Dokumen itu sampai ke meja Jason pada Selasa pagi, dibawa langsung oleh pengacara Sanna dalam map cokelat tanpa logo apa pun. Tidak ada pertemuan dramatis, tidak ada amplop yang diselipkan di tempat parkir. Hanya tanda tangan penerimaan dan stempel waktu, persis seperti yang diminta bagian hukum.
Valeri membuka lembar pertama dan membaca sampai tengah hari.
Isinya menunjukkan Darma, paman Sanna, mendanai protes palsu di desa. Ada daftar nama, ada nominal, ada catatan tanggal pembayaran yang cocok dengan hari-hari ketika warga tiba-tiba berbaris di depan kantor proyek. Ada pula salinan kontrak proyek Bali yang dipalsukan, lengkap dengan tanda tangan yang ditiru dari berkas lama.
"Ini saja sudah cukup untuk membuka perkara," gumam Valeri.
"Bukan itu yang membuatku tidak bisa duduk," kata Jason.
Ia menyodorkan map kedua.
Dokumen yang itu jauh lebih berbahaya. Beberapa direktur JYS Corp menerima uang untuk membocorkan proposal keluar perusahaan. Sebagian lagi dibayar untuk menahan informasi sampai nilai saham turun pada hari Jason mundur dari jabatannya. Orang-orang yang duduk di meja yang sama dengannya setiap Kamis pagi. Orang-orang yang menjabat tangannya di depan lift.
Jason menutup map itu dan berdiri.
"Aku mau mereka keluar hari ini."
Kepala bagian hukum, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan, akhirnya bicara. "Kalau Tuan memecat mereka hari ini, minggu depan mereka menggugat dan menang. Tidak ada audit, tidak ada proses, tidak ada catatan. Kita justru memberi mereka alasan untuk terlihat seperti korban."
"Berapa lama auditnya?"
"Tiga minggu. Mungkin empat."
"Aku membenci menunggu," geram Jason.
Valeri tersenyum kecil dari kursinya. "Aku tahu. Tapi Boss sedang belajar, kan?"
Jason menoleh, siap membantah, lalu tidak jadi. Ia duduk kembali dan menandatangani permintaan audit dengan wajah seseorang yang sedang menelan obat pahit.
Audit berjalan empat minggu penuh. Hasilnya lebih buruk daripada tebakan siapa pun. Salah satu direktur yang terlibat ternyata orang yang dulu meremehkan laporan Valeri di rapat pertamanya — lelaki yang pernah berkata bahwa "sekretaris sebaiknya mencatat, bukan menganalisis".
Valeri membaca namanya dan tidak merasakan kemenangan apa pun. Hanya lelah.
Ia ingat betul hari itu. Ruang rapat lantai sebelas, laporan tiga puluh halaman yang ia kerjakan sampai pukul dua pagi, dan suara lelaki itu yang memotongnya di tengah kalimat. Dulu Valeri pulang sambil bertanya-tanya apakah analisisnya memang seburuk itu. Sekarang ia tahu laporannya bagus. Laporannya justru terlalu bagus untuk orang yang sedang dibayar agar proyek itu gagal.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alena lewat telepon malam itu.
"Aku cuma sedang menghitung berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk meragukan diriku sendiri karena orang yang ternyata dibayar untuk meragukanku."
"Jangan dihitung. Angkanya bikin sakit hati."
Jason menarik diri dari seluruh proses pengambilan keputusan. Ia menyatakan konflik kepentingan secara tertulis karena salah satu nama dalam berkas pernah menyerang orang yang dekat dengannya. Komite independen yang memutuskan, dan komite itu memberhentikan direktur tersebut serta menyerahkan seluruh bukti kepada polisi.
"Kau benar-benar tidak ikut menandatangani," kata Valeri sesudahnya.
"Aku ingin sekali. Tanganku gatal." Jason menatap layar ponselnya. "Tapi kalau aku ikut, orang akan bilang aku memecat dia karena kau. Dan aku tidak mau alasan sebenarnya tertutup oleh alasan itu."
Darma, seperti diduga, menyangkal semuanya. Dalam pernyataan tertulis, ia menyebut dokumen itu dicuri dari brankas perusahaan dan menuduh Sanna sebagai pencurinya. Keluarga besar bergerak cepat. Sanna digugat oleh keluarganya sendiri dan kehilangan akses pada sebagian harta yang selama ini ia anggap miliknya.
Valeri menemuinya di kedai kopi kecil dekat kantor pengacara, bukan di hotel dan bukan pula di kantor. Sanna datang memakai mantel lama, rambut diikat asal, cangkir di depannya sudah dingin sebelum ia menyentuhnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Valeri.
