Tiga minggu setelah pindah, Valeri sudah hafal suara gedungnya.
Lift di sayap timur berdengking pelan sebelum pintunya terbuka. Tetangga sebelah kiri pulang pukul sebelas dengan langkah berat, tetangga sebelah kanan pukul enam pagi dengan sandal yang menyeret. Pendingin ruangan di kamarnya mendengung pada nada rendah yang, anehnya, justru membantunya tidur.
Ia mulai percaya bahwa suara bukan lagi peringatan. Suara hanyalah suara.
Sampai malam itu, ketika alarm pintunya berbunyi dua kali.
Valeri membeku di tengah ruang tamu. Sendok di tangannya masih berisi mi instan yang belum sempat ia telan. Tubuhnya lebih cepat daripada pikirannya; tangannya sudah mencari nama Jason di layar ponsel sebelum ia sempat memutuskan apa pun.
Ia menahan jarinya. Cek dulu.
Layar kamera menyala. Di lorong berdiri seorang pria berseragam teknisi lengkap dengan topi dan kotak perkakas di tangan kiri. Wajahnya tidak jelas dari sudut itu.
"Ada laporan kebocoran dari unit ini," katanya melalui interkom. Suaranya ramah, sedikit terburu-buru, persis seperti orang yang punya sepuluh unit lagi untuk diperiksa malam itu.
Valeri menatap layar.
Ia tidak pernah membuat laporan apa pun.
"Sebentar, Pak," jawabnya, dan ia sendiri heran betapa tenang suaranya keluar.
Ia menelepon pengelola gedung dari ponsel, tidak dari interkom, dan meminta petugas keamanan naik ke lantainya sekarang juga. Tangannya gemetar hebat, tetapi kalimatnya lengkap dan urut.
Empat menit. Itu waktu paling panjang yang pernah ia lalui sambil berdiri diam di belakang pintu.
Begitu bayangan penjaga muncul di ujung lorong, pria berseragam itu berbalik dan berlari ke tangga darurat. Ia meninggalkan kotak perkakasnya begitu saja di depan pintu.
Alena tiba lebih dulu daripada polisi, masih memakai piyama dan jaket yang jelas milik orang lain. Ia langsung memeluk Valeri di depan pintu tanpa bertanya apa-apa.
"Aku tidak apa-apa," kata Valeri.
"Kau gemetar."
"Aku gemetar dan aku tidak apa-apa. Dua-duanya bisa benar."
Polisi datang setengah jam kemudian. Di dalam kotak itu tidak ada satu pun alat tukang yang wajar. Yang ada adalah dua kamera kecil seukuran kancing, gulungan kabel tipis, dan seperangkat alat pembuka kunci.
Wajah pelaku tertutup topi di semua rekaman. Namun sepeda motor yang digunakannya terdaftar atas nama sebuah perusahaan keamanan yang merupakan anak usaha Ardent Group.
Jason tiba dua puluh menit setelah polisi. Ia masih memakai kemeja kantor, dasinya hilang entah di mana. Rahangnya mengeras ketika melihat petugas memasukkan kamera-kamera kecil itu ke kantong bukti.
"Kau harus pindah malam ini," katanya.
Valeri menatapnya lurus. "Aku ingin pergi untuk sementara. Tapi keputusan itu milikku. Jangan mengambil alih hanya karena kau takut."
Jason menutup mata sebentar. Dadanya naik turun. Valeri bisa melihat lelaki itu sedang menelan sepuluh kalimat sekaligus.
"Baik," katanya akhirnya. "Apa keputusanmu?"
"Aku menginap di rumah Alena sampai polisi memastikan tempat ini aman. Besok aku kembali bersama petugas keamanan yang kupilih sendiri."
Jason jelas tidak menyukai rencana itu. Ia tidak berpura-pura sebaliknya; alisnya berkerut dan tangannya mengepal di sisi tubuh.
Namun yang keluar dari mulutnya hanya, "Aku bisa mengantarmu?"
Valeri mengangguk.
Di mobil, tidak ada yang bicara selama sepuluh menit pertama. Lampu jalan lewat satu per satu di kaca jendela.
"Aku hampir mengangkatmu dan membawamu pergi tadi," aku Jason.
"Aku tahu."
"Itu masih terasa seperti mencintaimu, di kepalaku."
"Aku tahu itu juga," kata Valeri pelan. "Karena itu aku harus mengatakannya keras-keras. Supaya kita berdua dengar."
