Benang Merah Kasih
Bab 1: Hening di Meja Makan
Malam itu, jarum jam dinding di ruang makan berdetak terlalu keras, seolah menghitung setiap detik kecanggungan di antara Arga dan Rina. Di atas meja kayu jati yang mengilap, tersaji hidangan favorit Arga: sup ayam jagung dan sambal terasi. Namun, tidak ada satu pun percakapan yang mengalir. Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik latar di rumah minimalis mereka.
Arga meletakkan sendoknya, menyeka bibir dengan serbet, dan menarik napas panjang. Pria berusia tiga puluh empat tahun itu tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya adalah bukti dari tumpukan pekerjaan di kantor dan tekanan sebagai kepala keluarga.
"Mas, makanannya kurang asin?" tanya Rina pelan, memecah keheningan yang sejak tadi mencengkeram. Matanya menatap suaminya dengan penuh harap, mencari sedikit saja perhatian atau senyuman.
Arga menggeleng pelan, tersenyum tipis namun terasa hambar. "Tidak, Rina. Enak seperti biasa. Mas hanya sedang banyak pikiran di kantor. Maafkan Mas ya." Setelah itu, Arga bangkit dari kursinya, mencium kening Rina sekilas, lalu berjalan menuju ruang kerja.
Rina hanya bisa menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kayu. Pernikahan yang telah mereka bina selama lima tahun ini terasa semakin dingin. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang tak pernah kehabisan topik obrolan. Kini, sekat tak kasat mata seolah membatasi ruang gerak emosional mereka.
Rina membereskan meja makan sendirian. Air matanya hampir menetes, namun ia segera menepisnya. Ia harus kuat. Ia percaya bahwa setiap rumah tangga memiliki ujiannya masing-masing, dan ini hanyalah salah satu badai kecil yang harus mereka lewati. Ia melangkah menuju dapur, mencuci piring, dan merenungkan kembali janji suci yang pernah mereka ucapkan di depan penghulu.
Bab 2: Beban di Pundak
Hari baru dimulai dengan kesibukan yang tak kalah padat. Di pagi buta, Rina sudah berkutat dengan wajan dan spatula. Ia menyiapkan sarapan sementara Arga bersiap-siap mengenakan kemeja kerjanya. Dari kamar mandi, terdengar dering ponsel Arga yang berulang kali berbunyi.
Rina melangkah ke kamar, membawa secangkir kopi hangat. Ia meletakkan cangkir itu di atas nakas dan melihat layar ponsel Arga yang menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak bernama: “Jangan lupa makan siang, Mas. Nanti kita bahas revisi kontraknya.”
Jantung Rina sedikit berdegup lebih kencang. Ia tahu Arga adalah seorang akuntan senior yang sering berhadapan dengan klien-klien penting, namun entah mengapa, nama panggilan 'Mas' dari orang lain selalu membuat perasaannya tidak nyaman.
Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggang. Ia melihat Rina memegang ponselnya. Dengan gerakan cepat, Arga mengambil ponsel tersebut dan memasukkannya ke dalam saku celana bahan yang hendak ia pakai.
"Siapa, Mas?" tanya Rina hati-hati, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tenang.
"Klien baru, Rina. Membahas jadwal pertemuan," jawab Arga singkat, tanpa menatap mata istrinya. Ia memakai dasi di depan cermin dengan tergesa-gesa. "Mas berangkat sekarang ya. Ada rapat penting pagi ini."
Arga mencium kening Rina kilat, lalu menyambar tas kerjanya dan bergegas keluar rumah. Suara deru mobilnya yang meninggalkan garasi terdengar memudar, menyisakan Rina yang berdiri mematung di tengah kamar.
Rina merasa ada yang disembunyikan oleh suaminya. Namun, ia tidak ingin bersikap curiga yang berlebihan. Ia tahu suaminya adalah orang yang bertanggung jawab. Ia mencoba menepis pikiran negatif dan kembali fokus pada tugas-tugas rumah tangganya, meskipun rasa gundah di dalam hatinya belum juga pudar