Sera kembali ke teras setelah memastikan pintu mobil terkunci.
Brian segera menyerahkan gambarnya.
Ada banyak orang duduk mengelilingi tikar. Beberapa kepala digambar terlalu besar, sementara salah satu orang hanya memiliki satu tangan karena ruang kertasnya habis.
“Ini siapa?” tanya Sera.
“Kakak.”
“Kenapa tangan Kakak cuma satu?”
“Yang satu lagi di belakang.”
Sera memandang wajah serius Brian, kemudian mengangguk.
“Jawaban yang cerdik.”
Anak itu tersenyum bangga.
Mereka baru berpamitan setelah perlengkapan dirapikan dan anak-anak selesai makan. Brian sempat meminta tinggal lebih lama, tetapi Adeline mengingatkan bahwa besok ia harus bangun pagi.
Bu Ratih memeluk Sera sebelum melepasnya.
“Jangan tunggu harus mengantar barang baru datang.”
“Iya, Bu.”
“Datang juga kalau sedang tidak baik-baik saja.”
Sera menunduk sebentar, kemudian mengangguk lagi.
Di dalam mobil, Brian masih bercerita tentang teman barunya. Ia mengeluh karena gambar dinosaurusnya dianggap mirip ayam, lalu tertidur sebelum selesai menyampaikan pembelaan.
Sera memandangi wajahnya dan tertawa pelan.
Adeline menoleh ke belakang.
“Sudah habis baterainya?”
“Total.”
Jeremy mengecilkan suara musik.
Perjalanan pulang menjadi lebih tenang.
Kotak biru diletakkan di dekat kaki Sera, tidak tertutup oleh barang lain. Sesekali ia meliriknya, memastikan tutupnya tetap rapat.
Adeline memperhatikan tanpa mengusik sampai mereka hampir tiba di apartemen.
“Mau mampir makan dulu?”
Sera menggeleng.
“Besok harus latihan lagi. Selasa mulai siaran.”
“Kalau begitu istirahat.”
“Iya, Tante.”
Jeremy membantu menurunkan barang ketika kendaraan berhenti. Ia hendak mengambil kotak biru, tetapi Sera lebih dulu mengangkatnya.
“Yang itu biar Sera.”
Jeremy mengangguk, lalu mengambil kantong lain.
Mereka mengantar sampai lobi sebelum kembali ke mobil.
Tidak ada yang meminta Sera memperlihatkan isi kotak.
Ia merasa lega karena bisa membawanya pulang tanpa harus langsung menceritakan semuanya.
***
Sore itu, Gio bertemu Raka di sanggar untuk memeriksa hasil foto yang akan dipakai pada beberapa materi kegiatan.
Raka datang membawa laptop.
Rama sudah berpesan tentang ukuran gambar yang dibutuhkan sebelum pergi menemui Gadis, meninggalkan mereka berdua di ruangan yang jauh lebih sunyi daripada hari latihan.
Gio menarik kursi.
“Yang ini bagus.”
Raka memperbesar foto yang ditunjuknya.
“Untuk bagian depan?”
“Iya. Anak-anaknya kelihatan semua.”
Mereka memilih beberapa gambar lain, membandingkan posisi, lalu mencatat foto yang tidak perlu dipakai karena wajah murid tertutup.
Pekerjaan hampir selesai ketika Raka membuka rangkaian foto dari hari Sera melakukan persiapan liputan.
Ada satu gambar Sera sedang duduk di bangku, berbicara dengan seorang anak.
Gio berhenti menggeser layar.
Raka tidak langsung melanjutkan.
“Yang ini nggak untuk materi sanggar,” katanya. “Cuma dokumentasi hari itu.”
Gio mengangguk.
“Lanjut aja.”
Raka memindahkan foto, tetapi setelah beberapa saat ia menutup laptop.
“Kalian ada masalah?”
Gio menyandarkan punggung.
“Kelihatan banget?”
“Kamu dari tadi berhenti setiap dia muncul.”
Gio mengusap wajah.
Ia sudah terlalu lelah berpura-pura bahwa nama Sera tidak memengaruhinya.
“Gue bikin dia marah.”
Raka menunggu.
“Dan dia punya alasan.”
“Sudah minta maaf?”
“Sudah. Dia minta jarak.”
“Kalau begitu kasih.”
Gio menatap sepupunya.
“Semudah itu?”
“Memberi jarak mungkin nggak mudah. Tapi jawabannya sudah jelas.”
Gio terdiam.
Dulu ia membenci ketenangan Raka ketika berada di dekat Sera. Pria itu seolah tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan perhatian yang membuat Gio gelisah.
