Bukti dari Bali menutup lubang terakhir dalam perkara terhadap Darma.
Ponsel yang ditemukan di saku pembakar dokumen itu menghubungkan semuanya: perintah, waktu, dan nomor rekening. Dua minggu kemudian Darma ditahan atas tuduhan penyuapan, sabotase, penguntitan, dan perintangan penyidikan. Fotonya muncul di semua layar, kali ini tanpa latar biru dan tanpa bunga di meja.
Beberapa pejabat Ardent Group tidak menunggu lama. Mereka datang sendiri ke penyidik, membawa berkas, dan memilih bekerja sama sebelum namanya disebut orang lain.
JYS Corp menghadapi persoalan yang sama sekali berbeda.
Setelah proyek Bali dinyatakan berhasil dan modelnya diminta diulang di tiga wilayah lain, dewan menawarkan Valeri jabatan direktur kemitraan strategis. Surat penawarannya rapi, gajinya besar, dan di bagan organisasi yang dilampirkan, kotak bernama Valeri terhubung dengan satu garis lurus tepat di bawah kotak bernama Jason.
Valeri membaca bagan itu lebih lama daripada membaca angka gajinya.
"Saya menolak struktur tersebut," katanya kepada komite nominasi.
Ruangan mendadak sunyi. Seseorang menjatuhkan pena.
Valeri tidak menolak pekerjaannya. Ia mengeluarkan satu lembar kertas dan menggeser usulannya ke tengah meja: divisi baru itu diawasi komite independen dan melapor kepada dewan, bukan kepada CEO. Anggaran, penilaian kinerja, dan promosi di dalamnya tidak melewati meja Jason sama sekali.
"Kalau saya melapor kepada Tuan Jason," katanya, "maka setiap keberhasilan saya akan dibaca sebagai hadiah dan setiap kegagalan saya akan dibaca sebagai kelemahannya. Tidak ada satu pun dari itu yang benar, dan dua-duanya merugikan perusahaan."
Salah satu komisaris mencondongkan badan. "Apakah Anda yakin mampu memimpin tanpa perlindungan Tuan Jason?"
Valeri menatapnya tanpa berkedip.
"Kalau perusahaan menganggap saya membutuhkan perlindungannya untuk bekerja, seharusnya jabatan ini tidak pernah ditawarkan kepada saya."
Jason menyembunyikan senyum di balik tangannya dan pura-pura membetulkan posisi duduk.
Usulan Valeri disetujui setelah pemungutan suara, dengan satu suara abstain dan tidak ada yang menolak.
Di lorong, Jason menyusulnya.
"Kau tahu kau baru saja memotong kewenanganku sendiri di depan komite nominasi?"
"Aku tahu."
"Aku belum pernah sesenang itu kehilangan sesuatu."
Valeri melirik. "Jangan bilang begitu di depan orang. Nanti mereka pikir kau sedang jatuh cinta."
"Mereka sudah tahu," kata Jason. "Aku payah menyembunyikannya. Tanyakan saja pada bagian keuangan."
Papan nama baru dipasang di pintu ruangannya pada Senin pagi. Alena datang membawa kue dengan tulisan cokelat besar-besar: BOS KECIL. Ethan mengirim bunga dari Bali dengan kartu bertuliskan "dari orang yang pernah kau suruh membaca kontrak sampai halaman terakhir". Orang tua Valeri datang lebih pagi daripada siapa pun, dan ibunya berkaca-kaca sejak di lift.
Jason datang paling akhir dan menyerahkan sebuah kotak panjang.
Isinya sebuah pulpen.
"Tidak ada berlian?" tanya Valeri.
"Aku diberi tahu bahwa hadiah mahal dari CEO kepada direktur dapat dianggap konflik kepentingan."
"Siapa yang memberitahumu?"
"Direktur kemitraan strategis yang sangat menakutkan," kata Jason. "Dia juga mengirimkan salinan aturannya. Dua halaman. Dengan stabilo."
Valeri tertawa sampai Alena melempar serbet ke arahnya.
"Kalian berdua menyebalkan," kata Alena. "Potong kuenya sebelum aku yang makan sendiri."
Valeri memotong kue itu dan memberikan potongan pertama kepada ibunya. Perempuan itu menangis lagi, kali ini tanpa berusaha menyembunyikannya, dan ayahnya menepuk-nepuk punggungnya sambil berpura-pura sibuk membaca papan nama di pintu.
Kebahagiaan itu bertahan sampai sore, ketika sekretarisnya masuk membawa amplop dari kantor pengacara George.
