Balasan Gio baru dibaca Sera setelah ia selesai mencuci muka.
Syukurlah. Istirahat, Ser.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Sera meletakkan ponsel, lalu duduk di tepi ranjang dengan handuk kecil di tangan. Percakapan sore tadi kembali terlintas, terutama satu kalimat yang diucapkan Gio tanpa tersenyum.
Gue suka sama lo.
Ia menutup wajah dengan handuk.
Menyebalkan.
Setelah membuatnya marah begitu lama, pria itu masih bisa membuat pipinya terasa panas hanya melalui ingatan.
Sera menurunkan handuk dan menatap langit-langit.
Ia tidak akan buru-buru menjawab.
Keputusan itu tetap terasa benar meskipun sebagian dirinya ingin membuka ponsel lagi.
***
Kamis pagi, evaluasi siaran berlangsung lebih santai daripada yang dibayangkannya.
Lina memutar beberapa bagian, menghentikan rekaman, lalu meminta pendapat Sera sebelum memberikan catatannya sendiri.
Sera mulai bisa mengenali kapan ia terlalu cepat dan kapan jedanya justru terlalu panjang.
Mas Panca datang menjelang sesi selesai.
Ia mengingatkan bahwa jadwal berikutnya tetap berjalan, kemudian meminta Sera mampir ke ruangannya setelah makan siang.
“Ada bahan liputan yang mungkin cocok.”
Mata Sera langsung terangkat.
“Lapangan, Mas?”
Panca tertawa pendek.
“Baru dengar lapangan saja sudah segar.”
Sera tersenyum tanpa membantah.
Ia memang mulai menikmati tantangan studio, tetapi rasa senang ketika mendapat kesempatan keluar masih sama.
***
Bahan yang diberikan Panca berisi rencana liputan tentang beberapa musisi yang mencari penghasilan tambahan di luar panggung.
Ada yang mengajar, menerima pekerjaan rekaman kecil, atau membuka tempat perbaikan alat musik.
Sera membaca ringkasan satu per satu.
Pada bagian terakhir, jarinya berhenti.
Bram.
Pemilik tempat perbaikan gitar di Bekasi.
Foto yang disertakan tidak terlalu besar, tetapi Sera mengenali bentuk mata dan kumis tipis pria tersebut meskipun wajahnya terlihat lebih tua.
Panca memperhatikan jeda itu.
“Kenal?”
Sera mengangguk perlahan.
“Sepertinya kenalan ibu saya dulu.”
“Masih sering berhubungan?”
“Sudah lama nggak.”
Panca menarik kursi sedikit mendekat ke meja.
“Kalau begitu jangan langsung dijadikan cerita pribadi. Bahan utamanya tetap pekerjaan mereka sekarang.”
“Saya paham, Mas.”
“Kamu bisa ikut persiapan dan wawancara. Nanti satu rekan mendampingi untuk bagian yang berhubungan dengan kenalanmu itu.”
Sera mengangguk.
Ia lega tidak harus memilih antara berpura-pura asing dan menceritakan seluruh hidupnya di ruangan tersebut.
Panca menunjukkan jadwal yang sudah disusun.
Kunjungan awal direncanakan Jumat sore, setelah keperluan studio selesai. Mereka akan memastikan tempat dan mengumpulkan bahan sebelum menentukan pengambilan gambar berikutnya.
Sera membaca sekali lagi.
“Bisa saya ikut, Mas.”
“Baik. Hubungi timnya setelah ini.”
Sera keluar membawa berkas.
Sepanjang lorong, ia terus memandangi foto kecil yang tercetak di sudut halaman.
Pak Bram dulu sering membawa gitar dalam sarung hitam dengan salah satu ritsleting yang macet. Ibunya biasa mengomel karena pria itu selalu datang sambil mencari sesuatu yang ternyata tersimpan di kantong sendiri.
Sera tidak menyangka akan mengingat hal sekecil itu.
***
Gadis menemukan Sera duduk dengan berkas terbuka dan layar komputer yang belum disentuh.
“Lo habis dimarahin?”
Sera menggeleng.
“Dapat liputan.”
“Kok mukanya begitu?”
Sera menggeser berkas sedikit, memperlihatkan foto yang sejak tadi dipandanginya.
“Gue kenal orang ini.”
Gadis membaca nama di bawahnya.
“Pak Bram?”
“Kenalan nyokap gue dulu.”
Gadis duduk di kursi sebelah.
Ia tahu orang tua Sera sudah tidak ada. Ia juga tahu sahabatnya jarang menceritakan masa sebelum tinggal bersama keluarga Gunawan.
Namun, selama ini ia tidak pernah memaksa.
