Enam bulan setelah peresmian proyek Bali, penyelidikan terhadap Ardent Group akhirnya ditutup.
Darma ditetapkan sebagai terdakwa utama. Berkasnya setebal dua bantal dan memuat empat perkara yang saling mengunci. Sanna masuk program perlindungan saksi, pindah ke apartemen yang alamatnya tidak diketahui siapa pun kecuali dua orang jaksa. Ibunya memilih jalan lain: memberikan kesaksian untuk meringankan keterlibatannya sendiri.
JYS Corp pulih perlahan, seperti orang yang belajar berjalan lagi setelah kakinya digips.
Sistem audit baru diberlakukan di seluruh divisi. Keputusan besar diumumkan kepada pemegang saham sebelum dijalankan, bukan sesudahnya. Rapat direksi kini punya notulen yang bisa dibaca siapa saja di dalam perusahaan. Jason tidak lagi menjadi CEO yang dapat mengubah segalanya hanya dengan satu perintah di lorong.
Anehnya, ia justru tampak lebih tenang.
"Dulu aku pikir kendali membuatku aman," katanya kepada Valeri di balkon kantor, suatu sore ketika langit berwarna oranye kotor oleh asap kota. "Ternyata kendali cuma membuat semua orang takut mengatakan aku salah."
"Sekarang banyak yang berani?"
"Terlalu banyak." Jason menyesap kopinya. "Kemarin staf magang mengoreksi angkaku di depan sembilan orang. Dia benar. Aku hampir menangis."
"Kau tidak menangis."
"Aku bilang hampir. Dan terutama ada seorang direktur tertentu yang membantahku rata-rata empat kali sehari."
"Direktur itu dibayar untuk itu."
"Sayangnya bukan olehku."
Hubungan mereka pun berubah bentuk, pelan-pelan, tanpa pengumuman.
Jason kadang tinggal di apartemen Valeri, tetapi selalu bertanya lebih dahulu, bahkan ketika jawabannya sudah bisa ditebak. Valeri mulai berkunjung ke rumah Jason tanpa merasa mansion itu penjara; ia bisa duduk di taman belakang tanpa menghitung berapa pintu antara dirinya dan jalan raya.
Mereka meninggalkan barang di tempat masing-masing sedikit demi sedikit. Sikat gigi. Sepasang sandal. Buku yang belum selesai dibaca. Charger yang tidak jelas milik siapa. Tidak ada satu pun yang dibicarakan sebagai langkah besar.
Pada suatu akhir pekan, Jason mengajaknya ke panti tempat mereka dahulu tinggal.
Bangunan itu sedang direnovasi. Atapnya sudah diganti, dinding ruang makan dicat ulang berwarna kuning muda, dan kamar mandi belakang akhirnya punya pintu yang benar-benar menutup. Semuanya dikerjakan melalui yayasan independen yang dibentuk bersama para alumni panti.
Tidak ada nama JYS Corp di dinding mana pun. Valeri sudah memeriksanya dua kali, termasuk plakat kecil di dekat pintu depan yang ternyata hanya memuat tahun berdirinya panti.
"Kau tidak menaruh papan nama," katanya.
"Aku sempat ingin," aku Jason. "Lalu aku bayangkan anak-anak itu tumbuh besar sambil melihat nama perusahaan setiap hari dan merasa berutang. Aku tahu rasanya berutang."
Di halaman belakang berdiri dua kursi kayu lama yang telah dicat ulang berwarna hijau. Kursi yang itu-itu juga. Kaki kanannya masih sedikit lebih pendek, dan masih diganjal potongan genting yang sama.
Mereka duduk di sana sore itu. Anak-anak bermain di sisi lain halaman, suaranya naik turun seperti ombak.
"Dulu kau selalu duduk di kursi yang kanan," kata Jason.
"Karena kursi kiri goyang."
"Kursi kiri masih goyang."
"Dan kau masih duduk di situ." Valeri menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Kita dulu tidak punya apa-apa selain janji yang tidak masuk akal."
"Janjiku waktu itu adalah membelikanmu satu toko roti."
"Kau masih berutang."
"Aku punya cukup uang sekarang."
"Lalu kenapa belum?"
"Karena kau bilang kau tidak mau diberi apa-apa yang tidak kau minta," kata Jason. "Aku mencatat."
Mereka diam beberapa saat. Seorang anak berteriak di seberang halaman, lalu tertawa.