Isinya permintaan resmi. George mengajukan pertemuan dalam program mediasi korban dan pelaku. Surat itu menjelaskan syarat-syaratnya dengan sopan: pertemuan hanya dapat berlangsung apabila Valeri bersedia, seluruhnya diawasi psikolog, dan hasilnya tidak akan memengaruhi masa hukuman terpidana.
Valeri membaca surat itu sampai habis, lalu meletakkannya di meja seperti benda panas.
Ia marah. Bukan marah yang meledak, melainkan marah yang membuat rahangnya kaku sepanjang perjalanan pulang. Lelaki itu berada di balik tembok, di balik larangan permanen, di balik pintu yang sudah dikunci pengadilan — dan ia masih menemukan cara mengetuk pintu kehidupan Valeri melalui amplop resmi berkop pengacara.
Ia membawa surat itu ke sesi konseling minggu berikutnya.
"Aku merasa bersalah karena tidak ingin datang," akunya. "Seolah orang baik seharusnya mau memaafkan secara langsung, di ruangan yang sama, sambil berjabat tangan."
"Siapa yang bilang begitu?"
"Semua orang. Film. Artikel. Entahlah." Valeri menarik lengan bajunya. "Ada bagian kecil di kepalaku yang masih ingin tahu apakah dia benar-benar menyesal. Bagian itu yang paling kubenci."
"Kenapa dibenci?"
"Karena bagian itu yang dulu membuatku membuka pintu berkali-kali."
Konselornya meletakkan pulpennya. "Menolak juga sebuah jawaban lengkap, Valeri. Bukan jawaban setengah. Bukan tugas yang ditunda."
Valeri menimbangnya selama lima hari. Ia memikirkannya saat rapat, saat antre kopi, saat menunggu lampu merah. Ia bertanya kepada Alena, yang langsung menjawab "jangan", lalu kepada Jason, yang justru mengatakan bahwa ini bukan keputusan yang boleh ia ikut campuri.
"Kau tidak punya pendapat?"
"Aku punya sepuluh," kata Jason. "Dan tidak satu pun yang berhak kau tanggung."
Pada malam kelima, Valeri duduk di meja makan dengan kertas dan pulpen. Ia menulis tiga draf yang panjang-panjang, penuh penjelasan dan pembelaan, lalu membuang semuanya ke tempat sampah.
Yang akhirnya ia kirim hanya beberapa baris.
"Aku tidak bersedia bertemu. Kesembuhanmu adalah tanggung jawabmu, bukan tugasku. Aku berharap kau berubah, tetapi perubahan itu tidak memberimu jalan kembali kepadaku."
Ia mengirimkannya melalui pengacara, meminta tanda terima, lalu memblokir seluruh permintaan komunikasi berikutnya melalui jalur mana pun.
Setelah surat itu keluar dari tangannya, Valeri menunggu perasaan besar yang tidak pernah datang. Tidak ada gemuruh, tidak ada air mata, tidak ada babak penutup yang megah.
Yang ada hanyalah malam biasa.
Malam itu Valeri duduk di ujung meja makan apartemennya sambil memeriksa laporan, kakinya dilipat di kursi. Jason berdiri di dapur, memasak dengan resep yang jelas-jelas salah dibaca, dan dalam sepuluh menit dapur sempit itu penuh asap.
"Direktur baru seharusnya punya koki," keluhnya sambil mengibas-ngibaskan lap.
"Direktur baru sedang melihat apakah seorang CEO bisa merebus pasta."
"Ini bukan perkara bisa atau tidak bisa. Ini perkara peralatan."
"Boss, itu panci."
Alarm asap berbunyi nyaring. Keduanya berteriak bersamaan, lalu tertawa sambil berebut membuka jendela. Tetangga sebelah mengetuk dinding dua kali. Jason melambaikan lap ke arah detektor seperti orang sedang mengusir lebah.
Pastanya berakhir di tempat sampah. Mereka makan mi instan berdua di lantai ruang tamu, di bawah tanaman kiriman Ethan yang daunnya sudah bertambah tiga helai.
Valeri menyadari sesuatu sambil mengunyah.
Penutupan tidak selalu datang melalui pertemuan dramatis. Tidak selalu ada ruangan, tidak selalu ada air mata, dan tidak selalu ada kata maaf yang diucapkan tatap muka. Kadang-kadang penutupan adalah surat pendek, pintu yang tidak dibuka lagi, dan kehidupan biasa yang terus berjalan sesudahnya.