Maharani menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Setelah sehari semalam menemani ayahnya di rumah sakit, akhirnya dia bisa pulang dan merebahkan diri. Rasanya, tubuhnya kembali segar setelah diguyur air hangat beberapa saat lalu. Di kamar dengan dengan nuansa biru yang hangat Maharani tengah merenung. Dipandanginya beberapa figura yang terletak di atas meja lampu samping tempat tidurnya. Foto dirinya dan Ken saat makan malam di salah satu restoran favorit mereka masih terpajang di sana.
Kemudian, Maharani bergumam lirih, “Ken, apa keputusan yang aku ambil ini benar?”
Maharani memandangi foto Ken penuh kerinduan. Lamunannya buyar saat terdengar dering ponsel yang berada tak jauh dari foto Ken. Tertera nama Hasna di sana. Tanpa menunggu lama, Maharani menjawab telepon dari sahabatnya itu.
“Halo? Kenapa, Na?” tanya Maharani.
“Jadi akhirnya kamu menerima laki-laki pilihan ayahmu?” tanya Hasna di seberang sana.
Dahi Maharani mengerenyit. Seingatnya, dia belum memberi tahu siapa pun tentang keputusannya itu. Hanya dia dan orang tuanya yang tau kabar ini.
“Kamu tau dari siapa?” tanya Maharani.
Hasna menepuk jidatnya pelan. Dia lupa, dia mendengar kabar itu dari Ken. Harusnya dia bisa mengganti pertanyaannya tadi. Alih-alih to the point seperti itu yang akhirnya membuat Maharani juga. Dia merutuki kebodohan dan sikap buruknya yang ceplas-ceplos.
“Jadi iya atau enggak?” tanya Hasna lagi. Dia tidak mungkin memberi tahu Maharani, jika dia mendengarnya dari Ken.
“Besok kita ketemu di butik aja, ya. Kita bahas sambil makan siang,” ujar Maharani.
“Pas sarapan aja,” tawar Hasna tak sabar.
Maharani terkekeh pelan, lalu menjawab, “Ok, pas sarapan.”
“Ya, udah. Istirahat sana. Pasti capek, kan dari kemarin di rumah sakit,” suruh Hasna.
Maharani menangguk, lalu berkata, “Siap. Udah dulu, ya.”
Lalu telepon ditutup. Maharani menaruh ponselnya, lalu menarik selimut dan berusaha memejamkan mata. Dia berharap, dapat bertemu dengan kekasihnya walaupun hanya dalam mimpi.
Maharani sedang mematut diri di depan cermin. Dia menyapukan make up tipis di wajahnya. Sesuai janjinya dengan Hasna semalam, pagi ini dia akan ke butik dan sarapan dengan sahabatnya itu. Setelah merasa penampilan cukup rapi, Maharani memasukkan ponsel ke dalam tas. Lalu meraih kunci mobil dari dalam laci meja riasnya.
Maharani bergegas turun dari kamar. Saat berada di anak tangga terakhir, dia mendapati ibunya baru saja pulang dari rumah sakit.
“Mau ke butik, Ran?” tanya Mayang.
“Iya, Bu. Ada janji sama Hasna. Mau sarapan bareng,” jawabnya.
Mayang mengangguk tanda mengerti. Lalu berkata, “Ya, sudah hati-hati di jalan. Ibu mau bersih-bersih dulu.”
Mayang berlalu ke kamarnya, begitu pun Maharani dia bergegas keluar lalu menuju mobilnya. Mobil Maharani, keluar dari pelataran rumahnya, kemudian membelah jalanan kota Jakarta yang masih lengang.
Maharani sampai di butiknya pukul 07.30, dan dia kaget saat melihat Hasna sudah ada di sana. Sahabatnya itu tengah duduk di kursi depan butik. Sementara terlihat beberapa karyawan Maharani yang tengah bersiap membuka butik.
Maharani bergegas turun setelah memarkirkan mobilnya. Dia segera menghampiri Hasna yang sepertinya sudah sangat menunggunya.
“Pagi banget,” ujar Maharani.
Hasna justru cengengesan, lalu menjawab, “Abisnya gak sabar penggen denger cerita kamu.”
Maharani geleng-geleng kepala, lalu mengajak Hasna ke ruang kerjanya.
Hasna menaruh paper bag di meja lalu menghempaskan dirinya di sofa. Maharani baru sadar, kalau Hasna membawa paper bag yang dia duga pasti isinya adalah sarapan untuk mereka.
“Bawa apa?” tanya Maharani.
“Nasi goreng buatan ibu,” jawab Hasna.
Mata Maharani berbinar. Sudah lama dia tidak menyantap makanan itu. Dulu, Maharani yang sering menginap di rumah Hasna, sering disuguhi sarapan nasi goreng buatan ibu Hasna. Menurut Maharani, walaupun nasi goreng itu terlihat seperti nasi goreng pada umumnya, tapi memiliki rasa yang istimewa. Sudah lama Maharani tidak berkunjung ke rumah orang tua sahabatnya itu. Selain sibuk di butik, Hasna juga sudah tidak tinggal dengan orang tuanya karena sudah menikah, jadi tidak ada alasan agar Maharani bisa main ke rumah orang tua Hasna.
