"Din, makan siang yuk!" Ajak Siska, rekan kerjaku yang paling manja.
Usianya 3 tahun lebih muda dariku.
Dia cantik juga fashionable, terus terang Aku sering merasa minder berada di dekatnya.
Kulirik jam di sudut kanan bawah monitor, "Ah! Ternyata sudah jam istirahat" batinku.
Aku terlalu fokus bekerja sampai tidak ingat waktu.
Aku memang sengaja menyibukkan diri di kantor.
Aku tidak ingin sampai stres memikirkan masalah keluargaku yang sampai saat ini masih membuatku bingung.
"Oke, yuk!" Jawabku singkat.
Aku merapikan meja kerjaku lalu beranjak menghampiri Siska yang sudah menunggu di depan pintu.
Kami melangkah beriringan menuju elevator.
Siska berjalan dengan pandangan yang tak lepas dari gawainya.
Tanpa Ia sadari ada Pak Alex, Bos kami, dari arah yang berlawanan berjalan dengan gaya yang sama, jarak mereka semakin dekat.
Sepertinya Pak Alex juga tidak menyadari kalau beberapa langkah lagi Dia bisa bertabrakan dengan Siska.
Tanpa pikir panjang lagi Aku menarik lengan Siska.
"Astaga, Din! Kamu ngapain sih pake narik Aku segala?" Protes Siska yang terlihat sangat kesal dengan sikapku barusan.
"Abisnya Kamu sih, jalan nunduk-nunduk.
Tadi kalau sampai jatuh gara-gara ketabrak sama Pak Alex gimana?" Ucapku tak kalah kesal.
Aku tidak menyangka reaksi Siska akan seperti itu. Alih-alih berterima kasih Dia malah bersikap sebaliknya.
"Ya bagus donk, kan biar ada adegan romantis gitu, tatap-tatapan kayak di sinetron-sinetron" ucapnya yang makin membuatku melongo.
Sekarang Dia senyum-senyum tidak jelas sembari menengok ke arah Pak Alex yang sudah tidak tampak lagi.
Aku terdiam, tak mampu berkata-kata melihat tingkahnya yang menurutku konyol.
Ya, itulah Siska.
Sejak hari pertamaku bekerja Dia memang sudah pernah cerita mengenai perasaan tak berbalasnya pada Pak Alex.
Sebenarnya bukan hanya Siska, tapi hampir semua staf wanita di perusahaan ini hatinya berhasil ditawan oleh Pak Alex yang super jutek itu.
Harus kuakui Dia memang paket komplit sebagai seorang lelaki idaman.
Postur tubuh yang begitu sempurna serta tinggi badan yang ideal membuatnya tetap keren dengan setelan apapun.
Bentuk wajah diamond dengan potongan rambut pompadour membuatnya tampak lebih maskulin.
Bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bentuk dagu yang sempurna mampu membuat siapapun yang melihatnya terpanah.
Ditambah lagi d**a bidangnya yang seolah memanggil setiap wanita untuk bersandar di sana.
Suara khasnya yang terdengar seksi menjadi penyempurna sang ciptaan Tuhan itu.
Soal harta dan kekayaan jangan ditanya lagi.
Menurut cerita dari Siska, Pak Alex adalah seorang yatim piatu.
Dia membesar di panti asuhan dan sampai saat ini pun tidak ada yang mengetahui dari mana asal-usulnya.
Miliaran aset yang dimilikinya saat ini adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri semenjak duduk di bangku kuliah.
Mengenai detail perjuangannya seperti apa Aku pun tak tahu, Siska tidak bercerita mengenai hal itu padaku.
Yang Aku tahu di usianya yang sudah menginjak 35 tahun ini Dia berhasil menjadi seorang miliarder.
Entah wanita mana yang akan berhasil menawan hatinya kelak.
Aku akan turut bahagia kalau seandainya itu adalah Siska.
Bayangkan saja, kalau Pak Alex yang jutek, kaku dan selalu serius itu dipadukan dengan Siska yang Agresif, manja dan sangat perhatian.
