"Aku tidak mau...!" Alice berteriak protes. Sengaja ia lakukan sekeras mungkin, agar semua orang bisa mendengar suaranya. Siapapun. Ia tak peduli dengan keributan yang akan muncul setelah ini. Tapi sayang sekali, tidak ada seorang pun yang menyahut.
Yang benar saja?! Dari ratusan pasang telinga yang ada di sekolah apakah tidak ada yang mendengar teriakannya barusan?! Apa mereka terlalu tuli atau mereka tidak peduli?
Meski begitu Alice tak menyerah, ia terus memberontak.
“Aku tidak mau pergi bersamamu!” Alice menyentak tangannya kasar. Tapi tentu saja genggaman tangan Aldrich tidak terlepas semudah itu. Aldrich masih memeganginya erat.
“LEPASKAN AKU!” Alice memandang lelaki yang kini ada di hadapannya. Sumber dari semua masalahnya. Aldric Kallahan. Si tampan yang membuat hidup tenangnya seakan adalah mitos.
Setelah sukses membuat pestanya berantakan, sekarang lelaki itu datang ke sekolahnya mengucapkan omong kosong. Tentang tunangan dan juga gaun pernikahan.
Sejak kapan ia menjadi milik orang lain?! Alice yakin saat ia bangun pagi hari tadi, ia masih seorang single.
“Alice… Jangan membantah, sayang… Itu tidak akan ada gunanya…”
Alice menggeram. Ia memandang Aldrich penuh permusuhan. Diberikannya tatapan tajam yang seolah memberikan perintah agar Aldrich segera pergi dari hadapannya.
Yang tentu saja, gagal. Seolah ia memiliki kemampuan untuk mengintimidasi orang lain!
Alice harus sadar dengan keadaannya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar bisa berlaku kasar. Ia tidak tahu caranya. Bahkan Alice tidak pernah membenci orang lain. Itu karena ia tidak sekalipun merasa memiliki alasan kuat untuk membenci seseorang. Sampai akhirnya hari ini datang.
Aldrich, adalah orang pertama yang berhasil membuat emosinya terisi penuh sampai ubun-ubun. Sukses membuat ia kesal bukan kepalang.
“Lepaskan…!” Alice mendesis menggerakkan tangannya. “Kau menyakiti aku!” Keluhan yang ia ucapkan berhasil membuat genggaman Aldrich merenggang.
"Alice, sayang..."
Aldrich mencoba bersabar. Ia membalas tatapan kebencian Alice dengan sebuah senyum.
Alice seketika berpaling. Senyum Aldrich membuat Alice lemah. Aldrich tahu betul bagaimana cara menggunakan wajahnya untuk membuat gadis luluh.
Sial, sepertinya lelaki itu sudah sangat pro.
"Alice, kamu harus ikut denganku… Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi sampai pernikahan diadakan...”
Alice mendelik tak suka. "Lalu apa peduliku?!!! Kau saja sendiri yang menikah, tidak perlu mengajak aku! Aku tidak mau!"
“Lepaskan aku, sialan!”
Bentakan yang sukses membuat Alice mendapatkan sebuah dehaman keras.
"Nona Alice Rowland...!"
Alice tersentak saat melihat kepala sekolah yang kini sedang menatapnya.
Oke, sejenak ia lupa kalau tidak hanya ada mereka berdua di ruangan tersebut. Beliau menegurnya.
"Kuharap kamu bisa bersikap dengan sopan kepada orang yang lebih tua..."
Alice memendam kesalnya dalam diam. Ia menghela tanpa suara.
“Aku bukannya tidak sopan, Pak Kepala Sekolah. Tapi ia yang memulai.” Alice mengangkat tangannya yang sekarang berwarna kemerahan. “Lihat!”
Aldrich menarik napas panjang. Ia pun melepaskan tangannya. Alice tiba-tiba mendapatkan sebuah ide brilian.
"Maafkan saya, Pak Kepala Sekolah..." Ia menunduk sedikit, melakukan sikap sopan seperti yang diminta kepala sekolah barusan.