“Semalam aku nginep di rumah mama. Pas bilang aku mau ketemu kamu, mama suruh bawa nasi goreng buat sarapan kita,” ujar Hasna.
“Tante Hesti memang terbaik. Tau aja kalau aku kangen nasi goreng beliau,” ucap Maharani.
Mereka lalu menikmati nasi goreng dalam diam. Setelah mereka menghabiskan sarapan, Hasna langsung membuka percakapan. Rasa penasarannya sudah di ubun-ubun.
“Jadi, akhirnya kamu terima keputusan ayah kamu?” tanya Hasna.
“Iya. Aku gak tega lihat ayah. Mungkin memang ini waktunya aku lupain Ken,” jawabnya.
Hasna sebenarnya menyayangkan keputusan sahabatnya itu. Namun, bagaimana pun kehidupan harus terus berjalan. Maharani tidak bisa terus sendiri dan harus memulai kembali kisah cintanya.
“Lalu, siapa nama pria itu?” tanya Hasna lagi.
“Sakti Anggara. Ayah bilang, dia anak dari almarhum temannya. Kalau menurut ayah, dia laki-laki yang baik, sopan, pekerja keras, dan tampan. Entahlah, kami belum bertemu. Bahkan fotonya pun aku belum pernah melihatnya,” jawab Maharani panjang lebar.
Hasna manggut-manggut. Semoga saja sosok Sakti memang seperti yang diceritakan Gunawan. Agar Maharani bisa menyembuhkan lukanya dengan kehadiran Sakti.
Hasna dan Maharani berjalan beriringan keluar butik. Hasna tidak bisa tinggal lama di sana, karena suaminya sedang ada di rumah. Semalam, mereka memang menginap di rumah orang tua Hasna. Namun, Bram, suaminya tidak bisa menemaninya untuk menemui Maharani. Karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Aku pulang dulu, ya. Sudah janji sama Mas Bram kalau jam 9 sudah harus di rumah,” pamit Hasna.
“Iya, hati-hati di jalan,” ujar Maharani.
“Sip. Jangan lupa kabar-kabar kalau udah ketemu langsung sama Sakti,” perintah Hasna.
“Iya, iya,” jawab Maharani dengan penuh intonasi.
Hasna tertawa kecil, lalu dia memasuki mobilnya, dan berlalu meninggalkan butik Maharani.
Maharani kembali ke ruang kerjanya. Kali ini dia sibuk memeriksa laporan keuangan, di mana keuntungannya semakin bertambah. Ucapan syukur tak pernah putus Maharani panjatkan. Dia merasa bangga, karena kerja kerasnya selama ini benar-benar membuahkan hasil.
****
Kondisi Gunawan berangsur pulih, tapi dia masih harus berada di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan. Namun, dia sudah sangat bersemangat karena akhirnya Maharani menyetujui permintaannya untuk menikah dengan Sakti. Selepas makan siang, Maharani kembali menengok ayahnya. Maharani tersenyum lega, saat mendapati ayahnya tersenyum gembira bersama ibunya.
Maharani berjalan ke ranjang tempat Gunawan berada. Saat Gunawan sadar dengan kedatangan putrinya, dia langsung menyambutnya dengan hangat. Sikapnya sungguh berbeda 180° dengan saat-saat sebelum dioperasi. Jelas saja, dulu Gunawan marah karena Maharani menolak dijodohkan. Sekarang Maharani sudah setuju, jelas saja Gunawan kegirangan.
“Bagaimana keadaan Ayah?” tanya Maharani.
“Sudah lumayan membaik. Hanya sesekali pusing,” jawab Gunawan.
“Syukurlah, Yah. Rani senang mendengarnya,” ucap Maharani lagi.
Gunawan tersenyum, kemudian dia memperbaiki posisinya. Dibantu Mayang, kini dia sudah setengah duduk bersandar bantal.
“Ran, Ayah dan ibu sedang berdiskusi. Kita ingin mengundang keluarga Sakti untuk makan malam di rumah. Agar kalian saling mengenal lebih dulu,” jelas Gunawan.
Maharani terdiam sejenak, jujur, sebenarnya dia belum siap. Dia tampak murung untuk sesaat. Tidak ingin orang tuanya menyadari perubahan ekspresinya, dia buru-buru menjawab, “Bagaimana baiknya menurut Ayah dan Ibu saja.”
“Syukurlah kalau begitu,” ucap Gunawan lega.
Dia beralih menatap istrinya, lalu berkata, “Nanti malam kamu jamu Sakti dan keluarganya dengan baik, ya. Ayah akan menyuruh Hendra untuk menelepon Sakti. Sampaikan permintaan maaf Ayah karena tida bisa turut hadir.”
