Aku baru saja turun dari taksi, Aku membuka gerbang lalu melangkah pelan menyusuri halaman rumahku.
Terdengar suara berisik seperti orang yang sedang bertengkar dari dalam rumah. Karena penasaran, Aku mempercepat langkahku.
"BRAAKK"
Kali ini malah terdengar seperti suara pintu yang dibanting dengan keras.
Belum sempat Aku menjejakkan kaki di lantai teras, Ibu muncul dari balik pintu. Ia berjalan dengan langkah cepat. Kedua tangannya masing-masing menarik sebuah koper, satu diantaranya adalah milikku.
"Ada apa ini?" batinku. Ibu terus berjalan menuju gerbang "Ayo, Din!" ajaknya.
"Ibu mau kemana?" tanyaku tak sanggup menahan rasa ingin tahu yang semakin tinggi.
Tak ada jawaban dari Ibuku.
Kulihat Bapak keluar menyusul Ibu namun tak berkata apa-apa.
"Kita pergi dari sini, Bapak udah gak peduli sama kita" Jawab Ibu. Matanya sembab, jelas sekali Ibu habis menangis.
"Tapi kenapa, Bu?" Tanyaku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Pak?" lanjutku melihat ke arah Bapak yang hanya diam menunduk seolah memang merasa bersalah.
"Sudahlah, Din! Gak usah banyak nanya! Kamu mau ikut Ibu atau tinggal di sini sama Bapak Kamu?" Ucap Ibu dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ibu emosi, sepertinya pikirannya sedang tidak stabil saat ini. Kuputuskan untuk mengikuti Ibu dulu, setidaknya Aku bisa tahu nanti, kemana Ibu akan pergi.
"Iya, Aku ikut Ibu" Jawabku.
Aku melihat ke arah Bapak, seolah mengerti isi kepalaku Bapak hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil kearahku.
Ibu memanggil kembali taksi yang mengantarku tadi.
"Ke Terminal yah Pak!" Ucapnya setelah duduk di jok penumpang.
"Baik, Bu" Jawab Sopir Taksi itu.
Di perjalanan Ibu tak hentinya meneteskan air mata, namun tetap dengan ekspresi yang seolah menyimpan kemarahan. Untuk saat ini Aku tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun, Aku berpikir mungkin Ibu butuh waktu untuk menenangkan diri, Aku juga tidak ingin memperkeruh keadaan. Mungkin setelah Ibu merasa tenang Ibu akan cerita semuanya padaku.
* * *
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam, Aku dan Ibu tiba di depan sebuah rumah yang sederhana. Rumah minimalis bernuansa hitam putih dengan arsitektur American House, hanya ada bebarapa tanaman tak berbunga menghiasi halamannya yang terbilang cukup luas, sangat subur dan terawat. Terdapat sebuah pot yang ditanami Sansivera tepat di sisi kanan pintu utama dengan teras yang hanya berukuran 1 x 1 meter, tampak sangat elegan. Rumah itu sepi seperti tak berpenghuni.
"Ini rumah siapa, Bu?" Tanyaku penasaran.
"Rumah Nenek" Jawab Ibu singkat. Ibu menarik kopernya melangkah memasuki halaman rumah itu.
Aku hanya mengangguk tanda mengerti.
Aku memang belum pernah kesini, bahkan wajah Nenek pun Aku belum pernah melihatnya secara langsung, Aku juga tidak mengerti kenapa Bapak dan Ibu tidak pernah membawaku kesini.
Ibu mengetuk pintu rumah itu sambil mengucap salam, "Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam" Jawab seseorang dari dalam sana.
Suaranya terdengar parau, "Itu pasti Nenek" Tebakku dalam hati.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka perlahan, Tampak seorang wanita yang sudah sangat tua, berdirinya pun sudah tidak tegak lagi, rambutnya didominasi oleh warna putih, Matanya juga sepertinya tidak mampu melihat dengan jelas.
"Ya Allah, tua sekali nenekku" Batinku.
Ibu menyalaminya, memeluknya dengan sangat erat sambil menangis sesenggukan.
Mereka berpelukan sangat lama, Ibu seakan lupa ada anaknya di sini.
"Oh ya Bu, ini Anak Aku, Medina" Ucap Ibu yang tiba-tiba melerai pelukannya.
Nenek melihat ke arahku, Aku pun tersenyum berniat menyalaminya.
"Hai, Nek!" Sapaku sembari mengulurkan tangan dengan sopan.
