Senin dilalui Sera dengan latihan, pemeriksaan naskah, dan beberapa kali mengulang bagian yang masih terdengar terlalu cepat.
Lina menemaninya sampai sore.
Sesekali mereka berhenti untuk membicarakan perubahan kalimat. Pada kesempatan lain, Sera hanya perlu mengulang satu nama agar tidak tersandung saat membacanya.
Menjelang pulang, Lina menutup catatannya.
“Cukup. Kalau diteruskan, nanti kamu malah hafal sampai kebawa mimpi.”
“Setidaknya di mimpi nggak ada yang menilai.”
“Belum tentu. Bisa saja Mas Panca ikut muncul.”
Sera tertawa.
Ia pulang, makan, lalu menyiapkan pakaian untuk besok sebelum kembali membuka naskah sebentar.
Buku ibunya masih terlihat di rak.
Sera mengambilnya, membuka halaman pertama, kemudian menutupnya lagi tanpa membaca lebih jauh.
Ia hanya ingin memastikan benda itu benar-benar ada.
Setelah meletakkannya kembali, ia mematikan lampu utama dan membiarkan lampu tidur menyala.
***
Selasa terasa berjalan terlalu cepat sejak Sera bangun.
Pesan keluarga masuk bergantian. Jeremy meminta waktu siaran yang tepat, Adeline mengirim suara Brian yang berjanji tidak akan melambaikan tangan terlalu dekat dengan televisi.
Sera tertawa saat mendengarnya.
Gadis datang ke mejanya membawa makanan menjelang sore.
“Makan.”
“Gue belum lapar.”
“Bukan pertanyaan.”
Sera membuka kotak yang disodorkan.
“Lo makin mirip orang rumah.”
“Bagus. Berarti kalau gue ngomel, lo sudah terbiasa.”
Gadis duduk sambil memeriksa jadwalnya sendiri.
Ia tidak terus-menerus menanyakan apakah Sera gugup. Mereka membicarakan pekerjaan, lalu berdebat singkat tentang rencana Rama membeli sesuatu untuk sanggar.
Ketika makanan hampir habis, barulah Gadis menatapnya.
“Gue nonton kalau kerjaan gue beres tepat waktu.”
“Kalau nggak sempat juga nggak apa-apa.”
“Siapa bilang gue nonton buat lo? Gue mau lihat berita.”
Sera melempar tutup kotak kosong ke arahnya.
Gadis tertawa sambil menangkapnya.
***
Menjelang siaran, Sera duduk di samping Lina.
Riasan sudah selesai. Naskah sudah diperiksa. Tidak banyak hal yang bisa dikerjakannya selain menunggu aba-aba.
Justru bagian menunggu itu yang membuat telapak tangannya terasa dingin.
Lina menoleh.
“Napas.”
Sera mengembuskannya.
“Aku bernapas dari tadi.”
“Kelihatannya ditabung.”
Sera hampir tertawa, lalu buru-buru menahan diri ketika seorang kru memberi tanda bahwa mereka harus bersiap.
Beberapa detik berikutnya terasa lebih panjang daripada seluruh latihan kemarin.
Lina membuka siaran.
Sera mendengarkan sambil menjaga pandangan, menunggu bagiannya tiba.
Ketika namanya disebut dalam peralihan, ia mulai membaca.
Kalimat pertama keluar sedikit lebih kaku daripada yang diinginkan.
Kalimat kedua lebih baik.
Sera mengikuti alur yang sudah dipelajari, memberi jeda, lalu menyerahkan kembali bagian berikutnya kepada Lina.
Begitu kamera beralih, ia menekan kedua kaki ke lantai dan menarik napas perlahan.
Ia berhasil melewati bagian pertama.
Belum waktunya lega.
Masih ada beberapa bagian lain yang harus disampaikan.
***
Di rumah keluarga Berata, Santi memanggil Gio yang baru selesai menelepon Rama.
“Cepat sini. Sera sudah muncul.”
Gio berhenti di ambang ruang keluarga.
Santi menunjuk televisi.
“Rea tadi kirim jadwalnya.”
Gio mendekat, lalu duduk tanpa banyak bicara.
Ia tahu Sera sedang mempersiapkan diri, tetapi tidak mengetahui hari pertamanya akan jatuh malam ini.
Di layar, gadis itu terlihat berbeda dari Sera yang duduk di tepi matras sambil memegang buku catatan.
Tetap tegas.
Tetap mudah membuat perhatiannya tertahan.
Namun, kali ini ada kesungguhan yang terasa begitu jelas sampai Gio tidak ingin melewatkan satu kalimat pun.