“Lo mau ketemu?”
Sera memandangi foto.
“Mau. Cuma agak aneh.”
“Karena sudah lama?”
“Iya.”
Ada jawaban lain yang belum langsung keluar.
Sera menatap meja Gadis, memastikan tidak ada orang yang sedang menunggu temannya bekerja, lalu menurunkan suara.
“Nyokap gue penyanyi, Dis.”
Gadis menoleh kepadanya.
“Penyanyi?”
“Di tempat hiburan malam. Pak Bram dulu sering main gitar buat ngiringin.”
Gadis mengangguk perlahan.
Sera menunggu.
Ia benci kebiasaannya sendiri yang selalu memperhatikan reaksi pertama orang setelah mendengar kalimat tersebut. Namun, ia belum bisa menghentikannya.
Gadis justru menatap foto lagi.
“Berarti lo dulu sering lihat mereka latihan?”
“Kadang. Kalau gue ikut nyokap.”
“Lo bisa nyanyi juga?”
Sera terdiam.
Pertanyaan itu bukan yang disiapkannya untuk dijawab.
“Biasa aja.”
Gadis mengangkat alis.
“Definisi biasa aja versi orang yang pelit ngaku?”
“Gue nggak mau disuruh karaoke.”
“Gue belum ngajak.”
“Muka lo sudah.”
Gadis tertawa kecil.
Sera ikut tersenyum, tetapi matanya mendadak panas.
Ia segera menunduk mengambil botol minum.
Gadis melihatnya dan tidak lagi menggoda.
“Ser, gue nggak keberatan kalau lo mau cerita. Tapi kalau sekarang belum bisa, ya nanti.”
Sera menggenggam botol.
“Gue sudah terlalu sering lihat orang berubah sikap setelah tahu.”
“Gue nggak tahu harus ngomong apa supaya lo langsung percaya,” jawab Gadis. “Tapi nyokap lo kerja. Itu yang barusan lo ceritakan.”
Sera mengangguk, perlahan melepaskan genggaman pada botol yang sejak tadi mulai terasa hangat.
Untuk beberapa saat mereka hanya duduk bersebelahan.
Kemudian Gadis menunjuk berkas.
“Jumat lo sama siapa?”
“Tim. Ada rekan yang ikut wawancara.”
“Oke. Pulangnya kabari gue.”
Sera menoleh.
“Lo makin bawel.”
“Dari dulu. Lo saja yang telat sadar.”
Sera tersenyum lebih lebar.
Gadis mengambil pulpen yang terjatuh di dekat kursi, lalu meliriknya.
“Ngomong-ngomong, kemarin lo jadi ketemu Gio?”
“Jadi.”
“Sudah ngobrol?”
“Sudah.”
Gadis menunggu sampai Sera menghela napas.
“Dia bilang suka sama gue.”
Pulpen di tangan Gadis berhenti bergerak.
“Oh.”
“Cuma oh?”
“Gue lagi memilih reaksi yang nggak bikin lo melempar sesuatu.”
Sera tertawa pendek.
“Gue belum jawab.”
“Ya nggak apa-apa.”
“Dan belum semuanya beres.”
“Gue ngerti, Ser.”
Gadis mengatakannya tanpa senyum menggoda. Sera merasa lega karena tidak harus menjelaskan mengapa pengakuan Gio tidak langsung membuatnya melupakan persoalan sebelumnya.
Setelah Gadis kembali ke mejanya, Sera memeriksa bahan wawancara sekali lagi. Ia menambahkan pertanyaan tentang pelanggan, pekerjaan perbaikan yang paling sulit, dan cara Pak Bram membagi waktu jika masih mendapat panggilan bermain musik.
Ia tidak menulis nama ibunya pada daftar tersebut.
Kalau Pak Bram bersedia membicarakan Mira, Sera ingin mendengarnya di luar wawancara, sebagai anak yang bertemu kenalan lama ibunya.
Untuk liputan, pria itu berhak dikenal melalui pekerjaan yang sedang dijalaninya sekarang.
Sera memisahkan catatan pribadi dari lembar pertanyaan, lalu memberi tanda pada bagian yang perlu dibicarakan dengan rekan satu tim.
Ia kemudian menutup berkas dan membuka percakapan kerja untuk menghubungi tim.
Tangannya masih terasa dingin ketika mengetik, tetapi kali ini ia tidak membatalkan kalimat yang sudah selesai disusun.
Namun, nama ibunya baru saja disebut tanpa diikuti pertanyaan yang merendahkan.
Sera ingin mengingat hal tersebut lebih lama daripada ketakutan yang biasanya datang lebih dulu.