Beberapa bulan berlalu tanpa terasa. Musim berganti dua kali di luar jendela kantor, berkas perkara menipis, dan nama Valeri perlahan hilang dari halaman depan.
Ia tetap tinggal bersama orang tuanya. Kamarnya masih kamar yang sama sejak sekolah menengah, dengan tirai biru dan rak buku yang tidak pernah cukup. Sesekali ia menginap di apartemen Alena ketika pekerjaan selesai lewat tengah malam, tidur di sofa sambil mendengar Alena mengomel soal bantal yang hilang.
Yang belum ia lakukan adalah kembali ke mansion Jason.
Bukan karena takut kepada lelaki itu. Rumah itu justru tempat teraman yang pernah ia tinggali. Masalahnya, setiap kali Valeri membayangkan koridor panjang dan taman belakangnya, yang muncul bukan kenyamanan, melainkan dirinya sendiri yang berjalan cepat dari jendela ke jendela sambil memeriksa apakah gorden sudah tertutup rapat. Rumah itu terhubung dengan masa ketika ia bersembunyi dari George.
Ia menyampaikan hal itu dalam konseling, dan konselornya hanya bertanya satu kalimat.
"Selama ini, tempat mana yang kau pilih sendiri?"
Valeri membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Panti bukan pilihannya. Rumah orang tuanya adalah hadiah. Mansion Jason adalah perlindungan. Bahkan apartemen Alena adalah kebaikan orang lain. Semua tempat yang pernah ia tinggali diberikan kepadanya, dan tidak satu pun ia ambil dengan tangannya sendiri.
Dua minggu kemudian ia menandatangani perjanjian sewa sebuah apartemen kecil dua puluh menit dari kantor. Satu kamar tidur, dapur sempit, balkon selebar dua langkah. Uang muka dan sewa setahun ia bayar dari penghasilannya sendiri.
Orang tuanya jelas khawatir. Ibunya menelepon tiga malam berturut-turut menanyakan apakah lantai gedung itu punya penjaga. Ayahnya diam-diam menyuruh sopir memeriksa lokasi.
Jason menawarkan sistem keamanan terbaik yang bisa dibeli uang. Kamera empat sudut, sensor gerak, tombol darurat langsung ke pos polisi terdekat.
"Aku menerima alarm dan kamera," kata Valeri. "Tapi aku memilih mereknya, dan aku yang menentukan siapa saja yang memegang akses."
Jason membuka mulut. Valeri menunggu.
"Baik," katanya akhirnya. "Kirimkan namanya, aku yang bayar."
"Aku yang bayar."
"Valeri."
"Boss."
Jason menyerah sambil memijat pangkal hidungnya. Yang paling mengejutkan, ia tidak sekali pun meminta kunci cadangan. Tidak saat pemasangan alarm, tidak saat mengantar kotak terakhir, tidak juga ketika Valeri sengaja meninggalkan kunci itu tergeletak di meja selama satu jam penuh.
Kunci cadangan akhirnya diberikan Valeri kepada Alena. Ia memilih Alena bukan karena Jason kurang dipercaya, melainkan karena ia ingin sekali saja orang yang memegang jalan masuk ke hidupnya bukan orang yang paling ingin melindunginya.
"Aku merasa terhormat sekaligus ngeri," kata Alena. "Kalau kau tidak menjawab teleponku dua kali, aku masuk."
"Itu memang gunanya."
Hari pindahan berubah kacau sejak pukul sembilan.
Jason datang membawa perabot yang jumlahnya cukup untuk mengisi dua apartemen. Meja makan enam kursi untuk ruangan yang hanya muat empat. Lemari yang tingginya melebihi ambang pintu. Alena memasang rak dinding terbalik, lalu bersikeras bahwa modelnya memang begitu sampai rak itu jatuh sendiri. Dan menjelang siang, kurir datang membawa tanaman besar kiriman Ethan dari Bali, daunnya lebar dan pot tanahnya hampir tidak muat melewati pintu.
"Kenapa tanamannya dari Ethan harus diletakkan di ruang tamu?" tanya Jason.
"Karena dia memberikannya."
"Bisa diletakkan di balkon."
"Balkonnya selebar dua langkah."
"Itu balkon yang sangat sehat untuk tanaman."
Valeri menyilangkan tangan dan diam.
Jason bertahan lima detik, lalu menghela napas panjang, menggulung lengan kemejanya, dan membantu menggeser pot itu ke dekat jendela tempat cahaya pagi masuk.
