Aldrich melangkah pergi, bersama dengan pengawal-pengawalnya. Langkah angkuhnya menjadi daya tarik yang membuat semua orang tak bisa berpaling. Satu-persatu pengikut Aldrich pergi saat pemimpinnya menarik diri.
Alice menghela napas panjang saat rombongan itu tak tampak lagi.
"Alice...! Siapa lelaki tadi?!" Emily, salah satu teman baik Alice di kelas, menjadi orang yang pertama bertanya.
"Apa dia benar adalah calon suamimu?"
"Dia berasal dari mana?"
"Sejak kapan kalian saling mengenal?"
"Sudah sejauh apa hubungan kalian?"
"Kenapa kau sama sekali tidak memberi tahu kami?"
Rangkaian pertanyaan terus mengalir tanpa henti, membuat Alice pusing. Ia mengangkat kedua tangannya menyerah. "Tidak! Aku tidak tahu!"
Tapi, bukannya mereda, pertanyaan terus saja bermunculan, membuat Alice jengah.
"Aku benar-benar tidak tahu!" Alice berucap sambil mengacak rambutnya frustasi. Ia melangkah pergi, meninggalkan teman-temannya yang tertegun menatap kepergiannya.
Sang pemilik pesta pergi, meninggalkan pengikutnya dengan penuh tanda tanya.
***
Ulang tahun ke-17 yang sudah sejak lama Alice nantikan berakhir mengerikan. Alice pergi begitu saja, masuk ke dalam rumah meninggalkan para tamu. Suasana hatinya berubah menjadi sangat buruk. Orang-orang menjadi begitu menjengkelkan. Mengapa tiba-tiba saja mereka menjadi begitu tertarik dengan kehidupan pribadinya?!
Alice mengurung diri di dalam kamar. Ia enggan untuk melakukan apapun. Sejak kejadian itu, ponsel Alice terus berbunyi. Teman-temannya masih terus membahas tentang Aldrich. Ia malas menanggapi. Meski pada akhirnya mereka meminta maaf, tapi Alice sudah terlanjur enggan.
Alice mematikan ponselnya, memilih untuk menonton film. Dan harinya berlalu begitu saja.
"Alice...!"
Alice tersentak saat Jasmine memanggilnya dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
"Iya, mom...! Masuk saja!"
"Kamu sudah bangun, sayang...?"
"Sudah..." Alice menguap beberapa kali. Kalau saja hari ini tidak sekolah, ia akan memilih meringkuk di balik selimutnya. Masih betah di sana.
"Tenang saja, mom. Aku tidak akan terlambat. Aku mau bersiap berangkat ke sekolah sekarang."
Alice pikir, ibunya akan segera pergi. Tapi ternyata tidak. Jasmine masih betah berada di dalam kamar Alice, menatap putrinya lekat.
"Ada apa, mom...? Ada sesuatu?"
"Sebenarnya mom datang bukan hanya untuk membangunkanmu..." Wanita itu menghela sekali. "Tapi juga mau mengatakan, kalau Austin menunggumu."
“Siapa?”
"Austin."
"Dimana?"
"Menunggu di depan pintu."
Alice memekik saat rangkaian kata itu memantik respon di otaknya.
"Astaga!!! Kenapa tidak mengatakannya dari tadi, mom...?!"
Gegas, Alice melangkah masuk ke kamar mandi. Rasa malas yang sebelumnya menempel, tiba-tiba saja terlepas.
Melihat anaknya yang sudah bersiap, Jasmine melangkah keluar kamar, hendak menyiapkan sarapan.
"Mom, aku berangkat...!"
Alice mengecup pipi Jasmine, hendak berlari setelahnya. Tapi, tentu saja tidak diizinkan.
"Sarapan, sayang...!"
"Tidak sempat..."
Kedua wanita itu saling menatap tegang. Akhirnya Alice yang mengalah. Ia menyambar roti yang sudah diolesi selai oleh ibunya.
"Bye, mom...!"
Dalam sekali suap, roti itu hilang masuk ke dalam mulut Alice. Ia membiarkan lambungnya bekerja ekstra saat ini. Tak apa, sesekali.
Alice memakai sepatunya cepat. Ia sudah berdiri di depan pintu keluar. Merapikan rambutnya yang berantakan karena berlari tadi. Penampilannya harus sempurna di depan Austin.
"Hai, Al..."
Alice merasa beruntung karena hari ini ia bisa melihat wajah Austin sebagai pembuka harinya. Ia akan mencoba melupakan hari buruknya kemarin.
