Gio membaca pesan Sera sekali lagi setelah mengirim jawaban.
Besok sore. Jam lima.
Ia membuka jadwal di ponsel, memastikan tidak ada rapat yang bertabrakan, kemudian menghubungi Rama untuk menukar bagian awal kelas.
“Bisa,” jawab Rama. “Tapi jam berikutnya lo tetap pegang.”
“Iya.”
“Ada urusan?”
“Ketemu Sera.”
Rama diam sebentar.
“Dia yang ngajak?”
“Iya.”
“Oke. Besok jangan telat masuk kelas berikutnya.”
Hanya itu.
Gio justru berterima kasih karena temannya tidak menambahkan lelucon atau pertanyaan yang belum sanggup dijawabnya.
Malam itu ia tidur lebih lambat daripada biasanya.
Bukan karena menyiapkan kalimat romantis.
Ia memikirkan kemungkinan Sera hanya ingin mengatakan bahwa mereka cukup saling mengenal sebagai keluarga dan rekan kerja. Kemungkinan tersebut membuat dadanya berat, tetapi ia tidak bisa datang besok dengan anggapan bahwa undangan berbicara adalah tanda semuanya sudah membaik.
***
Rabu siang, Gio sempat mengganti posisi jam tangannya tiga kali saat menunggu rapat berakhir.
Ronan yang duduk di sebelahnya akhirnya menyenggol siku Gio.
“Jamnya tetap sama walaupun lo putar-putar.”
Gio melepaskan pergelangan tangannya.
“Gue tahu.”
“Bagus. Sekarang lihat halaman yang lagi dibahas.”
Gio kembali menatap dokumen. Setelah rapat, ia menyelesaikan dua panggilan yang masih tertunda sebelum berangkat. Ia tidak ingin ponselnya terus berbunyi saat Sera sedang berbicara.
Di tempat parkir, Gio baru menyadari dirinya belum makan siang.
Ia membeli roti, menghabiskannya sambil berdiri, lalu masuk ke mobil. Perut kosong tidak akan membantu percakapan yang sejak tadi membuatnya gugup.
Rabu sore, Sera tiba beberapa menit sebelum pukul lima.
Gio sudah duduk di salah satu meja, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan digulung.
Ia berdiri ketika melihat Sera.
Gadis itu menunjuk kursi.
“Duduk aja.”
Gio menurut.
Sera meletakkan tas di kursi sebelah, lalu memilih minuman ketika penjual mendekat.
“Makan sekalian, Mbak?”
“Nanti dulu, Pak.”
Gio juga hanya memesan minuman.
Setelah penjual pergi, suara kipas dan percakapan dari meja lain mengisi jeda di antara mereka.
Sera memperhatikan meja yang berbeda dari tempat mereka duduk terakhir kali.
Ia sengaja memilih bagian depan, dekat jalan. Lebih ramai, tetapi membuatnya lebih mudah bernapas.
“Gue lihat siaran lo kemarin,” kata Gio.
Sera mengangkat wajah.
“Mama yang kasih tahu.”
“Oh.”
“Bagus.”
“Masih banyak salahnya.”
“Gue nggak lihat.”
“Karena lo bukan Mas Panca.”
Gio tersenyum sedikit.
Untuk sesaat, mereka hampir kembali pada kebiasaan lama.
Sera menunduk, merapikan ujung tali tas yang sebenarnya tidak berantakan.
Kemudian ia mengangkat wajah lagi.
“Gue ngajak ketemu karena ada yang belum sempat gue bilang.”
Gio mengangguk.
“Gue dengerin.”
“Waktu di mobil, gue cuma pengin turun. Gue bahkan nggak tahu harus nanya apa.”
Gio meletakkan kedua tangannya di pangkuan.
Sera memperhatikannya sekilas sebelum melanjutkan.
“Sekarang gue masih marah.”
“Iya.”
“Dan gue nggak mau lo mengira karena gue datang, berarti urusannya selesai.”
“Gue nggak mengira begitu.”
Sera menarik napas perlahan.
Ia sudah mengulang beberapa kalimat di kepalanya sepanjang perjalanan. Namun, berhadapan langsung dengan Gio membuat sebagian kalimat tersebut terasa terlalu rapi untuk perasaan yang masih berantakan.
“Gue dulu sampai mikir harus berterima kasih karena lo repot nemenin gue tidur di mobil.”
Gio menunduk.
“Gue tahu.”
“Jangan buru-buru bilang tahu.”
Gio langsung menutup mulut.
