Valeri memutar rekaman itu berkali-kali sampai kalimatnya berhenti terdengar seperti kalimat dan mulai terdengar seperti suara benda.
Tempat pertama kita bertemu.
Ia menutup mata. Yang muncul selalu sama. Taman belakang panti asuhan di pinggiran Jakarta, rumput yang tidak pernah rata, ayunan besi berkarat, dan patung burung dari semen yang catnya mengelupas di bagian sayap. Di situlah ia pertama kali melihat anak laki-laki bernama George, duduk sendirian, menolak bicara kepada siapa pun selama tiga hari pertama.
Bukan Bali. Tidak pernah Bali.
"Mungkin ada tempat yang menyerupai taman itu," kata Ethan.
Ia sudah membuka peta di laptop sejak tengah malam, menyisir satu per satu bangunan yang ditandai sebagai panti asuhan, rumah singgah, atau asrama di sekitar area penelitian mereka.
Pukul dua pagi, kursornya berhenti.
"Ini. Gianyar. Panti asuhan yang ditutup enam tahun lalu karena yayasannya kekurangan dana."
"Yayasan apa?"Tanya Valeri.
Ethan menoleh dengan wajah yang tidak enak dipandang.
"Yayasan yang sama dengan pantimu."
Mereka mengeluarkan kembali foto dari kolam, yang sudah dimasukkan ke kantong plastik bukti. Di latar belakang foto anak-anak itu, berdiri patung burung dengan sayap terentang setengah.
Ethan memutar layar laptopnya. Foto lama bangunan Gianyar, diambil untuk keperluan laporan yayasan. Di halaman belakangnya, dengan rumput yang sudah setinggi lutut, berdiri patung yang sama persis. Cetakan yang sama. Pose yang sama.
"Dia memilih tempat itu supaya kau tahu," kata Jason pelan. "Dan supaya kami tidak tahu."
Polisi melarang Valeri pergi.
Mereka menyusun operasi penyelamatan sejak subuh, lengkap dengan denah bangunan dan tiga tim. Tetapi semua rencana itu menabrak dinding yang sama. George meminta Valeri datang sendiri. Dalam rekaman kedua yang dikirim pagi itu, suaranya tenang ketika mengatakan bahwa jika ia melihat satu seragam saja, wartawan itu tidak akan pulang.
"Saya yang masuk," kata Jason.
Ruangan langsung hening.
"Saya tukar dengan wartawan itu. Yang dia benci saya, bukan Valeri."
"Dia tidak menginginkanmu," potong Valeri.
"Aku tidak peduli. Aku tidak membiarkanmu masuk sendiri."
"Jason."
Lelaki itu berhenti. Valeri hampir tidak pernah menyebut namanya tanpa embel-embel Boss.
"Kau baru berjanji tidak mengambil semua keputusan untukku," kata Valeri. "Kemarin malam. Di villa. Kau ingat?"
Jason menatapnya lama. Ada sesuatu yang bergerak di rahangnya, seperti orang yang menelan kalimat yang sudah siap keluar.
"Aku ingat," katanya akhirnya.
"Kalau begitu dengarkan aku dulu, baru kita putuskan bersama."
Mereka menyusun rencana selama satu jam. Valeri masuk sendiri, seperti yang diminta, tetapi dengan alat perekam berbentuk kancing di kemejanya dan pelacak kecil yang dijahit di dalam liontin kalungnya. Jason dan polisi menunggu di luar jangkauan pandangan, di balik deretan pohon kelapa seratus meter dari pagar, dan bergerak hanya jika Valeri menyebut satu kata yang sudah mereka sepakati.
"Kalau aku bilang hujan," kata Valeri, "kalian masuk."
"Kalau kau tidak sempat bilang apa-apa?"
"Kalian tetap masuk."
Bangunan panti itu berdiri di ujung jalan tanah, dikelilingi kebun yang sudah kembali menjadi semak. Catnya mengelupas seluruhnya. Papan nama di depan tinggal separuh.
Di dalam, gelap dan penuh debu. Lantai ubinnya retak, dan setiap langkah Valeri meninggalkan jejak. Bau di sana bau yang ia kenal dari masa kecilnya, campuran kapur, lembap, dan kayu lama, dan justru itu yang membuat lututnya lemas.
Ia berjalan melewati ruang makan yang kosong, melewati koridor dengan gantungan handuk yang masih tertempel di dinding, sampai ke pintu belakang.
Taman itu lebih kecil dari yang ia bayangkan.
Patung burung berdiri miring di tengahnya, retak dari leher sampai dada, sayapnya tinggal satu.
