I never thought it was possible to fall in love with someone over and over again. But then i met you
-Valeri Valentine Darron-
****
.
.
Valeri saat ini sedang berada di lahan luas yang dibicarakan Jason sebelum berangkat kemarin. Mereka bertiga sedang mengamati lokasi itu untuk dicatat setiap detailnya.
Valeri melirik ke arah Jason yang tampak sangat serius memperhatikan lingkungan sekitar. Astaga, ia masih sangat malu mengingat ciuman tadi.
"Hey, apa kau sudah mencatat semuanya?"Tanya Ethan yang baru datang. Valeri mengangguk, "Iya, ini berkasnya"Ucap Valeri sambil menyerahkan berkas itu pada Ethan.
Ethan menerima berkas itu dan memeriksanya dengan seksama, "Kerjamu bagus sekali Valeri, aku suka."Ucap Ethan sambil tersenyum.
Valeri tersenyum senang, "Terimakasih, Ethan"Ucap Valeri sambil membungkukan badannya sedikit, meniru gaya karyawan kantor yang sedang memberi laporan pada atasannya. Ethan terkekeh melihat tingkah gadis itu.
Namun belum sempat Ethan membalikan halaman berikutnya, berkas itu sudah berpindah tangan. Jason mengambilnya begitu saja dari tangan Ethan.
"Biar aku yang periksa."Ucap Jason datar, "Dia asistenku, bukan asistenmu."
Ethan mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah, "Baiklah, baiklah."
Valeri menyikut lengan Jason pelan, "Boss, tidak sopan."
"Aku memang tidak pernah sopan."Jawab Jason sambil membalik halaman berkas itu satu persatu. Matanya menyusuri tulisan tangan Valeri yang rapi, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit tanpa gadis itu sadari.
Pekerjaan gadis ini memang bagus. Tapi tak perlu orang lain yang mengatakannya.
****
Mereka berjalan menyusuri pematang menuju sisi utara lahan. Ethan berjalan paling depan sambil menunjuk-nunjuk saluran air yang membelah tanah itu.
"Ini yang harus kalian perhatikan."Ucap Ethan, "Saluran ini dipakai warga untuk mengairi sawah di bawah sana. Kalau proyek kalian menutupnya, sawah di tiga petak itu akan mati dalam satu musim."
Jason berhenti melangkah. Lelaki itu menatap saluran air yang tampak sederhana itu cukup lama.
"Berapa banyak keluarga yang bergantung pada saluran itu?"Tanya Jason.
"Dua belas kepala keluarga."Jawab Ethan.
"Catat, Valeri."Ucap Jason, "Saluran air tidak boleh disentuh. Kalau desainnya harus diubah, ubah desainnya, bukan salurannya."
Valeri mengangkat kepalanya dari buku catatan, menatap Jason sebentar. Inilah yang membuatnya jatuh cinta berkali-kali pada lelaki menyebalkan ini. Diluar, orang-orang mengenal Jason sebagai CEO dingin yang tak pernah tersenyum pada siapapun. Tapi Valeri tahu, lelaki ini tak pernah tega menginjak orang kecil hanya demi proyek.
"Kenapa menatapku seperti itu?"Tanya Jason yang menyadari tatapan Valeri.
"Tidak apa-apa."Ucap Valeri cepat sambil kembali menunduk ke buku catatannya.
Ethan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
Mereka melanjutkan langkah. Tanah pematang itu benar-benar licin seperti yang dikatakan Ethan tadi pagi. Valeri berjalan hati-hati sambil merentangkan kedua tangannya untuk menjaga keseimbangan, seperti anak kecil yang sedang meniti papan.
Sampai akhirnya kaki kanannya menginjak lumpur yang lebih dalam dari yang ia kira.
"Aaa—"
Tubuh Valeri oleng ke samping. Buku catatannya terlempar ke udara. Namun sebelum gadis itu jatuh ke petak sawah di bawahnya, sebuah lengan sudah melingkar cepat di pinggangnya dan menariknya kembali ke atas pematang.
Valeri memejamkan mata rapat-rapat. Ia baru berani membukanya ketika sadar bahwa punggungnya kini menempel pada dada seseorang yang berdetak sangat cepat.
"Sudah kubilang kan."Ucap Jason tepat di telinganya, "Kau pakai sepatu apapun tetap jatuh."
"Aku tidak jatuh."Bantah Valeri dengan wajah memerah.
"Karena aku menangkapmu."