"Hai... Ash..."
Dengan senyum yang berusaha Alice tahan agar tidak terlalu lebar, ia berdiri di samping Austin.
"Apa kamu sudah lama menungguku…?"
“Ya, tentu saja…” Austin mengangkat ponselnya. Alice bisa melihat benda pipih itu berpendar menyala, menunjukkan nomor kontaknya.
“Aku sudah menghubungimu, tapi ponselmu mati. Jadi aku terpaksa mengetuk pintu rumahmu dan mengganggu ibumu.”
Alice memandang Austin dengan tatapan menyesal. “Maaf…”
“Hanya maaf saja? Kamu tidak berniat memberikan kompensasi lain untukku…?”
Alice merasa napasnya tersendat saat Austin mendekat padanya. Tangan lelaki itu terulur seolah hendak menyentuh wajahnya. “Sudah hampir satu jam aku berdiri di sini…”
“Apa hanya maaf saja yang bisa aku dapatkan?”
Alice melangkah mundur. Ia jadi salah tingkah. Ini pertama kalinya mereka berhadapan dalam jarak yang begitu dekat.
“A-apa…? Kamu mau apa?” Alice bergerak kikuk. Wajahnya sudah merona sempurna.
Alice menjerit dalam hati. Terlebih saat Austin terus saja bergerak mendekat ke arahnya. Sekarang tubuh Alice merapat ke pintu. Ia terjepit.
Wajah mereka sudah tak berjarak. Austin menatap Alice lekat, tidak membiarkan Alice berpaling. Alice menahan napas. Ia menutup matanya. Alice siap... untuk...
"Ada selai di bibirmu." Austin mengacungkan selai berwarna merah di jarinya. Yang kemudian ia cicipi tanpa ragu.
"Rasa strawberry... Manis..."
Mata Alice langsung terbuka lebar. Ia mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa berpikir kalau Austin akan menciumnya?
Austin terkekeh melihat Alice yang kalang kabut. Ia menikmati wajah imut merona sang gadis yang sedang ia goda.
Lemah. Begini saja rasanya Alice sudah lemas. Bagaimana kalau Austin benar mengecup? Pasti Alice sudah pingsan.
***
"Alice...!" Emily memekik saat melihat temannya masuk ke dalam kelas.
"Aku sudah menghubungi... Kenapa kamu tidak membalasnya?"
Alice meletakkan tasnya lalu duduk tanpa menoleh.
"Ponselku mati."
"Kenapa...?"
"Malas."
Emily membungkukkan badannya, mensejajarkan diri dengan Alice yang sedang duduk. "Kenapa malas...?"
"Pergilah, aku lelah..." Alice menundukkan kepalanya. Tidak ingin menatap Emily.
Alice jujur. Ia benar lelah. Lelah meladeni pertanyaan yang tidak ada habisnya.
"Sudahlah, jangan ganggu Alice lagi. Dia mau istirahat."
Berkat bantuan Austin, Alice berhasil menghindar dari Emily. Meski hanya sesaat.
Saat jam istirahat tiba, Emily kembali menyeret Alice. Merasa tidak bisa mengelak lagi, Alice memilih untuk mengikuti para gadis untuk membeli makan siang.
Baru saja Alice akan memesan, pengeras suara yang dipasang di seluruh penjuru sekolah berbunyi nyaring.
"Kepada siswi yang bernama Alice Rowland, silahkan menuju ke ruang kepala sekolah."
Tatapan teman-temannya, tertuju langsung ke arahnya. "Apa kamu melakukan sesuatu? Kenapa kepala sekolah memanggilmu?"
"Aku… tak tahu….?" Alice balas bertanya. “Memangnya apa yang aku lakukan?”
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu? Apa kamu diam-diam melakukan hal buruk di belakang kami?"
Ingin sekali Alice menyumbat mulut Emily. Terus saja bertanya hal yang ia juga tak tahu jawabannya. Menuduh pula. Membuat kesal. Alice jadi heran sendiri kenapa Emily jadi bersikap menyebalkan sekarang. Apa gadis ini sedang datang bulan?
"Kepada Alice Rowland, ditunggu di ruang kepala sekolah sekarang juga!"
Alice mendesis. "Astaga... Itu pengumuman atau pemaksaan?"
Sekarang juga, katanya. Tidak sabaran.
Karena pengumuman itu terus berulang sambil menyebut namanya, mau tak mau ia mengalah. Alice mengambil langkah keluar barisan antrean makan siang. Ia menyeret kaki-kakinya, berjalan menuju ke ruang kepala sekolah.
