Laporan Ethan masuk pada Jumat pagi, dan untuk pertama kalinya tidak ada foto anjing kampung di dalamnya.
Sekelompok warga menolak pembangunan JYS Corp. Hampir empat puluh orang berkumpul setiap sore di depan gerbang proyek sejak Rabu. Alat berat dihentikan.
Di lampirannya ada foto selebaran yang mereka terima.
Valeri membacanya sekali, lalu berdiri dari kursinya.
"Ini palsu."
"Kau yakin?"Tanya Alena.
"Aku yang menulis desainnya."Valeri menunjuk layar, "Di sini tertulis saluran air warga akan ditutup permanen. Yang benar, saluran itu dipindah dua puluh meter dan diperlebar atas biaya kita. Di sini tertulis dua belas hektare sawah digusur. Yang benar, nol. Angka-angka ini bukan salah ketik, Alena. Ini dikarang oleh orang yang membaca dokumen lama kita, lalu membaliknya."
Jason yang berdiri di belakangnya langsung mengangkat ponsel.
"Aku kirim tim hukum besok. Somasi, laporan pidana, sekalian—"
"Jangan."
Jason menoleh.
"Kalau yang pertama datang ke desa itu pengacara berjas," kata Valeri, "warga akan yakin selebaran itu benar. Orang tidak mengirim pengacara untuk hal yang bisa dijelaskan."
"Lalu apa?"
"Pertemuan terbuka. Balai desa. Aku yang datang, bersama tim proyek, dengan seluruh dokumen asli."
Jason ingin membantah. Valeri melihatnya dari cara bahu lelaki itu bergerak. Tetapi yang keluar hanya satu kalimat.
"Kapan berangkat?"
Valeri berangkat Minggu sore bersama enam orang tim proyek.
Sesuai ketentuan perusahaan, Jason tidak ikut. Kehadirannya di lapangan hanya akan membuat setiap keputusan di sana bisa dipersoalkan kemudian. Ia baru datang sehari berikutnya sebagai perwakilan dewan, setelah undangan resmi dikirim kepala desa.
Balai desa itu penuh sejak pukul sembilan pagi.
Orang-orang duduk di lantai, di kursi plastik, sampai ke teras luar. Bau kopi tubruk dan rokok kretek bercampur panas dari atap seng.
Seorang lelaki paruh baya berdiri lebih dulu.
"Sebelum Ibu bicara," katanya, "kami mau tanya ini dulu."
Ia meletakkan selembar dokumen di meja depan.
Kertas berkop JYS Corp. Nomor surat lengkap. Dan di bagian bawah, tanda tangan Jason James Heilton.
Isinya perintah penutupan saluran irigasi utara per tanggal yang sudah lewat dua minggu.
Valeri memeriksanya di bawah cahaya jendela. Jantungnya berdebar, tetapi tangannya tidak gemetar.
Nomor suratnya ada. Format kopnya benar. Bahkan jenis hurufnya benar.
Hanya tanda tangannya yang salah. Terlalu rapi. Terlalu mirip.
"Ini palsu, Pak," katanya. "Dan yang membuatnya bukan orang iseng. Ini dibuat orang yang pernah memegang surat asli kami."
Di sudut ruangan, Ethan mengangkat kepalanya dari ponsel.
Sore sebelumnya ia menelusuri siapa yang pertama membagikan selebaran itu. Jawabannya seorang lelaki yang menginap tiga malam di penginapan dekat pasar, membayar tunai, dan tercatat sebagai staf lapangan perusahaan bernama Ardent Group.
Perusahaan yang dipimpin paman Sanna.
Valeri membaca nama itu dari layar ponsel Ethan.
Ia tidak menyebut satu nama pun di depan warga.
"Saya tidak akan menuduh siapa-siapa di ruangan ini," katanya. "Saya cuma akan membuka semua yang kami punya."
Ia membentangkan peta asli di meja panjang, lengkap dengan garis saluran lama dan saluran baru. Ia membagikan salinan surat persetujuan yang ditandatangani kepala desa delapan bulan lalu. Ia memutar rekaman pengukuran debit air yang ia lakukan bersama dua warga sebagai saksi. Dua orang itu ada di ruangan, dan keduanya mengangguk.
Pertemuan berjalan tiga jam.
Pada akhirnya, seorang ibu yang sejak tadi diam di barisan belakang mengangkat tangan.
"Kami percaya Ibu," katanya. "Tapi Ibu bisa pindah kerja tahun depan. Yang tinggal di sini kami. Jadi kami minta jaminan saluran itu ditulis di kontrak. Bukan janji di ruangan ini."
Ruangan itu hening menunggu jawaban.
"Itu permintaan yang wajar," kata Valeri.
Jason tiba keesokan harinya.
Ia tidak berpidato. Ia mendengarkan satu jam pertama, membiarkan tim proyek yang menjelaskan, dan baru bicara ketika kepala desa mempersilakannya.
