Jason bergerak lebih dulu. Ia mengambil lampu darurat dari meja, menyalakannya dengan satu tekanan, lalu mendorong Valeri ke sudut kamar yang paling jauh dari pintu kaca.
"Kunci pintunya setelah aku keluar."
"Boss jangan pergi!"Valeri mencengkeram lengan kemejanya, "Kita telepon polisi saja. Biar polisi yang datang."
"Sudah. Tapi jalan ke sini dua puluh menit."
"Kalau begitu kita tunggu dua puluh menit!"
"Dan membiarkan dia berjalan-jalan di halaman selama itu?"Jason menoleh. Wajahnya tidak terlihat jelas dalam kegelapan, hanya rahangnya yang tertimpa cahaya lampu darurat, "Ethan ada di bawah. Aku tidak sendirian."
"Boss—"
"Kunci pintunya, Valeri."
Ia keluar sebelum Valeri sempat menahannya. Pintu tertutup. Valeri berdiri diam beberapa detik, lalu buru-buru memutar kunci dan menyeret kursi rias untuk mengganjal gagangnya. Tangannya masih gemetar ketika ia duduk di lantai, memeluk lutut, mendengarkan langkah kaki yang menjauh menuruni tangga.
Di bawah, Jason menemukan Ethan sudah berdiri di dekat dapur dengan sebatang tongkat kayu di tangan. Wajah lelaki itu tegang, tetapi napasnya teratur.
"Listrik dari luar yang dimatikan," kata Ethan. "Sekring di dalam tidak turun sama sekali."
"Berarti dia tahu letak panelnya."
"Atau dia sudah datang sebelumnya."
Mereka membuka pintu belakang bersamaan. Udara luar dingin dan basah. Gerimis yang tadi tipis kini turun lebih rapat, menempel di lengan seperti kabut. Cahaya lampu darurat hanya sanggup menjangkau beberapa meter, memantul di permukaan kolam yang beriak.
Sosok yang tadi terlihat dari kamar sudah tidak ada.
Jason menyapukan cahaya ke sepanjang pagar, ke rumpun pisang hias, ke bawah kursi teras. Kosong. Yang tersisa hanya suara gerimis dan air kolam yang tidak mau diam.
"Di sana."Ethan menunjuk.
Di tengah kolam, sesuatu mengambang. Benda kecil terbungkus plastik bening, diikat karet, ditenggelamkan setengah oleh batu yang menempel di dalamnya.
Ethan mengambil jaring pembersih kolam dari dinding dan menariknya pelan-pelan ke tepi. Air menetes deras ketika ia mengangkatnya. Jason membuka ikatan karet itu dengan jari yang basah.
Isinya sebuah foto.
Foto lama, warnanya sudah menguning di bagian pinggir. Sekelompok anak berdiri di depan taman dengan patung burung di belakang mereka. Semua wajah dicoret dengan spidol hitam, tebal, sampai kertasnya berlubang di beberapa tempat. Hanya dua yang dibiarkan utuh. Seorang gadis kecil berambut pirang yang tersenyum lebar sambil memegang balon, dan seorang anak laki-laki di sampingnya yang tidak tersenyum sama sekali, hanya menatap lurus ke kamera.
"Kau mengenal anak ini?"Tanya Ethan.
Jason menatap foto itu lama. Wajah anak laki-laki itu pernah ia lihat di berkas keamanan yang disusun tim perusahaannya, versi dewasanya, dengan nama tercetak di bawahnya.
"Ya."
Mereka memeriksa pagar sebelum polisi datang. Di sisi utara, salah satu kamera pengawas menggantung miring dengan lensa yang sudah dipecahkan. Kabel listrik yang menempel di tembok terpotong rapi, bukan putus karena angin.
"Dipotong dari luar," kata Ethan sambil menyorot ujungnya. "Pakai alat, bukan tangan."
Jason tidak menjawab. Ia menatap jalan setapak di balik pagar, yang menghilang di kegelapan kebun tetangga.
Ketika ia kembali naik ke atas, pintu kamar Valeri masih terkunci. Jason mengetuk pelan, dua kali.
"Valeri, ini aku."
Terdengar suara kursi diseret, lalu kunci diputar. Pintu terbuka sedikit, dan sebelum Jason sempat berkata apa-apa, Valeri sudah menghambur memeluknya.
Jason sempat terdiam, tangannya menggantung di udara beberapa saat, sebelum akhirnya membalas pelukan itu erat-erat. Gadis itu gemetar dari bahu sampai lutut.
"Itu George, kan?"Bisik Jason di atas kepalanya.
Valeri tidak menjawab. Ia menangis, suaranya tertahan di kain kemeja Jason yang basah oleh gerimis. Lalu ia melepaskan diri, mengambil ponselnya dari lantai, dan menyodorkannya dengan tangan yang masih bergetar.