"Aku pernah memberimu kunci saat kau belum siap," kata Jason tiba-tiba, suaranya berubah. "Aku juga pernah mengira mencintaimu berarti menjagamu dari semua hal. Termasuk dari pilihanmu sendiri."
Valeri menoleh. "Kau sedang meminta maaf atau berpidato?"
"Keduanya. Aku gugup."
"Kelihatan. Kau sudah membetulkan kerah bajumu empat kali."
Jason menarik napas dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya. Kali ini, ketika kotak itu dibuka, yang berada di dalamnya adalah sebuah cincin sederhana. Tidak besar, tidak berkilau berlebihan. Bandnya tipis, dengan satu batu kecil yang hanya terlihat kalau kena cahaya.
Ia tidak langsung berlutut.
"Aku tidak ingin bertanya apakah kau mau menjadi milikku," katanya. "Kau bukan milik siapa pun. Aku ingin bertanya apakah kau bersedia membangun hidup bersamaku, dengan pintu yang bisa kita buka dan tutup bersama."
Valeri tidak segera menjawab.
Ada sesuatu yang naik ke tenggorokannya dan bukan air mata. Ia teringat dirinya yang dua tahun lalu, yang mengira dicintai berarti dijaga sampai tidak bisa bergerak. Ia teringat lorong apartemen, kamera di kotak perkakas, dan malam-malam ketika ia tidur dengan lampu menyala. Semua itu tidak hilang. Semua itu justru yang membuat pertanyaan sore ini terdengar berbeda.
Angin sore menggoyangkan daun-daun di atas mereka. Jason menunggu tanpa mendesak, tanpa mengulang pertanyaannya, tanpa menambahkan kalimat untuk mengisi kesunyian — meskipun tangannya yang memegang kotak itu jelas-jelas gemetar.
"Aku punya syarat," kata Valeri akhirnya.
"Sebutkan."
"Kita tetap menjalani konseling pasangan sebelum menikah. Bukan satu kali untuk formalitas. Sampai kita berdua merasa cukup."
"Setuju."
"Aku tidak berhenti bekerja. Tidak dikurangi, tidak dipindahkan ke posisi yang enak supaya aku punya waktu mengurus rumah."
"Setuju."
"Dan keputusan tempat tinggal kita buat bersama. Bukan kau yang membeli lalu memberitahuku alamatnya."
"Setuju." Jason menelan ludah. "Aku sudah menyiapkan tiga daftar properti. Akan kubakar."
"Jangan dibakar. Simpan, lalu tunjukkan padaku sebagai pilihan, bukan sebagai pengumuman."
"Baik." Ia berdeham. "Itu saja?"
"Aku belum selesai."
Jason menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan, matanya melebar seperti murid yang ketahuan bicara di kelas.
Valeri tersenyum. Ia menunggu sampai lelaki itu menurunkan tangannya lagi.
"Kalau marah, kita bicara. Kalau takut, kita mengakuinya keras-keras, bukan menyimpannya sampai berubah jadi aturan baru buat orang lain. Dan tidak ada ancaman pergi hanya untuk mendapatkan jawaban."
Jason mengangguk pelan, satu kali, seolah sedang menandatangani sesuatu.
"Setuju."
"Kalau begitu, jawabanku iya."
Baru setelah itu Jason berlutut, di atas rumput yang masih basah sisa siraman sore, untuk memasangkan cincin itu. Valeri tertawa karena urutannya terbalik — syarat dulu, lutut belakangan — lalu menariknya berdiri dan memeluknya erat-erat.
Dari dalam gedung terdengar suara ibu asrama memanggil, lalu sorak anak-anak yang berhamburan ke arah ruang makan. Ada yang berteriak memanggil nama Jason dan Valeri untuk ikut makan siang, walau matahari sudah condong.
Kehidupan tidak berhenti demi adegan yang sempurna.
Jason berdiri, menyeka lututnya yang kotor tanpa peduli, menggenggam tangan Valeri, dan berjalan bersamanya menuju bangunan itu.
Pertunangan tersebut bukan akhir dari proses mereka. Darma masih harus menjalani persidangan yang akan berbulan-bulan. Perusahaan masih harus berubah. Luka lama tidak lenyap hanya karena sebuah cincin melingkar di jari.
Namun untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti sesuatu yang dirancang orang lain bagi Valeri. Masa depan itu merupakan pertanyaan yang diajukan dengan hormat—dan jawaban yang ia berikan dengan bebas.