Perubahan kontrak yang diminta warga sudah diperiksa bagian hukum semalaman. Jaminan saluran air masuk sebagai pasal, dengan sanksi jika dilanggar. Jason menandatanganinya di depan semua orang, dan salinannya diserahkan kepada kepala desa.
Ia juga menyetujui hal yang tidak diminta siapa pun.
"Kami akan membentuk tim pengawas dari warga," katanya. "Tiga orang, dipilih kalian sendiri, bukan oleh kami. Mereka boleh masuk ke lokasi kapan saja, dan laporan mereka dikirim langsung ke dewan. Bukan lewat saya."
Pertemuan hampir selesai ketika kaca jendela balai desa pecah.
Batu pertama jatuh di tengah ruangan, batu kedua mengenai tiang. Orang-orang berteriak, beberapa ibu menarik anaknya ke bawah meja, dan dari luar terdengar teriakan bahwa warga sudah dibeli perusahaan.
Jason menarik Valeri ke sisi dinding, lalu melepaskannya begitu jarak aman.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa."
Polisi dari kecamatan datang dan menangkap dua orang di jalan belakang. Keduanya bukan warga desa itu.
Di ponsel salah satunya ada bukti transfer dari rekening perusahaan yang namanya tidak pernah didengar siapa pun.
Ethan mengenali nomor rekening itu tiga jam kemudian, setelah mencocokkannya dengan arsip lama.
Nomor yang sama pernah muncul dalam dokumen kerja sama keluarga Sanna dengan JYS Corp dua tahun lalu.
Sanna menelepon malam itu.
Jason menyalakan pengeras suara, dan tidak menyembunyikan bahwa Valeri ada di ruangan yang sama.
"Pamanku tidak akan berhenti," kata Sanna tanpa basa-basi. "Dia menganggapmu mempermalukan keluarga kami di depan semua relasi. Bagi dia ini bukan soal uang lagi."
"Apakah kau tahu tentang serangan ini?"
"Tidak."Jawabannya cepat, "Aku baru tahu dari berita sore. Tapi aku tahu dia sedang mencari kelemahan proyekmu sejak dua bulan lalu."
Hening sebentar.
"Aku bisa memberikan dokumen internal Ardent," lanjut Sanna. "Notulen, surat masuk, semuanya. Dengan satu syarat. Namaku tidak disebut."
Jason tidak langsung menjawab.
"Aku tidak bisa menjanjikan itu," katanya akhirnya. "Kalau dokumen itu diambil dengan cara yang salah, dia justru akan bebas dan kau yang masuk penjara. Aku akan melibatkan pengacara dulu. Kalau ada cara yang sah, kami hubungi kau lagi."
"Kau tidak percaya padaku."
"Aku sedang berusaha tidak membuatmu celaka."
Telepon ditutup tanpa perdebatan.
Valeri memandangi layar ponsel yang sudah gelap.
Perempuan itu sedang berusaha memperbaiki akibat perbuatannya, dan yang membuat Valeri diam sesudahnya adalah ini: Sanna tidak sekali pun meminta mereka melupakan apa yang sudah ia lakukan.
Valeri masih belum mempercayainya sepenuhnya. Tetapi ia juga tidak lagi bisa melihat perempuan itu hanya sebagai lawan.
Pukul sebelas malam, Ethan mengetuk pintu villa baru mereka.
"Ada mobil yang sama lewat dua kali," katanya pelan. "Sedan abu-abu. Jalan pelan, lalu putar balik di ujung."
Sesuatu di dada Valeri jatuh.
Rasanya persis seperti malam di villa yang lampunya padam, seperti motor di lampu merah, seperti sosok di balik pintu kaca. Tangannya dingin sebelum ia sempat berpikir.
Polisi memeriksanya setengah jam kemudian. Pengemudinya reporter bisnis dari Denpasar yang mencari alamat villa untuk meminta wawancara besok pagi, dan terlalu malu turun mengetuk pintu.
Bukan George.
George ada di rumah tahanan, menunggu persidangan bulan depan.
Valeri tahu semua faktanya.
Tubuhnya tetap gemetar.
Ia duduk di lantai ruang tengah, menempelkan punggungnya ke sofa, dan mulai menghitung. Empat masuk. Tujuh ditahan. Delapan keluar.
"Jason," panggilnya.
"Ya."
"Duduk di sini. Tidak usah bicara."
Jason duduk di sampingnya, cukup dekat untuk disentuh, cukup jauh untuk tidak mengurung.
Mereka diam sampai hitungan kesepuluh, sampai kesembilan belas, sampai jari-jari Valeri kembali hangat.
Kemajuan tidak berarti ketakutan itu tidak pernah datang lagi. Kemajuan berarti ia sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika ketakutan itu datang.