Valeri tiba di Bali menjelang siang bersama tim proyek dan dua petugas keamanan. Jason datang di penerbangan yang sama sebagai perwakilan investor, tetapi mereka tidak berada dalam kendaraan yang sama dari bandara. Itu bagian dari rencana pengamanan yang mereka susun berdua, dan Jason menepatinya meski wajahnya jelas tidak senang sepanjang perjalanan.
Udara desa menyambut mereka dengan bau tanah basah dan asap sisa pembakaran daun. Jalan masuk yang dulu berlubang sudah diperkeras. Di kanan-kirinya, sawah terhampar hijau tua, warna yang hanya muncul kalau airnya cukup.
Para petani berkumpul di pinggir jalan. Sebagian besar orang yang sama yang setahun lalu hampir menolak pembangunan ini, yang pernah berdiri di depan alat berat dengan tangan terlipat.
Seorang lelaki tua menyalami Valeri lebih dulu.
"Airnya sampai ke petak paling ujung," katanya. "Dua puluh tahun tidak pernah sampai ke sana."
Saluran irigasi baru sudah mengalir. Bangunan pusat pelatihan berdiri di tanah yang dulunya tidak produktif, persis seperti yang dijanjikan, tanpa mengambil satu petak sawah pun.
Ethan menemuinya di balai desa sambil membawa map terakhir.
"Semua kontrak sudah dipasang di dinding balai," katanya. "Ukuran hurufnya cukup besar untuk dibaca dari jarak dua meter. Kalau perusahaan mengubah satu pasal saja, warga akan tahu sebelum kita tahu."
"Bagus. Itu memang janjinya."
"Ada juga salinan di rumah kepala dusun dan di sekolah. Tiga tempat. Kalau satu hilang, dua sisanya masih ada."
Valeri menepuk bahunya. "Kau belajar cepat."
Jason memperhatikan keduanya dari kejauhan, berdiri di bawah pohon dengan tangan di saku. Begitu Ethan pergi, ia mendekat.
"Aku sama sekali tidak cemburu," katanya.
"Aku belum bertanya."
"Aku sedang memberi laporan perkembangan."
Valeri menahan senyum. "Diterima."
"Kau tidak mau tahu isi laporannya?"
"Tidak."
"Isinya: aku berdiri di bawah pohon selama tujuh menit dan tidak sekali pun menyeberang ke sini."
"Tujuh menit itu panjang sekali untuk seorang CEO."
"Sangat panjang," kata Jason. "Aku bahkan menghitung buah kelapanya."
Peresmian dimulai menjelang sore, ketika panas sudah turun dan bayangan pohon kelapa memanjang ke lapangan. Tenda dipasang di halaman balai desa, kursi plastik disusun berbaris, dan anak-anak duduk paling depan karena mereka yang datang paling awal.
Valeri naik ke panggung bukan sebagai pendamping CEO. Ia naik sebagai pemimpin negosiasi kemitraan masyarakat, dan itulah yang tertulis di undangan.
Ia menjelaskan hasil proyek apa adanya. Ia menyebut berapa hektare yang teraliri, berapa orang yang dilatih, dan berapa yang sudah bekerja. Ia juga tidak menutupi konflik yang pernah terjadi: protes yang ternyata dibayar, jendela yang dilempar batu, kontrak yang hampir ditandatangani tanpa jaminan air.
"Proyek ini hampir gagal," katanya. "Dan yang menyelamatkannya bukan perusahaan. Yang menyelamatkannya adalah warga yang menolak menandatangani sebelum membaca."
Di tengah pidatonya, listrik padam.
Lampu tenda mati serentak. Pengeras suara mendengung sekali lalu diam. Untuk sepersekian detik hanya ada gelap dan suara serangga.
Lalu terdengar teriakan dari sisi tenda.
Petugas keamanan bergerak cepat mengelilingi panggung. Valeri merasakan tangan seseorang menarik sikunya, dan seluruh tubuhnya mengenali sensasi itu — ditarik, digiring, dijauhkan. Napasnya langsung pendek.
"Tunggu," katanya kepada petugas di sampingnya, memaksa suaranya keluar. "Katakan dulu apa yang terjadi. Aku tidak mau digiring tanpa tahu ke mana."
