Kabar pertengkaran Jason dan Sanna sampai ke media keesokan paginya, bahkan sebelum sarapan diantar ke kamar.
Foto itu muncul di mana-mana. Jason menggenggam tangan Valeri di bandara, diambil dari samping, dengan wajah Valeri yang masih penuh coretan lipstik dan mulut terbuka karena tertawa. Judulnya ditulis besar-besar, menyebut Valeri sebagai perebut tunangan orang.
Valeri membaca semuanya di kamar hotel, duduk bersila di atas ranjang yang bahkan belum ia rapikan. Tirai masih tertutup. Ia sudah menggulir layar selama empat puluh menit tanpa sadar.
Sebagian orang menghina asal-usulnya. Anak panti yang beruntung diangkat orang kaya, lalu tidak tahu diri. Sebagian lagi menulis bahwa ia sengaja melamar pekerjaan itu untuk mendekati Jason, bahwa sekretaris yang dibawa ke luar kota bukan sekretaris. Ada yang membuat sindiran tentang rambut pirangnya. Ada yang menandai akun ayahnya.
"Jangan dibaca," kata Jason sambil mengambil ponsel itu dari tangannya.
Valeri tidak melawan. Ia hanya menatap tangannya sendiri yang kini kosong.
"Mereka tidak sepenuhnya salah."
Jason mengerutkan kening. "Apa?"
"Kau masih bertunangan ketika menciumku."
Jason terdiam. Di luar, suara klakson dari jalan naik sampai lantai enam, samar dan terus-menerus.
"Aku yang salah karena membiarkan pertunangan itu berlangsung," katanya akhirnya. "Aku tahu sejak awal itu tidak benar, dan aku tetap menundanya karena merasa bisa mengurusnya nanti. Bukan kau yang harus menanggung semuanya."
"Tapi yang mereka tulis namaku."
"Itu yang akan kuperbaiki hari ini."
Pukul sembilan, Jason membuka laptop di meja ruang tengah suite dan mengadakan konferensi daring dengan dewan JYS Corp. Di kotak-kotak kecil layar itu duduk para komisaris, dua pengacara perusahaan, dan di sudut kanan bawah, ayahnya sendiri.
Jason tidak membuka dengan basa-basi.
Ia menjelaskan bahwa pertunangannya dengan Sanna sejak awal merupakan kesepakatan bisnis antara dua keluarga, bukan sesuatu yang pernah ia inginkan. Bahwa ia menyetujuinya karena dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab, dan bahwa hal itu adalah kesalahan. Ia akan membatalkannya secara resmi hari itu juga, lewat pengacara, dengan pernyataan tertulis. Segala akibat terhadap kerja sama perusahaan akan ia terima.
Ayahnya langsung memotong. Suaranya pecah dari speaker laptop.
"Kau tahu berapa besar investasi keluarga mereka? Kau tahu berapa banyak karyawan yang bergantung pada proyek itu?"
"Saya tahu."
"Lalu kau membuangnya karena berita murahan?"
"Saya membatalkannya karena pertunangan itu tidak pernah benar sejak hari pertama," jawab Jason. "Kalau perusahaan hanya bisa berdiri di atas pernikahan yang dipaksakan, berarti ada yang salah dengan perusahaannya, bukan dengan keputusan saya."
Salah seorang komisaris mencoba menawarkan jalan tengah. Tunda pengumuman. Redam beritanya dulu. Selesaikan proyek Bali, baru bicara soal pertunangan setelah kuartal berikutnya.
Jason menggeleng.
"Aku seharusnya mengatakan tidak sejak awal," katanya. "Menunda hanya melukai Sanna dan Valeri."
Di luar ruangan, Valeri berdiri dengan cangkir kopi yang sudah dingin di tangannya.
Ia tidak sengaja mendengar. Ia hanya lewat, lalu berhenti, lalu tidak bisa pergi. Selama ini, setiap kali ada masalah, Jason selalu berkata dengan kalimat yang sama: aku sedang mengurus semuanya. Titik. Tanpa penjelasan, tanpa nama, tanpa angka. Seolah Valeri anak kecil yang cukup diberi tahu bahwa hujan akan berhenti.
Sekarang lelaki itu berbicara terbuka, menyebut kesalahannya sendiri di depan orang-orang yang bisa memecatnya, dan tidak sekali pun melempar nama Valeri sebagai alasan.
Valeri menyeka sudut matanya sebelum ada yang melihat.
