Rina menoleh dan terkejut melihat Arga sudah pulang. "Mas? Tumben sudah pulang jam segini?"
Arga berjalan mendekati Rina, menatap mata istrinya dengan penuh ketulusan. "Mas ingin pulang lebih cepat. Mas ingin bicara denganmu, Rina."
Rina mematikan kompor dan mengeringkan tangannya. Ia menatap Arga dengan ragu, namun ada secercah harapan di matanya. Mereka pun duduk di meja makan.
Bab 10: permintaan maaf
Arga menatap Rina dan mengambil tangan istrinya. "Rina, maafkan Mas atas kejadian kemarin. Mas sadar Mas telah egois dan tidak memikirkan perasaanmu."
Mata Rina berkaca-kaca. "Mas, aku hanya merasa tidak dihargai. Semua yang aku lakukan di rumah ini seperti tidak ada artinya."
Tidak, Rina. Kamu adalah segalanya bagi Mas," tegas Arga. "Kehadiranmu adalah rumah bagiku. Mas memang merasa lelah dan jenuh dengan rutinitas, tapi itu bukan alasan untuk mencari pelarian atau merendahkan pernikahan kita."
Rina akhirnya menangis, namun kali ini adalah air mata kelegaan. Arga memeluk istrinya dengan erat, menyalurkan semua rasa cinta dan penyesalannya. Mereka berdua berdamai dengan masa lalu dan sepakat untuk membuka lembaran baru.
"Tidak, Rina. Kamu adalah segalanya bagi Mas," tegas Arga. "Kehadiranmu adalah rumah bagiku. Mas memang merasa lelah dan jenuh dengan rutinitas, tapi itu bukan alasan untuk mencari pelarian atau merendahkan pernikahan kita."
Rina akhirnya menangis, namun kali ini adalah air mata kelegaan. Arga memeluk istrinya dengan erat, menyalurkan semua rasa cinta dan penyesalannya. Mereka berdua berdamai dengan masa lalu dan sepakat untuk membuka lembaran baru.