Petugas itu menjawab singkat: ada api di balai desa.
Teriakan kedua datang dari arah balai desa.
Seorang lelaki mencoba membakar tumpukan dokumen kontrak yang dipasang di dinding. Ia sudah menyalakan pemantik dan menyiram sudut kertas dengan sesuatu dari botol kecil. Api sempat menjilat satu lembar sebelum tiga warga menubruknya dari samping dan seorang ibu menyiramkan seember air yang semula disiapkan untuk mencuci gelas.
Lelaki itu dipegangi sampai polisi datang. Wajahnya dikenali seketika oleh salah seorang staf proyek: mantan staf Darma yang menghilang setelah penangkapan Reno.
Polisi menemukan ponsel di sakunya. Di dalamnya ada pesan-pesan langsung dari Darma, dikirim dari nomor yang belum terdaftar, perintah terakhirnya bertanggal tiga hari lalu. Isinya bukan hanya menghancurkan dokumen, melainkan juga menciptakan kepanikan di tengah acara supaya proyek itu tampak ditolak warga dan liputan besok menulis kekacauan, bukan peresmian.
Acara sempat dihentikan. Beberapa direktur yang ikut rombongan berkumpul di belakang tenda dan menyarankan semua orang kembali ke hotel malam itu juga.
Kepala desa mengambil mikrofon cadangan yang masih terhubung ke pengeras suara bertenaga aki.
"Kalau kami pulang karena satu orang dibayar untuk menakuti kami," suaranya bergema di halaman gelap, "besok orang lain akan melakukan hal yang sama. Dan lusa orang ketiga. Kami sudah tahu rasanya diusir dari tanah sendiri oleh rasa takut. Malam ini tidak."
Seseorang menyalakan lampu telepon genggam. Lalu sepuluh. Lalu seluruh halaman berkilau oleh titik-titik cahaya kecil yang diangkat tinggi-tinggi.
Generator dinyalakan beberapa menit kemudian dan lampu tenda menyala kembali.
Valeri berjalan kembali ke panggung.
Tangannya masih gemetar ketika memegang mikrofon, dan gemetarnya cukup terdengar di pengeras suara. Ia tidak berpura-pura tidak takut.
"Saya takut," katanya jujur. "Tangan saya bergetar dan saya tidak akan mengatakan bahwa ini biasa saja. Tetapi keberanian bukan berarti kita tidak takut. Keberanian adalah memastikan ketakutan tidak membeli keputusan kita."
Ia menunjuk dinding balai desa yang kertas-kertasnya sedikit gosong di satu sudut.
"Dokumen itu hampir dibakar malam ini. Besok pagi kami cetak ulang, dan kami pasang lagi di tempat yang sama."
Tepuk tangan terdengar lebih keras daripada sebelum listrik padam. Anak-anak di barisan depan ikut bertepuk tanpa benar-benar mengerti, dan justru itu yang membuat mata Valeri panas.
Malamnya, setelah polisi membawa lelaki itu pergi dan wartawan mendapatkan keterangan yang mereka butuhkan, Jason dan Valeri berjalan di pantai. Petugas keamanan menjaga dari jarak yang sudah mereka sepakati sebelum berangkat — cukup dekat untuk bertindak, cukup jauh untuk tidak ikut mendengar.
Pasir masih menyimpan panas siang. Angin membawa bau garam.
"Tadi aku ingin menyeretmu turun dari panggung," kata Jason.
"Kenapa tidak?"
"Karena kau memilih kembali naik." Ia menatap garis air yang berkilau. "Tugasku bukan membatalkan pilihanmu. Tugasku memastikan pilihan itu tidak dibuat sendirian."
Valeri berhenti melangkah dan menggenggam tangannya. Jari-jari Jason dingin, dan ia baru sadar lelaki itu pun menahan takut sepanjang malam.
Ombak menyentuh kaki mereka lalu kembali ke laut, meninggalkan buih yang lenyap sebelum sempat dihitung.
Proyek Bali akhirnya bukan sekadar kemenangan bisnis. Tanah itu bertahan karena orang-orang yang hidup di atasnya diberi hak menentukan masa depan mereka—hak yang juga sedang dipelajari Valeri untuk dirinya sendiri.