I admit that i get jealous
when you're talking to someone else
instead of me.
-Jason James Heilton-
*****
Valeri bangun lebih pagi hari ini. Ia mengikat rambutnya asal dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, Valeri mengambil baju casualnya yang ia bawa dari dalam koper.
Valeri memoles lipstick ke bibirnya yang tampak pucat. Setelah dirasa bagus, Valeri pun keluar dari kamarnya.
Ia terlonjak kaget ketika menemukan Jason yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Apa?"Ucap Valeri sebal karena Jason menghalangi jalannya untuk keluar kamar.
Jason diam saja. Ia hanya terus menatapi Valeri lekat, sampai-sampai Valeri merasa salah tingkah.
"Kau mau apa sih Boss? Aku mau keluar, bisakah kau tidak menghalangi jalanku?"Ucap Valeri dengan kesal.
Namun Jason tetap tak bergeming. Lelaki itu justru menyandarkan bahunya ke kusen pintu, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, dan matanya masih setia menatapi wajah Valeri.
"Dua hari sudah lewat."Ucap Jason akhirnya.
Valeri mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Kau berjanji tidak akan berbicara padaku selama dua hari. Kemarin itu hari kedua."Ucap Jason santai, "Jadi mulai pagi ini kau harus bicara padaku lagi."
Valeri membelak. Astaga, darimana lelaki ini tahu? Ia bahkan tak pernah mengucapkan janji itu pada siapapun.
"A-aku tidak pernah bilang begitu."Ucap Valeri gugup.
"Kau menghitungnya dengan jari di dalam mobil kemarin. Dua kali."Ucap Jason sambil mengangkat dua jarinya, meniru gerakan Valeri, "Aku melihatnya dari kaca spion."
Valeri menutup mulutnya rapat-rapat. Memalukan sekali. Ternyata sedaritadi lelaki itu memperhatikannya, sementara ia sibuk berpura-pura tak perduli.
Jason menghela nafas, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah lipstik. Lipstik merah milik Valeri yang kemarin dipakai lelaki itu untuk mencoret-coret wajahnya di pesawat.
"Apa itu?"Tanya Valeri waspada.
"Ganti rugi."Ucap Jason sambil menyodorkan lipstik itu ke depan wajah Valeri, "Coret wajahku sepuasmu. Sampai kau puas, sampai kau tidak marah lagi."
Valeri menatap lipstik itu, lalu menatap wajah Jason bergantian. Apa lelaki ini sudah kehilangan akal sehatnya?
"Kau serius?"
"Aku tidak pernah bercanda sebelum jam tujuh pagi."Jawab Jason datar.
Valeri menggigit bibirnya menahan senyum. Ia mengambil lipstik itu, membukanya pelan-pelan, lalu menatap wajah tampan di depannya seperti seorang pelukis yang baru saja diberi kanvas mahal.
"Jangan menyesal ya."
"Tidak akan."Jawab Jason sambil memejamkan matanya.
Maka Valeri pun mulai bekerja. Ia menggambar tiga garis kumis di kedua pipi Jason, sebuah bulatan besar di ujung hidung lelaki itu, dan yang terakhir, ia menuliskan dua kata besar-besar di dahinya.
BOSS JAHAT.
Valeri mundur selangkah untuk menilai hasil karyanya sendiri, dan detik itu juga tawanya pecah. Ia tertawa sampai perutnya sakit, sampai ia harus berpegangan pada gagang pintu supaya tidak jatuh terduduk.
Jason tidak ikut tertawa. Lelaki itu hanya berdiri disana, menatapi Valeri yang tertawa lepas di depannya. Dan entah kenapa, dadanya yang terasa sesak sejak kemarin itu mendadak longgar.
Ternyata sesederhana ini. Ia hanya perlu membuat gadis itu tertawa lagi, dan tawa itu kembali menjadi miliknya.
"Sudah selesai?"Tanya Jason.
Valeri mengangguk sambil menghapus air mata di sudut matanya, "Sudah. Sekarang cepat cuci wajahmu sebelum Ethan melihat."
"Tidak."Ucap Jason sambil berbalik dan melangkah menuruni tangga, "Hukumannya belum selesai kalau tidak ada yang melihat."
Valeri membelak, "Boss! Jason! Hey!"
