Sera tidak langsung menjawab.
Ia sudah menduga ada kemungkinan Gio akan mengatakan hal seperti itu. Namun, mendengarnya langsung tetap membuat tangan yang memegang gelas kehilangan gerakan.
Gio memandangnya tanpa tersenyum.
Tidak ada nada menggoda yang bisa dipakai Sera untuk menyembunyikan reaksinya dengan lelucon.
“Gue suka sama lo,” ulang Gio lebih pelan. “Tapi gue nggak bilang itu buat membenarkan yang gue lakukan.”
Sera mengangkat wajah.
“Bagus. Karena gue juga nggak akan terima kalau itu alasan lo.”
“Bukan.”
Kipas di dekat mereka berputar dengan bunyi kecil yang berulang.
Sera baru menyadari ia sedang menahan napas ketika dadanya mulai terasa penuh.
“Sejak kapan?”
Gio mengusap telapak tangannya sendiri.
“Gue nggak punya tanggal pastinya.”
“Gue nggak lagi isi formulir.”
Gio sempat tersenyum, lalu kembali serius.
“Awalnya gue cuma sadar lo sering banget muncul di pikiran gue. Terus gue malah cari alasan buat ketemu. Alasan keluarga, makanan, urusan sanggar.”
Sera memandangnya.
“Terus?”
“Terus gue kesel kalau yang lo cari Raka.”
Sera menunduk.
Gio tidak mengucapkannya seperti tuduhan. Ia justru terlihat malu pada pengakuannya sendiri.
“Waktu lo cedera, gue takut. Tapi habis itu gue masih sempat cemburu. Gue tahu kedengarannya jelek.”
“Memang.”
“Iya.”
Sera memutar gelas perlahan.
Ia teringat hari-hari di rumah sakit ketika Gio tidak datang menjenguk seperti yang sempat diharapkannya.
Sekarang beberapa hal menjadi lebih masuk akal.
Namun, penjelasan itu tidak membuat dirinya bertanggung jawab atas perasaan yang waktu itu tidak diketahui.
“Gue nggak pernah minta lo bersaing sama Raka.”
“Gue tahu. Itu dari kepala gue sendiri.”
Sera mengangguk kecil.
Ia menghargai jawaban yang tidak memindahkan kesalahan kepadanya.
Untuk beberapa saat, mereka diam.
Kemudian Sera berkata, “Levia sempat ngomong sesuatu Kamis kemarin.”
Gio menegakkan punggung, tetapi tidak langsung menyela.
“Dia bilang lo gampang merasa kasihan sama orang.”
Gio menarik napas.
Sera mengangkat telapak tangan sedikit sebelum ia menjawab.
“Gue nggak nanya karena langsung percaya sama dia. Gue nanya karena gue nggak mau menebak terus.”
“Gue suka sama lo bukan karena kasihan.”
Sera mengangguk pelan, tetapi belum melanjutkan.
Gio menunggu sebelum menambahkan, “Soal Levia, gue sudah bicara lagi waktu dia ke sanggar.”
“Dia bilang kalian pernah melewati banyak hal.”
“Memang pernah.”
Sera memandangi gelasnya.
“Gue nggak bisa menghapus itu,” lanjut Gio. “Tapi gue juga nggak mau balikan. Itu sudah gue bilang, sebelum gue tahu lo mau ketemu hari ini.”
Sera mengangkat wajah.
“Jadi bukan karena lo menganggap sekarang ada penggantinya?”
“Bukan.”
Gio menjawab tanpa ragu.
Ia baru memahami betapa mudahnya perhatian yang setengah-setengah membuat dua orang berbeda harus menebak maksudnya.
Sera mengangguk lagi.
“Urusan kalian tolong selesaikan sama dia. Gue nggak mau dia datang minta jawaban ke gue lagi.”
“Gue sudah bilang begitu juga ke dia.”
“Lo belum tahu banyak tentang gue.”
“Iya.”
“Lo cuma tahu yang kelihatan sekarang.”
“Makanya gue pengin mengenal lo.”
Sera memandangi wajah Gio, lalu mengalihkan pandangan ke jalan.
Kalimat itu seharusnya terdengar menyenangkan.
Sebagian dirinya memang ingin tersenyum.
Bagian lain langsung teringat kotak biru yang kini berada di apartemen, nama ibunya pada halaman pertama, dan begitu banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan cerita ringan sambil menunggu makanan.
“Kalau ternyata ada yang nggak lo suka?”
Gio tidak menjawab seketika.
“Gue nggak bisa janji kita bakal cocok dalam semua hal.”
