Bab 7: Campur Tangan Mertua
Siang harinya, bel rumah Rina berbunyi. Saat ia membukakan pintu, ternyata ibu mertuanya, Ibu Susi, berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang tampak cemas. Ibu Susi adalah wanita paruh baya yang tegas namun penyayang.
"Masuk, Bu," sapa Rina sambil mencium tangan mertuanya.
"Ada apa ini, Rina? Ibu melihat wajahmu pucat dan sembab. Apa yang terjadi denganmu dan Arga?" tanya Ibu Susi sambil duduk di sofa ruang tamu.Rina tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia pun menceritakan semua yang terjadi, mulai dari pesan di ponsel Arga, hingga pertemuan Arga dengan Clara di kafe. Ibu Susi mendengarkan dengan saksama, sesekali mengelus punggung Rina untuk menenangkan.
"Arga memang anak yang keras kepala, tapi dia tidak akan berani macam-macam," ucap Ibu Susi bijak. "Dulu, saat ayah Arga juga sibuk dengan pekerjaannya, Ibu pernah merasa seperti kamu. Tapi, pernikahan bukanlah tentang siapa yang paling sibuk, melainkan tentang komitmen."
Ibu Susi menatap mata Rina dengan lembut. "Jangan menyerah pada pernikahanmu, Nak. Arga sedang diuji oleh godaan pekerjaan dan kelelahan mental. Tugasmu adalah mengingatkannya, bukan menjauhinya."
Nasihat Ibu Susi sedikit memberikan kelegaan di hati Rina. Ia merasa bahwa mertuanya adalah sosok ibu yang selalu mendukungnya. Rina pun berjanji akan mencoba berbicara lebih terbuka dengan Arga malam