Sanna mengaduk minumannya perlahan. "Karena aku terlalu lama membiarkan keluargaku menentukan siapa yang harus kunikahi, bagaimana aku harus terlihat, dan siapa yang boleh kubenci." Sendoknya berhenti. "Aku tidak menjadi orang baik secara mendadak. Aku hanya tidak mau terus menjadi alat."
Valeri tidak menawarkan persahabatan. Ia tidak mengulurkan tangan dan tidak mengatakan semuanya sudah selesai, karena keduanya tahu itu tidak benar.
Ia mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sebuah nomor.
"Lembaga bantuan hukum. Mereka biasa menangani gugatan keluarga seperti punyamu dan tidak ada hubungannya dengan Jason maupun JYS Corp. Aku sengaja memilih yang itu supaya tidak ada yang bisa bilang kau dibeli."
Sanna menatap kertas itu agak lama sebelum mengambilnya. Jarinya sedikit gemetar saat melipatnya menjadi empat.
"Kau tahu yang paling aneh?" katanya. "Selama dua puluh delapan tahun aku dikelilingi pengacara. Pengacara keluarga, pengacara perusahaan, pengacara pribadi ayahku. Baru sekarang aku butuh satu yang tidak dibayar oleh mereka."
"Sekarang kau punya satu."
"Terimakasih."
Di kantor, keadaan justru bergerak cepat. Count Company dan JYS Corp akhirnya menyelesaikan perjanjian investasi yang sempat tertunda hampir setengah tahun. Proyek Bali berjalan kembali setelah warga diberi akses terhadap seluruh dokumen, bukan ringkasan dan bukan penjelasan lisan.
Rapat penentuan diadakan tanpa Valeri. Unitnya memiliki penilaian terpisah dan ikut duduk di ruangan itu hanya akan membuat hasilnya bisa dipersoalkan nanti.
Jason keluar dari ruang rapat dengan wajah aneh.
"Bagaimana?" tanya Valeri di lorong.
"Lolos. Delapan berbanding dua."
"Lalu kenapa mukamu begitu?"
"Aku tidak bisa mencari wajahmu di ruangan," katanya jujur. "Biasanya aku melihat ke arahmu untuk tahu apakah presentasiku bagus atau kacau. Tadi aku bicara dua puluh menit sambil menebak sendiri."
Valeri menahan tawa. "Gunakan hasil pemungutan suara seperti CEO normal."
"Itu tidak memberi tahu apa pun tentang bagian tengah."
"Delapan berbanding dua, Boss."
Malamnya Jason mengajaknya makan malam untuk merayakan. Restorannya kecil, di lantai dua, dengan jendela menghadap jalan yang basah. Mereka hampir menyelesaikan makanan ketika Jason mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya.
Tubuh Valeri langsung menegang. Ia meletakkan garpunya terlalu keras.
"Ini bukan cincin," kata Jason cepat, hampir panik. "Sungguh. Bukan."
Ia membuka kotak itu sendiri supaya Valeri tidak perlu menyentuhnya.
Di dalamnya ada sebuah kunci.
"Ada ruang kosong di rumahku, yang di lantai dua, dekat jendela besar itu," kata Jason. "Aku ingin ruangan itu jadi ruang kerjamu. Kalau suatu hari kau memutuskan tinggal bersamaku." Ia menelan ludah. "Kuncinya bukan kewajiban pindah. Bukan pertanyaan yang harus kau jawab malam ini. Aku cuma ingin kau tahu tempat itu ada dan tidak akan kuberikan kepada siapa pun."
Valeri menatap kunci itu lama. Ada bagian dalam dirinya yang ingin mengambilnya, dan bagian lain yang tahu ia belum bisa.
Ia menutup kotaknya perlahan dan mendorongnya kembali ke arah Jason.
"Aku belum siap."
"Tidak apa-apa."
Jason memasukkannya kembali ke saku tanpa wajah kecewa, tanpa helaan napas panjang, tanpa pertanyaan susulan yang terdengar seperti bujukan. Ia bahkan meneruskan cerita tentang direktur yang salah menyebut nama koperasi tiga kali dalam satu rapat.
Valeri memperhatikannya bicara dan menyadari sesuatu yang membuat dadanya hangat.
Jawaban tadi membuktikan lelaki itu benar-benar mulai memahami bahwa menunggu bukan strategi untuk mendapatkan persetujuan, melainkan cara menghormati kesiapan orang lain.