Alice tercenung. Ia bingung melihat kehadiran seorang pria di hadapannya. Pria yang sama sekali tidak ia kenal tapi sudah mengaku sebagai pasangan hidupnya.
“Hai, Alice… Lama tidak berjumpa…”
Alice masih tak bergeming saat lelaki itu mengulurkan tangan. Ia tidak menyambutnya.
“Kamu sangat cantik hari ini. Apakah Jasmine yang memilihkan gaun putih ini untukmu?”
Raut wajah ramah menyapa Alice, juga perbincangan yang berjalan lancar seolah mereka dekat. Bahkan lelaki itu menyebutkan nama ibunya. Bagaimana bisa? Apakah mereka memang saling mengenal?
Lelaki itu menyeringai, tersenyum miring melihat wajah Alice yang kebingungan. Di matanya, Alice tampak begitu menggemaskan.
“Kalau kau terus menatapku seperti itu, aku jadi tidak bisa menahan diri, Alice. Kau membuatku ingin membawamu ke pelaminan saat ini juga. Aku sungguh tidak sabar.”
Mata Alice melotot. Ia kaget. Dan sepertinya bukan hanya dirinya.
“Siapa kau?!” Austin menyela di antara mereka. Ia memandang lelaki itu dengan tatapan tak suka. Baginya, lelaki itu adalah musuh. Beraninya ia menggoda Alice tepat di depan matanya!
Alice memang belum resmi menjadi kekasihnya, tapi semua orang sudah tahu bagaimana hubungan mereka.
“Siapa kau?” Austin mengulang pertanyaannya lagi. Kali ini dengan nada yang lebih tinggi. “Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!”
Lelaki itu tidak menjawab, ia hanya sibuk memandang Alice. Memuja lewat tatapan.
Tidak ditanggapi, Austin jadi kesal sendiri. “Apa kamu mengenal lelaki tua ini, Al?”
Sengaja Austin menyinggung masalah umur. Jelas saja. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia unggulkan jika mereka adalah saingan. Pria ini memang tampan, tapi umurnya jauh di atas dirinya ataupun Alice. Lelaki ini bahkan tampak lebih tua daripada Nick, kakak lelaki Alice. Austin menebak jika umurnya mungkin sekitar tiga puluh tahun.
“Kau mengenalnya?”
"Tidak.” Alice menggeleng. “Aku tidak mengenalnya.”
Austin tersenyum puas mendengar jawaban Alice. “Kau dengar lelaki tua? Alice tidak mengenalmu.”
“Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum kami mengusirmu!”
Tepat setelahnya, beberapa orang mendekat ke arah mereka. Ancaman asal Austin membuat pergerakan yang tidak terduga.
Para lelaki berwajah sangar dengan badan besar berisi layaknya bodyguard, berdiri tegak di hadapan mereka. Hal ini membuat Alice sedikit khawatir.
“Ash… Kurasa… kita tidak perlu seperti itu…” Alice berusaha menormalkan ketegangan
“Tidak perlu bagaimana? Jelas-jelas orang ini sudah menerobos masuk ke dalam pestamu! Ia bahkan tidak diundang, dan kamu tidak mengenalnya!” Austin menunjuk wajah pria tua itu sengit.
“Siapa kau? Kenapa kamu datang kesini?”
Austin sungguh tidak menyadari keadaan, membuat Alice ingin memukul kepalanya gemas. Ia seperti tidak peduli sama sekali pada para pengawal yang sudah mengelilingi mereka. Austin tidak tahu kalau Alice panik. Alice sedang memikirkan apa yang akan terjadi kalau mereka benar-benar berkelahi. Austin pasti akan kalah telak.
“Kau berisik sekali!” Pria asing itu menggaruk telinganya. “Telingaku sakit mendengar ocehanmu. Bagaimana bisa ada lelaki yang begitu cerewet?!”
Wajah Austin merah padam mendengar hinaan itu. Ia mengepalkan tangannya erat. Melihat Austin yang menahan marah, sepertinya Alice harus bertindak. Ia sebaiknya mengakhiri ini sebelum menjadi terlalu buruk.
“Maafkan saya, Tuan…” Alice berucap sopan. “Tapi sepertinya ada kesalah-pahaman… Saya memang Alice Rowland, tapi saya sama sekali tidak mengenal Tuan…”
Lelaki itu tidak terkejut sama sekali. Tidak ada raut wajah bingung layaknya wajah Alice. Ia malah santai menatap Alice sambil mengulum senyum. “Aku tidak salah, Alice. Aku tidak pernah salah dalam mengenali pasangan yang ditakdirkan untukku…”
Sedetik kemudian Alice merasa tubuhnya bergerak tanpa perintah dari otaknya. Sebuah hentakan berhasil membuat dirinya berlabuh di d**a bidang lelaki tersebut. Saat itu, Alice bisa merasakan getaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dan baunya. Lelaki ini berbau sangat harum sehingga Alice merasa melayang.