Ethan datang menjelang siang membawa map hasil pemeriksaan lahan. Ia meletakkannya di meja, lalu meletakkan sesuatu yang lain di sampingnya. Benda hitam kecil, sebesar kotak korek api, dengan magnet di satu sisinya.
"Ini menempel di bawah mobil kita," katanya. "Di dekat roda belakang."
Valeri merasa perutnya turun.
"Polisi bilang jenis ini dipasang orang yang punya waktu beberapa menit saja," lanjut Ethan. "Kemungkinan besar sejak parkiran bandara."
"Berarti dia dapat mengikuti kendaraan ke mana pun," kata Valeri pelan. "Ke lahan. Ke villa. Ke sini."
Tidak ada yang membantah.
Jason langsung memerintahkan seluruh mobil perusahaan di Bali diperiksa satu per satu, termasuk mobil tim lapangan. Nomor telepon mereka bertiga diganti siang itu juga, dan nomor lama tetap dibiarkan aktif atas permintaan polisi.
Valeri menyerahkan seluruh tangkapan layar pesan kepada penyidik. Tangannya dingin sepanjang prosesnya. Setiap kali ia harus membaca ulang kalimat George dengan suara keras, ia merasa seperti membuka kembali pintu yang sudah susah payah ia tutup.
Tetapi ia tidak berhenti sampai selesai.
Sore hari, resepsionis menelepon ke kamar. Ada seorang perempuan di lobi yang ingin bertemu, dan keamanan sudah menahannya sejak sepuluh menit lalu.
Sanna.
"Jangan temui dia," kata Ethan.
"Aku temui di lobi," jawab Valeri. "Di tempat terbuka, di depan semua orang. Kalau dia mau membuat keributan, biar ada saksinya."
Sanna berdiri di dekat kolom marmer, memakai kacamata hitam di dalam ruangan. Ketika melepasnya, matanya bengkak.
"Aku tidak datang meminta maaf," katanya lebih dulu.
"Aku juga tidak menunggu itu."
"Aku datang memperingatkanmu." Sanna menelan ludah. "Wartawan yang kuhubungi bernama Raka. Aku mengirim foto jadwal penerbangan itu kepadanya. Setelah kukirim, dia tidak menulis apa-apa. Dia malah menjualnya kepada seseorang, orang yang menghubunginya lebih dulu dan membayar lebih mahal. Dua hari ini dia tidak bisa dihubungi. Kantornya bilang dia tidak pulang."
Valeri menatapnya lama.
"Kenapa baru mengatakan ini?"
"Karena aku marah kepada Jason," kata Sanna, suaranya bergetar, "bukan ingin melihatmu dibunuh."
Langkah kaki terdengar dari arah lift. Jason berjalan mendekat dan berdiri di samping Valeri, tidak di depannya.
"Pertunangan kita berakhir," katanya kepada Sanna. "Pengacaraku mengirim suratnya pagi tadi."
Tamparan itu datang cepat. Suaranya keras, memantul di lobi yang tinggi. Beberapa tamu menoleh, lalu pura-pura tidak melihat.
Sanna membuka telapak tangannya yang lain. Cincin itu tergeletak di sana, lalu ia letakkan di meja resepsionis.
"Kau seharusnya jujur sebelum memasangkannya," katanya.
Jason tidak menyentuh pipinya yang memerah.
"Kau benar."
Sanna menarik napas panjang, mengeluarkan ponsel, dan menyebut sebuah alamat. Lokasi terakhir Raka mengirim pesan kepadanya, dua malam lalu.
Ethan mengenali nama jalan itu sebelum Sanna selesai bicara. "Itu gudang lama. Dua kilometer dari lahan penelitian kita."
Polisi berangkat ke sana sebelum matahari terbenam.
Mereka tidak menemukan Raka.
Yang mereka temukan hanya sebuah ponsel di lantai semen, di samping bercak darah yang sudah setengah kering, dan sebuah rekaman suara yang masih terbuka di layarnya.
Petugas memutarnya di ruang hotel malam itu, dengan Valeri duduk di kursi paling dekat.
"Valeri, datanglah sendiri ke tempat pertama kita bertemu di Bali. Kalau tidak, wartawan ini tidak akan pulang."
Rekaman berhenti. Semua orang di ruangan menoleh ke arahnya.
Valeri menggeleng pelan, lalu lebih cepat.
Ia belum pernah bertemu George di Bali. Tidak sekali pun. Kaki George tidak pernah menginjak pulau ini sebelum kemarin, setahu Valeri.
Yang berarti lelaki itu sedang mengingat tempat lain.
Atau sengaja memberi teka-teki yang hanya mereka berdua pahami.