Di depan pintu ruangan, Alice menarik napas dalam. Ia mengingat-ingat lagi, dosa apa kiranya yang sudah ia lakukan. Sejauh ini Alice adalah siswa baik yang tidak pernah berbuat onar. Meski ia juga bukanlah siswa teladan. Rasanya, Alice biasa-biasa saja dengan kehidupan sekolahnya.
Lalu kenapa? Apa yang membuat kepala sekolah sampai mengenali dirinya?
Panggilan dari pengeras suara kembali menggema, menyebutkan namanya. Alice mengutuk keras. Daripada namanya terus digaungkan di seluruh penjuru sekolah, Alice memilih mengetuk pintu ruang kepala sekolah yang sudah menatapnya dari tadi. Daripada terus berpikir tanpa menemukan jawaban, lebih baik dia menghadapi kenyataan. Entah apapun itu yang akan menyambutnya.
"Silahkan masuk..."
Pintu terbuka. Alice segera masuk. Tapi pandangannya langsung tertuju ke satu titik. Di depan kepala sekolah, ada sosok yang terasa tak asing untuknya. Seseorang yang sekarang sedang berdiri membelakangi dirinya.
Alice jadi heran sendiri. Apa beliau adalah tamu kepala sekolah? Tapi kalau Pak Kepala sedang menyambut tamu, kenapa memanggilnya?
Rasa penasaran Alice tidak berlangsung lama. Sosok yang membuatnya penasaran berbalik sedetik kemudian.
"Hai, sayang... Kita bertemu lagi..."
Alice menutup mulutnya yang menganga. "Tuan Aldrich?! Bagaimana tuan bisa ada di sini...?" Kebingungan, Alice menatap Aldrich yang tersenyum lebar padanya.
"Aku menjemputmu."
"Kenapa? Untuk apa? Kemana?" Alice memicing kemudian. “Bagaimana tuan bisa tahu tentang sekolahku?”
Pandangan Alice pun tertuju pada kepala sekolah. “Pak Kepala Sekolah, saya tidak mengenal Tuan Aldrich Kallahan. Beliau muncul begitu saja di pesta ulang tahun saya, kemudian-“
“Alice Rowland!”
Alice tergagap saat kepala sekolahnya malah memotong ucapannya.
“Bagaimana bisa kau mengatakan kalau kau tak mengenalnya, di saat kau baru saja menyebutkan namanya?”
Alice berdecih. Bodoh sekali. Bagaimana bisa ia tidak menyadari hal itu.
“Kau tidak perlu mengelak ataupun memberi alasan, Alice. Tuan Aldrich Kallahan datang ke sini untuk menjemputmu. Bukankah tidak sopan jika kamu menolak ajakan dari tunanganmu?”
Saking kagetnya Alice merasa rahangnya jatuh ke lantai. “Tu-tunangan…? Bapak percaya…?”
Kepala sekolah mengangguk yakin. “Tentu saja. Aku sudah memastikannya.”
Alice memicing curiga, dan saat itulah ia melihat sebuah amplop tebal di atas meja kepala sekolah. Ah, rasanya ia tahu apa yang mungkin bisa terjadi. Uang bisa membuat siapapun melakukan apapun.
“Aku akan mengatakannya pada ayahku…!” Alice menunjuk ke arah meja sang kepala sekolah, membuat pria tua itu kelabakan.
“Tidak usah membesar-besarkan masalah.” Aldrich menangkap tangan Alice yang menunjuk, ia membawa tangan gadis itu ke dalam genggamannya.
“Yakinlah kalau tidak akan ada yang berubah meski kamu mengadu pada David.”
Alice terperangah. Sekali lagi Aldrich menyebutkan nama ayahnya dengan benar. Kenapa lelaki itu bisa tahu?!
“Jangan terkejut begitu. Aku mengenal David dan Jasmine dengan baik. Juga Nicholas. Kamu tidak perlu khawatir. Aku yang akan memberi tahu mereka nanti.”
Aldrich menarik tangan Alice membawa gadis itu keluar ruangan. “Sekarang kamu ikut saja denganku.”
Alice berteriak. “Tidak! Aku tidak mau!”
Aldrich menggeleng kecewa. “Jangan begitu, Alice. Kamu harus ikut juga. Jangan sampai ukuran gaunnya salah.”
“Apa?! Apa yang sedang kau bicarakan?!” Alice menggeleng tak mengerti.
"Ayo, sayang… Kita harus segera ke butik, mencoba gaun pernikahan kita.”
“KAU GILA!”