Sekarang, duduk berhadapan seperti ini, ia harus mengakui bahwa sebagian ketenangan itu datang karena Raka tidak selalu menjadikan keinginannya sendiri sebagai pusat pembicaraan.
“Gue dulu iri sama lo,” ujar Gio.
Raka mengangkat alis.
“Dulu?”
Gio mendengus.
“Jangan senang dulu.”
“Aku belum sempat.”
Gio tersenyum tipis, lalu kembali menatap meja.
“Waktu dia di rumah sakit. Dia nyebut lo, dan gue langsung merasa semua yang gue lakuin nggak ada artinya.”
Raka tidak menjawab seketika.
Kemudian ia bertanya, “Kamu datang supaya dihitung?”
“Nggak.”
“Tapi setelah itu kamu mulai menghitung.”
Gio memejamkan mata sebentar.
Kalimat tersebut menyebalkan karena benar.
Ia ingat bagaimana dirinya menghindari kamar Sera, membawa kecewa yang bahkan tidak diketahui gadis itu.
“Gue tahu. Jelek banget.”
“Yang penting kamu sadar.”
Gio memutar botol minum yang belum dibuka.
“Gue suka sama dia.”
Kali ini kalimat itu keluar tanpa lelucon atau upaya menyangkal setelahnya.
Raka menatapnya lebih lama.
“Sudah bilang ke Sera?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Sekarang dia bahkan belum mau ngobrol pribadi sama gue.”
Raka mengangguk.
Ia tidak memanfaatkan pengakuan tersebut untuk menggoda. Wajah Gio terlalu sungguh-sungguh.
“Kalau nanti ada kesempatan, bilang yang jelas. Jangan membuat dia harus menebak dari perhatianmu.”
Gio memandangi sepupunya.
“Lo sendiri yakin nggak pernah punya perasaan buat dia?”
Raka menghela napas kecil.
“Jawabanku tentang Sera belum berubah.”
“Dia baik sama lo.”
“Iya. Dan justru karena itu aku nggak boleh menahannya dengan jawaban yang setengah-setengah.”
Gio menunduk.
Ia mendengar kemiripan yang tidak menyenangkan dengan hubungannya sendiri bersama Levia.
Raka membuka kembali laptop.
“Aku nggak akan bicara ke Sera tentang ini.”
Gio mengangkat wajah.
“Gue juga nggak minta.”
“Bagus.”
Sebelum kembali bekerja, Raka menambahkan, “Foto Sera yang tadi aku kirim ke dia langsung saja, ya.”
Gio mengangguk.
“Iya.”
Ia sempat ingin meminta salinan. Keinginan itu muncul begitu cepat, seperti hal kecil yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.
Namun, ia akhirnya hanya menggeser kursi mendekati meja.
Raka memilih beberapa gambar dokumentasi untuk dipisahkan dari kebutuhan sanggar. Gio membantu memeriksa nama berkas tanpa membuka lagi foto yang tadi menahannya.
Tidak ada ucapan selamat atau janji bahwa Sera pasti akan menerima perasaannya. Meski begitu, Gio tidak menyesal sudah mengatakannya kepada Raka.
Setidaknya sekarang ia tidak perlu menyamarkan kecemburuan sebagai kekesalan setiap kali nama sepupunya disebut.
Percakapan kembali pada foto.
Namun, kali ini Gio lebih mudah memusatkan perhatian. Ia sudah mengucapkan sesuatu yang selama beberapa minggu terus diputar dalam kepalanya.
Perasaannya tidak menjadi lebih kecil setelah disebutkan.
Hanya lebih jelas.
***
Malamnya, Sera duduk di lantai kamar dengan kotak biru di samping.
Ia memindahkan buku ibunya ke rak yang berisi beberapa catatan kerja, lalu berhenti ketika menemukan selembar kertas kecil terselip di halaman belakang.
Daftar belanja.
Tulisan biasa tentang beras, sabun, dan kebutuhan yang dulu selalu diperiksa ibunya sebelum berangkat bekerja.
Sera tertawa pelan.
Ia tadi menyiapkan diri untuk menemukan sesuatu yang menyedihkan. Ternyata ibunya juga pernah menggunakan buku lagu untuk mengingat bahwa sabun di rumah hampir habis.
Sera menyimpan kertas itu kembali.
Ponselnya berbunyi.
Pesan Lina berisi pengingat jadwal Senin.
Sera membalas, lalu membuka naskah yang akan dipelajari.
Buku ibunya tetap berada di rak.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak merasa harus menyingkirkannya agar bisa berkonsentrasi pada hidupnya sekarang.