Mayang mengangguk, lalu tersenyum. Dia senang suaminya kembali memiliki semangat hidup. Namun, di lain sisi dia juga merasa bersalah pada Maharani. Sebagai seorang ibu, dia bisa menangkap setiap ekspresi yang menggambarkan perasaan anaknya.
****
Maharani mematut diri di cermin. Gaun selutut warna mocha menghiasi tubuh rampingnya. Dipadu heels warna senada. Rambut panjangnya dicepol rapi. Wajahnya yang cantik makin terlihat memesona dengan riasan soft yang elegan. Maharani mengembuskan napas, mengatur hatinya yang sedikit gusar. Membulatkan tekad untuk menerima laki-laki yang akan ia temui pertama kali. Maharani setidaknya akan mencoba. Demi sang ayah, orang yang sangat Maharani hormati sekaligus sayangi.
“Semua akan baik-baik saja, Rani. Yakinkan hatimu, ini semua adalah pilihan terbaik untuk semua orang,” batin Maharani.
Lamunannya buyar saat terdengar ketukan di pintu kamarnya. Tak ingin membuat ibunya menunggu, Maharani bergegas keluar untuk menemui tamu mereka. Mayang tersenyum manis melihat penampilan anaknya. Dalam hati dia berdoa, semoga luka di hati Maharani bisa benar-benar sembuh oleh sosok Sakti. Ibu dan anak itu berjalan dalam diam menuju ruang tamu. Dengan pikiran dan perasaan yang berbeda. Kehadiran Maharani dan ibunya disambut hangat oleh Sakti, Ratna—ibunda Sakti, dan Desi adik perempuan Sakti. Mereka tersenyum manis, lalu menyapa sang tuan rumah.
“Selamat malam, Tante,” ujar Sakti.
“Malam, Nak Sakti,” jawab Mayang.
Kemudian pandangan Sakti beralih pada Maharani. Dari tatapan matanya, sepertinya Sakti langsung tertarik pada perempuan di depannya itu. Sakti lalu tersenyum, Maharani membalas senyumnya dengan kikuk.
“Ayo, silakan duduk.” Mayang mempersilakan tamunya untuk kembali duduk.
“Maaf, Tante. Sakti baru tahu kalau om Gunawan masuk rumah sakit dari pak Hendra tadi. Kalau Sakti tahu dari kemarin, mungkin Sakti bisa menemani Tante menjaga om Gunawan,” ujar Sakti dengan perasaan bersalah.
“Iya, Jeng. Kita tidak tahu kalau Gunawan sampai operasi segala. Harusnya Jeng Mayang menghubungi anak saya. Biar kita juga bisa menjenguk Gunawan. Iya, kan, Sakti?” timpal Ratna.
Mayang tampak tersenyum, lalu berkata, “Saya tidak ingin merepotkan kalian. Sekarang kondisi suami saya sudah baikan, kok.”
“Syukurlah, Tante. Lain kali jangan sungkan untuk menghubungi Sakti, ya. Bagi Sakti, om Gunawan sudah seperti keluarga sendiri,” ujarnya lagi.
Sikap Sakti yang perhatian, berhasil mencuri hati Mayang. Namun, Maharani justru menangkap gelagat lain. Baginya, sikap Sakti cenderung berlebihan. Dia juga melihat sorot yang berbeda dari ibu dan adik Sakti. Namun, Maharani langsung menepis jauh-jauh pikiran buruknya. Dia tidak ingin terlalu berprasangka tidak baik pada orang yang baru pertama kali dia temui.
Setelah mengobrol beberapa saat, seorang pelayan menghampiri Mayang lalu berkata, ”Makan malamnya sudah siap, Nyonya.”
Mayang mengangguk, kemudian, dia menjamu tamunya dengan menu makan malam yang mewah.
Berbagai hidangan daging mahal tersedia di atas meja. Daging wagyu premium, ikan, udang, ayam goreng, dan beberapa jenis sayur terhidang di atas meja.
Mata Desi dan Ratna berbinar. Sudah lama mereka tidak menyantap hidangan mewah ini. Pasalnya, setelah ayah Sakti meninggal dalam keadaan bangkrut dan terlilit hutang, membuat mereka jatuh miskin. Pekerjaan Sakti yang hanya seorang karyawan swasta, walaupun dengan posisi yang lumayan tetap tidak cukup jika untuk menopang gaya hidup hedon mereka. Maka, saat Gunawan memberitahu bahwa dia ingin Sakti mendekati anaknya, Ratna langsung memberikan ijin. Seperti tertimpa durian runtuh, jika dia bisa berbesan dengan Gunawan, pengusaha terkenal itu. Di pikirannya, kehidupan mereka kedepannya pasti terjamin jika Sakti benar-benar bisa menikahi Maharani. Tidak ada hal yang lebih menarik bagi Ratna, kecuali harta keluarga Maharani.