Proposal JYS Corp tiba di meja ayah Valeri pada Selasa pagi, lewat sekretaris, dengan amplop resmi dan tanpa satu pun kalimat pribadi di dalamnya.
Valeri tahu isinya, tetapi ia baru melihat map itu ketika ayahnya memanggilnya ke ruang kerja di rumah pada malam harinya.
Ia masuk dengan hati siap bertengkar.
"Kalau Papa mau aku membujuk Jason menurunkan angkanya, aku tidak mau."
"Siapa yang bicara soal membujuk?"
"Aku tidak mau dipakai sebagai jembatan hubungan kalian, Pa. Aku sudah cukup capek menjadi alasan orang lain mengambil keputusan."
Ayahnya melepas kacamata bacanya dan meletakkannya di atas map.
"Duduk."
Valeri duduk.
"Di perusahaan ini ada dua belas analis. Tidak satu pun dari mereka pernah menginjak lahan itu. Kau pernah. Kau berjalan di pematangnya, kau bicara dengan warganya, kau yang mengubah jalur pipa supaya saluran mereka tidak mati."Lelaki itu mengetuk map dengan jari, "Kau diminta sebagai analis. Bukan sebagai anak, bukan sebagai pacar siapa pun."
"Pa—"
"Dan satu hal lagi. Kalau kau menolak karena Jason, itu juga keputusan yang dipengaruhi hubungan pribadi. Kau hanya membalik arahnya."
Valeri membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia benci ketika ayahnya benar.
"Aku mau," katanya akhirnya. "Dengan syarat ada penilai lain yang memeriksa hasilku. Bukan untuk mengawasiku. Supaya kalau nanti ada yang bertanya, jawabannya bukan hanya nama belakangku."
Ayahnya tersenyum tipis untuk pertama kalinya dalam dua minggu.
"Sudah kusiapkan dua orang."
Valeri mengerjakannya selama delapan hari.
Kesimpulannya tidak seperti yang diharapkan siapa pun di kedua belah pihak.
Proyeknya layak. Sangat layak, bahkan, dengan perhitungan pengembalian yang masuk akal dan risiko lingkungan yang sudah ditutup sejak revisi desain. Tetapi struktur investasi yang diajukan JYS Corp terlalu berisiko bagi JYS Corp sendiri. Dana besar sekaligus, dengan jaminan saham yang terlalu banyak, akan membuat perusahaan itu keluar dari cengkeraman satu keluarga hanya untuk masuk ke cengkeraman keluarga lain.
"Kalau kita menyetujui bentuk ini," tulisnya dalam laporan, "kita bukan menyelamatkan mereka. Kita membeli mereka dengan harga murah karena mereka sedang panik."
Count Company akhirnya mengusulkan kemitraan bertahap. Tiga termin, dengan target kinerja yang jelas di setiap tahap, dan tanpa kursi dewan tambahan di dua termin pertama.
Bukan bantuan penyelamatan. Kerja sama.
Jason mempresentasikan proposal itu kepada dewan JYS Corp pada Kamis siang.
Ia tidak duduk di kursi kepala meja. Karena sudah tidak menjabat CEO, ia duduk di sisi panjang, di antara pemegang saham lain, dan menerima pertanyaan seperti orang luar.
Pertanyaannya tidak ramah.
Kenapa Count Company. Apakah ada hubungan dengan karyawan tertentu. Apakah syaratnya sudah dibaca bagian hukum atau baru dibaca oleh yang mengusulkan.
Jason menjawab satu per satu tanpa menghindar, dan ketika sampai pada pertanyaan yang semua orang sebenarnya tunggu, ayah Valeri sendiri yang menjawab lewat sambungan video.
"Investasi ini tidak berkaitan dengan hubungan anak kami," katanya datar. "Kalau angka-angka ini jelek, saya akan menolak meski Anda menikahi putri saya besok pagi. Semua syarat kami sudah tertulis. Silakan dicatat dan dibuka kepada siapa pun."
Seluruh persyaratan dibacakan terbuka di ruangan itu dan dimasukkan ke risalah rapat.
Dewan menyetujui kemitraan sore itu juga.
JYS Corp akhirnya mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada dana. Waktu. Waktu untuk memperbaiki keuangan tanpa harus tunduk kepada keluarga Sanna.
Beberapa komisaris langsung mendesak Jason kembali menjabat minggu itu juga.
Ia menolak.
"Audit internal belum selesai," katanya. "Saya minta diselesaikan dulu."
