Valeri memasuki ruang sidang dengan langkah gemetar.
Ruangan itu lebih kecil dari yang ia bayangkan. Dingin, dengan pendingin udara yang berisik, dan bau kertas lama yang menempel di kursi kayu. Ia menghitung langkahnya sendiri supaya tidak menghitung detak jantungnya.
George duduk di belakang pengacaranya, memakai kemeja putih yang disetrika rapi. Rambutnya disisir. Ia terlihat seperti karyawan bank yang sedang menunggu giliran wawancara.
Ketika melihat Valeri masuk, ia tersenyum.
Senyum itu yang hampir membuat kaki Valeri berhenti bekerja.
Di kursi pengunjung, Jason duduk bersama Alena dan kedua orang tua Valeri. Ia menepati janjinya. Ia tidak berdiri ketika Valeri lewat, tidak mengulurkan tangan, tidak berjalan setengah langkah di depan seperti kebiasaannya. Ia hanya menatap, dan ketika mata mereka bertemu, ia mengangguk satu kali.
Itu saja. Dan anehnya, itu cukup.
Pengacara George membuka dengan suara yang sangat tenang.
Kliennya, katanya, adalah seorang lelaki muda yang tumbuh tanpa keluarga. Kliennya hanya ingin bertemu teman lama yang pernah menjadi satu-satunya orang yang baik kepadanya. Tidak ada niat melukai siapa pun. Segala hal yang terjadi di Gianyar adalah kesalahpahaman yang membesar karena kepanikan.
Jaksa tidak membantah dengan pidato.
Ia menaruh barang bukti satu per satu di meja.
Kamera pelacak yang ditemukan di bawah mobil. Cetakan pesan ancaman dari sebelas nomor berbeda. Berita acara penculikan Raka, lengkap dengan hasil pemeriksaan luka di pelipis wartawan itu. Foto dari kolam villa dengan wajah anak-anak yang dicoret. Dan terakhir, sebuah kantong plastik berisi pisau lipat yang masih bernoda.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Ketika giliran Valeri memberikan kesaksian, ia berdiri dan berjalan ke kursi saksi dengan lutut yang tidak bisa ia percayai.
Ia menceritakan semuanya sejak teror pertama. Sejak tahun kedua kuliah, ketika bunga tanpa nama mulai datang ke kos. Sejak lelaki itu berdiri di seberang jalan setiap malam tanpa melakukan apa-apa, karena berdiri saja tidak melanggar hukum. Sejak nomor pertama diblokir dan nomor kedua muncul di hari yang sama.
Pengacara George berdiri setelah ia selesai.
"Nona Valeri, apakah benar Anda dan terdakwa dulu sangat dekat?"
"Kami satu panti."
"Apakah Anda pernah berkata akan selalu bersama terdakwa?"
Valeri menarik napas.
"Kami masih anak-anak ketika berteman di panti," katanya. "Aku berumur sembilan tahun. Janji seorang anak bukan izin untuk menguntit, menculik, atau mengendalikan hidup orang dewasa."
Di kursinya, George kehilangan senyum.
"Dia bohong!"
Suaranya memecah ruangan. Ia berdiri, mendorong kursi sampai terjatuh, sementara pengacaranya berusaha menariknya duduk kembali.
"Dia tidak pernah bicara seperti itu! Lelaki itu yang mengajarinya! Jason yang mencuci otaknya! Valeri, lihat aku. Lihat aku!"
Dua petugas menahan lengannya dari kanan dan kiri. Hakim mengetukkan palu tiga kali.
Valeri tidak menoleh.
Ia menatap lurus ke depan, ke arah dinding kosong di belakang kursi hakim, dan tidak memberikan satu pun tatapan yang diminta lelaki itu.
Hakim mempertahankan status penahanan.
Permohonan pengacara ditolak, dan sebagai gantinya majelis memerintahkan pemeriksaan kejiwaan oleh dokter independen yang ditunjuk pengadilan, bukan oleh pihak terdakwa. Dalam pertimbangannya, hakim menyebut satu kalimat yang terus diingat Valeri sampai berhari-hari kemudian.
Gangguan apa pun, jika memang ada, tidak secara otomatis menghapus tanggung jawab pidana.
Valeri bertahan sampai pintu ruang sidang tertutup di belakangnya.
Ia berjalan cepat menyusuri koridor, masuk ke toilet, dan muntah sampai tidak ada yang tersisa. Tubuhnya bergetar hebat. Ia duduk di lantai keramik yang dingin dengan punggung menempel dinding, dan menunggu napasnya kembali.
Ketika ia keluar, Jason berdiri di koridor.
