Gio sedang memeriksa daftar murid baru ketika ponselnya berbunyi Kamis sore.
Pesan Sera.
Besok gue ke Bekasi buat persiapan liputan. Akhirnya keluar studio juga.
Gio tersenyum sebelum mengetik.
Reporter kembali ke habitat.
Balasan Sera datang tidak lama kemudian.
Memangnya gue hewan?
Gio menahan tawa.
Dia hampir menulis tawaran mengantar. Namun, Sera mengatakan akan pergi untuk bekerja, dan ia sendiri punya jadwal yang belum selesai.
Akhirnya ia bertanya hal lain.
Liputan apa?
Tentang musisi yang punya pekerjaan di luar panggung. Besok ke tempat perbaikan gitar.
Menarik. Nanti gue nonton kalau tayang.
Sera membalas dengan satu kalimat pendek.
Jangan cuma nonton bagian wajah gue.
Gio menatap layar.
Kali ini senyumnya sulit disembunyikan.
Rama yang datang membawa tumpukan formulir langsung berhenti.
“Wah. Sudah hidup lagi.”
Gio meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.
“Apa?”
“Dari tadi senyum kayak habis menang undian.”
“Lo bawa apa?”
“Pengalihan topik yang jelek.”
Rama tetap menyerahkan formulir.
Sejak liputan tayang, beberapa orang tua menghubungi sanggar untuk menanyakan kelas. Sebagian hanya meminta informasi, tetapi ada juga yang sudah datang melihat latihan.
Mereka harus mengatur agar murid baru tidak memenuhi kelas yang sama.
Gio membaca daftar satu per satu.
“Yang kelompok kecil, jangan langsung dicampur semua.”
“Iya. Kita lihat kemampuan awal dulu.”
“Dan jangan terima jadwal yang kita nggak sanggup pegang.”
Rama mengangguk.
Mereka membicarakan pembagian kelas sampai senyum Gio perlahan digantikan konsentrasi.
Kabar baik ternyata tetap membawa pekerjaan tambahan.
Ada orang tua yang meminta jam di luar jadwal, ada yang ingin anaknya langsung ikut latihan tanding, dan ada yang menganggap satu kali datang cukup untuk menentukan apakah anaknya berbakat.
Gio menghela napas setelah membaca pesan terakhir.
“Ini baru mau daftar sudah nanya kapan bisa juara.”
Rama tertawa.
“Jawab saja. Setelah bisa datang tepat waktu.”
Gio meliriknya.
“Lo mau gue benar-benar kirim?”
“Jangan. Nanti gue yang kebagian menjelaskan.”
Mereka kembali bekerja.
***
Menjelang kelas dimulai, salah seorang murid lama duduk di bangku dengan wajah murung.
Gio mengenalinya sebagai anak yang ikut muncul dalam liputan.
“Kenapa?”
Anak itu menggeleng.
Gio duduk di ujung bangku, membuka botol minumnya sendiri.
Beberapa saat kemudian, barulah anak itu berbicara.
“Teman sekolah bilang aku cuma muncul sebentar.”
Gio menoleh.
“Terus?”
“Katanya kalau jago harusnya paling lama.”
Gio menahan keinginan untuk langsung tertawa.
Bagi anak itu, persoalannya terlihat serius.
“Lama muncul di televisi nggak menentukan latihan kamu.”
“Tapi dia bilang begitu.”
“Dia yang lihat kamu latihan setiap minggu?”
Anak itu menggeleng.
“Yang tahu kamu kemarin sudah berani mencoba gerakan yang biasanya dihindari, siapa?”
Anak tersebut berpikir.
“Bang Gio.”
“Sama kamu sendiri.”
Wajah kecil itu mulai terangkat.
Gio menunjuk matras.
“Hari ini kita lanjut dari situ. Bukan dari berapa detik kamu kelihatan di televisi.”
Anak itu akhirnya berdiri.
Sebelum bergabung dengan teman-temannya, ia kembali menoleh.
“Kalau nanti diliput lagi, boleh ngomong lebih banyak?”
Gio tertawa.
“Kalau ditanya, jawab. Jangan merebut mikrofon.”
Rama yang mendengar dari dekat pintu ikut tertawa.
Latihan dimulai dengan suasana lebih ringan.
Di sela kelas, mereka membicarakan rencana latihan tanding bersama sanggar lain beberapa minggu mendatang. Gio meminta Rama memastikan jumlah peserta sebelum mengundang orang tua.
Ia ingin anak-anak mendapat pengalaman, tetapi tidak ingin acara berubah menjadi ajang orang dewasa saling membandingkan putra-putrinya.