Yang tidak ia katakan di ruangan itu, tetapi ia katakan kepada Valeri malamnya di kedai yang sama, adalah apa yang sudah ditemukan audit itu sejauh ini.
"Pertunangan itu masuk ke risalah rapat sebagai bagian dari perjanjian investasi," katanya sambil memutar gelas tehnya. "Tidak ada satu pun pemeriksaan konflik kepentingan. Tidak ada bagian hukum yang diminta pendapatnya. Tidak ada catatan bahwa pihak yang ditunangkan pernah ditanya."
"Kau tidak pernah ditanya?"
"Aku diberi tahu."
Valeri terdiam.
"Kalau aku kembali tanpa memperbaiki sistem," lanjut Jason, "masalah yang sama akan terjadi kepada orang berikutnya. Mungkin bukan aku. Mungkin anak komisaris yang sekarang masih kuliah."
Valeri mulai bekerja sebagai koordinator proyek pada hari Senin.
Namanya sudah diganti di papan struktur, dan kartu aksesnya sudah dicetak ulang. Ia bukan lagi asisten pribadi siapa pun, meski mejanya masih berada di lantai yang sama dan masih menghadap jendela yang sama.
Pada hari pertama, Jason memanggilnya ke ruang rapat bersama empat orang tim proyek.
"Valeri, tolong buatkan kopi."
Ruangan itu langsung sunyi.
Valeri menatapnya datar. "Itu bukan tugas koordinator proyek."
Jason membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.
Lalu ia berdiri, berjalan ke sudut ruangan, dan membuat kopinya sendiri dengan gerakan orang yang jelas-jelas tidak tahu perbandingan air dan bubuk. Seluruh staf menunduk ke berkas masing-masing, menahan tawa dengan berbagai tingkat keberhasilan.
"Aku belum terbiasa," katanya sambil kembali duduk.
"Biasakan, mantan Boss."
Ethan tersedak air.
Hubungan mereka menjadi bahan gosip di seluruh lantai dalam waktu dua hari.
Bedanya, Valeri tidak lagi bersembunyi. Ketika seorang staf bertanya setengah bercanda di pantry, ia menjawab dengan jujur, singkat, lalu kembali ke pekerjaannya. Tidak ada yang lebih cepat membunuh gosip selain jawaban yang membosankan.
Yang lebih penting, ia tidak sekali pun menggunakan kedekatan itu untuk mendapatkan keputusan. Setiap laporannya lewat dua atasan lain sebelum sampai ke meja mana pun, dan ketika Jason mengusulkan sesuatu yang menurutnya merugikan warga, ia menolaknya di depan tim.
"Kau menolak usul mantan bosmu," bisik Ethan setelah rapat.
"Aku menolak usul yang jelek," jawab Valeri. "Kebetulan pemiliknya dia."
Sore hari, Alena datang ke ruang proyek sambil membawa map biru dan wajah yang sulit dibaca.
"Dewan sudah memutuskan," katanya. "Setelah audit selesai, mereka menawarkan posisi CEO kembali kepada Kak Jason."
"Itu kabar bagus," kata Valeri.
"Ada syaratnya."Alena membuka map itu, "Perusahaan akan membuat kebijakan baru tentang hubungan antarkaryawan. Supaya tidak ada lagi penyalahgunaan kekuasaan seperti kasus sebelumnya."
Ruangan itu hening.
Jason mengangkat wajahnya perlahan dan menatap Valeri.
Keduanya menghitung hal yang sama, dalam waktu yang sama. Kalau Jason kembali menjadi CEO, maka setiap penilaian terhadap Valeri, setiap kenaikan jabatan, setiap proyek yang dipercayakan kepadanya, akan selalu bisa dipertanyakan. Bukan oleh orang jahat. Oleh siapa pun yang berpikir waras.
"Aku tidak ingin kau meninggalkan pekerjaan yang baru kau bangun," kata Jason.
"Dan aku tidak ingin kau menolak pekerjaan hanya karena aku."
Mereka saling menatap di ruangan yang mulai gelap karena matahari sudah turun di balik gedung seberang.
Ancaman dari luar sudah selesai. George ada di dalam tahanan, Sanna sudah pergi, investasi sudah aman.
Sekarang yang tersisa justru yang paling sulit. Mereka harus menemukan cara agar cinta tidak kembali menjadi alasan salah satu dari mereka mengorbankan pilihan hidupnya sendiri.