"Aku sedang belajar tidak cemburu pada tumbuhan," katanya.
"Kemajuan luar biasa."
"Jangan ditertawakan. Ini berat."
Mereka semua pulang pukul sembilan malam. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Valeri sendirian di sebuah tempat yang pintunya ia kunci dengan kunci atas namanya sendiri.
Pukul dua pagi ia terbangun.
Ada suara di lorong. Langkah, lalu gesekan, lalu diam.
Jantungnya langsung memukul-mukul tulang rusuknya. Tangannya sudah menggenggam ponsel dan ibu jarinya sudah berada di atas nama Jason ketika ia memaksa dirinya berhenti.
Cek dulu. Napas dulu.
Ia menghitung sampai empat saat menarik napas, menahan sampai empat, mengembuskan sampai enam, persis seperti yang dilatih. Lalu ia membuka layar kamera.
Seekor kucing tetangga sedang menabrak-nabrak kantong sampah di depan unit sebelah.
Valeri tertawa pelan, lalu menangis sedikit, lalu tertawa lagi. Ia duduk di lantai dapur dengan punggung menempel di lemari es sampai jantungnya kembali tenang.
Keesokan harinya ia tetap menelepon konselornya dan menceritakan semuanya, termasuk bagian ketika jarinya sudah berada di atas nama Jason.
"Kau merasa gagal?" tanya konselornya.
"Sedikit."
"Kau memeriksa kamera sebelum menelepon siapa pun. Setahun lalu kau tidak akan sampai ke langkah itu."
Valeri mencatat kalimat itu di buku kecilnya. Tinggal sendiri bukan pembuktian bahwa ia tidak takut. Tinggal sendiri adalah latihan merasa aman dengan bantuan yang ia pilih sendiri.
Jason berkunjung akhir pekan dengan membawa makanan dalam dua kantong besar. Ia berdiri di depan pintu dan mengetuk, padahal Valeri sudah mengizinkannya datang sejak kemarin.
"Kau tahu aku menunggumu, kan?"
"Aku tahu. Tapi ini pintumu."
Valeri membuka pintu lebih lebar. "Selamat datang di rumahku."
Mereka memasak bersama di dapur yang terlalu sempit untuk dua orang. Bahunya bertabrakan dengan bahu Jason tiga kali, dan mereka bertengkar serius selama sepuluh menit soal garam.
"Sedikit lagi."
"Ini sudah asin."
"Boss, lidahmu rusak karena makan di restoran mahal terus."
"Lidahku terlatih."
"Terlatih oleh koki yang tidak berani membantahmu."
Jason berhenti sambil memegang wadah garam. "Itu... mungkin benar."
"Taruh garamnya."
Ia menaruhnya. Valeri hampir tidak percaya betapa kecil kemenangan itu dan betapa senangnya ia merasakannya.
Sofa belum datang, jadi mereka menonton film di lantai dengan bantal dari kamar. Tanaman Ethan berdiri di belakang mereka seperti penjaga yang tidak diminta. Menjelang larut, Jason melirik jam, lalu melirik pintu, lalu melirik Valeri.
"Boleh aku tinggal?"
Valeri berpikir sebentar. Bukan karena ragu, tetapi karena ia ingin memastikan jawabannya benar-benar jawabannya sendiri.
"Boleh. Di sofa udara."
"Itu bahkan belum dipompa."
"CEO hebat pasti bisa membaca petunjuk."
Jason tertawa, tawa yang jarang terdengar di kantor, lalu membuka kotaknya dan duduk bersila di lantai membaca lembar petunjuk berbahasa asing dengan alis berkerut.
Keesokan paginya Valeri bangun tanpa mimpi buruk.
Ia berjalan ke ruang tamu dan menemukan Jason tertidur di sofa udara yang jelas terlalu pendek untuknya. Satu kakinya menjuntai ke lantai, sebelah tangannya menutupi mata dari cahaya yang masuk lewat jendela. Pemandangan itu membuat Valeri tersenyum sambil menahan tawa supaya lelaki itu tidak terbangun.
Rumah tersebut kecil. Tidak mewah, tidak dijaga banyak orang, dan catnya mengelupas di sudut dekat dapur.
Namun untuk pertama kalinya sejak meninggalkan panti, Valeri merasa sebuah tempat benar-benar menjadi miliknya karena ia sendiri yang memilihnya.