I get jealous, because i'm afraid
someone is going to make you happier
than i do
-Jason James Heilton-
****
Ethan merasa canggung dengan keadaan di sekitarnya. Saat ini ia sedang berada di dalam mobil bersama Jason, CEO dari perusahaan JYS Crop yang akan membantunya dalam melakukan penelitian, serta Valeri, asisten Jason.
Namun tampaknya mereka sedang ada masalah, sampai-sampai mereka tak berbicara satu katapun sedaritadi dan itu membuat Ethan tertekan dengan suasananya.
"Hm, Jason. Selamat atas pertunanganmu, maaf aku tidak bisa ke Jakarta kemarin."Ucap Ethan memecah keheningan. Jason tersenyum, meski senyum itu tak sampai ke matanya.
"Terimakasih."Ucap Jason cepat.
Ethan mengangguk. Valeri yang sedaritadi diam, menoleh ke arah Ethan.
"Ethan, berapa usiamu?"Tanya Valeri tiba-tiba. Ethan melirik Valeri sebentar dari kaca spion, lalu tersenyum.
"Dua puluh delapan. Kenapa memangnya?"Jawab Ethan sambil tetap fokus pada jalanan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kaget. Kupikir kau seumuran denganku."Ucap Valeri jujur. Wajah Ethan memang tampak jauh lebih muda dari usianya.
Ethan terkekeh pelan, "Banyak yang bilang begitu. Padahal aku sudah tua."
"Kau tidak tua. Kau hanya lahir lebih dulu."Ucap Valeri asal, membuat Ethan tertawa lagi.
Jason yang duduk di kursi depan menoleh sedikit ke belakang. Alisnya bertaut. Sedaritadi Valeri tak mau menatapnya barang sedetikpun, tapi pada lelaki yang baru dikenalnya lima menit yang lalu, gadis itu bisa tertawa selepas itu.
Jason menghela nafas lalu kembali menatap jalanan yang basah karena gerimis.
"Aku mengajar di universitas disini, jadi penelitian ini juga bagian dari pekerjaanku."Ucap Ethan ketika Valeri bertanya soal pekerjaannya, "Kalau kau, sudah berapa lama bekerja dengan Jason?"
"Baru beberapa bulan."Jawab Valeri, "Tapi rasanya seperti bertahun-tahun."
Ethan tertawa. Jason tidak.
"Emm, Valeri."Panggil Ethan hati-hati, takut gadis itu tersinggung, "Ada tissue basah di laci depan. Ambil saja kalau kau butuh."
Valeri membelak. Astaga! Ia sampai lupa kalau wajahnya masih penuh coretan lipstik. Pantas saja sedaritadi orang-orang menatapinya.
"Boleh?"
Ethan mengangguk, "Tentu saja."
Jason yang duduk paling dekat dengan laci itu langsung membukanya dan menyodorkan tissue itu ke belakang tanpa berkata apapun. Valeri mengambilnya, lalu menoleh ke arah kaca spion.
"Terimakasih ya, Ethan."Ucap Valeri sambil tersenyum manis sekali.
Tangan Jason yang masih menggantung di udara itu terkepal pelan. Lelaki itu menarik tangannya, lalu menyandarkan punggungnya ke jok dengan rahang mengeras.
Dia yang mengambilkan tissuenya, tapi kenapa yang diucapkan terimakasih malah Ethan?
****
Villa yang disewa perusahaan berada di daerah Ubud, jauh dari keramaian. Bangunannya menghadap ke hamparan sawah dengan kolam renang kecil di tengah halamannya. Ada tiga kamar disana.
"Aku juga menginap disini selama lima hari ini, supaya lebih mudah kalau ada data yang harus dicek malam-malam."Ucap Ethan sambil menurunkan koper dari bagasi.
"Kau menginap disini?"Ulang Jason. Suaranya datar sekali.
Ethan mengangguk, "Iya. Apa itu mengganggu?"
"Tidak."Jawab Jason cepat. Padahal iya. Sangat mengganggu.
Ethan meraih koper Valeri, hendak membawakannya. Namun sebelum tangan lelaki itu sampai, Jason sudah menyambar gagang koper itu lebih dulu.
"Biar aku saja. Dia asistenku."Ucap Jason.
Valeri mengernyit. Sejak kapan tugas seorang Boss adalah membawakan koper asistennya? Tapi Valeri tak berkomentar apapun. Ia masih ingat janjinya untuk tidak berbicara pada Jason selama dua hari.
Ethan menunjukan kamar untuk masing-masing. Kamar Valeri berada di ujung, tepat bersebelahan dengan kamar Ethan, sementara kamar Jason berada di seberangnya.
