Asap sudah masuk sampai ke dalam kamar, merayap dari celah bawah pintu seperti air keruh.
Valeri berhenti mendobrak. Bahunya sakit dan pintu itu tidak bergerak sedikit pun. Ia berbalik, menyapu ruangan dengan pandangan yang berair, dan melihat sebuah kursi kayu tua di sudut.
Di pintu itu ada jendela kecil setinggi wajah, dari kaca buram yang dipasang agar pengasuh bisa mengintip anak-anak tanpa membuka pintu.
Valeri mengangkat kursi itu dengan dua tangan dan menghantamkannya ke kaca.
Sekali. Retak.
Dua kali. Pecah.
Ia menjulurkan lengannya keluar, mengabaikan pecahan yang menggores kulitnya, dan meraba ke bawah. Jarinya menyentuh gerendel besi, lalu sesuatu yang menggantung di sampingnya. Kunci. Digantung di paku, persis seperti kebiasaan pengasuh dulu.
Kayu kursi yang patah ia gunakan untuk mencungkil gantungan itu sampai jatuh ke telapak tangannya.
Ketika pintu akhirnya terbuka, koridor sudah oranye oleh api di ujungnya.
Dan di tengah koridor, George berlutut di atas tubuh Jason dengan mata pisau menempel di leher lelaki itu.
"Berhenti!"Teriak Valeri.
George menoleh. Wajahnya hitam oleh jelaga, tetapi matanya tenang, dan itu jauh lebih menakutkan daripada kalau ia berteriak.
"Katakan kau ikut denganku," katanya, "dan aku membiarkannya hidup."
Jason masih sadar. Darah mengalir dari pelipisnya ke telinga, dan ia hampir tidak bisa mengangkat kepala, tetapi ia menggeleng.
"Jangan dengarkan dia."
Valeri berdiri di sana, di antara api dan dua lelaki itu, dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia tidak berusaha menyembunyikan bahwa dirinya ketakutan. Tangannya gemetar. Ia membiarkannya gemetar.
"George," katanya. "Dengarkan aku baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali."
Lelaki itu menunggu.
"Aku tidak memilih Jason sebagai pengganti dirimu. Aku memilih hidupku sendiri. Dan di hidup itu, tidak ada tempat untukmu."
Sesuatu di wajah George runtuh.
Ia berteriak, panjang dan serak, lalu mengangkat pisau itu tinggi-tinggi.
Valeri sudah bergerak lebih dulu. Alat pemadam api yang tadi ia sambar dari dinding koridor terlepas dari tangannya, berputar di udara, dan menghantam lengan atas George dengan bunyi keras.
Pisau itu terlepas.
Jason tidak menunggu kesempatan kedua. Dengan sisa tenaganya ia menarik kaki George dan menjatuhkannya ke lantai. Keduanya bergumul di antara asap, saling menghantam, tersaruk di ubin yang licin oleh debu.
George berhasil meraih pisaunya kembali.
Lalu koridor itu penuh cahaya senter dan suara.
"Letakkan senjatamu! Letakkan sekarang!"
Empat petugas berdiri di ujung tangga. George tidak melepaskan pisau. Ia justru berbalik, mencari Valeri dengan matanya, dan melangkah ke arah gadis itu.
Satu tembakan peringatan meletus ke langit-langit.
George berhenti.
Ia berdiri diam beberapa detik, napasnya memburu, lalu pisau itu jatuh dari tangannya dan berdenting di lantai. Petugas menariknya, menelungkupkannya, memborgol tangannya di belakang punggung.
Ia tidak melawan lagi. Ia hanya terus menatap Valeri sampai wajahnya ditekan ke lantai.
Di halaman, pagi berubah menjadi pukul sebelas tanpa ada yang menyadarinya.
Raka dibawa ke rumah sakit dengan ambulans pertama, sadar, dengan jahitan di pelipis dan tangan yang terus gemetar. Jason menolak dibawa dan akhirnya duduk di pintu belakang ambulans kedua sementara petugas medis membersihkan luka di kepalanya.
Valeri duduk di sampingnya, dan begitu duduk, ia langsung menangis. Bukan tangis kecil. Tangis yang membuat bahunya naik turun dan membuat petugas medis itu pura-pura sibuk mencari kasa.
"Kau bodoh,"katanya di sela isak, "Polisi bilang tunggu di luar. Tunggu. Satu kata. Bahkan anak kecil mengerti."
"Aku Boss. Aku tidak pandai menunggu."
"Itu bukan sesuatu yang dibanggakan."