"Dan Tuan Aldrich Kallahan... Maafkan saya karena tidak bisa memenuhi ajakan tuan..." Alice memutar otaknya sesaat, mencoba mencari alasan yang kiranya tepat.
"Maaf, tapi menurut saya, sekarang memang belum waktunya..." Alice mengambil langkah mundur perlahan.
"Saat ini saya masih jam belajar..." Alice menatap ke arah kepala sekolah kemudian.
"Bukankah kewajiban seorang pelajar adalah untuk belajar?"
"Jadi maaf jika saya tidak bisa ikut dengan tuan, karena saya harus melakukan kewajiban saya dulu. Mungkin nanti..."
Alice menunduk sekali lagi. "Permisi..."
Ia segera menarik handle pintu dan keluar kabur. Selagi kedua lelaki itu masih terpaku heran.
Saat Alice menutup pintu, ia mendengar ledakan tawa Aldrich. Mungkin pria itu baru sadar sekarang. Segera Alice mengambil langkah seribu. Ia pergi secepat mungkin, kembali ke kelas. Dan duduk di sana. Tentu saja karena bel sudah terlanjur berbunyi sedari tadi.
Sir Anthony masuk setelahnya. Kelas dimulai semenit kemudian.
Alice menatap jendela sepanjang pelajaran. Tak hentinya ia melirik ke arah pintu kelasnya. Takut kalau sewaktu-waktu pintunya terbuka lalu Aldrich muncul di sana. Tolonglah! Bayangannya itu sangat buruk, membuatnya sampai bergidik ngeri.
Selama kelas berlangsung, Alice jelas tidak bisa berkonsentrasi. Ia terus memikirkan sosok Aldrich. Otaknya ia paksa untuk mengingat lelaki itu. Alice sadar jelas kalau rasa nyaman pada Aldrich bukanlah suatu kebetulan. Belum lagi lelaki itu seolah tahu segala hal tentang dirinya, juga keluarganya. Alice yakin, setidaknya mereka pernah bertemu sebelumnya. Tapi, kapan? Kenapa? Dan bagaimana?
Menyadari kalau ia tidak akan menemukan jawaban, Alice memilih untuk menyudahi. Alasannya sederhana. Itu karena perutnya bergemuruh keras minta diisi. Hari sudah siang dan tadi pagi ia hanya makan sepotong roti. Sekarang ia jadi merasa begitu lapar.
"Rasanya aku mau bolos saja..."
Ucapan asal dari mulutnya itu justru memberikannya sebuah ide.
Kenapa tidak? Ayo bolos saja.
Alice tahu kalau hal ini sebaiknya tidak dilakukan. Ia juga sadar kalau nantinya ia bisa mendapatkan hukuman. Tetapi, Alice harus mengakui kalau ini adalah ide yang bagus.
Kenapa tidak? Bolos untuk mengisi perut sekaligus kabur dari Aldrich. Rasanya itu adalah ide yang luar biasa. Sekali dayung, dua pulau terlampaui.
Tapi, Alice tidak pernah melakukan hal ini. Bagaimana caranya, ya...?
Bagaimana ia bisa keluar dari sekolah tanpa memancing perhatian? Bagaimana cara melakukannya? Ia belum pernah. Sekarang Alice mulai menyesali dirinya sendiri yang selalu menjadi siswa yang tak pernah membangkang. Andai saja ia pernah nakal sekali dua kali seperti siswa kebanyakan, pasti bolos tidak akan menjadi hal yang sulit untuk ia lakukan.
“Aku harus kabur dari sekolah. Bisa saja lelaki gila itu masih menungguku.” Alice berbicara pada dirinya sendiri, menggumam rendah dalam suara yang hanya bisa ia dengar.
“Tidak. Ia sudah pasti akan menungguku. Tidak mungkin ia menyerah begitu saja.”
