Maharani masih berkutat dengan pekerjaannya, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 9. Butik pun sudah lama tutup, tapi dia masih enggan beranjak pulang. Maharani masih bingung harus mengambil sikap bagaimana atas permintaan ayahnya tadi pagi. Maharani pikir, orang tuanya memang sudah menerima keputusan Maharani untuk tidak menikah dengan pembicaraan mereka satu tahun terakhir. Namun, nyatanya kini Gunawan justru telah sekaligus menyiapkan calon pendamping untuk dirinya.
Maharani merenung, menatap kosong pada sebuah design gaun yang hampir selesai.
“Apa memang sekarang waktunya aku harus melupakan kamu, Ken?” tanya hati kecilnya.
Maharani menenggelamkan wajahnya pada tumpukan kertas kerjanya. Dia benar-benar bingung, hatinya tidak siap untuk kembali mencintai orang lain.
Sedangkan di tempat lain Hasna tengah kecewa dengan keputusan Ken. Tadi siang, saat Hasna menyampaikan perihal Maharani, Ken justru memilih membiarkan Maharani untuk menuruti keinginan Gunawan. Ken bilang, mungkin Maharani akan bahagia bersama orang lain. Ken tidak yakin, Maharani akan menerima dia kembali, terlebih orang tua Maharani. Gunawan pasti akan menolaknya mentah-mentah. Jelas saja, dulu Ken telah membuat keluarga Maharani dipermalukan di depan banyak orang. Keputus asaan Ken membuat Hasna geram. Namun, bagaimana pun dia tak bisa berbuat banyak. Dia tidak ingin terlalu mencampuri urusan hati orang lain.
***
Laki-laki berperawakan tegap yang berprofesi sebagai psikiater itu tengah merenung di balkon kamarnya. Dia menyesali tindakannya 5 tahun lalu. Andai saja dia bisa memberikan kejelasan pada kekasihnya tentang mengapa dia pergi begitu saja. Namun, semuanya sudah terjadi. Tak ada gunanya untuk meratapinya sekarang.
Ken masih teringat ucapan Hasna tadi siang. Jika kemungkinan, Maharani akan menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya. Sejujurnya Ken ingin kembali pada Maharani. Namun, terlalu sakit baginya jika penolakanlah yang nantinya dia dapatkan dari Maharani. Ken sadar, jika dia telah membuat hati Maharani hancur dan membuat wanita itu hidup menderita. Dia tidak ingin, kehadirannya membuat luka hati Maharani kembali berdarah. Ken merasa tak ada lagi cahaya dalam hidupnya. Bak malam tanpa adanya bulan dan bintang. Ken membisikkan kalimat rindu, berharap angin akan membawanya pada Maharani.
***
Mobil Maharani memasuki pelataran rumahnya saat jam makan siang. Dia berniat untuk makan siang dengan ibunya. Saat dia menutup pintu mobil, datang sebuah sedan warna silver yang tidak lain adalah milik ayahnya. Maharani mengangguk hormat saat ayahnya keluar dari mobil. Sikap Gunawan dingin pada anak semata wayangnya itu. Tampaknya, laki-laki yang masih terlihat tampan dan berkarisma di usianya yang sudah kepala enam itu masih jengkel pada putrinya.
Maharani tampak kikuk. Dia tidak enak karena membuat ayahnya marah. Namun, kemudian dia memberanikan diri untuk menyapa ayahnya.
“Ayah mau makan siang di rumah?” tanya Maharani.
“Ibumu menelepon, katanya ingin makan siang bersama ayah,” jawab Gunawan dingin. Dia lalu beranjak masuk ke rumah. Maharani ikut mengekor di belakangnya.
Mayang yang tengah menyiapkan makan siang dengan para pelayannya tampak sumringah saat mendapati suami dan anaknya berjalan beriringan. Hari ini dia memang sedang ingin memasak, lalu meminta suami dan anaknya agar pulang sebentar untuk makan bersama.
“Ayah sama Rani bisa barengan gini datangnya,” ujar Mayang.
