Valeri tidak menandatangani surat itu.
Pagi berikutnya ia membawanya turun ke meja makan, meletakkannya di samping cangkir kopi ayahnya, dan duduk di kursi seberang seperti orang yang datang ke rapat.
"Aku minta cuti satu minggu dulu," katanya. "Untuk pemeriksaan polisi, dan untuk memikirkan ini."
"Apa yang perlu dipikirkan?"
"Semuanya, Pa. Tapi bukan minggu ini."Valeri menggeser surat itu sedikit, "Aku tidak mau memutuskan ketika semua orang sedang takut. Kalau aku menandatangani ini hari ini, aku bukan sedang memilih Count Company. Aku sedang lari dari George dengan cara yang lebih sopan."
Ibunya menatap suaminya. Lelaki itu mengaduk kopinya lama sekali.
"Satu minggu," katanya akhirnya. "Setelah itu kita bicara lagi."
"Terima kasih."
Ia tidak senang. Valeri tahu itu dari cara ayahnya melipat koran, terlalu rapi, terlalu pelan. Tetapi lelaki itu menghormati pilihannya, dan surat itu tetap di meja sampai malam tanpa ada yang menyentuhnya lagi.
Cuti itu ternyata tidak sunyi.
Pagi untuk polisi, sore untuk laporan. Valeri menghabiskan empat hari di meja kamarnya, dikelilingi peta lahan, catatan lapangan, dan foto-foto saluran air desa yang ia ambil sendiri dengan ponsel.
Ketika laporan itu selesai, ia mengirimnya langsung kepada wakil direktur.
Bukan kepada Jason.
Ia sempat berhenti lama di kotak penerima, jari menggantung di atas layar. Mengirim lewat Jason lebih mudah, lebih cepat, dan hampir pasti akan disetujui. Justru karena itu ia tidak melakukannya.
Ethan menelepon sepuluh menit setelah surel itu terkirim.
"Kau mengubah seluruh jalur pipa di bagian utara."
"Aku memindahkannya dua puluh meter ke timur," ralat Valeri. "Supaya saluran air warga tidak terpotong. Mereka memakai saluran itu untuk tiga puluh hektare sawah, Ethan. Kalau kita ambil, mereka tidak akan menghalangi kita dengan demo. Mereka akan menghalangi kita dengan kelaparan."
"Dan biayanya?"
"Turun empat persen. Karena tanah di timur lebih keras, kita tidak perlu perkuatan dasar sebanyak rencana awal."
Di seberang telepon, Ethan tertawa pendek.
"Kau tahu ini akan membuat beberapa orang di kantor sangat kesal, kan?"
"Kenapa?"
"Karena mereka sudah dua tahun bilang itu tidak mungkin."
Wakil direktur mengundangnya mempresentasikan laporan itu di depan dewan pada hari keenam.
Valeri datang dengan blazer abu-abu dan rambut diikat, dan sejak ia masuk ruangan, ia tahu persis siapa saja yang tidak ingin ia berada di sana.
Seorang komisaris bahkan tidak menunggu presentasinya dimulai.
"Maaf, apakah ini laporan dari tim proyek atau dari asisten pribadi Pak Jason?"
Beberapa orang tersenyum tipis. Ada yang menunduk ke berkas.
"Saya rasa kita sebaiknya menunda proyek ini sampai keadaan perusahaan jelas," lanjutnya. "Terlalu banyak hal pribadi yang menempel padanya."
Valeri berdiri di depan layar. Tangannya dingin. Ia membiarkannya dingin.
"Saya meminta laporan ini dinilai berdasarkan data," katanya. "Hubungan pribadi saya tidak mengubah debit air di saluran utara, tidak mengubah luas tanah yang kita beli, dan tidak mengubah biaya pembangunan. Kalau ada satu angka di layar ini yang salah, tolong sebutkan nomor halamannya. Saya akan memperbaikinya hari ini juga."
Ruangan itu hening.
Lalu ia mulai bicara, halaman demi halaman, dan tidak ada satu pun nomor halaman yang disebut.
Presentasi itu berlangsung lima puluh menit. Di akhir, dewan menyetujui tahap penelitian berikutnya dengan satu catatan tambahan, dan wakil direktur mengusulkan Valeri menjadi koordinator sementara proyek Bali.
Usulan itu disetujui tanpa suara menolak.
Jason menunggu di lobi.
Bukan di ruang rapat, bukan di lantai yang sama, bukan pula di koridor depan lift. Ia duduk di sofa lobi bawah dengan kopi yang sudah habis, sengaja berada sejauh mungkin, supaya tidak ada seorang pun bisa berkata bahwa keberhasilan Valeri terjadi karena ada dirinya di ruangan.