Valeri tak bisa membalas apa-apa lagi. Jason menurunkannya pelan ke tanah yang lebih kering, lalu lelaki itu berjongkok begitu saja di depan Valeri, mengeluarkan tissue dari saku jaketnya, dan mulai membersihkan lumpur yang menempel di sepatu gadis itu.
Valeri membelak, "Bo-boss! Apa yang kau lakukan? Jangan berjongkok begitu, kau ini CEO!"
"Diam dan jangan bergerak."Ucap Jason tanpa mengangkat wajahnya.
Ethan yang berdiri tak jauh dari mereka bersiul pelan, "Valeri, bossmu ini bukan boss. Dia pengawal pribadimu."
Wajah Valeri semakin merah padam sampai ke telinganya.
****
Menjelang siang, mereka beristirahat di bawah pohon besar di ujung lahan. Ethan membeli tiga butir kelapa muda dari warung kecil di seberang jalan.
Valeri menyeruput air kelapanya dengan nikmat sambil mengipasi wajahnya yang berkeringat. Angin dari arah sawah berhembus pelan, membuat rambut pirangnya berterbangan kecil.
"Kalian berdua sudah lama bersama?"Tanya Ethan tiba-tiba.
Valeri tersedak air kelapanya sendiri, "U-uhuk! Ap-apa maksudmu Ethan? Kami cuma atasan dan bawahan!"
"Belum lama."Jawab Jason santai, "Tapi akan lama."
"BOSS!"Pekik Valeri sambil menutup wajahnya dengan buku catatan.
Ethan tertawa lepas, sementara Jason hanya meminum air kelapanya dengan tenang, seolah baru saja mengomentari cuaca.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Ponsel Jason bergetar lagi. Kali ini bukan nama Sanna yang muncul, melainkan nama adiknya, Alena.
Jason bangkit dan berjalan beberapa langkah menjauh sebelum mengangkatnya.
"Kenapa?"
"Kak, kemarin Sanna datang ke kantor."Ucap Alena diseberang sana, "Dia menanyakan jadwalmu ke Bali. Dia juga menanyakan siapa asisten yang kau bawa."
Rahang Jason mengeras seketika, "Siapa yang memberitahunya?"
"Tidak ada yang berani memberitahu. Tapi kak.. dia sempat masuk ke ruanganmu sendirian hampir sepuluh menit sebelum ketahuan satpam."
Jason terdiam. Tangannya yang bebas mengepal pelan.
"Jangan berikan informasi apapun tentang Valeri pada siapapun. Siapapun, Alena."Ucap Jason pelan namun tegas.
"Iya kak. Tapi.. Valeri baik-baik saja kan disana?"
Jason melirik ke belakang, ke arah Valeri yang sedang tertawa sambil menunjuk seekor bebek yang berjalan berbaris di pematang.
"Dia baik-baik saja."Jawab Jason, "Dan akan tetap begitu."
Jason menutup teleponnya lalu kembali berjalan mendekat. Ia memasang wajah biasa saja, sesuatu yang sudah sangat ia kuasai bertahun-tahun.
"Ada apa?"Tanya Valeri.
"Tidak ada."Jawab Jason, "Ayo lanjutkan. Kita harus selesai sebelum hujan turun."
****
Sore harinya, ketika mereka berjalan kembali ke arah mobil, ponsel Valeri bergetar di dalam saku roknya.
Valeri mengeluarkannya sambil tetap melangkah. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal, tanpa nama, tanpa apapun.
Valeri membuka pesan itu.
Sebuah foto. Foto dirinya sendiri, yang sedang tertawa di bandara kemarin siang dengan wajah penuh coretan lipstik. Diambil dari kejauhan, dari sudut yang tak ia sadari sama sekali.
Dan di bawahnya ada satu baris kalimat.
"Rambut pirangmu masih sama seperti dulu."
Langkah Valeri terhenti. Jari-jarinya mendadak dingin, padahal matahari sore masih menyengat punggungnya. Ia mengangkat wajahnya, menyapu pandangan ke sekeliling. Hanya ada sawah, pohon kelapa, dan seorang petani tua yang berjalan jauh disana.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun perasaan itu kembali. Perasaan yang sama seperti dulu, ketika seseorang selalu berdiri di seberang jalan rumahnya setiap malam, hanya untuk menatapinya dari kejauhan.
"Valeri! Kau mau ditinggal disitu?"Teriak Jason dari depan mobil.
Valeri buru-buru mematikan layar ponselnya dan memasukannya kembali ke dalam saku.
"I-iya! Tunggu aku!"Balas Valeri sambil berlari kecil menyusul lelaki itu.
Ia memaksakan senyum sepanjang perjalanan pulang, dan tidak menceritakan apapun pada siapapun.
****