Maharani tersenyum, lalu menghampiri sang ibu.
“Ibu tumben masak sendiri,” ujar Maharani.
“Lagi kepengen aja. Soalnya ibu bosen, di rumah gak ada kerjaan,” jawab Mayang. Dia lalu melanjutkan, “Ayah duduk, yuk. Kamu juga, Ran.”
Ayah dan anak itu duduk di kursinya masing-masing. Mayang menyuruh pelayannya untuk ke belakang. Jika biasanya para pelayanlah yang akan mengambilkan nasi dan lauk untuk mereka, kini Mayang ingin melakukannya sendiri.
“Ibu tiba-tiba jadi kangen masa-masa dulu. Waktu perusahaan ayah kamu belum sebesar sekarang, Ran. Dulu kita kan tinggal di rumah kecil. Apa-apa Ibu kerjain sendiri. Kadang Ibu kangen sama masa-masa itu,” ucap Ibunya saat mengambilkan nasi dan lauk untuk Gunawan.
Maharani tersenyum, dia paham apa yang ibunya rasakan. Wajar jika di usianya yang tak lagi muda itu dia merasa kesepian karena banyak menghabiskan banyak waktu sendiri di rumah sebesar ini. Maharani menyesal karena tidak bisa meluangkan banyak waktu untuk ibunya. Pekerjaan di butik selalu banyak, karena pelanggan yang tiap bulannya selalu bertambah. Maharani menyesal, karena tidak bisa mewujudkan keinginan orang tuanya untuk segera menikah dan mempunyai anak.
Mereka menikmati makan siang dalam diam. Hanya suara denting sendok yang terdengar di ruang tamu.
Setelah makanan di piring Maharani habis, dia meneguk air putih di gelasnya. Dia ingin berbicara kepada orang tuanya. Namun, sungkan karena sikap Gunawan yang dingin dari tadi.
Maharani menarik napas, kemudian mengembuskannya pelan.
“Ayah, Ibu, Rani minta maaf atas sikap Rani kemarin,” ucap Maharani pelan.
“Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi,” ujar Gunawan dingin lalu dia beranjak dari kursinya.
Maharani dan Mayang juga turut berdiri.
“Bu, Ayah harus segera kembali ke kantor,” pamit Gunawan pada istrinya.
“Iya, Yah. Hati-hati di jalan,” jawab Mayang.
“Maharani?” panggil Gunawan.
Maharani yang tengah menunduk langsung mendongak menatap ayahnya. “Iya, Yah,” jawabnya cepat.
“Jika kamu tidak sedang sibuk, temanilah ibumu di rumah,” perintah Gunawan.
Maharani mengangguk cepat, lalu menjawab, “Baik, Yah.”
Maharani menatap punggung Gunawan dengan ekspresi menyesal, sedih, sekaligus takut.
Mayang yang melihat putrinya demikian, menghampiri dan merangkul pundaknya.
“Jangan terlalu memikirkan sikap ayah. Mungkin beliau sedang banyak pekerjaan di kantor,” ujar Mayang menenangkan putrinya.
Maharani yang bukan anak kecil lagi tentu tahu perubahan sikap ayahnya pasti karena dirinya.
“Sudah, ah. Jadi mau balik lagi ke butik atau nemenin Ibu di rumah?” tanya Mayang.
“Rani di rumah saja, Bu. Kebetulan pekerjaan Rani juga sudah selesai,” jawabnya.
“Ya, sudah. Sekarang temenin Ibu ngurus tanaman di belakang, yuk,” ajak Mayang.
Maharani mengangguk patuh, lalu mereka berjalan beriringan menuju taman belakang rumah. Mayang memang suka sekali dengan tanaman. Terlebih jenis bunga. Awalnya hanya untuk mengusir bosan kala di rumah. Namun, lama kelamaan, itu menjadi salah satu hobi Mayang. Bunga-bunga yang dirawat oleh tangan dinginnya tumbuh cantik dan segar. Pemandangan bunga mekar dan aroma harumnya bisa membantu menjernihkan pikiran.