Jason menatap deretan pintu itu sebentar, "Valeri, kau pakai kamar yang di seberang saja. Aku yang di ujung."
"Kenapa?"Tanya Ethan binggung.
"Karena kamar seberang lebih dekat dengan dapur. Dia sering lapar tengah malam."Ucap Jason asal.
Valeri melotot ke arah Jason. Kapan ia pernah lapar tengah malam?
Tapi ya sudahlah. Valeri menyeret kopernya sendiri ke kamar seberang tanpa membantah sepatah katapun, lalu menutup pintunya agak keras.
BLAM!
Jason meringis mendengarnya. Tampaknya gadis itu masih sangat marah.
****
Malam harinya mereka bertiga makan malam di meja panjang dekat kolam. Ethan sudah memesankan makanan khas Bali, dan Valeri memakannya dengan lahap sampai keningnya berkeringat karena kepedasan.
"Besok kita berangkat jam delapan ke lahannya. Perjalanannya sekitar satu jam."Ucap Ethan sambil membuka map berisi berkas-berkas, "Valeri, kau yang mencatat detail lokasinya ya."
Valeri mengangguk semangat, "Siap!"
Jason mengaduk-aduk makanannya tanpa selera. Sedaritadi yang ia dengar hanya suara Valeri dan Ethan yang mengobrol soal apa saja. Soal sate lilit, soal sawah yang bertingkat-tingkat, bahkan soal kenapa ayam disini suka menyebrang jalan seenaknya.
Dan tak satupun dari obrolan itu melibatkan dirinya.
Jason meletakan sendoknya, "Aku sudah selesai."Ucap lelaki itu lalu berdiri dan pergi begitu saja.
Valeri terdiam menatapi punggung Jason yang menjauh. Ada rasa tidak enak yang menggelitik dadanya. Apa ia keterlaluan?
"Kalian bertengkar?"Tanya Ethan pelan.
Valeri menggeleng cepat, "Tidak kok. Cuma.. dia menyebalkan."
Ethan tersenyum kecil, "Kalau menurutku dia tidak menyebalkan. Dia cemburu."
Valeri membelak, "Ha? Ma-mana mungkin. Dia itu Bossku."
"Aku laki-laki, Valeri. Aku tahu tatapan seperti itu."Ucap Ethan sambil mengangkat bahu, lalu kembali menyendok nasinya seolah baru saja membicarakan cuaca.
****
Jason berdiri di balkon kamarnya sambil menatap sawah yang gelap. Ponselnya bergetar di atas meja. Nama Sanna muncul di layar. Jason menatap layar itu dengan malas, menolak panggilan tersebut, lalu membalik ponselnya.
Ia menghela nafas panjang.
Jason tahu ia yang salah duluan. Ia yang mencoret wajah Valeri sampai gadis itu ditertawakan satu bandara. Tapi bukan itu yang membuat dadanya sesak sejak siang tadi.
Yang membuatnya sesak adalah tawa Valeri. Tawa yang biasanya hanya keluar untuk dirinya, hari ini diberikan pada orang lain dengan begitu mudahnya.
Jason mengacak rambutnya frustasi. Lucu sekali. Ia bahkan tak punya hak untuk cemburu. Di jari manisnya masih melingkar cincin pertunangan dengan perempuan yang tak pernah ia inginkan. Sementara Valeri, gadis itu bebas. Ia bisa memilih siapa saja.
Dan itulah yang paling Jason takutkan.
Bukan Ethan. Bukan lelaki manapun. Yang ia takutkan adalah kenyataan bahwa di luar sana ada orang yang bisa membuat Valeri lebih bahagia daripada dirinya. Orang yang tak perlu menyuruh Valeri menunggu entah sampai kapan.
"Sialan."Umpat Jason pelan.
Lelaki itu melangkah keluar dari kamarnya dan berdiri di depan pintu kamar Valeri yang ada di seberang. Tangannya sudah terangkat, hendak mengetuk. Namun Jason diam cukup lama, sampai akhirnya tangan itu turun lagi.
Dari balik pintu, ia bisa mendengar suara Valeri yang bersenandung kecil sambil membereskan kopernya.
Jason tersenyum tipis. Ya sudah, biar besok saja.
Besok pagi ia akan menunggu gadis itu tepat di depan pintu ini, dan ia tak akan membiarkan Valeri melangkah keluar sebelum mereka baikan.
Jason kembali ke kamarnya dengan satu hal yang sudah ia putuskan matang-matang.
Besok, tidak ada lagi Ethan-Ethan.
****