Sera menoleh.
“Tapi gue bisa berhenti sok tahu sebelum lo selesai cerita.”
Jawaban itu membuatnya diam lebih lama.
Ia hampir lebih siap menghadapi janji besar yang mudah dibantah.
Gio justru memberinya jawaban yang terdengar belum sempurna, tetapi mungkin.
“Gue belum bisa jawab perasaan lo,” kata Sera akhirnya.
Gio mengangguk.
“Gue nggak minta sekarang.”
“Dan gue belum bisa biasa aja sama lo.”
“Iya.”
“Jangan iya terus. Nyebelin.”
Gio menatapnya sebentar.
“Kalau gue bantah, lebih nyebelin.”
Sera tanpa sengaja tertawa kecil.
Ia langsung menunduk, seolah senyum yang muncul perlu disembunyikan.
Gio melihatnya, tetapi tidak menjadikan itu kesempatan untuk mendekat.
Ia membiarkan tawa tersebut berlalu tanpa menyimpulkan terlalu banyak.
Sera merapikan tisu di meja.
“Kita bisa ngobrol lagi,” katanya. “Tapi pelan-pelan.”
Gio mengangguk, lalu berhenti ketika melihat alis Sera mulai terangkat.
“Gue dengar,” katanya, mengganti jawaban.
Sera mengembuskan napas yang hampir menyerupai tawa.
Ada banyak hal yang belum selesai. Ia masih bisa merasa kesal ketika memandang Gio terlalu lama, lalu mendadak mengingat malam di mobil.
Namun, sore ini ia tidak lagi hanya membawa pertanyaan yang tidak terucapkan.
Gio sudah mendengarnya.
Selanjutnya ia ingin melihat bagaimana pria itu bersikap ketika percakapan ini tidak lagi berlangsung di hadapan mereka.
***
Penjual datang untuk ketiga kali, kali ini hanya menatap dua gelas yang hampir kosong.
Sera menoleh kepada Gio.
“Lo masih ngajar?”
“Jam berikutnya. Masih sempat kalau lo mau makan.”
Sera memeriksa jam.
Perutnya yang sejak tadi tegang akhirnya terasa lapar.
“Satu porsi,” katanya kepada penjual.
Gio ikut memesan.
Mereka makan dengan lebih banyak diam daripada saat kunjungan sebelumnya. Sesekali Sera bertanya tentang tanggapan murid-murid terhadap liputan.
Gio menceritakan anak yang protes karena hanya muncul beberapa detik.
“Padahal waktu kamera datang dia sembunyi,” katanya.
Sera tersenyum.
“Harusnya dia kirim surat keberatan ke editor.”
“Nanti beneran. Tulisannya gede-gede.”
Sera menggeleng sambil mengambil sendok.
Pembicaraan sederhana itu tidak terasa seperti usaha berpura-pura bahwa semuanya sudah kembali seperti dulu.
Mereka hanya makan, membicarakan satu hal, lalu membiarkan jeda muncul tanpa buru-buru mengisinya.
Saat selesai, Sera mengeluarkan uang untuk bagiannya.
Gio tidak berdebat.
Ia membayar pesanan sendiri, kemudian berdiri setelah Sera merapikan tas.
“Gue sudah pesan mobil,” kata Sera.
Gio mengangguk.
“Gue nunggu di sini sampai mobilnya datang. Boleh?”
Sera melihat bangku di depan warung, lalu mengiyakan.
Mereka duduk dengan jarak yang cukup.
Gio tidak menawarkan mengubah tujuan agar dirinya bisa ikut. Ia hanya bertanya apakah Sera kembali ke kantor atau langsung pulang.
“Pulang. Besok pagi ada evaluasi lagi.”
“Siarannya bikin capek?”
“Lebih capek mikirin sebelum mulai.”
Gio tersenyum.
Sera mengangkat ponsel ketika pengemudi menelepon.
Kendaraannya sudah mendekat.
Ia berdiri dan berjalan beberapa langkah, lalu menoleh.
“Gio.”
Pria itu mengangkat wajah.
“Makasih udah dengerin.”
Gio menelan jawaban yang hampir berupa permintaan maaf lagi.
“Iya, Ser.”
Sera masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan, ia tidak tersenyum terus-menerus seperti orang yang baru menerima pengakuan cinta.
Ia juga tidak menyesal sudah datang.
Ketika tiba di apartemen, ia mengirim satu pesan.
Gue sudah sampai.
Lalu ia meletakkan ponsel dan menyalakan lampu ruang tengah.