Bab 8: Perenungan Arga
Di kantornya, Arga tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Angka-angka di layar komputernya tampak kabur, digantikan oleh bayangan wajah Rina yang menangis di kafe. Ia menyadari kesalahannya telah membuat istrinya terluka.
Clara masuk ke ruangan Arga membawa beberapa berkas. "Arga, ini laporan untuk rapat besok."
Arga menerima berkas itu tanpa semangat. "Terima kasih, Clara."
Clara menatap Arga dengan cermat. "Kamu tampak tidak sehat, Arga. Ada masalah?"
"Ini tentang istriku, Clara. Aku telah menyakitinya kemarin," jawab Arga jujur. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi.
Clara terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Arga, jika kamu mencintainya, kamu harus memperbaikinya. Aku tahu kita dekat, tapi aku tidak ingin menjadi penyebab retaknya rumah tanggamu."
Arga mengangguk pelan, menghargai kejujuran Clara. Ia tahu bahwa kedekatannya dengan Clara hanyalah pelarian dari rasa jenuhnya di rumah. Ia sadar bahwa ia telah melupakan peran pentingnya sebagai seorang suami.
Bab 9: Pulang Lebih Awal
Tepat pukul lima sore, Arga telah membereskan mejanya dan bergegas pulang. Ia mampir ke sebuah toko bunga dan membeli buket bunga mawar putih kesukaan Rina, serta kue cokelat yang manis.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat dari biasanya. Hati Arga dipenuhi oleh tekad untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan Rina. Sesampainya di rumah, ia membuka pintu dengan kunci cadangan.
Suasana rumah terasa sepi namun hangat. Aroma masakan tercium dari arah dapur. Arga meletakkan bunga dan kue di meja makan, lalu melangkah ke dapur dan mendapati Rina sedang memasak.