“Kamu adalah Alice Rowland, pasangan yang sudah ditakdirkan untukku. Sudah sejak dulu…”
Untuk sesaat Alice terlena. Seolah hanya ada mereka berdua. Matanya menjadi terbutakan, dan telinganya tertulikan.
“Jangan berbicara hal yang tidak masuk akal…!!!” Austin menyambar tangan Alice, menariknya paksa.
“Lepaskan Alice sekarang juga!” Austin memberikan peringatan, tetapi lelaki itu tampak tidak takut sama sekali. Ia memandang Austin dengan tatapan meremehkan, membuat Austin semakin geram.
Pandangan Austin kemudian beralih ke Alice. Ia jadi kesal sendiri. Dirinya sibuk membela Alice, tapi Alice malah diam, menikmati waktunya di dalam pelukan lelaki asing itu.
Alice sendiri seperti tidak sadar. Ia malah melamun menatap lelaki yang memeluknya. Alice tahu kalau ia harusnya marah dirangkul oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal. Tapi, bagaimana mengatakannya ya? Rasanya begitu nyaman sampai Alice tak ingin pelukan ini berakhir.
"ALICE!!!”
Dengan satu tarikan keras, Austin berhasil membuat Alice terlepas dari pelukan itu. Alice meringis kemudian. Ia mengusap tangannya yang terasa perih. Kenyataan akan keadaan sekitar telah membuka matanya.
Ini gila! Baru saja, Alice seperti tersesat dalam tatapan sang pria asing. Sungguh, wajah dan pesona lelaki di hadapannya ini tidak mampu Alice sangkal. Ia terhanyut, begitu dalam.
“Siapa kau? Kenapa kau bersikap kurang ajar?” Austin bersungut menatap sang pria penuh kebencian. Sementara lelaki itu masih saja santai. Sekarang, ia bahkan kembali merebut tangan Alice. Membuat tangan Alice merenggang. Tangan kirinya dipegang oleh Austin, sementara tangan kanannya ada dalam genggaman sang pria asing.
Harusnya Alice menarik kembali tangannya dari pria itu, tapi ia enggan. Tidak masuk akal memang, tapi Alice ingin terus berada di dalam dekapan lelaki itu. Ia ingin kembali. Aneh, tapi itulah yang ia rasakan. Tidak ada rasa takut atau curiga, Alice malah merasa sangat nyaman tadi.
Alice yakin, kalau ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Alice dan lelaki asing penerobos pesta sweet seventeen-nya hari ini. Tapi kenapa? Bagaimana bisa Alice merasa begitu ingin bersamanya?
"Pergi kau! Menjauh dari Alice!"
Austin mendorong lelaki asing tadi. Gerakannya sungguh kasar, penuh dengan permusuhan juga provokasi. Tatapan benci jelas terlihat dari mata Austin. Entah itu benci, atau cemburu. Hanya Austin sendiri yang tahu.
"Tenang, Ash...!"
Alice tak ingin membuat keributan yang lebih besar. Dilihatnya lagi para bodyguard yang berdiri tegak di belakang si pria asing. Mereka kalah kuat dan juga kalah jumlah. Alice harus berpikir jernih.
"Maafkan saya, Tuan..." Alice berusaha berkepala dingin. Ia berbicara sopan pada sang pria asing.
"Apakah benar kalau saya adalah orang yang tuan cari? Karena... saya sama sekali tidak bisa mengingat tuan."
Mungkin saja memang Alice yang lupa.
Mungkin. Meski persentasenya sangat kecil, tapi belum mustahil.
Perempuan mana yang akan melupakan pria asing sepertinya? Pemilik wajah tampan dengan hidung mancung dan alis mata tebal. Belum lagi mata jernih yang mempesona. Badan tegap dengan tinggi di atas rata-rata. Sungguh, lelaki ini seperti tidak memiliki cela. Melihat sekilas saja para gadis pasti akan langsung tergila-gila. Mana bisa terlupakan kalau bentukannya semacam ini?!
"Bisa tuan sebutkan nama tuan? Mungkin saya bisa mengingat tuan setelah mengetahui nama tuan."
Lelaki itu terkekeh kemudian. "Senang mendengarmu menanyakan namaku."
Meski hanya sekilas melihat, Alice begitu terpukau. Senyum pria asing itu membuatnya meleleh. Menciptakan desir hangat di sudut hatinya.
