7 September 2016
Kala itu hujan pertama di bulan September. Tetes hujan pertamanya membahasi kota Jakarta yang panas. Di tengah guyuran hujan, terlihat muda-mudi yang berlari menuju halte bus. Menghindari air hujan agar tubuh mereka tak basah. Mereka terlihat tertawa bersama. Sang laki-laki sibuk menghalau beberapa tetes hujan yang berhasil mendarat di rambut perempuan di sampingnya. Dilihat dari cara mereka berinteraksi, siapapun pasti tau, jika mereka adalah sepasang kekasih yang tengah kasmaran.
“Aku bilang juga apa. Tadi lebih baik kita bawa mobil, kan,” ujar sang lelaki.
“Ya, aku pikir, kan gak bakalan turun hujan, Ken. Toh tadi juga cuaca cerah,” ujar Maharani sedikit cemberut. Dia tidak terima karena disalahkan oleh Ken Adiwijaya, atau yang lebih sering dipanggil Ken.
“Eh, kok malah cemberut, sih. Pacarku kalau cemberut malah tambah cantik tau,” goda Ken.
Maharani langsung tersenyum dan tangannya mencubit pinggang Ken.
“Dasar gombal,” ujar Maharani geli.
Mereka lalu tertawa, sambil menikmati suara rintik hujan. Tidak lama kemudian, sebuah bus berhenti, lalu mereka segera naik dan berlalu bersama bus itu.
Hujan baru saja berhenti, saat bus yang mereka tumpangi berhenti. Setelah sampai di halte pemberhentian yang tak jauh dari butiknya, Maharani memilih berjalan kaki dengan Ken, kekasihnya. Hujan memang sudah reda, tapi hawa dinginnya masih terasa. Aroma petrichor juga masih terhidu oleh Maharani. Mereka berjalan dalam diam, sesekali Ken memperingatkan Maharani saat ada genangan air yang menghalangi jalan mereka.
“Akhirnya sampai juga,” seru Ken saat mereka berdua sampai di teras butik.
“Kenapa? Nyesel, ya jalan sama aku?” tanya Maharani sedikit manyun.
Ken justru tersenyum. Tangannya menjawil hidung Maharani gemas. Pasalnya, di umur Maharani yang telah 25 tahun, sikapnya masih sering kekanakan.
“Iya, nyesel. Kenapa cuma sebentar,” jawabnya.
Maharani tersenyum, kemudian tiba-tiba memeluk Ken erat.
Ken yang diperlakukan demikian kaget awalnya. Namun, akhirnya dia membalas pelukan kekasihnya. Ken meletakkan dagunya di pucuk kepala Maharani. Tinggi Maharani memang hanya sedada Ken.
“Kenapa?” tanya Ken.
“Gak apa-apa. Pengen meluk aja,” jawab Maharani semakin menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Ken.
Ken tidak tahu, kalau sekarang wajah Maharani tengah bersemu merah. Maharani tidak tahu kenapa tiba-tiba dia ingin memeluk laki-laki yang telah 3 tahun membersamainya itu.
Ken dan Maharani dulu bertemu karena sebuah ketidaksengajaan. Dulu, juga musim hujan. Dia hendak pulang setelah menghadiri acara resepsi kakak Hasna, sahabatnya. Namun, dia justru terjebak hujan deras di depan gedung tempat pernikahan dilaksanakan. Padahal waktu sudah sore, dan langit justru terlihat semakin gelap. Pertanda hujan tak akan reda dalam waktu dekat.
Sebenarnya bisa saja dia meminta jemput pada sopir keluarganya. Namun, sialnya ponsel Maharani justru mati. Teman-temannya juga sudah lebih dulu pulang, karena tadi Maharani tengah asik mengobrol dengan keluarga Hasna. Hendak kembali ke dalam untuk meminjam ponsel Hasna, tapi dia sungkan. Dia tidak mau mengganggu keluarga pengantin yang masih sibuk dengan para tamu undangan.
Maharani yang tengah kebingungan, dikagetkan dengan klakson mobil yang berhenti tepat di sampingnya. Karena tidak mengenali mobil dan pemiliknya, Maharani memilih mengabaikannya.
Pintu kaca mobil terbuka, terlihat seorang laki-laki duduk di belakang kemudi.
“Maharani Sekarwangi bukan?” tanya laki-laki itu dari dalam mobilnya.
Maharani menoleh. Dipandanginya laki-laki dengan garis wajah tegas, alis tebal, dan garis bibir yang hangat. Laki-laki itu tengah tersenyum ke padanya. Sebuah lesung pipit di pipi kirinya, tampak membuatnya lebih tampan.
