Penangkapan Reno bocor ke media dalam dua hari.
Mula-mula hanya paragraf kecil di kolom hukum. Lalu sebuah portal bisnis menemukan nama Valeri di berkas kepolisian, dan sejak itu semuanya bergerak seperti longsor. Fotonya keluar dari arsip lama, wajahnya dipasang bersebelahan dengan foto Jason, dan judul-judulnya berubah cepat.
Dari "Percobaan pemasangan kamera di apartemen direktur JYS Corp" menjadi "Perempuan di balik serangan JYS Corp terhadap pesaing".
Valeri membaca satu artikel sampai selesai, lalu berhenti. Di dalamnya ia disebut memanfaatkan hubungan dengan Jason untuk menghancurkan pesaing bisnis, seolah kamera kancing di kotak perkakas itu ia pasang sendiri di pintunya sendiri.
"Jangan dibaca," kata Alena lewat telepon.
"Aku harus tahu apa yang orang baca tentangku."
"Kau harus tidur. Itu yang harus."
Darma mengadakan konferensi pers keesokan siangnya. Latarnya biru, logo Ardent Group besar di belakang, dan bunga di meja diatur terlalu rapi. Ia menyatakan Ardent Group tidak pernah memerintahkan pengintaian terhadap siapa pun, menyebut motor perusahaan itu telah lama dijual, dan menyinggung Sanna dengan kalimat yang dipilih sangat hati-hati.
"Keponakan saya sedang tidak stabil," katanya. "Kami keluarga. Kami tetap menyayanginya dan sedang mencarikan bantuan yang dibutuhkannya."
Sanna menonton siaran itu dari ruang tunggu kantor pengacaranya. Wajahnya pucat dan jarinya terus menekan-nekan pinggiran cangkir teh yang sudah dingin.
Suaranya tetap tenang ketika ia menelepon Valeri sore itu.
"Kau lihat?"
"Aku lihat."
"Dia baru saja memberitahu seluruh negeri bahwa aku gila, dengan nada seorang paman yang prihatin." Sanna tertawa pendek, tawa tanpa isi. "Pamanku akan menghancurkan siapa pun yang menghalanginya. Aku punya satu bukti lagi. Tapi jika kuserahkan, ibuku juga akan terseret."
Valeri menegakkan punggungnya. "Bukti apa?"
Bukti itu berupa rekaman rapat keluarga, diambil delapan bulan lalu dengan perekam kecil di tas Sanna. Dalam rekaman tersebut, Darma memerintahkan stafnya membuat proyek Bali gagal supaya saham JYS Corp turun. Suaranya jernih. Ia bahkan menyebut angka target penurunan.
Dan di ruangan itu, ibu Sanna duduk, mendengar semuanya, dan tidak menghentikannya.
Valeri menutup mata sebentar. Ia tahu apa artinya rekaman itu bagi perkara, dan ia tahu apa artinya bagi perempuan di ujung telepon.
"Aku tidak akan memintamu menyerahkannya," katanya.
"Kenapa tidak? Kau yang paling diuntungkan."
"Justru karena itu." Valeri memilih kata-katanya pelan-pelan. "Kau harus memutuskan setelah benar-benar memahami akibatnya. Jangan melakukannya untuk menebus kesalahan kepadaku. Kalau alasannya aku, suatu hari kau akan menyesal dan aku akan jadi orang yang kau benci."
Sanna terdiam lama. Di latar belakang terdengar suara mesin fotokopi.
"Dulu aku pikir nama keluarga adalah perlindungan," katanya akhirnya. "Ternyata nama itu harga yang harus kubayar setiap hari."
"Kau punya waktu untuk memikirkannya?"
"Tidak banyak. Tapi ada."
"Pakai semuanya," kata Valeri. "Dan kalau kau memutuskan untuk tidak menyerahkannya, aku tidak akan menagihmu. Itu juga jawaban."
Sanna menutup telepon tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dan Valeri membiarkannya.
Sementara itu, di kantor, badai lain sedang berkumpul.
Dewan JYS Corp ingin membatalkan kunjungan Valeri ke Bali. Alasannya masuk akal: seorang mantan staf Darma masih buron, salinan jadwal perjalanan Valeri ditemukan di mejanya, dan peresmian bisa berubah menjadi tontonan media kalau terjadi sesuatu.
