Healing does not mean
the wound never existed.
-Valeri Valentine Darron-
****
Klinik itu berada di lantai tiga sebuah gedung kecil di Kebayoran, dengan papan nama yang tidak mencolok dan lift yang berbunyi setiap kali pintunya menutup.
Jason memarkir mobilnya di seberang jalan, tepat pukul empat kurang sepuluh.
"Sampai sini saja," kata Valeri sambil membuka sabuk pengaman.
"Aku tahu."
"Kau ingat perjanjiannya?"
"Antar. Tidak masuk. Tidak menunggu di lobi supaya kau tidak merasa diawasi."Jason menghela napas, "Aku ingat. Aku bahkan menghafalnya."
Valeri tersenyum, menutup pintu, dan menyeberang.
Jason benar-benar menunggu di mobil.
Ia sempat tiga kali memegang gagang pintu. Yang pertama ketika ia melihat gadis itu berhenti sebentar di depan pintu kaca, seperti ragu. Yang kedua ketika pukul empat lewat dua puluh dan tidak ada kabar apa-apa. Yang ketiga entah kenapa, hanya karena tangannya bergerak sendiri.
Setiap kali, ia melepaskan gagang itu kembali.
Ia menghabiskan satu jam dengan membuka surel yang sudah dibacanya, membaca berita yang tidak ia ingat isinya, dan memandangi lantai tiga gedung itu dari bawah seperti orang bodoh.
Di dalam, ruangan itu lebih hangat dari yang Valeri duga.
Ada dua kursi berhadapan, satu kotak tisu di meja kecil, dan jendela yang tirainya dibuka sedikit sehingga cahaya sore masuk membentuk garis di lantai. Konselornya seorang perempuan berusia empat puluhan, berbicara pelan, dan tidak sekali pun terburu-buru mengisi keheningan.
Valeri butuh waktu sepuluh menit pertama hanya untuk duduk dengan benar.
Lalu ia mulai bicara, dan ternyata sulit berhenti.
Ia menceritakan mimpi buruknya. Selalu tiga bentuk yang sama, bergantian. Panti asuhan dengan koridor yang tidak pernah habis. George yang berdiri di ujung lorong tanpa melakukan apa-apa, hanya berdiri, dan justru itu yang membuatnya terbangun dengan napas tercekat. Dan api. Api yang menjalar dari ujung koridor, dengan asap yang rasanya benar-benar masuk ke tenggorokannya, sampai ia bangun sambil batuk-batuk di kamar yang udaranya bersih.
Ia juga mengaku hal yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
"Aku memeriksa jendela sebelum tidur," katanya. "Bukan sekali. Aku menghitung sampai enam. Kadang sampai sepuluh. Kalau aku sudah berbaring dan lupa hitungannya, aku bangun dan mengulang dari awal."
"Berapa lama itu berlangsung?"
"Sejak Bali." Valeri berhenti. "Tidak. Sejak kuliah. Dulu cuma dua kali. Sekarang enam."
Konselor itu mencatat sesuatu, lalu meletakkan pulpennya.
"Valeri, saya mau meluruskan satu hal yang mungkin sudah kamu katakan sendiri berkali-kali di kepalamu."Suaranya tenang, "Kamu tidak lemah karena tubuhmu masih merasa terancam. Tubuhmu sedang belajar bahwa bahaya itu sudah berlalu. Itu proses, dan prosesnya lebih lambat dari pengadilan."
Mata Valeri panas mendadak.
"Sudah dua bulan."
"Tubuh tidak membaca kalender."
Sesi itu berakhir dengan dua hal yang sangat sederhana. Latihan pernapasan, empat hitungan masuk, tujuh hitungan tahan, delapan hitungan keluar. Dan sebuah buku catatan kecil untuk menuliskan setiap kali rasa takut itu datang, apa yang terjadi tepat sebelumnya, dan berapa lama ia bertahan.
"Ini bukan tugas sekolah," kata konselor itu ketika mengantarnya ke pintu. "Tidak ada nilai, tidak ada tenggat. Kalau minggu depan bukumu kosong, kita bicarakan kenapa kosong. Itu juga data."
Jason menegakkan punggungnya begitu melihat Valeri keluar dari gedung.
Gadis itu masuk ke mobil, menutup pintu, dan bersandar ke jok tanpa berkata apa-apa selama beberapa detik.
Jason tidak bertanya apa yang dibicarakan. Ia juga tidak bertanya apakah konselornya bagus, apakah perlu mencari yang lain, apakah biayanya sudah dibayar.
"Bagaimana perasaanmu?"Tanyanya.
Valeri memikirkan pertanyaan itu sungguh-sungguh.