“Tampan.” Maharani membatin.
“Hey,” seru laki-laki tadi.
“Eh, iya. Maaf, kamu siapa, ya?” tanya Maharani balik.
“Aku Ken, temennya Bagas—kakak Hasna. Tadi Hasna bilang suruh anterin kamu pulang,” kata Ken penuh keyakinan.
Maharani tampak ragu, tapi akhirnya dia segera naik ke dalam mobil. Karena seingatnya, dia memang melihat laki-laki yang bernama Ken ini mengobrol cukup lama dengan Bagas dan istrinya. Dia juga tampak menyapa Hasna dan kedua orang tuanya.
Maharani duduk di sebelah Ken, lalu diam sepanjang perjalanan. Dia hanya memandangi tetes-tetes air hujan yang membasahi kaca mobil di sampingnya.
Ken tampak beberapa kali mencuri pandang. Dia ragu untuk memulai percakapan. Takut membuat Maharani tak nyaman.
“Sudah lama kenal sama Hasna?” tanya Ken yang akhirnya memberanikan diri memulai percakapan.
“Sekitar 2 atau 3 tahun. Kami kuliah di kampus yang sama. Hanya saja fakultas kami berbeda,” jawab Maharani santai.
“Oh, jadi kalian teman kuliah,” ucap Ken memastikan.
"Iya," jawab Maharani lagi.
Ken kembali fokus pada jalanan di depannya. Maharani telah memberi tahu alamat rumahnya tadi. Ken yang memang hapal jalanan di daerah ini tampak tidak merasa kesulitan.
"Apa kamu juga teman kuliah Mas Bagas?" tanya Maharani.
Ken tersenyum, tampaknya Maharani tidak merasa terganggu dengan sedikit obrolan ringan.
"Kami teman sejak SMA. Baik aku ataupun Bagas sudah seperti saudara. Dari jaman SMA sampai kuliah, kami selalu bersama. Bahkan, aku tidak pernah sungkan saat berada di rumahnya. Karena orang tua Bagas pun sudah seperti orang tuaku sendiri. Bahkan Bagas sering marah karena merasa orang tuanya lebih sayang padaku," jelas Ken panjang lebar.
Maharani mengangguk paham. Namun, kemudian dia menoleh dan bertanya, "Selama kuliah aku juga sering ke rumah Hasna, tapi tidak pernah melihat kamu di sana."
"Oh, selama empat tahun terakhir aku memang tengah mengambil residen untuk psikiatri di luar kota. Jadi lumayan sibuk. Baru akhir Juli lalu aku kembali ke Jakarta," jawab Ken.
Maharani hanya ber-oh ria. Tanpa sadar, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah berlantai dua dengan gerbang yang tinggi. Sesaat kemudian, pintu gerbang terbuka, mobil Ken memasuki pelataran rumah milik keluarga Gunawan. Ken merasa takjub, dan bisa langsung tahu jika Maharani bukan berasal dari keluarga sembarangan. Rumah bernuansa putih yang dipadu dengan warna emas itu terlihat sangat berkelas. Belum lagi terlihat mobil mewah milik Maharani yang terparkir di halaman. Mobil itu baru saja diantar oleh pihak bengkel setelah service bulanan.
"Makasih, Ken tumpangannya," ucap Maharani sambil melepas sabuk pengaman.
Hujan sudah lumayan reda, hanya meninggalkan sedikit tetes-tetes kecil juga hawa dingin yang menusuk.
“Sama-sama,” jawab Ken tersenyum.
Maharani balas tersenyum, kemudian sedikit berlari dengan tangan yang melindungi wajahnya.
Ken baru sadar, tujuannya mengantar Maharani pulang adalah untuk meminta nomor ponselnya.
Akhirnya Ken sedikit berteriak dari dalam mobil, dan melongokkan kepala dari jendela mobilnya.
“Maharani, minta nomor ponselmu,” teriak Ken.
Maharani menoleh, lalu balas berteriak, “Minta ke Hasna.”
Ken tersenyum, lalu menutup jendela mobilnya dan bersorak ‘yes’ dibalik kemudinya. Laki-laki itu kemudian berlalu meninggalkan pelataran rumah Maharani yang megah.
Pertemuan pertama mereka cukup berkesan bagi Maharani. Namun, keesokan harinya, dia tahu jika Hasna tidak meminta Ken untuk mengantarkannya pulang. Hasna bilang, Ken memang sudah sejak lama menanyakan perihal dirinya. Tentu saja Maharani kaget. Karena seingatnya, kemarin adalah pertama kali mereka bertemu.
