Bab 6: Keputusan Sementara
Malam itu, Rina tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon kamar, memandangi langit malam yang gelap tanpa bintang. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun rasa dingin di hatinya jauh lebih menyakitkan.
Ia teringat masa-masa ketika mereka baru menikah. Saat itu, Arga selalu menatapnya dengan penuh cinta dan kekaguman. Mereka tertawa bersama, berbagi mimpi, dan berjanji untuk selalu bersama dalam suka maupun duka.
Di dalam kamar, Arga tertidur lelap setelah seharian bekerja dan menghadapi pertengkaran mereka. Rina merasa bahwa jarak di antara mereka semakin hari semakin lebar, dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk menjembataninya kembali.
Keesokan paginya, saat Arga bangun, ia mendapati Rina sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Namun, tidak ada senyuman hangat seperti biasanya. Rina tampak sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak banyak bicara.
"Rina, kamu tidak sarapan?" tanya Arga saat melihat Rina hanya berdiri di dekat wastafel.
"Aku sudah makan, Mas. Silakan dihabiskan," jawab Rina singkat tanpa menoleh.
Arga menghela napas panjang. Ia tahu istrinya masih sangat terluka. Sebelum berangkat kerja, ia mencoba mendekati Rina. "Mas akan pulang lebih cepat hari ini. Kita bisa bicara lagi, ya?"
Rina mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Mas."
Setelah Arga pergi, Rina duduk di ruang tamu. Ia menatap sekeliling rumah yang bersih dan rapi. Rumah ini adalah hasil kerja keras mereka berdua. Ia tidak ingin menyerah begitu saja, tetapi ia juga butuh waktu untuk menyembuhkan luka hatinya.