Alice memutar otak. “Bagaimana caranya aku bisa pergi? Apa langsung saja keluar lewat gerbang sekolah?” Rasanya tidak mungkin. Pasti ada beberapa guru yang harus ia lewati. Bisa-bisa ia langsung tertangkap sebelum mencoba kabur.
Saat Alice tengah berpikir, sebuah bola kertas mampir ke mejanya.
Kenapa?
Isi bola kertas yang ternyata dari Austin.
Alice melirik ke arah guru mereka hari ini, sekedar memastikan kalau ia tidak akan tertangkap basah. Dan sepertinya tidak, Sir Anthony sedang bersemangat menjelaskan rangkaian angka. Yang jelas Alice tidak tahu apa maksudnya. Sudah pasti karena ia tidak menyimak penjelasan guru sedari tadi.
Austin meliriknya sesekali, menandakan kalau ia menunggu jawaban dari Alice. Dengan sebuah pena di tangan, Alice menuliskan jawabannya.
Mau bolos. Lapar.
Setelah Alice melemparkan kertas itu kembali pada Austin, ia baru menyadari satu hal.
Sial! Bukankah harusnya ia bersikap seperti anak baik-baik di depan orang yang ia sukai? Kenapa malah mengatakan mau bolos segala...!
Saat masih menyesali jawabannya, balasan sudah datang kembali dari Austin.
Izin ke toilet. Aku menyusul.
Yah... sudah terlanjur, ya sudah lanjutkan saja, lah!
"Permisi, sir!" Alice mengacungkan tangannya tinggi, menarik perhatian seisi kelas, tak terkecuali gurunya yang sedang mengajar.
"Saya minta izin ke kamar kecil."
Beruntung Sir Anthony bukanlah pengajar yang killer. Ia segera mengangguk memberikan izin tanpa banyak bertanya.
Memang beliau adalah pengajar matematika yang berbeda dari kebanyakan. Image galak yang biasanya tersemat pada guru pelajaran tersebut, tidak tampak sama sekali pada dirinya.
Alice beruntung karena Sir Anthony yang mengajar sekarang. Rasanya ia bisa kabur tanpa masalah.
Tanpa ragu, Alice beranjak dari kursinya dan pergi keluar kelas. Ia menunggu di depan pintu toilet. Austin muncul tak lama kemudian.
"Ayo ikut aku..."
Alice tersentak saat Austin tiba-tiba saja menggandeng tangannya. Belakangan ini ia sering kaget dan berdebar tak karuan begini. Salahkan Austin dan hormon-hormon dalam dirinya yang tidak bisa ia kendalikan.
Tidak ada lagi yang namanya menjaga jarak, entah sejak kapan mereka seolah tak memiliki batasan semacam itu. Ingat saja kejadian tadi pagi. Itu adalah pertama kalinya Austin dan Alice dalam jarak yang begitu dekat, bahkan setelah berteman bertahun-tahun.
"Kita mau kemana?" Alice bertanya polos.
"Kau mengatakan mau bolos, kan? Akan aku bantu. Kita bisa pergi bersama."
Alice membelalak. Apa sejak dulu Austin adalah anak yang pembangkang? Kenapa baru sekarang ia sadar?
"Kenapa kamu tahu jalan ini?"
Alice memicing curiga saat Austin mengajaknya melewati lorong kecil yang kemudian membawa mereka ke tembok tinggi pembatas sekolah.
"Yah, kurasa kamu tidak perlu tahu sedetail itu..."
Jawaban Austin membuat Alice mulai berpikir ulang. Sepertinya Austin tidak sepolos kelihatannya. Tapi ia akan mencoba memaklumi. Anak lelaki tidak mengapa nakal sesekali. Hal itu tidak akan membuat rasa suka Alice berkurang untuk Austin.
Austin mengulurkan tangan kemudian. "Ayo, aku bantu kamu naik."
"Naik...?" Alice menatap dinding pembatas di hadapannya. Memang benar, jika ia berhasil melewati dinding ini, maka mereka sudah berada di luar sekolah.
"Iya."