Valeri meminta waktu dua puluh menit di rapat dewan. Ia datang membawa rencana pengamanan yang sudah disusun bersama kepolisian setempat, tokoh desa, dan sebuah tim independen — bukan tim milik JYS Corp, bukan pula tim milik keluarganya.
Ia menjelaskan rute, jumlah petugas, titik evakuasi, dan siapa yang berwenang menghentikan acara.
Lalu ia menutup dengan bagian yang tidak ada di kertas.
"Kalau saya tidak hadir, Ardent akan menggunakan ketidakhadiran itu untuk menyebarkan kesan bahwa proyek ini bermasalah dan pemimpinnya sendiri takut datang. Warga yang sudah menandatangani kontrak akan ragu. Dan orang yang mengirim pengintai itu akan belajar bahwa caranya berhasil."
Seorang komisaris mengetuk-ngetuk pena di mejanya. "Ini soal keselamatan, bukan soal citra."
"Saya tidak meminta perusahaan mengabaikan risiko," kata Valeri. "Saya meminta risiko dikelola tanpa menghapus orang yang menjadi sasaran ancaman. Menghilangkan saya dari acara bukan mengelola risiko. Itu memindahkan biayanya ke saya."
Ruangan sunyi beberapa saat. Komisaris tadi meletakkan penanya.
"Dan kalau terjadi sesuatu?"
"Maka yang bertanggung jawab adalah orang yang melakukannya," kata Valeri. "Bukan perempuan yang datang bekerja."
Pemungutan suara dilakukan. Dewan menyetujui keberangkatannya.
Jason tidak ikut memberikan suara. Ia duduk sepanjang rapat dengan tangan terlipat, sekali pun tidak menyela, sekali pun tidak menoleh mencari perhatian.
Sore itu ia menemukan Valeri sendirian di ruang rapat yang sudah kosong, sedang membereskan kertas-kertasnya sambil menghela napas panjang.
"Aku bangga padamu," kata Jason dari ambang pintu.
"Karena aku melawan dewanmu?"
"Karena kau membuat mereka mendengarkan tanpa memakai namaku sebagai senjata."
Valeri tersenyum tipis dan meletakkan mapnya. "Aku juga bangga padamu karena tidak menyela."
"Itu penderitaan besar."
"Kelihatan kok."
"Aku menggigit bagian dalam pipiku selama dua puluh menit," kata Jason. "Kalau berdarah, itu tanggung jawabmu."
Valeri tertawa pelan, lalu diam beberapa saat.
"Aku takut, Boss," katanya akhirnya, tanpa menoleh.
Jason tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi di sebelahnya dan duduk, tidak menyentuh, hanya duduk.
"Aku juga," katanya. "Dan aku tetap tidak akan menahanmu."
Sehari sebelum keberangkatan, Sanna datang ke kantor kejaksaan.
Ia menyerahkan rekaman rapat keluarga beserta perangkat aslinya, lengkap dengan keterangan kapan dan bagaimana rekaman itu dibuat. Setelah itu ia berdiri di depan wartawan yang sudah menunggu di luar dan memberikan pernyataan singkat: keputusannya dilakukan dalam keadaan sadar, tanpa paksaan siapa pun, dan didampingi pengacara.
Ibunya menelepon berkali-kali sejak sore. Sanna tidak menjawab sampai malam.
Valeri kebetulan berada di ruangan yang sama ketika akhirnya Sanna mengangkat telepon itu. Ia hanya mendengar satu kalimat sebelum perempuan itu keluar dan menutup pintu di belakangnya.
"Aku tetap anak Ibu, tetapi aku tidak akan menjadi alasan kejahatan ini disembunyikan."
Rekaman tersebut meledak keesokan paginya. Saham Ardent Group jatuh sebelum jam makan siang. Komisaris menggelar rapat darurat dan menonaktifkan Darma dari seluruh jabatannya. Menjelang sore, polisi mengeluarkan pencegahan agar lelaki itu tidak meninggalkan negara.
Valeri melihat berita itu di layar bandara, koper di sisinya, tiket ke Bali di tangannya. Di sekelilingnya orang-orang berjalan menyeret barang bawaan, sama sekali tidak peduli pada nama yang sedang runtuh di layar.
Ia memikirkan Sanna, yang hari itu kehilangan nama keluarganya sekaligus mendapatkan namanya sendiri.
Untuk pertama kalinya, nama keluarga Sanna tidak menentukan tindakannya. Ia sendiri yang memilih apa arti nama itu mulai hari tersebut.