“Kamu ingat, gak waktu kuliah semester akhir kita jalan-jalan ke daerah puncak sama keluargaku?” tanya Hasna lewat sambungan telepon.
“Iya, ingat,” jawab Maharani sambil ingatannya menerawang ke belakang.
“Ken itu anak pemilik villa yang kita tempati. Sayangnya dulu kita cuma papasan sekilas, karena pas kita datang, Ken mau balik lagi ke Jakarta. Sejak saat itu dia suka nanyain kamu ke aku,” jelas Hasna.
Maharani manggut-manggut, walaupun sebenarnya dia tak ingat.
Siapa sangka dari pertemuan singkat itu mampu membuat gelenyar aneh di d**a Maharani. Sejak saat itu, mereka sering bertukar pesan, jalan bareng, dan melakukan hal-hal lain bersama. Sampai di sinilah mereka sekarang. Di teras butik Maharani dengan sisa-sisa rintik hujan di bulan September.
Maharani melepas pelukannya. Kemudian dia mendongak, menatap iris cokelat milik laki-laki di depannya.
“Ken, jangan pernah tinggalin aku, ya?” pinta Maharani lirih.
Ken justru terkekeh geli, lalu berucap, “Aku gak akan kemana-mana, kok. Siapa juga yang mau ninggalin kamu.”
“Tapi gak tau kenapa, aku ngerasa kalau kamu bakalan pergi ninggalin aku,” ujar Maharani sedih.
Ken menangkupkan kedua tangannya di wajah Maharani. Tatapannya menyelami mata Maharani dalam.
“Hey, aku gak akan ninggalin kamu. Kalau pun aku pergi, aku pasti bakal balik lagi ke kamu. Entah cepat atau lambat,” ujar Ken lembut. Kemudian kembali menarik gadis itu dalam pelukannya.
Maharani tersenyum, tapi hatinya tetap saja gusar. Perasaan aneh sejak kemarin menelusupi hatinya. Dia berharap, Ken membuktikan ucapannya untuk tidak pernah meninggalkan Maharani sendirian.
Hubungan Ken dan Maharani yang sudah terjalin lama, kini akan mulai menuju jenjang yang lebih serius. Hari ini, acara pertunangan Ken dan Maharani akan digelar. Rumah keluarga Maharani yang megah disulap dengan dekorasi yang indah. Para tamu undangan turut hadir di acara itu. Para colega Gunawan, teman kuliah dan para pelanggan butik Maharani, keluarga Hasna pun turut hadir di sana.
Maharani terlihat cantik dengan gaun yang dia design sendiri. Gaun warna merah tanpa lengan, dengan aksen lipatan di sisi kirinya, tampak memesona di tubuh Maharani. Riasan bold di wajah Maharani menambah kesan elegan dan Mewah. Heels warna hitam juga menghiasi kaki jenjangnya.
“Ken pasti makin tergila-gila sama kamu,” puji Hasna pada penampilan sahabatnya itu.
Maharani hanya terkekeh, baginya pujian Hasna terlalu berlebihan.
“Anak siapa dulu, dong,” timpal Mayang tertawa.
Hasna dan Maharani ikut tertawa mendengar kelakar Mayang.
Hari semakin siang, acara yang diagendakan pukul sepuluh tak kunjung dimulai. Pasalnya, pihak keluarga Ken belum juga hadir. Maharani tampak gusar, karena sosok kekasihnya itu tidak kunjung terlihat batang hidungnya. Gunawan pun cemas, dia menyuruh Maharani untuk menghubungi Ken. Namun, sial nomornya tidak aktif. Kini beralih Gunawan yang menghubungi Adiwijaya—ayah Ken. Nomor calon besannya itu pun tidak dapat hubungi. Suasana yang tadinya hangat dan tenang pun mendadak riuh karena bisik-bisik para tamu.
Rahang Gunawan mengeras, saat seorang pesuruhnya melaporkan jika ada jadwal keberangkatan keluarga Ken ke London pagi tadi. Hal itu juga membuat tubuh Maharani lemas. Dia langsung ambruk, Mayang panik. Hasna langsung membantu Maharani untuk berdiri. Namun, tetap saja tubuh Maharani ambruk di lantai. Air matanya tumpah, dia tidak menyangka jika kekasihnya itu akan meninggalkannya tepat di hari pertunangan mereka tanpa alasan apapun.