Bab 3: Pertemuan Tak Terduga
Sore itu, Rina memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan guna membeli beberapa kebutuhan dapur yang habis. Setelah selesai dengan daftar belanjaannya, ia mampir ke sebuah kafe kecil untuk menikmati secangkir teh hangat dan membaca buku.
Saat sedang menyeruput tehnya, pandangan Rina tidak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal. Arga. Pria itu duduk di sudut kafe bersama seorang wanita berpenampilan modis. Wanita itu tertawa renyah sambil menyentuh lengan Arga dengan akrab.
Dada Rina serasa dihimpit batu besar. Napasnya tercekat. Ia mencoba mendekat secara perlahan dan bersembunyi di balik tanaman hias di dalam kafe. Dari jarak yang cukup dekat, ia bisa mendengar percakapan mereka.
"Kamu harus lebih tegas pada Rina, Arga. Dia tidak akan mengerti dunia kerja kita," ucap wanita itu dengan nada suara yang terdengar meremehkan.Arga terdiam sejenak, lalu menghela napas berat. "Rina wanita yang baik. Aku tidak ingin menyakitinya. Tapi terkadang, aku memang merasa lelah dengan rutinitas rumah tangga yang monoton."Kata-kata itu bagaikan belati yang menghujam jantung Rina. Selama ini, ia selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, mengurus rumah, dan mendukung karier Arga. Ternyata di mata suaminya, hidup bersamanya dianggap monoton.
Rina tidak tahan lagi. Ia keluar dari persembunyiannya dan berjalan perlahan menuju meja Arga. Ketika Arga menyadari keberadaan Rina, wajahnya memucat. Matanya membulat sempurna, sementara wanita di depannya tampak kebingungan.