Bab 24: Kejutan yang Dinanti
Suatu pagi, Rina merasa tubuhnya sedikit tidak biasa. Ia merasa mual dan sering lelah. Arga yang saat itu sedang bersiap untuk berangkat kerja menjadi cemas melihat kondisi istrinya.
"Rina, kamu pucat. Sebaiknya kita ke dokter saja pagi ini," kata Arga sambil memegang dahi istrinya dengan lembut.
"Tidak perlu, Mas. Mungkin aku hanya masuk angin biasa," elak Rina sambil tersenyum menenangkan. Namun, di dalam hatinya, sebuah firasat mulai muncul. Ia teringat siklus bulanan yang telah terlambat.
Setelah Arga berangkat kerja, Rina memutuskan untuk membeli alat tes kehamilan di apotek terdekat. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia melakukan tes tersebut di kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, saat melihat dua garis merah yang tercetak jelas, air mata kebahagiaan menetes dari mata Rina. Penantian panjang mereka akhirnya membuahkan hasil.
Bab 25: Kabar Bahagia untuk Arga
Sore harinya, Arga pulang dengan senyuman yang biasanya menyertai akhir hari yang menyenangkan. Begitu membuka pintu, ia melihat Rina menyambutnya dengan senyuman yang jauh lebih cerah dari biasanya.
"Ada apa, Rina? Sepertinya ada kabar baik," tanya Arga sambil meletakkan tasnya.
Rina tidak langsung berbicara. Ia mengambil sebuah kotak kecil yang dihias pita merah muda dari atas meja dan menyerahkannya kepada Arga. "Ini untukmu, Mas."
Arga membuka kotak tersebut dan mendapati sepasang sepatu bayi kecil berwarna putih di dalamnya, beserta sebuah test pack dengan dua garis merah. Mata Arga membulat sempurna, dan napasnya tercekat.
"Rina... ini... apakah kita akan...?" tanya Arga dengan suara bergetar, hampir tidak percaya.
Rina mengangguk dengan senyum yang mengembang. "Ya, Mas. Kita akan menjadi orang tua."
Bab 26: Menyongsong Masa Depan
Mendengar kabar tersebut, Arga langsung memeluk Rina dengan erat dan penuh keharuan. Ia memutar tubuh istrinya sejenak sebelum mencium keningnya berkali-kali. Kebahagiaan yang meluap-luap memenuhi setiap inci ruangan rumah mereka.
"Terima kasih, Rina. Terima kasih atas hadiah terindah ini," bisik Arga di telinga istrinya dengan suara yang serak karena menahan tangis bahagia.
Malam itu, mereka duduk bersama di ruang keluarga, membayangkan masa depan mereka sebagai sebuah keluarga kecil yang utuh. Mereka menyadari bahwa benang merah yang mengikat cinta mereka kini memiliki simpul yang jauh lebih kuat dan berharga.
Pernikahan yang sempat dilanda badai dan keheningan kini telah berubah menjadi sebuah taman bunga yang indah, siap menyambut kehidupan baru yang akan melengkapi kebahagiaan mereka.