Menurutku mereka bisa jadi pasangan yang cocok dan saling melengkapi.
Tapi sepertinya akan sulit melihat sikap Pak Alex yang sangat dingin terhadap siapapun.
Kurasa teori Manusia sebagai makhluk sosial tidak berlaku baginya.
* * *
Jam menunjukkan pukul 3.55 sore.
Mejaku sudah rapi, Aku pun sedang menghitung mundur waktu untuk segera pulang.
Sebenarnya pekerjaanku belum sepenuhnya selesai, tapi kuputuskan untuk melanjutkannya besok, lagipula deadlinenya masih lama.
Sore ini Aku ingin menemui Bapak, berharap Bapak mau menceritakan semuanya padaku.
Mengharapkan Ibu, sampai lebaran monyet pun Ibu tidak akan pernah buka mulut.
Tepat pukul 04.00 Aku meninggalkan ruangan. Karena terburu-buru, Aku hampir saja menabrak Pak Rendi, SPV ku di departemen Accounting.
"Dina? sudah mau pulang?" Tanyanya dengan ekspresi yang seakan tak percaya.
"Iya, Pak" Jawabku singkat.
"Tumben Kamu pulang cepat?"
Pak Rendi memang sering mendapatiku lembur. "Din, pulang! Jangan kerja terus!" Itu adalah kalimat andalan Pak Rendi, hampir setiap sore Aku mendengar kalimat itu dari mulutnya.
Selain sebagai atasan, Aku sudah menganggap Pak Rendi sebagai kakak tertua di departemen kami. Bahkan tidak jarang Dia mengantarku pulang ke rumah.
"Lagi ada urusan, Pak, Permisi yah, Pak, Saya pulang dulu" Ucapku tak ingin memperpanjang obrolan.
"Saya antar yah" Tawarnya.
"Gak usah, Pak, saya bisa naik taksi"
Sengaja Aku menolak tawaran Pak Rendi.
Aku tidak ingin nanti Dia sampai menyadari kalau di rumahku sedang ada masalah.
"Udah, gak apa-apa, lagipula kita kan searah" Ucapnya memaksa.
"Tapi Saya lagi buru-buru, Pak"
Aku berusaha mencari alasan agar Pak Rendi mau mengurungkan niatnya.
"Oke, nanti saya ngebut biar Kita cepat sampai"
Sekarang Aku tidak punya pilihan kecuali menerima tawarannya.
Aku memang tidak pernah menang kalau berdebat dengan Dia.
Dia selalu punya cara untuk membuatku tak berkutik. Akibatnya teman-teman di Kantor malah beranggapan kalau Aku dan Pak Rendi memiliki hubungan spesial, Padahal kan tidak sama sekali.
"Rendi!"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Pak Rendi dari arah belakang kami.
Dari suaranya Aku sudah bisa menebak itu pasti Pak Alex.
Aku dan Pak Rendi menoleh.
Dan benar saja, tampak Pak Alex berjalan ke arah kami dengan sebuah map berwarna merah di tangan kanannya.
"Iya, Pak" Jawab Pak Rendi.
"Kamu ikut saya sebentar!" perintah Pak Alex.
"Baik, Pak" Jawab Pak Rendi yang kemudian menoleh ke arahku dengan mimik wajah yang seolah merasa bersalah.
"Maaf yah, Din, sepertinya kali ini saya gak jadi antar kamu pulang" Ucapnya selepas Pak Alex berlalu dari hadapan kami.
"Gak apa-apa Pak, saya paham" Ucapku tersenyum.
Lewat ekspresi Aku berusaha meyakinkan Pak Rendi kalau Aku tidak masalah pulang sendiri.
Toh, dari tadi memang Aku sudah menolak untuk diantar pulang.
"Ya udah, Kamu pulang gih! Saya nyusul Pak Alex dulu."
"Baik, Pak" Tutupku kemudian berlalu meninggalkan kantor.