Di layar itu berderet tangkapan layar. Semua pesan yang ia hapus, ternyata sempat ia potret sebelumnya. Foto bandara. Kalimat tentang rambut pirang. Peringatan agar tidak memberi tahu Bossnya.
Jason menggulirnya satu per satu tanpa bersuara. Rahangnya mengeras.
"Kenapa kau menyembunyikannya?"
"Dia bilang jangan memberitahumu."Valeri menyeka wajahnya dengan punggung tangan, "Aku takut dia menyakitimu. Dulu ada anak yang cuma mengantarku pulang, Boss. Cuma mengantar. Besoknya dia masuk rumah sakit."
"Dan menurutmu aku akan lebih aman kalau aku tidak tahu apa-apa?"
Valeri terdiam.
Jason memegang kedua bahunya, menunduk supaya matanya sejajar.
"Menyembunyikan ancaman justru membuatku tidak bisa melindungimu."
"Aku tidak ingin selalu menjadi masalahmu."
"Kau bukan masalah."Suara Jason melunak untuk pertama kalinya malam itu, "George yang menjadi masalah."
Polisi tiba empat puluh menit kemudian bersama dua mobil tim keamanan perusahaan yang dipanggil Jason dari Denpasar. Ethan menyerahkan seluruh rekaman kamera villa, meskipun tiga jam terakhir sudah kosong karena kabelnya terpotong.
Di tanah becek dekat pagar belakang, petugas menemukan jejak sepatu ukuran besar yang tercetak dalam, dan bekas ban kendaraan yang diparkir di jalan kecil di belakang kebun. Foto dari kolam dimasukkan ke kantong plastik bukti.
Mereka diminta pindah malam itu juga ke hotel dengan penjagaan lebih baik di kawasan yang lebih ramai.
Jason langsung membatalkan seluruh kegiatan lapangan esok hari. Ia juga sudah menyebut nama maskapai ketika Valeri memotongnya.
"Aku tidak mau pulang ke Jakarta."
Jason menoleh. "Valeri."
"Kalau aku terus lari, George akan selalu menentukan hidupku. Dia yang memilih aku tinggal di mana, kerja di mana, keluar jam berapa. Aku sudah menjalani itu bertahun-tahun dan aku tidak mau mengulanginya."
"Ini bukan soal keberanian. Ini soal keselamatan."
"Aku tetap bisa bekerja dari tempat yang aman."Valeri menatapnya lurus, "Jangan memperlakukanku seperti tawanan, Boss. Kalau bedanya cuma siapa yang memegang kuncinya, buat apa?"
Kalimat itu membuat Jason berhenti.
Ia menyadari, dalam waktu kurang dari satu jam, dirinya kembali mengambil setiap keputusan atas nama gadis itu. Persis seperti yang selalu ia lakukan.
"Baik," katanya akhirnya. "Kita lanjutkan proyek dari hotel. Tapi ada syaratnya. Kau tidak pergi sendirian ke mana pun. Bahkan ke lobi."
"Setuju."
"Dan kalau ada pesan lagi, aku tahu di menit yang sama."
Valeri mengangguk.
Saat mereka membereskan barang, ponsel Jason berdering. Nama Sanna muncul di layar, untuk kesekian kali malam itu. Kali ini Jason mengangkatnya.
"Apa kau memberikan jadwalku kepada siapa pun?"Tanyanya tanpa salam.
Hening di seberang. Cukup lama sampai Jason hampir mengulang pertanyaannya.
"Aku mengirim foto jadwalmu ke seorang wartawan," kata Sanna akhirnya. "Aku ingin orang-orang tahu kau membawa perempuan lain sesudah pertunangan kita. Aku tidak tahu informasi itu akan sampai ke orang lain."
"Ada orang yang masuk ke halaman villa malam ini."
"Jason, aku tidak—"
"Pertunangan itu akan berakhir saat aku kembali."
Sanna menangis. Kemudian, seperti orang yang kehilangan pegangan, ia mulai mengancam. Tentang nama baik keluarga, tentang investasi, tentang reputasi perusahaan yang bisa ia hancurkan dalam satu malam.
Jason menutup telepon tanpa mengubah keputusannya sedikit pun.
Pukul satu dini hari, rombongan itu tiba di hotel baru. Lampu lobi terang benderang, petugas keamanan berdiri di dua sisi pintu, dan seorang pegawai perusahaan berjalan setengah langkah di belakang Valeri sepanjang jalan menuju lift.
Jauh dari pintu masuk, di bawah bayangan pohon di seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti dengan lampu mati.
Dari dalam, George memandangi gadis berambut pirang itu turun dalam pengawalan, dikelilingi orang-orang yang mengira mereka cukup.
Ia tersenyum sambil memegang sebuah ponsel lain di pangkuannya.
"Kau selalu memilih lelaki yang salah, Valeri."