Mayang mulai membersihkan beberapa ranting mawar yang mengering. Maharani juga terlihat membersihkan beberapa bunga lily yang mulai layu. Di tengah kegiatan santai mereka, Mayang membuka obrolan.
“Ran, apa kamu yakin tidak ingin mempertimbangkan dulu permintaan ayah?” tanya Mayang.
“Sebenarnya Rani juga ingin, Bu memulai hidup baru. Namun, untuk saat ini Rani belum siap,” jawab Maharani.
“Ya, sudah. Jangan terlalu dipikirkan, ya. Ibu dan ayah akan menunggu sampai kamu siap,” ujar Mayang.
Maharani tersenyum pada ibunya. Lalu mereka menghabiskan waktu sampai sore hari berkutat dengan tanaman.
****
Sebulan telah berlalu, kehidupan Maharani berjalan seperti biasanya. Baik Gunawan maupun Mayang tidak pernah lagi membahas tentang pernikahan. Namun, sikap Gunawan cenderung dingin, dan Maharani juga merasa jika ayahnya akhir-akhir ini sering terlihat lelah. Maharani dan ibunya sering mengajak Gunawan untuk kontrol kesehatan, tapi Gunawan menolak. Dia bilang jika tubuhnya sehat dan baik-baik saja. Sampai pada suatu sore, Maharani mendapat kabar mengejutkan. Gunawan tumbang saat berada di kantor. Dia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Maharani langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit untuk menemui sang ayah.
Maharani memakirkan mobil dengan tergesa, lalu berlari masuk ke rumah sakit. Dia mendatangi meja resepsionis untuk menanyakan ruangan ayahnya.
“Sus, pasien atas nama bapak Gunawan Prasetyo di mana, ya? tanya Maharani panik.
“Beliau masih di ruang operasi, Bu,” jawab sang suster.
Maharani panik, kemudian dia berlari menuju ruang operasi sesuai petunjuk suster.
Mayang tampak tengah menunggu di depan ruang operasi. Kedua pipinya basah karena sedari tadi dia tidak berhenti menangis.
Maharani berlari memeluk ibunya.
“Ibu, Ayah pasti baik-baik saja,” ujar Maharani menguatkan ibu sekaligus dirinya.
Menurut cerita dari Mayang, Gunawan tiba-tiba pingsan saat di kantor. Diduga akibat pecah pembuluh darah di otak. Jika tidak segera menjalani operasi, maka akibatnya akan fatal. Untungnya, Hendra, sekertaris ayahnya bertindak sigap dan segera membawa atasannya itu ke rumah sakit.
Maharani menunggui ayahnya dalam kecemasan. Dia takut, jika ayahnya tidak dapat tertolong.
Proses operasi selesai, kini Gunawan dipindahkan ke ruang ICU. Mayang dan Maharani hanya bisa melihat Gunawan dari balik pintu kaca ruangan serba putih itu. Syukurnya, operasi berjalan lancar. Tinggal menunggu Gunawan siuman, dan dia bisa dipindahkan ke ruang perawatan setelah dipantau kondisinya.
“Ibu pulang aja dulu. Biar Rani yang tungguin ayah di sini,” pinta Maharani.
“Gak apa-apa. Ibu di sini saja,” jawab Mayang dengan mata yang sembab.
“Bu, Ibu juga butuh istirahat. Nanti kalau Ibu ikut sakit bagaimana? Malam ini biar Rani yang jaga di sini. Besok Ibu ke sini lagi, ya,” ujar Maharani.
Akhirnya Mayang menurut. Dia segera pulang diantar oleh sekertaris ayahnya.
Maharani mengembuskan napas kasar. Dia tidak menyangka jika kondisi ayahnya akan berakhir separah ini. Dia merutuki diri sendiri. Andai saja ayahnya tidak keras kepala dan mau ke dokter beberapa waktu yang lalu, mungkin kondisinya tak akan seperti sekarang.