Jason tersenyum kecil, lalu langsung meringis karena gerakan itu menarik luka di kepalanya.
"Rasakan," kata Valeri.
"Kau jahat sekali pada orang yang baru saja dipukul kayu."
"Aku sedang senang kau masih bisa dipukul kayu."
Di kantor polisi sore harinya, Valeri memberikan kesaksian lengkap.
Ia menceritakan semuanya dari awal. Bukan hanya kejadian di Bali, tetapi teror yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Bunga yang datang tanpa nama. Lelaki yang berdiri di seberang jalan rumahnya setiap malam. Nomor-nomor baru yang muncul setiap kali satu nomor diblokir.
Kali ini ia tidak menghapus satu pesan pun, dan tidak sekali pun mengecilkan rasa takutnya supaya terdengar lebih tenang.
Penyidik mencatat semuanya. Berkas itu akhirnya memuat penguntitan, perusakan, penculikan, dan percobaan pembunuhan.
Sanna juga dimintai keterangan tentang kebocoran jadwal. Ia mengakui seluruh perbuatannya tanpa dikurangi, dan hari itu juga pengacaranya menyampaikan permintaan maaf tertulis kepada Raka dan kepada Valeri.
Valeri membacanya dua kali, lalu melipatnya kembali.
"Kau memaafkannya?"Tanya Jason.
"Belum."Valeri memasukkan surat itu ke tasnya, "Tapi dia mengaku tanpa diminta dua kali. Itu tidak mengubah apa-apa, tapi bukan berarti tidak berarti apa-apa."
Proyek di Bali ditunda dua hari.
Ethan yang menyampaikannya, sambil meletakkan map di meja hotel dengan hati-hati, seperti orang yang takut membangunkan sesuatu.
"Kita tidak perlu memaksakan diri. Dewan sudah tahu keadaannya. Tidak ada yang akan menyalahkanmu kalau kau pulang besok."
"Aku akan menyelesaikan laporannya dari sini," kata Valeri.
"Valeri—"
"Aku ingin pulang setelah menuntaskan pekerjaanku, bukan karena George mengusirku."
Ethan menatap Jason, mencari bantuan. Jason hanya mengangkat bahu.
"Dia atasanmu di proyek ini," katanya. "Bukan aku."
Dan Jason menepatinya. Selama dua hari itu ia tidak sekali pun mengambil ponsel Valeri tanpa izin, tidak membuka pesannya, tidak menanyai setiap nomor yang masuk. Keamanan memang ditambah, dua orang di lantai dan satu di lobi, tetapi semuanya disepakati lebih dulu, di meja, dengan Valeri ikut memilih.
Malam terakhir di Bali, mereka duduk di balkon hotel.
Angin laut datang dari kejauhan, membawa bau garam yang samar. Di bawah, kolam hotel menyala biru dan kosong.
Valeri melirik tangan Jason yang bertumpu di pagar.
Cincin itu sudah tidak ada.
"Aku membatalkannya secara resmi," kata Jason tanpa ditanya. "Suratnya sudah ditandatangani dua pihak."
"Hm."
"Tapi aku tidak akan langsung memintamu menjadi penggantinya."
Valeri mengernyit dan menoleh cepat. "Aku bukan kursi kosong."
"Itulah maksudku."Jason tersenyum tipis, "Kalau aku melamarmu minggu ini, kau akan seumur hidup bertanya-tanya apakah aku memilihmu atau sekadar mengisi tempat yang baru saja ditinggalkan orang. Aku ingin menyelesaikan akibat keputusanku dulu. Dan memberimu waktu."
Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Valeri, pelan, tidak menahan.
"Kalau nanti kau memilihku, pilih karena kau mau. Bukan karena aku menyelamatkanmu."
Valeri menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.
"Aku belum menjawab sekarang."
"Aku bisa menunggu."
"Bukankah tadi kau bilang tidak pandai menunggu?"
"Untukmu, aku belajar."
Valeri tertawa pelan, dan untuk beberapa menit tidak ada yang bicara. Hanya angin, dan suara serangga, dan air kolam di bawah sana.
Lalu ponsel Jason bergetar di meja.
Nama Alena muncul di layar, disusul deretan pesan yang masuk bertubi-tubi. Dewan JYS Corp mengadakan rapat darurat besok pagi. Keluarga Sanna resmi menarik seluruh investasi mereka. Dan dalam surat yang sama, mereka menuntut satu hal lagi.
Jason mundur dari kursi CEO.
Ancaman George sudah dihentikan malam tadi, di koridor yang penuh asap.
Tetapi pilihan Jason untuk jujur baru saja mulai menuntut harganya.