"Aku Aldrich, Aldrich Kallahan. Perkenalkan, aku calon suamimu."
"Huh...?" Alice melongo. "Eum? Calon suamiku?"
Ah, benar juga. Lelaki ini sudah mengatakannya sejak tadi. Kalau ia adalah pasangan yang ditakdirkan untuk Alice.
Tapi… calon suami?
“Apa tuan sedang menyatakan cinta pada saya sekarang…?” Alice bertanya polos. Ia sendiri tak mengerti, tapi ia merasa seperti itu.
"Jangan berbicara omong kosong, Tuan Aldrich Kallahan..!." Austin mendesis. "Calon suami apanya? Alice bahkan tidak mengenalmu!"
Alice menarik tangan Austin yang sudah menunjuk Aldrich penuh amarah.
"Tenang, Ash..."
"Aku memang tidak mengenalnya, tapi bukan berarti kita bisa bersikap tidak sopan padanya..."
"Kenapa kamu jadi membelanya daripada aku, Al? Dia ini hanya pria tidak sopan yang telah menghancurkan pestamu...!"
Ah, iya. Pestanya. Alice baru ingat. Pestanya gagal total. Hancur berantakan sudah. Ia melihat sekeliling, hanya untuk menyadari kalau dirinya sudah menjadi tontonan sekarang. Tontonan dalam arti negatif.
Austin benar. Alice harus segera mengurus masalah ini jika ia tidak mau terus-menerus menjadi artis dadakan opera sabun.
"Maaf, Tuan Aldrich. Sungguh maaf kalau saya tidak sopan. Tapi saya terpaksa harus meminta Tuan Aldrich pergi dari pesta saya."
"Ini adalah pesta saya bersama dengan teman-teman. Bisakah Tuan Aldrich berbaik hati untuk tidak merusaknya?"
Alice merendahkan diri memohon.
"Tuan Aldrich... Maaf jika permintaan saya tidak sopan."
"Saya sungguh berharap kalau malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan untuk saya dan teman-teman..."
"Tanpa ada keributan... Atau perdebatan..."
Aldrich masih menatapnya, tidak berkedip.
"Karena..." Alice mencoba memikirkan alasan yang masuk akal. "Karena usia tujuh belas itu cuma terjadi sekali seumur hidup, kan...?"
Alice menunggu, tapi masih tidak ada jawaban. Selama beberapa detik, hanya ada hening. Alice takut kalau bujukannya tidak berhasil. Ia tak mau jika keadaan nantinya menjadi semakin keruh. Saat ia melirik Austin tadi, lelaki itu sudah mengepalkan tangannya erat, tanda ia sedang menahan emosi. Kalau sampai Aldrich memancing Austin sekali lagi, Alice tidak yakin ia bisa menahan kemarahan Austin.
Alice tak tahu kenapa, tapi Austin terlihat begitu membenci Aldrich. Kenal saja tidak, bertemu baru satu kali, tapi kenapa Austin terlihat begitu emosi kepada Aldrich?
"Tuan Aldrich Kallahan... Saya mohon pengertian, tuan... Sekali ini saja, biarkan saya menikmati waktu dengan teman-teman saya..."
Aldrich menatapnya lekat, masih tidak menjawab. Sementara Austin sudah maju selangkah, membuat Alice begitu panik.
"Tuan, kita bisa membahas masalah calon suami lain kali, kan?"
"Akhirnya kamu mengakui aku sebagai calon suamimu..." Aldrich tersenyum puas. Ia menatap Austin mencemooh.
Sementara Austin tidak bisa berucap, hanya menekuk wajahnya kesal. Alice menahan gerakannya sedari tadi, meminta ia untuk tidak ikut campur.
“Karena kamu yang meminta, tentu saja aku akan mengabulkannya.”
Alice menahan napas saat sekali lagi ia melihat lelaki rupawan itu tersenyum padanya. Terlalu tampan.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu untuk malam ini. Kita akan membicarakannya lagi lain kali."
Aldrich menyugar rambutnya gaya. Ia hanya memindahkan sedikit helai rambut yang menutupi wajahnya. Tapi begitu saja sudah berhasil membuat semua gadis terpana, tak terkecuali Alice.
Alice tak mau mengakui, tapi memang pesona Aldrich di luar nalar.
"Kamu bisa melanjutkan pesta dengan temanmu.”
Lagi, Aldrich meraih tangan Alice tanpa izin. Ia mengecupnya sambil memberikan senyum terbaik pada Alice.
"Kita akan bertemu lagi nanti. Sampai jumpa, sayang..."