Santi melirik putranya.
Ia hampir menggoda, tetapi kemudian memilih kembali menatap televisi.
Gio tidak menyadarinya.
Ketika tayangan berpindah, ia baru meraih gelas di meja.
Tangannya berhenti sebelum menyentuh karena ternyata itu gelas ibunya.
“Punyamu belum ada,” kata Santi.
Gio menatapnya.
Ibunya akhirnya tertawa.
“Dari tadi fokus sekali.”
Gio berdiri mengambil air, lalu kembali sebelum Sera mendapatkan giliran berikutnya.
Ponselnya bergetar oleh pesan Rama yang juga sedang menonton bersama Gadis.
Gio membaca, tetapi tidak mengirim pesan kepada Sera.
Ia menunggu sampai siaran selesai, lalu tetap duduk beberapa saat setelah nama acara berganti.
***
“Bagus.”
Satu kata dari Lina membuat Sera akhirnya bisa melepaskan napas panjang.
“Ada yang terlalu cepat tadi.”
“Ada. Besok kita bahas. Sekarang jangan langsung menghukum diri sendiri.”
Sera tersenyum, lalu berdiri setelah mendapat isyarat bahwa mereka bisa meninggalkan tempat.
Mas Panca menemuinya di luar.
Ia memberi beberapa catatan singkat, menyebut bagian yang perlu diperbaiki, kemudian memastikan Sera mengikuti evaluasi berikutnya.
Tidak ada tepuk tangan panjang.
Orang-orang di sekitar mereka sudah kembali sibuk dengan pekerjaan selanjutnya.
Sera justru menyukai itu.
Sebelum Panca pergi, ia menunjuk salah satu bagian pada catatan.
“Yang perpindahan terakhir, saya merasa telat sedikit, Mas.”
“Iya. Kamu masih menunggu terlalu lama setelah Lina selesai.”
“Besok saya ulang bagian itu.”
“Bagus. Jangan cuma diingat kesalahannya, cari caranya.”
Sera mengangguk.
Lina yang berdiri tidak jauh darinya menawarkan melihat rekaman bersama pada jadwal berikutnya. Sera langsung menyanggupi, lalu menulis pengingat di ponsel agar tidak tertukar dengan pekerjaan lain.
Ada rasa lelah yang baru disadarinya setelah semua aba-aba berhenti. Bahunya pegal, tenggorokannya kering, tetapi ia tidak lagi ingin buru-buru melarikan diri dari studio.
Ia telah menyelesaikan tugas pertamanya dan diberi kesempatan memperbaiki yang berikutnya.
Gadis menunggunya dekat lorong.
Begitu melihat sahabatnya, Sera mengangkat kedua tangan.
“Jangan peluk. Gue belum lepas semua perlengkapan.”
Gadis berhenti dengan wajah kecewa yang dibuat-buat.
“Padahal gue mau pinjam uang.”
“Bohong.”
“Iya.”
Mereka tertawa.
Setelah selesai berganti dan membereskan barang, Sera memeriksa ponsel.
Pesan keluarga memenuhi layar. Brian mengirim rekaman dirinya memberi nilai sepuluh, lalu mengoreksi menjadi sebelas karena menurutnya Sera tidak salah menyebut warna.
Sera membalas dengan tawa.
Di antara pesan lain, ada kiriman Raka berupa beberapa foto dari sanggar. Pria itu menjelaskan bahwa foto tersebut hanya dokumentasi dan ia boleh menyimpannya jika suka.
Sera membuka salah satunya.
Dirinya duduk berbicara dengan seorang anak.
Di latar belakang, Gio sedang membantu murid lain.
Sera memandangi foto itu lebih lama daripada yang dimaksudkannya.
Ia masih marah.
Kenyataan bahwa dirinya merindukan percakapan mereka tidak menghapus alasan kemarahannya.
Namun, setelah beberapa hari menjalani pekerjaan dan bertemu keluarga, pikirannya tidak lagi seramai malam di parkiran.
Ia mulai tahu apa yang ingin disampaikan.
Sera tidak ingin pertemuan berikutnya kembali ditentukan oleh jadwal liputan atau kebetulan di depan pintu.
Ia membuka percakapan Gio.
Besok sore lo ada waktu? Gue mau ngomong. Di tempat bakso dekat sanggar, jam lima.
Pesan itu dibacanya sekali sebelum dikirim.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Ada. Gue datang.
Sera meletakkan ponsel ke dalam tas.
Besok belum tentu mudah.
Tetapi kali ini ia ingin datang dengan kata-katanya sendiri.