Namun lelaki itu terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
****
Ethan hampir menjatuhkan gelas kopinya ketika melihat Jason turun ke meja makan dengan wajah penuh coretan lipstik.
"As-astaga, Jason. Wajahmu.."Ucap Ethan yang berusaha keras menahan tawanya.
"Kenapa dengan wajahku?"Jawab Jason tenang sambil menarik kursi dan duduk seolah tak terjadi apapun.
Valeri yang baru sampai di belakangnya sudah merah padam menahan malu, "Dia sedang membayar hutang."Ucap Valeri asal.
Ethan akhirnya tertawa juga. Dan kali ini Jason sama sekali tidak keberatan, karena Valeri ikut tertawa disampingnya. Itu artinya gadis itu sudah tidak marah lagi padanya.
"Jalanan ke lahan agak becek pagi ini, semalam hujannya cukup deras."Ucap Ethan sambil membagikan roti panggang, "Valeri, pakai sepatu yang tidak licin ya."
"Dia pakai sepatu apapun tetap saja jatuh."Sahut Jason sambil menuang susu ke gelas Valeri tanpa diminta.
"Aku tidak sepayah itu!"Protes Valeri.
"Minggu lalu kau jatuh di lobby. Lantainya kering, Valeri. Kering."
Valeri mendengus kesal, namun tetap meminum susu yang dituangkan lelaki itu sampai habis.
****
Mobil melaju membelah jalanan Ubud yang masih basah. Kali ini Jason duduk di kursi belakang, tepat disebelah Valeri, dengan alasan yang menurut Valeri sangat tidak masuk akal.
"Aku pusing kalau duduk di depan."Ucap lelaki itu tadi.
Padahal kemarin ia duduk di depan selama satu jam penuh tanpa mengeluh sedikitpun. Ethan tidak berkomentar apapun, ia hanya tersenyum kecil sambil memutar setirnya.
Wajah Jason sudah bersih sekarang, meski masih tersisa warna merah samar di dahinya yang tak mau hilang. Valeri melirik sisa coretan itu dan tersenyum geli sendiri.
Tiba-tiba ponsel Jason bergetar. Nama Sanna muncul di layar. Valeri yang duduk disebelahnya bisa melihatnya dengan jelas, dan senyum gadis itu langsung meredup.
Jason menolak panggilan itu tanpa ragu sedikitpun, lalu membalik ponselnya di atas paha.
"Kau tidak mengangkatnya?"Tanya Valeri pelan.
"Tidak ada yang perlu kubicarakan dengannya."Jawab Jason.
Valeri menunduk, menatapi berkas di pangkuannya. Ia tak berkata apa-apa lagi, namun Jason bisa melihat dengan jelas bahu gadis itu yang turun sedikit.
Tangan Jason bergerak ke sela kursi, mencari tangan Valeri, lalu menggenggamnya erat disana. Tersembunyi, tak terlihat oleh siapapun.
"Aku sedang mengurusnya."Bisik Jason, "Sedikit lagi. Tunggu aku ya?"
Valeri mengangguk pelan. Dan genggaman itu tak dilepas sampai mobil berhenti.
****
Lahan yang mereka tuju sangat luas, dikelilingi pohon kelapa dan sawah yang bertingkat-tingkat. Ethan turun lebih dulu sambil membawa tas berisi alat ukurnya.
"Aku ke sisi utara duluan ya, kalian menyusul saja."Ucap Ethan yang langsung berjalan menjauh.
Valeri hendak turun juga, namun tangannya ditahan Jason. Lelaki itu menariknya pelan sampai punggung Valeri menempel pada pintu mobil.
"Ke-kenapa?"Tanya Valeri gugup.
Jason tak menjawab. Ia hanya menunduk, mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibir Valeri. Tidak secepat kemarin di mansion. Kali ini lelaki itu diam disana beberapa detik lamanya, cukup lama sampai Valeri lupa cara bernafas.
Ketika Jason menjauhkan wajahnya, Valeri hanya bisa membeku dengan mata membelak.
"Itu supaya kau ingat siapa Bossmu."Ucap Jason sambil tersenyum miring, lalu lelaki itu berbalik dan berjalan santai menyusul Ethan seolah tak terjadi apapun.
Valeri masih berdiri disana dengan wajah semerah lipstik yang tadi ia pakai untuk mencoret wajah lelaki itu.
Astaga.
****