Alih-alih menyambut tanganku Nenek malah mengajak Ibu masuk ke dalam.
Respond Nenek terhadapku benar-benar membuatku bertanya-tanya, "Ada apa lagi ini?" begitu kataku dalam hati.
"Ayo, Din! Kita masuk" Ajak Ibu.
Aku hanya menurut walaupun sebenarnya Aku merasa sungkan, tampak sangat jelas Nenek tidak menyukaiku.
Mungkin ini yang menjadi alasan Bapak dan Ibu tidak pernah membawaku untuk bertemu dan berkenalan dengan Nenek.
Tapi atas dasar apa Nenek tidak suka dengan kedatanganku?
Pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di dalam otakku yang tak seberapa besar kapasitasnya. Mungkin sebentar lagi akan meledak saking banyaknya uneg-uneg yang mengendap.
* * *
Jam menunjukkan pukul 11 malam.
Aku dan Ibu sudah berada di Kamar tamu rumah Nenek.
Aku merasa lega akhirnya berada di kamar ini sekarang, setelah melewati sesi makan malam yang begitu me.negangkan.
Beberapa saat yang lalu Meja makan Nenek yang tak menganggapku cucu itu mendadak berubah menjadi tempat yang rasanya lebih dingin dari Benua Antartika dan Nenek adalah penguinnya.
Kalian mungkin berpikir kalau Aku sangat keterlaluan.
Menyamakan Nenekku sendiri dengan seekor Penguin.
Tapi Aku memang sangat tidak nyaman berada di dekatnya.
Jangankan tersenyum, melirik ke arahku saja sepertinya Nenek sangat tidak sudi.
"Bu, Nenek kenapa sih? Kok kayak benci bangat sama Dina" Tanyaku pada Ibu.
"Gak usah diambil hati! Nenek memang seperti itu orangnya" Jawab Ibu yang sepertinya berusaha membuatku tenang.
"Tapi kalau sama Ibu, Nenek baik-baik aja" ucapku tak terhibur dengan kata-kata Ibu barusan.
"Udah, Gak usah dipikirin! Besok Kamu kembali ke Jakarta kan?" Tanya Ibu yang kini malah mengubah topik pembicaraan.
Respondnya yang demikian membuatku berpikir ada sesuatu yang Ibu tidak ingin Aku ketahui.
"Din.." lanjutnya yang melihatku bengong.
"Iya, Bu... Kan hari senin Aku harus kerja" Jawabku.
"Kalau boleh Kamu cari kostan aja yah, Din! Gak usah tinggal sama Bapak lagi!" pinta Ibu yang berhasil menimbulkan tanda tanya baru di kepalaku.
"loh kenapa, Bu? Bapak sama Ibu ada masalah apa sih sebenarnya?" Tanyaku berharap kali ini Ibu mau menjawab rasa penasaranku.
"Kamu gak perlu tahu, Din. Ibu gak mau bebanin pikiran Kamu."
"Terus Ibu pikir dengan ngebuat Aku terus-terusan penasaran kayak gini, pikiran Aku gak terbebani?"
Aku mulai kesal dengan sikap Ibu.
Ibu hanya diam. Tak ada tanda-tanda Dia akan buka mulut.
"Ayolah, Bu, cerita! Pliss!" Pintaku memelas.
Kugoyang-goyangkan lengan Ibu layaknya Anak kecil yang sedang merengek.
Namun ternyata usahaku sia-sia, Ibu benar-benar menutup semuanya dengan rapat.
"Udah, sekarang tidur! Besok Kamu harus berangkat Pagi. Masalah Ibu sama Bapak gak usah Kamu pikirin! Fokus aja sama kerjaan Kamu!". Ucap Ibu menutup obrolan malam kami.
Ibu menarik selimut lalu berbaring memunggungiku.
Aku ikut berbaring menghadap ke punggungnya, tanganku memeluknya erat.
Mataku terpejam namun tak bisa terlelap.
Pikiranku kalut, memutar kembali kejadian demi kejadian yang berlaku sejak pulang kerja sore tadi.
Sikap Bapak yang tidak mencegah kepergianku dengan Ibu membuatku berpikir apa mungkin Bapak melakukan kesalahan yang sulit untuk Ibu maafkan.
Sikap Ibu pun berubah, Aku seperti tidak mengenalnya.
Ditambah lagi kehadiran Nenek yang bersikap seperti itu padaku.
Mendadak keluargaku yang tadinya harmonis menjelma jadi sebuah keluarga misterius yang penuh dengan rahasia.