Mereka menemui bagian hukum perusahaan pada Rabu pagi, berdua, tanpa didahului bisik-bisik atau surat rahasia.
Kepala bagian hukum itu perempuan berusia lima puluhan yang sudah dua puluh tahun bekerja di JYS Corp. Ia mendengarkan tanpa mengubah ekspresi sama sekali, lalu mulai menulis.
"Jadi Anda berdua datang untuk melaporkan hubungan pribadi," katanya, "sebelum ada yang melaporkannya."
"Ya, Bu," jawab Valeri.
"Dan Anda meminta struktur kerja yang memisahkan wewenang Pak Jason dari penilaian terhadap Anda."
"Ya."
Perempuan itu meletakkan pulpennya.
"Dalam dua puluh tahun, ini pertama kalinya ada yang datang ke ruangan ini untuk minta dipersulit."
Hasilnya keluar sepuluh hari kemudian dalam bentuk tiga lembar ketentuan.
Valeri dipindahkan ke unit kerja sama strategis, di bawah direktur yang berbeda dan jalur pelaporan yang berbeda. Jason tidak memiliki kewenangan apa pun atas gajinya, promosinya, atau evaluasi kinerjanya. Setiap komunikasi mengenai proyek harus melalui saluran resmi dan tercatat, persis seperti karyawan lain.
Jason membaca lembar terakhir dengan alis yang semakin turun.
"Romantis sekali,"keluhnya, "Aku harus membuat jadwal resmi untuk rapat dengan pacarku."
"Di kantor aku bukan pacarmu."
"Lalu siapa?"
"Koordinator yang bisa menolak proposalmu."Valeri mengambil map itu dari tangannya dan menutupnya, "Dan sekarang menolaknya tanpa dituduh sedang merajuk."
Jason menerima kembali jabatan CEO tiga minggu kemudian, setelah audit selesai dan dewan mengesahkan kebijakan hubungan antarkaryawan.
Pada pidato pertamanya di aula lantai dasar, di depan hampir seluruh karyawan, ia tidak berbicara tentang target atau pertumbuhan.
"Selama tiga bulan terakhir saya tidak ada di kursi ini," katanya. "Sebagian dari kalian mengira itu karena konflik investasi. Itu benar, tapi tidak lengkap. Saya juga memakainya untuk memahami sesuatu yang seharusnya sudah saya pahami sejak lama, yaitu di mana batas antara perusahaan dan kehidupan pribadi orang-orang yang bekerja di dalamnya."
Ia berhenti sebentar.
"Perusahaan ini pernah memasukkan pertunangan seseorang ke dalam risalah rapat sebagai syarat investasi. Orang itu saya. Dan karena saya diam waktu itu, sekarang saya yang harus memastikan itu tidak pernah terjadi lagi kepada siapa pun di ruangan ini."
Tepuk tangannya lambat pada awalnya, lalu penuh.
Valeri tetap membuktikan pekerjaannya dengan cara yang paling membosankan dan paling meyakinkan, yaitu hasil.
Proyek Bali memasuki tahap pembangunan pada bulan berikutnya. Saluran air warga dipertahankan seluruhnya, dan dua titik tambahan justru diperbaiki atas biaya perusahaan. Ethan menjadi pengawas lapangan dan mengirim laporan rutin setiap Jumat, lengkap dengan foto dan kadang-kadang foto anjing kampung yang tidur di atas tumpukan pipa.
Hubungan mereka sendiri tidak selalu mudah.
Jason masih mudah cemburu. Ketika Ethan menelepon pukul sembilan malam untuk membahas jadwal pengecoran, Jason bisa diam selama dua puluh menit sesudahnya, pura-pura membaca sesuatu di ponselnya.
Dan Valeri masih cenderung menyembunyikan masalah. Ketika seorang vendor mengirim pesan yang tidak pantas, ia hampir menghapusnya begitu saja, persis seperti dulu, supaya tidak dianggap merepotkan.
Mereka bertengkar dua kali karena dua kebiasaan itu.
Setelah pertengkaran kedua, mereka duduk di lantai ruang tamu apartemen Jason dengan selembar kertas di antara mereka, dan menulis aturan sendiri.
Tidak menggunakan diam sebagai hukuman. Kalau marah, katakan marah, dan katakan kenapa.
Tidak membaca ponsel yang lain tanpa izin. Tidak sekali pun, tidak dengan alasan apa pun.
Tidak mengambil keputusan besar atas nama pasangan, meski niatnya baik, meski yakin akan disetujui.
Jason membaca ulang tulisan tangan Valeri yang jelek itu, lalu menempelkannya di pintu kulkas dengan magnet berbentuk bebek yang mereka beli di Bali.
