You can hide the truth,
but fear will always find it.
-Valeri Valentine Darron-
****
Mobil itu melaju pelan menyusuri jalan desa yang mulai basah. Gerimis turun tipis-tipis, menempel di kaca seperti debu yang tidak mau jatuh. Di luar, pematang sawah yang tadi siang mereka susuri kini berubah warna menjadi kelabu.
Sepanjang perjalanan kembali ke villa, Valeri terus meremas ponselnya di dalam saku roknya. Layarnya sudah lama mati, tetapi kalimat itu tetap terbaca jelas di kepalanya, seolah benda itu masih menyala tepat di depan wajahnya.
Rambut pirangmu masih sama seperti dulu.
Hanya satu orang di dunia ini yang pernah membicarakan rambutnya dengan cara seperti itu. Bukan memuji. Bukan menggoda. Melainkan mencatat, seperti orang yang memastikan barang miliknya masih berada di tempat ia meninggalkannya.
George.
Valeri melirik jendela. Sebuah pikap mengekor mereka sejak perempatan tadi, dan tanpa sadar ia menghitung berapa lama kendaraan itu bertahan di belakang. Ketika akhirnya berbelok, Valeri menghela napas, lalu merasa konyol sendiri. Namun kelegaan itu hanya bertahan sampai lampu merah berikutnya, ketika sebuah motor berhenti persis di samping pintunya. Pengemudinya memakai helm gelap dan tidak menoleh sedikit pun. Jantung Valeri berdetak terlalu cepat, seperti orang yang baru berlari menaiki tangga.
"Kau pucat."Jason menoleh dari sampingnya, "Ada apa?"
"Tidak apa-apa."Jawab Valeri cepat, terlalu cepat, "Mungkin kelelahan. Tadi kita berjalan jauh sekali di lahan."
"Kau berjalan jauh sejak pagi dan masih sempat mengomeli Ethan soal sepatunya."
"Itu tadi. Sekarang aku lelah."
Jason mengulurkan tangan dan menyentuh keningnya. Valeri refleks menjauh, menempel ke pintu, lebih keras dari yang ia maksudkan. Jason menarik tangannya kembali pelan-pelan, seperti orang yang baru sadar telah menyentuh sesuatu yang panas.
"Kau demam?"
"Tidak, Boss. Aku hanya ingin istirahat."
Jason tidak menjawab. Ia mengernyit, menatap jalan di depan, tetapi Valeri tahu lelaki itu sedang menghitung sesuatu di kepalanya. Sejak mereka keluar dari lahan, Valeri hampir tidak bicara. Padahal gadis yang duduk di sampingnya ini biasanya mengomentari apa saja. Warna genting rumah orang. Anjing yang tidur di tengah jalan. Bahkan tadi siang ia berhenti lima menit hanya untuk menonton bebek berjalan berbaris di pematang.
Ethan, yang menyetir di depan, mencoba memancing lewat kaca spion.
"Valeri, besok kita mulai jam enam. Kau mau kubangunkan pakai toa atau lagu dangdut?"
Biasanya Valeri akan langsung membalas dengan sesuatu yang membuat Ethan menyesal bertanya. Kali ini ia hanya tersenyum tipis.
"Terserah."
Ethan melirik Jason lewat spion. Jason menggeleng kecil. Sisa perjalanan berlangsung dalam diam.
Setibanya di villa, Valeri langsung turun dan naik ke kamarnya tanpa menunggu siapa pun. Ia menutup pintu, memutar kunci, lalu bersandar sampai punggungnya menempel kayu.
Baru setelah itu ia mengeluarkan ponselnya.
Foto itu masih ada. Dirinya sendiri, tertawa di bandara kemarin siang dengan wajah penuh coretan lipstik, diambil dari sudut yang sama sekali tidak ia sadari. Valeri memperbesar gambar itu dengan jari yang terasa asing. Latarnya kabur, tetapi ia bisa mengira-ngira jaraknya. Dekat. Terlalu dekat untuk seseorang yang tidak pernah ia lihat.
Ia menekan tombol panggil.
Nada sambung tidak pernah terdengar. Hanya suara perempuan dari operator yang memberitahunya bahwa nomor itu tidak aktif.
Valeri menelepon lagi. Hasilnya sama. Ia menelepon untuk ketiga kalinya, entah untuk apa, mungkin hanya supaya ada sesuatu yang bisa dilakukan tangannya.
Lalu ponsel itu bergetar di telapak tangannya sendiri.
Pesan baru. Nomor berbeda.