Jason menepikan mobil sebentar di bawah lampu jalan dan menoleh kepadanya.
"Kalau aku salah lagi, kau akan bilang?"
"Aku baru saja bilang."
"Maksudku lain kali."
"Lain kali juga," kata Valeri. "Selama kau tidak menghukumku karena mengatakannya."
Jason mengangguk sekali, lalu kembali menyalakan mesin.
Keesokan harinya polisi menangkap teknisi palsu itu di sebuah rumah kontrakan di pinggir kota. Namanya Reno. Ia mengaku menerima bayaran untuk memasang kamera di unit tersebut, tetapi bersikeras tidak tahu siapa pemberi perintahnya. Uangnya masuk melalui beberapa rekening perantara, satu demi satu, memutar seperti orang yang sengaja menghapus jejak kakinya.
Di kantor, tim hukum JYS Corp meminta Valeri merahasiakan insiden itu untuk sementara agar tidak mengganggu penyelidikan terhadap Darma. Mereka sudah menyiapkan surat pernyataan.
Valeri membaca surat itu dua kali, lalu meletakkannya kembali di tengah meja tanpa menyentuh pena.
"Saya tidak menandatangani apa pun sebelum didampingi pengacara pribadi saya," katanya. "Bukan pengacara perusahaan. Pengacara saya."
"Ini hanya prosedur, Bu."
"Kalau hanya prosedur, tidak ada yang hilang jika saya baca dulu bersama orang yang dibayar untuk membela saya, bukan membela nilai saham."
Ruangan menghangat. Seseorang di ujung meja berdeham dan membalik halaman yang sebenarnya tidak perlu dibalik.
"Perusahaan hanya ingin melindungi penyelidikan," kata kepala tim hukum.
"Saya juga ingin penyelidikan itu selamat," jawabnya. "Yang saya tolak bukan kerahasiaannya. Yang saya tolak adalah menandatangani sesuatu yang mengikat saya tanpa ada satu orang pun di ruangan ini yang tugasnya membela saya."
Ia mendorong surat itu kembali ke tengah meja.
"Saya bukan aset perusahaan yang harus diam demi harga saham."
Jason duduk di ujung meja dan tidak membantah sepatah kata pun. Ketika kepala tim hukum menoleh kepadanya mencari dukungan, ia justru berkata, "Hormati keputusannya. Tulis ulang prosedurnya kalau perlu."
Penelusuran rekening Reno membawa polisi kepada seorang mantan staf Darma. Namun sebelum lelaki itu sempat diperiksa, ia menghilang. Rumahnya kosong, ponselnya mati.
Pada meja kerjanya ditemukan sesuatu yang membuat Valeri berhenti bernapas sejenak: salinan jadwal perjalanannya ke Bali untuk peresmian tahap pertama proyek. Lengkap dengan jam penerbangan, nama hotel, dan rute dari bandara.
Valeri memandang tanggal yang dilingkari merah di kertas itu. Tinta spidolnya tebal, ditekan berulang-ulang.
Perjalanan itu tinggal sepuluh hari lagi.
"Aku tetap berangkat," ucapnya.
"Aku tahu," jawab Jason pelan. Tidak ada perdebatan, tidak ada bujukan. "Kali ini kita menyusun pengamanan bersama."
Malam itu Valeri kembali ke apartemennya. Pintunya sudah diganti, seluruh akses diperbarui, dan setiap sudut sudah diperiksa polisi dua kali. Alena menawarkan diri menginap; Valeri berterima kasih dan menolak.
Jason mengantarnya sampai ujung lorong, lalu berhenti di situ.
"Kau tidak perlu membuktikan apa pun dengan tinggal sendiri malam ini," katanya.
"Aku juga tidak harus pergi hanya karena seseorang berusaha menakutiku."
Jason mengangguk. Ia berdiri di tempatnya sampai Valeri masuk, lalu pergi. Ia tidak meminta ikut naik, tidak menawar setengah jam saja, dan tidak menyelipkan penjaga di lorong tanpa izin. Valeri memeriksanya lewat kamera, dan lorong itu memang kosong.
Ia menutup pintu.
Namun selama beberapa detik, ia membiarkannya tidak terkunci. Bukan karena ceroboh, dan bukan pula karena ia sedang menantang siapa pun.
Ia hanya ingin mengingat bahwa pintu tersebut miliknya—ia yang menentukan kapan dibuka dan kapan dikunci.