Suatu malam di bulan berikutnya, Jason datang ke rumah keluarga Darron untuk makan bersama.
Ia tidak membawa cincin. Tidak ada biola, tidak ada bunga sekeranjang, tidak ada rencana kejutan yang disiapkan tiga minggu dan melibatkan tujuh orang.
Ia hanya membawa dua kotak kue dan datang tepat waktu.
Makan malam itu berjalan biasa. Ibunya bertanya tentang kepala Jason yang sudah sembuh, ayahnya bertanya tentang termin kedua kemitraan, dan Valeri diam-diam menghitung berapa kali lelaki itu hampir mengoreksi cara memegang sendok.
Setelah piring diangkat, Jason meletakkan tangannya di atas meja.
"Om, Tante, boleh saya bicara sebentar?"
Ayah Valeri bersandar. "Bicara saja."
"Saya serius dengan Valeri," kata Jason. "Tapi saya tidak datang meminta kepemilikan atas putri Anda. Saya tidak datang untuk meminta izin membawanya ke mana-mana, atau meminta restu untuk sesuatu yang belum tentu dia mau. Saya hanya ingin keluarga ini mengetahui niat saya, supaya tidak ada yang perlu ditebak."
Ibunya menoleh ke suaminya.
Lelaki itu menatap Jason lama sekali. Cukup lama sampai Valeri hampir menyela.
"Niat baik harus dibuktikan dalam waktu," katanya akhirnya.
"Saya setuju."
"Bukan enam bulan."
"Saya tetap setuju."
Ayahnya mengangguk sekali, lalu berdiri dan pergi mengambil kopi tanpa berkata apa-apa lagi. Dari dapur terdengar suaranya berkata kepada istrinya bahwa kue yang dibawa Jason terlalu manis.
Itu, menurut ukuran rumah ini, adalah sambutan yang hangat.
Di teras, Valeri duduk di ayunan kayu sementara Jason bersandar di tiang.
"Kau kecewa tidak dapat restu langsung?"
"Tidak."Jason menggeleng, "Ayahmu benar. Aku belum membuktikan apa-apa. Aku baru berhenti melakukan hal-hal yang salah, dan itu bukan prestasi. Itu baru garis nol."
Valeri mendorong ayunan dengan ujung kakinya.
"Kau berubah, ya. Jason yang dulu pasti sudah membawa kontrak persetujuan lengkap dengan meterai."
"Aku masih membawa kontrak."
"Apa?"
Jason mengeluarkan lipatan kertas dari saku celananya, sudah agak lecek, dan menyerahkannya.
Valeri membukanya dengan curiga.
Itu bukan lamaran. Itu daftar. Tulisan tangan Jason, rapi seperti orang yang terbiasa menulis notulen, berisi empat belas nama tempat makan. Warung sate di Blok M. Kedai kopi dekat kantor polisi tempat mereka menunggu tiga jam. Rumah makan Padang di Gianyar yang dulu tidak sempat mereka datangi. Di ujung bawah ada kolom kecil bertuliskan tanda tangan pihak kedua.
"Kau menyebut ini kontrak?"
"Ada kolom tanda tangan."
"Ini daftar makan!"
"Kontrak yang menyenangkan tetap kontrak."
Valeri tertawa sampai ayunannya berderit, lalu meminjam pulpen dari saku kemeja Jason dan menandatangani bagian paling bawah dengan tanda tangan yang sengaja dibuat berlebihan.
Ponselnya bergetar tepat setelah itu.
Sebuah surel masuk. Nama klinik di baris pengirim, dan di dalamnya jadwal terapi pertamanya, Selasa depan, pukul empat sore.
Valeri membacanya dua kali.
Lalu ia memutar layar ponselnya dan menunjukkannya kepada Jason, tanpa diminta, tanpa ditanya lebih dulu.
"Selasa," katanya. "Jam empat."
Jason membacanya, lalu mengangguk.
"Kau mau aku menemani?"Tanyanya.
Valeri menimbang sebentar.
"Antar saja. Aku masuk sendiri."
"Baik."
Hanya itu. Satu kata, tanpa tawar-menawar, tanpa kalimat tambahan tentang bagaimana sebaiknya, tanpa usaha membuat Valeri berubah pikiran dengan cara halus.
Dan justru kata yang sesederhana itu yang menjadi bukti bahwa daftar di pintu kulkas mereka bukan sekadar tulisan. Mereka sedang belajar berjalan berdampingan tanpa salah satunya menarik yang lain ke arah yang tidak dipilihnya.