Masih banyak yang harus disiapkan.
Rama menambahkan kebutuhan perlengkapan pada catatan, lalu mengeluh karena halaman yang sama sudah penuh coretan.
“Beli buku baru,” kata Gio.
“Ini masih bisa dipakai.”
“Separuh angkanya sudah nggak kelihatan.”
“Namanya penghematan.”
Gio mengambil selembar kertas kosong dan menyalin daftar itu.
Rama memperhatikannya dengan senyum puas.
“Terima kasih.”
Gio berhenti menulis.
“Lo sengaja?”
“Gue nggak bilang.”
Gio menggeleng, tetapi menyelesaikan salinannya.
Setelah itu mereka membagi pekerjaan, termasuk memastikan ruang tunggu cukup untuk orang tua yang datang. Rama mengingatkan bahwa waktu latihan tanding belum boleh diumumkan sebelum sanggar lain menyetujui.
Gio memberi tanda pada bagian tersebut.
Ia kemudian memotret catatan dan mengirimkannya ke percakapan mereka berdua.
“Sekarang kalau hilang, jangan bilang ada di buku lama.”
Rama mengacungkan ibu jari.
“Bos memang paling teliti kalau sedang senang.”
Gio melemparkan gulungan kertas bekas ke arahnya, membuat Rama tertawa sambil menghindar.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Gio bisa memikirkan semuanya tanpa terus-menerus memeriksa ponsel.
***
Malam itu, Santi menemukan putranya makan dengan lebih lahap.
Ibunya duduk di seberang sambil membawa minuman.
“Capek?”
“Lumayan. Murid baru mulai masuk.”
“Setelah liputan?”
Gio mengangguk.
Santi tersenyum.
“Sampaikan terima kasih ke Sera.”
“Sudah lewat Rama dan tim.”
“Kalau ketemu langsung juga boleh.”
Gio berhenti mengambil lauk.
Santi melihatnya.
“Kamu sudah ketemu?”
“Kemarin.”
“Oh.”
Nada ibunya membuat Gio menatap curiga.
“Ma, jangan mulai menyusun acara makan.”
Santi tertawa.
“Mama belum ngomong.”
“Gio hafal mukanya.”
“Kurang ajar. Muka Mama memang kenapa?”
Gio ikut tersenyum, kemudian melanjutkan dengan lebih serius.
“Kami belum pacaran. Masih ada yang perlu dibereskan.”
Santi memperhatikan putranya tanpa menyela.
“Jadi jangan dulu ngajak Sera ke sini atas nama Gio.”
“Mama boleh mengajak atas nama Mama?”
“Ma.”
“Iya. Mama mengerti.”
Santi mengambil piring kosong, lalu berhenti sebelum berdiri.
“Kalau kamu membuat salah, jangan dibelikan barang lalu dianggap selesai.”
Gio memandangi ibunya.
“Gio nggak sedang begitu.”
“Bagus.”
Santi meninggalkannya menyelesaikan makan.
Gio mengembuskan napas. Ia tidak menceritakan urusan pribadi Sera, tetapi rupanya ibunya bisa melihat cukup banyak hanya dari perubahan sikapnya.
Setelah membereskan piring sendiri, Gio kembali ke kamar.
Pesan terakhir dari Sera belum dibalas.
Jangan cuma nonton bagian wajah gue.
Ia membaca sekali lagi, kemudian mengetik.
Gue perhatikan beritanya juga. Wajah lo cuma bikin agak susah fokus.
Balasan tidak langsung datang.
Gio meletakkan ponsel dan membuka catatan latihan.
Baru beberapa menit kemudian layar menyala.
Mulai gombal. Nggak cocok.
Gio tertawa.
Ia mengetik satu balasan singkat, lalu berhenti. Tidak semua percakapan harus dipanjangkan sampai salah seorang kelelahan.
Malam itu ia cukup senang Sera mau bercerita tentang rencananya sendiri.
***
Jumat siang, setelah menyelesaikan keperluan studio, Sera membaca catatan wawancara sambil menunggu kendaraan operasional.
Nama Pak Bram sudah diberi garis di bagian atas.
Di bawahnya ada alamat dan beberapa pertanyaan yang disusun bersama tim.
Sera memasukkan kertas tersebut ke map, lalu menyentuh buku kecil milik ibunya yang sengaja dibawa di dalam tas.
Ia tidak tahu apakah akan memperlihatkannya.
Untuk sekarang, membawanya sudah terasa cukup.
Ketika rekannya memanggil, Sera mengangkat tas dan berjalan menuju kendaraan.