Dan di sampingnya, George berdiri di belakang seorang lelaki kurus yang terikat pada kursi plastik. Mulut lelaki itu ditutup lakban, pelipisnya berdarah, dan matanya bergerak panik ketika melihat Valeri.
"Kau datang," kata George.
Suaranya sama seperti dulu. Itu bagian yang paling mengerikan.
"Lepaskan dia."Valeri memaksa suaranya tetap datar, "Dia tidak ada hubungannya dengan kita."
George tersenyum, seolah baru saja mendengar lelucon yang ia tunggu-tunggu.
"Semua orang yang membawamu menjauh dariku selalu merasa tidak bersalah."
Ia mulai bicara, dan sekali mulai, ia tidak berhenti. Bahwa ia sudah mengikuti Valeri sejak Jakarta, sejak hari pertama gadis itu masuk ke gedung JYS Corp dengan sepatu baru. Bahwa ia tahu jam berapa Valeri keluar, di mana ia membeli kopi, lantai berapa kantornya. Bahwa Sanna hanya membuat pekerjaannya lebih mudah dengan membocorkan jadwal, seperti orang yang membukakan pintu tanpa tahu siapa yang berdiri di luar.
"Lelaki itu mencuri hidupku," kata George. "Rumah itu seharusnya rumahku. Kau seharusnya di sana untukku."
"Aku tidak pernah menjadi milikmu."
Wajah George berubah. Senyum itu hilang, digantikan sesuatu yang datar dan kosong. Ia mengeluarkan pisau lipat dari saku belakangnya, membukanya perlahan, lalu melangkah mendekati kursi Raka.
Jantung Valeri melompat ke tenggorokan.
"Fotonya!"Ia berseru terlalu cepat, lalu memaksa dirinya memelankan suara, "Foto di kolam. Kenapa kau menyimpannya selama ini?"
Langkah George berhenti.
"Karena saat itu kau belum mengenal orang lain," katanya. "Kau hanya membutuhkanku."
"Aku membutuhkan teman."Valeri menatapnya, "Bukan seseorang yang mengendalikan hidupku."
Sunyi.
Lalu terdengar bunyi kecil. Sangat kecil, hanya sedetik, denting halus dari alat di kancing kemejanya ketika sinyal berpindah.
Kepala George terangkat seperti anjing yang mendengar peluit.
"Kau membawa mereka."
"George—"
Lelaki itu sudah menyeberangi taman dalam tiga langkah. Tangannya merenggut kalung di leher Valeri dan memutuskannya sekaligus, lalu melemparkannya ke rumput. Ia mencengkeram pergelangan Valeri dan menariknya masuk ke dalam bangunan sebelum gadis itu sempat berteriak.
Di luar, dari balik pohon kelapa, komandan lapangan memberi aba-aba.
Jason bergerak sebelum diizinkan.
Ia menerobos pintu depan, melewati ruang makan, dan menemukan Raka masih terikat di taman belakang. Jason merobek lakban di mulutnya dengan sekali tarik.
"Di mana dia?"
Raka batuk, meludah, lalu menunjuk dengan dagunya ke koridor timur.
"Bawah tanah," suaranya serak. "Ada tangga di ujung."
Di bawah, lampu sudah lama mati. George mendorong Valeri masuk ke salah satu kamar lama, menutup pintunya, dan memutar gerendel besi dari luar. Gadis itu menghantam kayu dengan bahunya dari dalam, sekali, dua kali.
Lalu ia mencium bau asap.
George menumpuk kasur busa lama dan kayu rak di ujung koridor, menyiramnya dengan sesuatu dari jeriken kecil, lalu menyalakan korek.
Api menyambar cepat. Asapnya hitam dan tebal dan menempel di tenggorokan.
"Valeri!"
Suara Jason terdengar dari tangga, memanggil namanya sekali, dua kali, semakin dekat. Ia menerobos asap sambil menutup mulut dengan lengan, meraba dinding koridor, membuka pintu-pintu yang kosong satu per satu.
"Valeri, kau di mana!"
"Di sini! Boss, aku di sini!"
Jason berbalik ke arah suara.
Ia tidak melihat bayangan yang bergerak keluar dari kamar kosong di belakangnya.
Kayu itu menghantam kepalanya dengan bunyi tumpul. Jason jatuh berlutut, lalu tersungkur ke lantai, jari-jarinya masih menggapai udara.
George berdiri di atasnya, mengangkat pisau.
Dari balik pintu yang terkunci, Valeri mendobrak dengan seluruh tubuhnya.