Valeri keluar dari lift sambil menahan senyum.
"Mereka menyetujuinya."
"Aku sudah tahu mereka akan menyetujuinya."
"Sombong sekali."
"Aku mengenal kemampuan asist—"Jason berhenti di tengah kata.
Ia menarik napas, lalu mengulanginya.
"Kemampuan Valeri."
Perbaikan kecil itu membuat Valeri tertawa, keras, sampai petugas resepsionis menoleh.
Mereka makan malam di kedai sederhana di belakang gedung. Meja plastik, kipas angin di sudut, dan seorang ibu yang menggoreng tempe sambil menonton sinetron.
Jason melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran kursi.
"Aku sedang mencari investor baru," katanya di antara suapan. "Tiga nama sudah menolak. Dua masih membaca."
"Kenapa tidak Count Company?"
Jason mengaduk kuahnya.
"Karena kalau ayahmu masuk, orang akan berkata Jason menukar satu perempuan dengan perempuan lain untuk menyelamatkan perusahaannya. Dan kali ini yang dijadikan bahan omongan adalah kau."
Valeri meletakkan sendoknya.
"Itu keputusanmu atau keputusanku?"
"Maksudmu?"
"Kau sedang memutuskan aku tidak boleh disebut-sebut, tanpa bertanya apakah aku keberatan disebut-sebut."Valeri menatapnya, "Ayahku bukan orang yang berinvestasi karena kasihan, Jason. Dia bahkan tidak berinvestasi karena sayang padaku. Kalau proyeknya bagus, dia tertarik. Kalau jelek, dia mengusirmu dari ruangannya dalam sepuluh menit. Jangan menolak sebelum berbicara secara profesional."
Jason diam lama.
"Kirim proposal resmi," lanjut Valeri. "Lewat sekretarisnya, bukan lewat aku. Tanpa satu pun kalimat yang menyebut namaku. Kalau ditolak, kau kehilangan satu amplop."
"Baik," kata Jason akhirnya. "Proposal resmi. Dan aku tidak akan memintamu membujuk siapa pun."
"Bagus."
Ponsel Valeri berdering ketika mereka dalam perjalanan pulang.
Nomor kantor polisi.
Ia menyalakan pengeras suara supaya Jason ikut mendengar, dan mendengarkan sampai selesai tanpa memotong sekali pun.
George menolak memberikan keterangan sejak hari pertama. Tidak satu kata. Pengacaranya mengajukan klaim bahwa kliennya mengalami gangguan kejiwaan dan tidak dapat diperiksa seperti orang biasa. Sidang penahanan akan digelar dua hari lagi, dan kemungkinan besar Valeri akan diminta hadir.
Telepon ditutup. Mobil itu berjalan dua blok dalam diam.
"Aku bisa menemanimu," kata Jason.
"Boleh."Valeri menoleh, "Tapi ada syaratnya."
"Sebutkan."
"Aku yang berbicara atas namaku sendiri. Kalau hakim bertanya kepadaku, kau tidak menjawab. Kalau pengacaranya menyerangku, kau tidak berdiri. Kau duduk di kursi pengunjung seperti orang lain."
"Aku bisa melakukan itu."
"Benarkah?"
Jason tersenyum tipis ke arah jalan.
"Aku sedang belajar. Jangan minta hasil sempurna terlalu cepat."
Mobil berhenti di depan rumah keluarga Darron. Lampu teras menyala, dan tirai ruang tengah bergerak sedikit, tanda ada yang mengintip lalu pura-pura tidak.
Jason turun dan mengantar Valeri sampai gerbang.
Ia tidak menciumnya.
Ia hanya menggenggam tangan gadis itu, membalik telapaknya, dan menatap bekas luka kecil dari pecahan kaca di ujung jarinya yang belum sepenuhnya kering.
"Boleh aku memelukmu?"
Valeri mengerjap. Pertanyaan itu terasa aneh di telinganya, seperti kalimat dari bahasa yang baru ia pelajari.
Ia mengangguk.
Baru setelah itu Jason mendekat.
Pelukan itu tidak lama, dan tidak ada yang dramatis di dalamnya. Tetapi untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain, kedekatan itu tidak lahir dari cemburu, bukan dari ketakutan, dan bukan karena ada orang lain yang harus dikalahkan.
Ia lahir dari izin yang diucapkan dengan jelas, dan dijawab dengan jelas pula.