”
“Gue bilang jawaban gue belum berubah.”
Ronan bersandar pada pintu.
“Kalau begitu jangan besok lo ajak makan karena merasa bersalah.”
Gio mendesah.
“Mama juga ngomong begitu.”
“Berarti Mama lo punya sekretaris yang cocok.”
“Yang punya sekretaris gue.”
“Sayangnya begitu.”
Gio akhirnya tertawa pendek.
Setelah Ronan keluar, ia kembali melihat jadwal tayang.
Ia masih ingin mengetahui percakapan Sera dengan Levia, tetapi belum melakukan apa pun untuk mencari tahu.
Sekali ini, rasa ingin tahunya harus bisa menunggu.
***
Di Galaxy Media, Sera memeriksa potongan akhir liputan bersama rekannya.
Ada bagian wawancara yang dipendekkan, beberapa gambar latihan yang dipindah urutannya, dan suara latar yang perlu diturunkan agar jawaban anak-anak terdengar jelas.
Sera menonton dari awal sampai akhir tanpa menghentikan pemutaran.
Ketika selesai, ia menandai dua hal kecil.
“Yang nama pelatih, pakai yang sudah dikoreksi kemarin.”
Rekannya mengangguk.
“Yang lain?”
“Sudah.”
Sera menyandarkan punggung.
Liputan itu akhirnya terasa utuh. Bukan karena semua gambar terlihat sempurna, melainkan karena alasan anak-anak datang dan tetap berlatih bisa dipahami.
Ia puas dengan hasilnya. Catatan yang memenuhi buku selama beberapa hari akhirnya berubah menjadi cerita yang bisa ditonton orang lain.
Perasaan tersebut muncul lebih dulu daripada kesadaran bahwa wajah Gio ada di dalam tayangan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin meminta maaf kepada dirinya sendiri karena masih bisa menilai pria itu melakukan sesuatu dengan baik.
Gadis datang ketika Sera kembali ke meja.
“Tadi Mas Panca cari lo.”
“Kenapa?”
“Katanya Selasa depan mulai mendampingi Lina di siaran.”
Sera berhenti meletakkan tas.
“Serius?”
“Makanya temui orangnya. Jangan tatap gue kayak gue yang megang jadwal.”
Sera segera berjalan ke ruang Panca.
Pembicaraan berlangsung singkat. Ia akan mendapatkan bagian yang sudah dipersiapkan bersama Lina, lalu menjalani evaluasi setelah siaran.
Tidak seluruh acara diserahkan kepadanya.
Tetap saja, mendengar tanggal yang pasti membuat perut Sera terasa kosong.
“Bisa?” tanya Panca.
Sera memandangi jadwal.
Kemudian ia mengangguk.
“Bisa, Mas.”
***
Sabtu sore, Gio menyalakan televisi di ruang keluarga beberapa menit sebelum liputan dimulai.
Santi datang membawa piring buah.
“Kamu nunggu pertandingan?”
“Liputan sanggar.”
“Oh, yang Sera kerjakan?”
Gio mengangguk.
Ibunya duduk di samping, lalu memanggil Adam yang baru turun dari lantai atas.
Adam mengatakan masih harus menelepon seseorang, tetapi berhenti ketika gambar sanggar muncul di layar.
Suara Sera mengisi ruangan.
Gio menegakkan punggung tanpa sadar.
Ia mengenali hampir semua kejadian yang ditampilkan, tetapi urutan gambar dan cerita membuatnya melihat kelas mereka dengan cara berbeda.
Seorang murid yang biasanya diam menjelaskan bahwa ia tidak lagi takut mencoba.
Rama muncul memberi arahan.
Kemudian wajah Gio sendiri memenuhi layar, menjawab pertanyaan Sera tentang alasan tetap mengajar.
Santi tersenyum.
“Kamu kalau diwawancara ternyata bisa kalem.”
“Ma.”
Adam akhirnya duduk di kursi seberang.
Ia tidak banyak berkomentar, tetapi menonton sampai liputan selesai.
Ketika ponselnya kembali berbunyi, ia berdiri dan menepuk bahu Gio sekilas.
“Tempatnya kelihatan terurus.”
Gio menoleh.
Ayahnya sudah berjalan menjauh sambil menerima telepon.
Santi mengambil sepotong buah.
“Tuh. Dipuji.”
“Papa komentar tempatnya.”
“Yang ngurus siapa?”
Gio tidak menjawab.
Ponselnya mulai ramai oleh pesan orang tua murid. Ada yang mengirim foto anaknya menunjuk televisi, ada yang meminta tautan untuk keluarga di luar kota.
Rama mengirim pesan suara penuh tawa karena salah seorang murid merasa penampilannya terlalu singkat.
Gio tertawa saat mendengarnya.
Di apartemennya, Sera menonton bersama Gadis yang datang membantu memilah perlengkapan menggambar untuk besok.
Sebelum acara dimulai, mereka sempat berdebat tentang jumlah kertas yang perlu dibawa.
“Ini cukup,” kata Sera.
“Kalau habis?”
“Nanti beli lagi. Kita ke Bekasi, bukan ke pulau kosong.”
Gadis tetap menambahkan satu bungkus.
Sera membiarkannya.
Ketika liputan tayang, mereka berhenti bekerja. Gadis tertawa melihat murid yang semula kebingungan di depan kamera akhirnya bisa menjawab dengan lancar.
Sera memperhatikan perpindahan gambar, lega karena koreksi terakhir sudah masuk.
Ada bagian suara Gio yang membuat tangannya berhenti merapikan kotak pensil. Namun, setelah itu tayangan kembali pada anak-anak, dan ia bisa menonton sampai selesai tanpa kehilangan rasa puas terhadap pekerjaannya.
Gadis tidak mengomentari perubahan wajahnya.
Ia hanya menggeser kotak yang menghalangi layar, lalu bertepuk tangan kecil saat tayangan berakhir.
Sesudah itu, Sera menerima pesan yang diteruskan Rama.
Anak-anak senang banget. Makasih buat lo dan tim.
Di bawahnya ada foto beberapa murid berpose di depan televisi, masih mengenakan pakaian rumah.
Gadis menyenggol lengan Sera dari sisi sofa.
“Tuh, hasil kerja lo.”
Sera mengangguk, tersenyum kecil.
Ia mengetik terima kasih, lalu menitip salam untuk anak-anak.
Tidak lama kemudian, Adeline menelepon memastikan keberangkatan ke rumah singgah besok.
Sera mengambil daftar barang yang sudah disiapkan.
Malam itu, ada pekerjaan yang selesai dan janji lain yang menunggunya.
Ia membiarkan ponselnya tetap menyala tanpa menghabiskan waktu menunggu nama Gio muncul.