"Lelah," katanya. "Tapi sedikit lebih ringan."
"Mau makan?"
"Mau."
Mereka makan di tempat yang tenang, dan Jason tidak sekali pun berusaha memperbaiki suasana dengan lelucon berlebihan atau cerita lucu yang dipaksakan. Ia membiarkan Valeri diam ketika ingin diam, dan menjawab ketika Valeri bicara.
Valeri menyadarinya di tengah makan malam itu, sambil memandangi lelaki yang dulu menerobos pintu kamarnya dengan ancaman kunci cadangan.
Jason juga sedang belajar sesuatu. Belajar hadir tanpa mengambil alih. Dan itu, bagi lelaki seperti dia, mungkin sama sulitnya dengan enam kali memeriksa jendela.
Kebijakan baru perusahaan diuji dua minggu kemudian, dan yang mengujinya justru seorang direktur senior.
Ia menolak laporan tahap kedua proyek Bali di depan rapat, lalu menambahkan satu kalimat yang tidak ada hubungannya dengan angka mana pun.
"Saya hanya ingin memastikan laporan ini dinilai karena isinya, bukan karena penyusunnya sedang dekat dengan Pak CEO."
Beberapa orang di ruangan itu menahan napas.
Valeri tidak meninggikan suara. Ia membuka map di depannya, lalu berbicara dengan nada yang sama datarnya.
"Saya minta penolakan ini dibuat tertulis, Pak. Dengan alasan teknis yang spesifik, bagian mana yang Bapak anggap salah. Dan saya minta evaluasi independen oleh dua direktorat lain terhadap seluruh data lapangan."
"Itu akan memakan waktu."
"Tiga hari," kata Valeri. "Datanya sudah lengkap. Yang lama biasanya bukan memeriksa, tapi mengakui hasilnya."
Jason mengetahui masalah itu sore harinya, dari Alena, bukan dari Valeri.
Ia tidak ikut campur.
Tidak menelepon direktur itu. Tidak masuk ke rapat evaluasi. Tidak mengirim satu pesan pun yang bisa dibaca sebagai tekanan.
Tiga hari kemudian, dua direktorat lain menyatakan seluruh data laporan Valeri benar, dan satu di antaranya menambahkan catatan bahwa perhitungan debit airnya lebih teliti dari standar perusahaan.
Malamnya, di mobil, Valeri bersandar ke jendela.
"Kau tidak membelaku."
"Tidak."
"Aku tahu alasannya. Aku cuma ingin dengar kau mengatakannya."
Jason menatap jalan di depan.
"Kau meminta penilaian independen," katanya. "Kalau aku masuk ke ruangan itu, hasilnya tetap sama, tapi kemenanganmu justru dipertanyakan sampai sepuluh tahun ke depan. Setiap orang di kantor akan bilang laporan itu lolos karena CEO marah, bukan karena benar."
Valeri mengangguk pelan.
"Aku tidak marah," katanya. "Aku hanya belum terbiasa. Seumur hidup, kalau ada yang menyerangku, selalu ada yang berdiri di depanku. Ayahku. Kau. Rasanya aneh berdiri sendiri dan menang."
"Rasanya bagaimana?"
Valeri berpikir sebentar.
"Lebih capek," katanya. "Tapi ini milikku."
Ponselnya berdering pukul sembilan malam, ketika mereka baru sampai di depan rumah.
Nomor kejaksaan.
Ia menyalakan pengeras suara dan mendengarkan. Hasil pemeriksaan kejiwaan independen sudah keluar. Terdakwa dinyatakan memahami perbuatannya dan dapat dimintai pertanggungjawaban secara pidana. Persidangan utama akan dimulai bulan depan, dan Valeri kembali akan dipanggil sebagai saksi.
Ia mengucapkan terima kasih dengan suara yang terdengar normal.
Lalu ia menutup telepon, dan tangannya dingin sampai ke pergelangan.
Jason tidak langsung bergerak.
"Kau mau ditemani," tanyanya, "atau mau diberi ruang?"
Valeri menoleh. Pertanyaan itu, dua bulan lalu, tidak akan pernah keluar dari mulut lelaki ini.
"Ditemani," jawabnya.
Jason mematikan mesin, lalu duduk di sampingnya.
Ia tidak berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak berkata bahwa George pasti dihukum, bahwa persidangan pasti cepat, bahwa tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.
Mereka hanya duduk di mobil yang gelap, di depan rumah yang lampunya menyala, dan tinggal bersama rasa takut itu sampai napas Valeri kembali teratur.
Empat hitungan masuk. Tujuh ditahan. Delapan keluar.
Berkali-kali, sampai cukup.