Tidak berselang lama, Hasna datang. Awalnya dia pergi ke butik, tapi tidak menemukan sahabatnya di sana. Dia diberi tahu karyawan Maharani, jika ayah bosnya masuk rumah sakit. Akhirnya dia menghubungi Maharani dan di sinilah dia sekarang.
“Yang kuat, ya,” ujar Hasna memeluk sahabatnya itu.
Tangis Maharani pecah, bagaimana pun dia sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya. Hasna membiarkan Maharani menangis sepuasnya. Tangannya menepuk-nepuk bahu Maharani pelan, untuk menguatkan dan menenangkannya.
Gunawan akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan setelah semalaman di ICU. Maharani langsung menuju ruangan ayahnya. Dia baru saja selesai mandi dan sarapan. Untung saja Hasna membawakannya baju ganti. Sahabatnya itu baru saja pergi beberapa waktu yang lalu, karena suaminya pulang dari luar kota hari ini.
Mayang termenung di samping ayahnya sambil memandangi langit mendung kota Jakarta dari jendela kamar ayahnya dirawat. Pikiran dan hatinya suram, seperti awan hitam yang menggantung di atas sana. Pikirannya bimbang. Permintaan ayahnya sebulan yang lalu pastilah menjadi salah satu alasan tumbangnya sang ayah. Maharani benar-benar merasa menjadi anak yang tidak tahu diri. Namun, dia sendiri masih belum yakin untuk menikah. Baginya bukanlah hal mudah untuk menyanggupi keinginan ayahnya.
Lamunan Maharani buyar saat suara pintu terbuka. Mayang datang dan langsung menuju ruangan di mana suaminya berada. Maharani telah memberi tahunya, jika Gunawan telah dipindahkan dari ICU.
“Ran, sudah biar Ibu yang jaga ayah. Kalau kamu mau ke butik gak apa-apa,” ujar Mayang kepada Maharani yang sedari tadi duduk di samping ranjang Gunawan.
Maharani belum beranjak dari sana sejak tadi. Entah mengapa, dia merasa menyesal dan merasa jika semua ini adalah salahnya. Dia pikir, kesehatan ayahnya drop karena dia yang keras kepala. Hal itu membuat Maharani sedih dan terpuruk.
Air matanya kembali menetes. Namun, kemudian dia merasakan jemari Gunawan yang digenggamnya bergerak. Perlahan, Gunawan membuka matanya. Gunawan siuman. Maharani dan Mayang terlihat lega. Lalu mereka menghubungi dokter untuk kembali memeriksa Gunawan.
Usai menjalani pemeriksaan dan dinyatakan tidak ada msalah, dokter dan suster meninggalkan ruangan tempat Gunawan dirawat.
Mayang menggenggam tangan suaminya erat, sementara Maharani memandang ayahnya dengan tatapan penuh syukur.
“Syukurlah Ayah baik-baik saja,” ucap Mayang. Gunawan mencoba tersenyum membalas ucapan istrinya.
“Ran?” panggil Gunawan lemah.
“Iya, Yah,” jawab Maharani cepat.
Gunawan mengisyaratakan agar Maharani duduk di sampingnya. Mayang berdiri, dan membiarkan Maharani duduk di dekat Gunawan.
Gunawan menggenggam tangan Maharani hangat, dia lalu berkata, “Ayah mohon kali ini turutilah permintaan Ayah. Menikahlah dengan Sakti, ya, Ran.”
Deg!
Hati Maharani bimbang. Ini sebuah keputusan yang sulit. Apalagi mengingat keadaan ayahnya yang sedang tidak baik-baik saja. Maharani memejamkan mata, lalu meyakinkan dirinya sebelum akhirnya dia berkata, “Baik, Yah.”
Ken yang akhirnya memutuskan menemui Maharani untuk menguatkannya setelah mendapat kabar dari Hasna, menghentikan langkah. Dia sudah berada di sana, di luar ruangan Gunawan. Namun, hatinya seakan hancur saat mendengar jawaban Maharani barusan. Hatinya seakan dihimpit beban berat. Kini, tak ada harapan kembali untuknya. Dia berbalik, dan pergi dengan perasaan yang entah.