Sera menggenggam gelas yang baru diletakkan penjual di meja.
“Lo tahu kejadiannya. Gue baru tahu belakangan. Jadi selama beberapa waktu kita punya ingatan yang beda tentang malam itu.”
Ia berhenti, mencari kata yang lebih mudah.
“Gue ngerasa dibohongin.”
Gio mengangguk pelan.
“Lo memang dibohongin karena gue diam.”
Sera menatapnya.
“Dan gue nggak bisa bikin itu hilang cuma dengan bilang nyesal,” lanjut Gio.
“Enggak.”
Gio menerima jawaban tersebut tanpa membela diri.
Di meja sebelah, seorang pelanggan meminta tambahan mie. Suaranya membuat Sera merasa lega aneh karena percakapan mereka tidak menelan seluruh ruangan.
Ia masih berada di tempat biasa.
Bisa berdiri dan pergi kapan pun.
“Gue juga kepikiran omongan lo sebelum malam itu.”
Wajah Gio menegang.
Ia tahu yang dimaksud Sera.
“Waktu lo ngatain gue seperti perempuan yang bisa dibayar.”
“Ser, gue—”
“Gue tahu lo sudah minta maaf. Tapi setelah tahu soal ciuman itu, gue jadi mikir lagi. Sebenarnya lo lihat gue sebagai apa?”
Pertanyaan tersebut membuat Gio memandangi wajahnya lebih lama.
Tidak ada jawaban singkat yang bisa membuatnya terlihat baik.
“Waktu itu gue menilai lo seenaknya,” katanya akhirnya. “Gue lihat lo pergi ke klub, gue kesal karena lo nggak mau dengerin gue, terus gue ngomong hal yang kejam.”
“Gue memang nggak harus dengerin lo.”
“Iya.”
“Bahkan kalau hidup gue nggak seperti yang lo anggap pantas, lo tetap nggak bisa memperlakukan gue begitu.”
“Iya, Ser.”
Sera menelan ludah.
Suara Gio yang tidak meninggi membantunya melanjutkan, tetapi bukan berarti semua ketegangan langsung hilang.
“Gue nggak mau lo mengulang itu. Dalam bentuk apa pun.”
“Gue nggak akan.”
“Jangan cuma jawab karena pengin percakapan ini cepat selesai.”
Gio menggeleng.
“Gue nggak pengin cepat selesai kalau masih ada yang perlu lo bilang.”
Sera menatapnya beberapa saat.
Lalu ia menunduk mengambil tisu, mengusap air yang membasahi sisi gelas.
“Kalau nanti kita bisa dekat lagi, jangan sentuh gue tanpa gue bilang boleh. Jangan menganggap gue setuju cuma karena gue diam.”
Gio mengangguk.
“Gue dengar.”
Sera meletakkan tisu.
Ada rasa malu karena harus mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan. Namun, setelah kalimat itu keluar, dadanya sedikit lebih ringan.
Ia akhirnya menyampaikan hal yang sejak malam di parkiran terus mengganggunya.
Gio tetap duduk, tidak mencoba meraih tangan atau memindahkan kursi lebih dekat.
Sera menghargai itu, meskipun belum ingin mengatakannya.
“Gue nggak cerita ke keluarga,” ujar Gio setelah jeda cukup lama.
“Gue tahu. Kalau sudah, Om Jou pasti menelepon.”
“Rama cuma tahu gue bikin salah. Raka juga. Gue nggak cerita kejadiannya.”
Sera mengangkat wajah.
“Kenapa bilang ke Raka?”
“Dia nanya karena gue kelihatan aneh. Gue bilang lo marah dan punya alasan.”
Sera terdiam sebentar, lalu mengangguk.
Ia bisa menerima jawaban tersebut.
Setidaknya Gio tidak mengirim orang lain untuk meminta dirinya memahami.
Penjual kembali mendekat, menanyakan apakah mereka jadi makan. Sera menggeleng sopan dan meminta waktu sebentar lagi.
Setelah pria itu menjauh, ia memandangi Gio.
Masih ada satu pertanyaan yang belum disentuh.
Pertanyaan yang membuat ucapan Levia terus teringat meskipun ia tidak ingin memercayainya begitu saja.
“Sebetulnya lo mau dekat sama gue karena apa?”
Gio terdiam.
Kali ini bukan karena ia tidak tahu jawabannya.
Ia hanya tidak menyangka akan mendapat kesempatan mengatakannya sore itu.
“Karena gue suka sama lo, Ser.”