Alice meragu melihat uluran tangan itu. Apa ia memang harus melakukan ini?
Terlintas di benaknya sosok Aldrich kemudian.
Tidak, Alice tidak mau bertemu Aldrich lagi. Lebih baik kabur dari sekarang.
Alice menerima uluran tangan Austin. Ia menerima pijakan dari lutut lelaki itu, lalu dengan sekali gerakan, ia meloncat dan tiba di puncak dinding.
"Bantu aku..."
Alice menggeleng ketika melihat tangan Austin yang mengulur meminta bantuan. "Kau di sekolah saja, Ash... Aku titip tasku."
"Hei...!" Austin memekik jengkel, yang langsung diabaikan oleh Alice. Gadis itu sudah melompat turun ke sisi sebelah.
Alice tidak sadar kalau sekarang tubuhnya begini ringan. Rasanya ia dulu tidak begitu pandai olahraga? Kenapa sekarang jadi begitu mudah?
Ah, biarlah. Ia akan menganggap itu adalah kemampuan di saat terdesak. Semua orang juga memilikinya.
Tidak mau meragu lebih lama, Alice melangkah cepat. Ia mencari tempat untuk makan. Ya, ia perlu mengisi perut.
Sampai di cafe, pelayan menatapinya lama. Membuat Alice tidak nyaman.
Apa, sih?! Tidak pernah lihat murid yang bolos?
Alice balas menatap tajam. Ia juga melirik ke meja yang tak jauh darinya. Ada segerombol anak lain yang juga kabur dari sekolah. Tapi kenapa hanya dia yang diberikan tatapan sinis?!
Butuh makanan yang banyak untuk membuat emosi Alice mereda. Ia memesan fish and chips, salad, juga pudding cokelat. Semoga ketiga makanan itu membantu.
Beruntung rasa makanannya enak, jadi Alice tidak mengajukan protes.
Alice mengeluarkan ponsel yang ia simpan di saku. Ia mengaktifkan benda itu kemudian. Ada banyak pesan muncul. Abaikan semuanya, fokus saja pada pesan terbaru dari Austin.
"Kamu dimana sekarang?"
Lelaki sepertinya marah karena tidak diajak.
Alice mengambil foto piring-piringnya yang sudah kosong sempurna. "Makan. Maaf meninggalkanmu."
"Tunggu aku di sana. Jangan kemanapun."
Sepertinya Austin khawatir padanya. Manis sekali! Membuat Alice senang. Tapi tentu saja tidak Alice inginkan. Jika memang harus membolos, biarlah dirinya sendiri saja.
"Lanjutkan saja belajarmu. Aku akan langsung pulang ke rumah." Alice melarang Austin menjemput.
"Jangan lupa bawa tasku."
Alice lama menunggu, sebelum akhirnya Austin membalas pesannya. Dengan satu kata. "Ya."
Wah, jelas sekali kalau lelaki itu merajuk.
Alice membayangkan wajah Austin yang menekuk dengan bibir cemberut. Pasti lucu dan imut.
Ia memilih untuk duduk sedikit lebih lama. Tentu saja ia sedikit berbohong mengatakan kalau akan langsung pulang ke rumah. Bisa-bisa ia dimarahi oleh Jasmine kalau benar ia pulang jam segini.
Alice akan duduk di sini lebih lama. Ia berniat untuk memesan es krim. Dirinya masih membutuhkan asupan gula, agar kadar emosinya bisa turun. Sekalian menunggu waktu.
Saat Alice sedang sibuk menghabiskan waktu menonton video random di ponselnya, sebuah suara menyapa telinganya lembut.
"Bukankah kewajiban seorang murid adalah belajar...?"
Ponselnya terlempar begitu saja. Beruntung bisa ditangkap sebelum masuk ke dalam mangkuk es krim.
"Kurasa tadi ada seseorang yang mengatakan hal itu padaku..."
Alice meringis. Dari semua orang, kenapa harus Aldrich yang muncul di hadapannya coba?!