Lelaki itu tidak menyentuhnya. Tidak memeluk, tidak menepuk bahu, tidak memegang lengannya untuk menuntun. Ia hanya berdiri di jarak satu meter, memegang botol air mineral yang sudah dibuka tutupnya, dan menunggu.
Valeri mengambil botol itu, minum, lalu meraih tangannya sendiri.
"Aku mengira setelah dia ditangkap aku tidak akan takut lagi," katanya serak.
"Takut tidak hilang karena satu pintu dikunci."
"Lalu bagaimana hilangnya?"
"Aku tidak tahu."Jason menggenggam tangannya lebih erat, "Tapi aku tahu kau tidak harus mengurusnya sendirian, dan aku tahu ada orang yang belajar bertahun-tahun untuk membantu hal seperti ini. Aku bukan salah satunya."
Valeri tertawa kecil, meski matanya masih basah.
Hari itu juga ia meminta Alena mencarikan nama seorang konselor. Bukan karena Jason menyuruh. Karena ia tidak ingin seluruh sisa hidupnya terus dibentuk oleh apa yang George lakukan kepadanya.
Sanna juga hadir di sidang itu, memberikan keterangan sebagai saksi mengenai kebocoran jadwal.
Ia terlihat lebih kurus. Riasannya tipis, dan ia menjawab semua pertanyaan tanpa mencoba memperhalus perbuatannya sendiri.
Setelah sidang, ia menemui Valeri di pelataran gedung.
"Aku minta maaf," katanya. "Bukan lewat pengacara. Langsung."
Valeri menunggu.
"Aku ingin mempermalukanmu. Itu tujuanku waktu mengirim jadwal itu. Aku ingin orang-orang menertawakanmu di internet selama seminggu, lalu selesai."Sanna menunduk, "Aku tidak memikirkan akibatnya. Sekarang ada orang yang hampir mati karena aku tidak berpikir."
"Aku belum bisa memaafkan sekarang," kata Valeri.
"Aku mengerti."
"Tapi aku mendengarmu. Itu yang bisa kuberikan hari ini."
Sanna mengangguk, lalu berjalan ke arah Jason yang berdiri beberapa langkah jauhnya.
Tidak ada pelukan. Tidak ada air mata yang panjang, tidak ada kalimat besar tentang cinta yang gagal. Mereka hanya berbicara selama empat menit, menyepakati bahwa pembatalan pertunangan berjalan sesuai surat, dan bahwa seluruh akibat bisnisnya akan diselesaikan lewat pengacara masing-masing.
Kemudian Sanna pergi, dan tidak menoleh ke belakang.
Malamnya, berita sidang tersebar di mana-mana.
Valeri membukanya dengan tangan dingin, siap membaca kalimat-kalimat yang sama seperti minggu lalu.
Tetapi kali ini berbeda.
Namanya disebut sebagai korban yang melawan. Foto yang dipakai bukan foto bandara, melainkan foto dirinya berdiri di kursi saksi. Dan di kolom komentar, di antara orang-orang yang selalu punya pendapat tentang apa saja, ada puluhan perempuan yang menulis pengalaman mereka sendiri, yang selama ini tidak pernah mereka laporkan karena tidak ada yang percaya.
Valeri membaca komentar-komentar itu sampai lewat tengah malam, dan menangis untuk alasan yang sama sekali berbeda.
Bel rumah berbunyi pukul delapan.
Ketika Valeri membuka pintu, tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah kantong kertas di lantai teras, masih hangat, berisi bubur ayam dan dua botol air.
Mobil Jason masih terparkir di seberang jalan. Lelaki itu duduk di dalamnya, tidak turun, tidak menelepon, tidak memaksa masuk.
Valeri mengetuk kaca mobilnya.
"Masuk," katanya. "Bubur satu tidak akan habis kalau kumakan sendiri."
Mereka makan di ruang tengah, di lantai, dengan mangkuk di atas meja kecil. Tidak ada yang bicara selama sepuluh menit pertama.
Lalu Valeri meletakkan sendoknya.
"Aku memilihmu, Jason," katanya. "Bukan karena kau menyelamatkanku di koridor itu. Aku sudah memikirkannya berhari-hari, dan jawabannya tetap kau."
Jason berhenti mengunyah.
"Tapi aku ingin hubungan yang tidak membuat kita saling memiliki," lanjut Valeri. "Aku tidak mau jadi milik siapa pun lagi. Tidak milikmu, tidak milik ayahku, tidak milik siapa-siapa."
Jason menatapnya lama, dan ketika ia menjawab, suaranya pelan sekali.
"Aku juga memilihmu. Dan aku akan belajar mencintaimu tanpa mengatur seluruh hidupmu."