Jangan bilang pada Bossmu. Aku hanya ingin melihatmu.
Ponsel Valeri hampir terlepas. Ia menangkapnya dengan dua tangan, menekan benda itu ke dada seperti orang yang menahan sesuatu agar tidak meledak. Napasnya pendek-pendek. Di luar jendela, suara jangkrik terdengar berlapis-lapis, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Bali, suara itu terdengar seperti sesuatu yang menyembunyikan langkah kaki.
Ia menghapus pesan itu.
Lima detik kemudian ia menyesal. Bagaimana kalau polisi bertanya. Bagaimana kalau nanti ia butuh bukti. Bagaimana kalau tidak ada yang percaya padanya. Valeri membuka folder pesan terhapus, menggulir dengan tangan yang gemetar terlalu hebat sampai layarnya ikut bergetar. Dua kali jarinya menekan tombol yang salah.
Ketukan terdengar dari pintu.
Valeri membeku.
"Valeri, buka."Suara Jason terdengar tegas.
"Aku mau tidur."
"Kau belum makan."
"Aku tidak lapar."
Beberapa detik sunyi. Valeri menahan napas, berharap langkah kaki itu menjauh. Namun lelaki di balik pintu justru berkata dengan nada yang sama sekali tidak terburu-buru.
"Kalau kau tidak membuka pintu dalam sepuluh detik, aku meminta kunci cadangan."
"Boss tidak bisa—"
"Delapan."
Valeri membuka pintu dengan kesal, cukup keras sampai engselnya berdecit.
"Boss tidak punya hak menerobos kamar orang!"
Jason tidak membalas sinisme itu. Ia hanya menatap wajah Valeri, lama, dari kening sampai dagu, seperti sedang membaca sesuatu yang tertulis di sana.
"Dan kau tidak pandai berbohong."
Ia masuk lalu menutup pintu di belakangnya. Pandangannya jatuh pada ponsel yang masih tergenggam di tangan Valeri.
"Siapa yang menghubungimu?"
"Tidak ada."
Jason mengulurkan tangan. Valeri menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya.
"Itu barang pribadiku."
"Aku tidak akan mengambilnya kalau kau mengatakan yang sebenarnya."
Valeri menunduk. Lantai kamar itu dingin di telapak kakinya. Ada dua hal yang berputar di kepalanya, dan keduanya sama-sama mengunci mulutnya. Kalau Jason tahu, lelaki itu pasti membatalkan seluruh kegiatan proyek dan memulangkannya ke Jakarta besok pagi juga. Pekerjaan yang susah payah ia bangun akan berakhir seperti barang titipan yang diambil kembali.
Dan yang kedua, yang jauh lebih menakutkan. George tidak pernah berhenti pada satu orang. Dulu teman sekelas yang mengantarnya pulang berakhir dengan sepeda rusak dan wajah lebam. Sekarang orang itu Jason.
"Pesan iklan," katanya akhirnya.
Jason diam. Valeri tahu lelaki itu tidak percaya sedikit pun, tetapi anehnya Jason tidak memaksa. Ia berjalan ke meja dan meletakkan sepiring makanan yang sejak tadi dibawanya. Nasi, ayam, dan sambal matah yang masih mengepul tipis.
"Pintu balkonmu harus dikunci," kata Jason. "Jangan keluar sendirian. Kalau kau butuh sesuatu, telepon aku. Meski jam tiga pagi."
"Kenapa tiba-tiba mengaturku?"
"Karena seseorang memotretmu di bandara."
Valeri membelak. Rasanya seperti ada yang menuang air es ke tengkuknya.
Jason mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman. Alena baru mengirimkannya sejam lalu, potongan kamera pengawas kantor di Jakarta. Di layar itu terlihat Sanna berdiri di depan meja kerja, menunduk, memotret layar komputer yang menampilkan jadwal penerbangan Jason lengkap dengan satu nama lain di bawahnya.
Nama Valeri.
"Sanna tahu kita berada di Bali," kata Jason pelan. "Tapi aku tidak yakin dia satu-satunya yang tahu."
Valeri membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, entah apa.
Lampu villa padam.
Gelap datang sekaligus, menelan kamar, koridor, dan seluruh halaman. Dari arah belakang terdengar suara benda berat jatuh ke dalam kolam, disusul percikan air yang panjang.
Jason menarik Valeri ke belakang tubuhnya.
Di balik pintu kaca, dalam kegelapan yang basah oleh gerimis, sesosok lelaki berdiri diam menghadap mereka.